
...Bagian Tengah Pulau...
...Gunung Berapi Vesuvius...
Di tengah gunung berapi yang dihujani oleh lahar dan lontaran batuan dari kawah gunung itu....
"Mereka datang." Ucap Robert melihat pergerakan beberapa orang.
Salah seorang adalah wanita berambut hijau. Sedangkan yang satunya lagi adalah seorang pria dengan rambut hitam yang dikuncir. Pria itu menggunakan pedang yang menyerupai katanya.
"Rose, kau serang mereka dari garis belakang. Aku dan Antonio akan maju. Sedangkan Margrett akan menembaki mereka dari persembunyian. Frans, kau berikan sihir dukunganmu pada semua orang." Perintah Robert kepada semua anggota timnya.
Mereka semua mengangguk menyetujui perintah itu. Akhirnya, mereka semua bergerak ke arah dua orang itu yang tak lain adalah Brunhilda dan juga Miyamoto.
Di garis belakang....
"Apakah mereka berdua bisa dipercaya?" Tanya Eric yang telah menyembunyikan keberadaannya di balik bebatuan itu. Tubuh Eric seakan terdistorsi dan tembus pandang di tempat itu.
Angie pun segera menjawabnya.
"Aku tak mengenal wanita itu. Tapi Miyamoto adalah anggota Guild ku yang paling bisa dipercaya. Tenang saja. Kau hanya perlu fokus pada bagian garis belakang mereka." Jelas Angie sambil mengeluarkan tombak tingkat Unique miliknya.
Angie pun segera maju dari sisi Timur, mendekati gunung berapi itu.
'Wuooosssh! Blaaaarrr! Duaaarr!'
Lontaran batu panas itu mengenai semua tempat di sekitar. Angie bergerak ke sana kemari dengan sangat cepat, menghindari semua serangan itu.
Sementara itu, Eric segera mencari tempat paling tinggi yang ada di sini, yaitu sebuah pohon tua yang ada di bukit.
Mempercayakan semuanya kepada Angie untuk pertarungan di tempat ini.
'Tap! Tap!'
Setelah memperoleh posisi yang nyaman, Eric segera menarik busurnya sekuat tenaga.
Berkat peningkatan levelnya yang sangat gila bersama dengan Angie, Eric telah memperoleh Advanced Class yaitu [Sniper] yang memiliki fokus utama pada damage yang tak tertandingi. Tak hanya itu, Eric juga mengalokasikan sebagian poinnya pada Talent yang lain seperti pedang dan juga sihir.
'Sreeeeettt....'
Dengan fokus yang tak bisa digoyahkan itu, bersama dengan skill [Hawk Eye] tingkat lanjut yang memungkinkannya melihat jarak ratusan meter dengan mudah, Eric mengincar kepala targetnya itu.
Seorang wanita yang sama-sama menggunakan busur dan berada di pihak Eropa.
Tanpa ada pikiran dan keraguan sama sekali, Eric segera melepaskan tembakan pertamanya yang akan menjadi teror bagi kelompok Eropa hingga akhir pertandingan ini.
'Syyuuuuuttt!'
Sebuah tembakan sederhana. Tak ada efek sihir apapun. Termasuk juga tak ada suara sedikitpun.
Sebuah skill tingkat akhir dalam Class [Sniper] yaitu [Silent Killer] yang berhasil dibuka setelah mengalahkan Giant Tortoise pada saat sebelumnya.
Skill itu mampu memberikan damage absolut yang berupa Instant Kill kepada targetnya selama mengenai titik vitalnya yaitu kepala atau jantung.
Meski begitu, sebuah harga yang sangat mahal harus dibayarkan untuk menggunakan skill yang terlampau kuat itu. Tak hanya itu, serangan ini bisa meleset dan pengguna masih harus membayar harganya. Maka dari itu, Eric harus mengenai targetnya setiap kali menggunakan skill ini.
Satu-satunya efek khusus yang ada dalam skill itu, hanyalah tak ada suara sama sekali pada tembakannya.
__ADS_1
Di sisi Gunung Vesuvius, pihak Eropa beberapa puluh detik yang lalu....
"Sialan. Jika saja bukan karena pekerjaan bodoh ini, aku sudah akan berburu sendirian di dalam hutan dan memilih Class yang lain." Ucap seorang wanita pemanah yang tak lain dan tak bukan adalah Margrett.
Ia nampak menyesali pilihannya untuk bergabung dengan Robert demi memperoleh hadiah utama dalam kompetisi ini.
"Ah sudahlah. Yang jelas aku harus segera membu...."
'Sraaaasssh!!!"
Sebuah anak panah yang tak mengeluarkan suara sedikit pun itu, telah menembus kepala Margrett yang saat ini sedang kehilangan fokusnya.
Notifikasi yang sama sekali tak masuk akal baginya segera terlihat di hadapannya.
[Anda telah menerima Lethal Hit!]
[Anda telah mati!]
'Hah? Apa-apaan? Jangan bercanda! Aku menggunakan helm pelindung untuk alasan ini kan?! Setidaknya aku takkan mati hanya karena satu tembakan saja! Tunggu.... Bukankah skill ini....'
Setelah menyadari hal itu, Margrett pun telah meninggalkan pulau kompetisi itu dan dipaksa kembali ke dunia nyata tanpa kemampuan untuk menyampaikannya kepada pemain yang lain.
...***...
...Sisi kaki Gunung Vesuvius...
'Klaaang! Traaang! Klaang!!'
Pertukaran serangan antara sebuah rapier dengan pedang, serta katana dengan sarung tangan besi itu terdengar begitu keras.
Pertarungan 2 lawan 2 antara Robert dan Antonio melawan Brunhilda dengan Miyamoto telah dimulai. Meskipun, lebih cocok untuk menyebutnya sebagai pertarungan 4 lawan 2 karena Rose dan juga Frans mendukung kubu Robert dari garis belakang.
Meski begitu, Robert telah merasakan sesuatu yang aneh.
'Dimana bantuan dari Margrett? Kenapa dia belum menembakkan satu pun panahnya?' Tanya Robert pada dirinya sendiri dalam hati.
"Kau lengah!" Teriak Brunhilda sambil menusukkan rapier miliknya sebanyak 5 kali ke arah dada Robert.
Tapi semua tusukan itu sia-sia di hadapan zirah tebal milik Robert beserta Buff dari Frans yang mampu meningkatkan defense miliknya.
'Klaaaang! Klaang!'
[Anda telah memberikan 116 damage!]
[Anda telah memberikan .... ]
"Cih!" Teriak Brunhilda kesal sambil melompat ke belakang. Miyamoto pun mengikutinya dan mulai membuat jarak antar mereka semua.
Tapi seakan tak ingin hal itu terjadi, Rose sudah melontarkan sihir dinding api yang membakar keduanya.
[Anda telah menerima 3.139 damage!]
[Anda telah .... ]
"Yang benar saja!"
Kedua orang itu pun memutuskan untuk mundur sesuai dengan rencana yang sebelumnya telah mereka sepakati bersama.
__ADS_1
Beberapa saat sebelum pertempuran ini, Angie dan juga Eric secara tak sengaja bertemu dengan Brunhilda yang telah bersama dengan Miyamoto.
Mereka akhirnya membuat kesepakatan untuk bekerjasama membunuh semua pemain dari Eropa terlebih dahulu, lalu melanjutkan kompetisi secara Free For All.
Meski Miyamoto begitu mempercayai Angie, hal yang sama tidak terjadi pada Brunhilda.
Itu karena dirinya yang telah lama bermain secara solo membuat kepercayaannya kepada pemain lain sedikit berkurang.
Tapi tanpa di sangka....
'Wuoossh!'
Nampak seseorang yang melompati mereka berdua. Seorang wanita berambut pirang dengan zirah kulit ringan serta tombak perak sebagai senjata utamanya.
Dengan kedatangannya yang bisa dibilang cukup terlambat itu, Ia masih bisa berkata dengan nada yang santai.
"Rawatlah luka kalian, aku akan menahan mereka berdua sendirian." Ucap wanita pirang itu yang tak lain adalah Angie.
Miyamoto segera mengangguk dan menyeret Brunhilda meninggalkan lokasi pertarungan ini.
Seakan tak ada niatan untuk mengejar, Robert dan juga Antonio hanya berdiri di tempat sambil memperhatikan Angie.
"Bukankah kau terlalu percaya diri?" Tanya Robert dengan wajah datarnya itu.
"Apapun itu aku ingin sekali menghajar wajah sombo...."
'Sraaaassshh!'
Sebuah anak panah berhasil menembus kepala Antonio, memberikannya kematian secara langsung.
Tubuhnya pun segera berubah menjadi cahaya putih dan menghilang dari dunia ini.
Robert yang sama sekali tak menyangka hal itu akan terjadi segera melompat mundur dan mengeluarkan perisai besarnya.
Ini adalah pertama kalinya bagi Robert untuk merasa khawatir akan keselamatannya.
'Apa yang terjadi? Instant Kill? Skill apa itu? Apakah pemanah yang sebelumnya bersama dengan Angie?' pikir Robert dalam hatinya.
Tapi sangat disayangkan bahwa sekuat apapun Ia berpikir, tetap saja takkan bisa menemukan jawabannya.
Angie yang kini telah tersenyum tipis itu berjalan mendekati Robert dengan santai.
"Ada apa? Dimana rasa percaya dirimu barusan?"
Di puncak suatu pohon tua....
Terlihat sosok Eric yang menurunkan busur Mithril miliknya secara perlahan dan menghela nafas.
Ia nampak begitu kelelahan meskipun hanya melesatkan dua buah tembakan saja selama pertarungan di tempat ini.
Nafasnya yang cukup berat itu memperjelas segalanya.
Di hadapannya, terlihat notifikasi yang sangat tidak mengenakkan untuk dilihat.
...[Seluruh Status Anda telah berkurang sebesar 5% karena menggunakan Silent Killer!]...
'Hanya tersisa 8 tembakan lagi sebelum aku menjadi sangat lemah.... Jika lebih dari itu.... Aku tak yakin bagaimana caraku mengalahkan pemain yang lain nantinya.'
__ADS_1
Pertandingan dengan sumberdaya yang terbatas itu pun segera berlanjut.