
Kedua belah pihak telah menyelesaikan strategi mereka. Kini hanya pedang dan tombak yang akan berbicara dan menentukan arah pertempuran.
Diantara prajurit Federasi Pedagang juga terdapat Player yang menerima Quest untuk mengalahkan pasukan musuh sebanyak mungkin. Hadiah dari misi itu dihitung dari seberapa banyak musuh yang mereka bunuh. Tak heran banyak Player bergabung ke dalam pasukan ini.
Setelah mendengar bahwa musuh mengirimkan goblin rendahan sebagai pasukan, para player tidak bisa berhenti untuk tertawa. Mereka bergabung ke dalam regu yang menyerang hutan di wilayah Timur untuk membantai sebanyak mungkin goblin.
Pergerakan mereka berjalan dengan sangat rapi. Semua kebutuhan mereka juga terpenuhi. Makanan, minuman, serta tenda untuk beristirahat. Semuanya dibawa oleh bagian akomodasi yang memimpin ratusan kereta kuda.
"Bukankah pertempuran ini akan menjadi terlalu mudah?" Ucap salah seorang player kepada player lainnya.
"Ya, kurasa juga begitu. Aku tak pernah menyangka bahwa musuh akan mengirimkan goblin hahaha!"
"Tapi bukankah ini sedikit aneh?" Tanya salah seorang pemain.
"Hah? Apa maksudmu? Ini namanya keberuntungan!" Balas player berbadan besar dengan kepala botak di depannya.
"Maksudku, apakah mungkin untuk mengirimkan pasukan berupa goblin?"
Mereka mulai tersadar.
"Benar juga ya, bagaimana cara mereka memerintahnya serapi ini?"
Para Player yang mulai merasa ada yang janggal menjadi sedikit resah. Akan tetapi kewajiban mereka dalam menjalankan Quest ini melarang mereka untuk meninggalkan pasukan.
Jika mereka memilih untuk meninggalkan pasukan atau menjadi seorang Deserter, hukuman berat akan menanti mereka.
Para player hanya bisa menelan ludah mereka sambil berdoa bahwa goblin yang akan mereka hadapi semudah yang mereka bayangkan.
3 hari perjalanan telah berlalu.
Pasukan pengecoh yang beranggotakan 1000 pasukan berkuda, 1000 pemanah dan 3000 prajurit pejalan kaki telah memasuki hutan di wilayah Timur pegunungan.
Meskipun saat ini masih siang hari, pencahayaan di dalam hutan ini cukup minim karena lebatnya dedaunan.
Komandan pasukan yang merupakan seorang NPC nampak santai dalam memimpin pasukan.
Sedangkan player yang mulai merasa resah sejak memasuki hutan terus mengunci rapat mulut mereka.
"Ji-jika ada player diantara gerombolan goblin itu... tidak masalah untuk membunuh mereka bukan?" Tanya salah seorang player.
"Tenang saja, kita dalam kondisi berperang. Sistem penalti PK tidak akan berlaku pada kita selama menjalankan Quest perang ini." Jelas salah seorang Player veteran.
"Syukurlah kalau begitu."
Kondisi perang.
Selama di dalam peperangan, situasi saling membunuh selalu terjadi baik antar player maupun NPC. Oleh karena itu, sistem Re:Life melindungi peserta perang dari penalti PK.
Sebaliknya, jika player membunuh warga sipil atau penduduk, mereka akan mendapatkan penalti PK. Hal ini bertujuan untuk melindungi penduduk Re:Life yang merupakan NPC.
Tentu saja, Eric tidak mengetahui hal ini.
Elin yang memahami bahwa dirinya tidak perlu turun tangan membunuh musuh secara langsung juga lupa untuk memperingatkan Eric.
Sementara itu, Chris yang langsung meninggalkan mereka berdua demi mengejar pandai besi legendaris itu lupa untuk memasukkan Eric dan Elin sebagai peserta perang di pihaknya.
Dengan kata lain, jika Eric membunuh player yang bukan merupakan PK, dia akan memperoleh penalti PK.
Meskipun Ia melakukannya secara tidak langsung melalui goblinnya.
Tapi tentu saja, wajah Eric saat ini masih penuh senyum dan penuh akan rasa santai karena tidak mengetahui bahaya ini.
__ADS_1
Sementara itu.
"Berhenti!" Teriak komandan pasukan Federasi Pedagang kelompok pengecoh.
"Aku merasakan ada sesuatu yang janggal mengenai hutan ini. Persiapkan senjata kalian!" Lanjut komandan.
Semua prajurit menyiapkan senjatanya. Para pemanah mulai menarik anak panahnya, sedangkan para Ksatria berkuda mulai menyiapkan pedang besar mereka.
Meski begitu, suasana masih tetap hening.
5 menit.
10 menit.
Tidak terjadi apapun.
Sebagian besar player dan prajurit NPC mulai meragukan ucapan komandan mereka.
Tak ingin menanggung rasa malu yang lebih besar, komandan itu pun meminta maaf dan memerintahkan seluruh pasukan untuk terus bergerak.
Perjalanan mereka cukup lancar.
Hingga mereka menurunkan kewaspadaan mereka.
"Arrrgghh!"
"Tolong aku!"
"Tidaaaak!"
Banyak prajurit mulai berteriak dari segala arah.
Hutan yang luas dan gelap ini mulai menunjukkan taringnya.
"Semuanya! Bersiap untuk pertarungan!" Teriak sang komandan.
Tapi sayang sekali.
Rantai komando runtuh saat itu juga.
'Duuaaarrr!'
Suara petir yang sangat keras terdengar di telinga semua orang. Di balik pepohonan nampak seekor goblin yang memegang tongkat kayu, memiliki badan yang kecil dan berambut agak putih. Giginya yang tajam nampak mengerikan di balik senyumannya.
Goblin Shaman.
Level : 38
"Aku akan mempersembahkan kemenangan ini kepada Tuan dan Nona muda! Kikikiki...." Ucap goblin shaman itu setelah melancarkan serangan Thunder Strike yang merupakan sihir tingkat menengah.
Saat itu juga, tubuh komandan pasukan yang dari tadi berdiri dengan tegap di atas kuda putih telah tersungkur di atas tanah. Setelah beberapa saat, tubuhnya berubah menjadi cahaya putih dan menghilang.
Itulah kematian bagi NPC.
Semua prajurit yang melihat komandan mereka terbunuh dengan mengenaskan mulai panik.
Tanpa adanya pemimpin, mereka sama halnya dengan goblin liar. Bahkan lebih lemah daripada goblin jika mereka dikuasai oleh rasa takut.
Serangan dari berbagai sisi.
Ditambah lagi jumlah goblin yang luar biasa banyak.
__ADS_1
Kelincahan tubuh kecil yang dimiliki oleh goblin membuat para prajurit kesulitan untuk menyerangnya. Para pemanah yang berusaha untuk menyerang justru seringkali malah menembak temannya sendiri.
Formasi prajurit Federasi Pedagang mulai hancur. Goblin yang pada awalnya menyerang dari sisi luar, kini telah masuk kedalam barisan prajurit.
Pemanah yang tak memiliki kemampuan jarak dekat yang baik merupakan mangsa empuk bagi goblin.
Selain itu, sihir petir yang terus menerus dilontarkan oleh para goblin shaman membunuh prajurit satu per satu sambil memberikan rasa takut yang amat mendalam.
"Sialan! Kenapa malah jadi seperti ini!" Teriak seorang player dengan kepala botak.
Ya, dia adalah player veteran dengan level mencapai 62. Ia berpengalaman dalam menjalankan Quest melawan monster.
Tapi kini, situasi telah berubah drastis.
"Mereka semua... bertarung seperti manusia! Cih! Sialan." Teriak pria botak itu.
Dihadapannya ada 2 Goblin Warior yang memegang pedang besar. Level kedua goblin warior itu hanya mencapai 39 akan tetapi total growth stats yang sangat tinggi membuat mereka menjadi musuh yang mengerikan.
Terlebih lagi ada 2 dari mereka!
"Aku akan memberikan kemenangan yang indah kepada Tuan dan Nona muda dengan mengalahkanmu!" Teriak salah satu Goblin warior itu.
"Hah? Apa yang kau maksud? Kau punya tuan?" Pria botak itu kemudian merasakan rasa ngeri di seluruh tubuhnya.
"Goblin... tuan... jangan-jangan musuh kami kali ini yaitu iblis...."
Belum sempat menyelesaikan perkataannya, 2 goblin warior itu menebaskan pedangnya secara bersamaan, membunuh pria botak itu seketika.
"Jangan harap kau selamat setelah menghina Tuan kami." Jelas kedua goblin warior itu.
Dan begitulah, setelah 1 jam pertempuran di dalam kegelapan hutan, pasuka goblin memperoleh kemenangannya.
Ksatria berkuda yang dibangga-banggakan oleh Federasi Pedagang tak mampu berkutik di dalam hutan yang lebat ini. Pergerakan kuda yang lambat memungkinkan pasukan goblin untuk memburu mereka dengan mudah.
Jumlah korban yang diderita pihak pasukan goblin mencapai angka 8000 ekor goblin. Jumlah yang wajar mengingat betapa lemahnya goblin tingkat Normal yang bersenjatakan pedang dan perisai kecil.
Sedangkan korban yang diderita oleh pihak pasukan Federasi Pedagang mencapai 4500 jiwa. Sekitar 500 prajurit mampu melarikan diri dengan memanfaatkan kuda yang ada.
Sementara itu....
"Eh? Eh?!" Teriak Elin sambil melangkah kebelakang.
"Oi Elin apa yang kau lakukan? Kita harus bergegas." Ucap Eric melihat sikap Elin.
"Ka-kau... aku... maaf Eric. Nampaknya aku lupa memberitahumu sesuatu. Begitu juga Chris." Jelas Elin.
"Sudah kubilang apa yang kau lakukan?"
"Apakah aku harus memberimu selamat Eric? Karena telah menjadi seorang PK, hahaha...." Jawab Elin dengan senyuman berisi kesedihan.
Di atas kepala Eric nampak dengan jelas tulisan 'Eric' dengan warna merah menyala.
...___________________________________...
...[Sebelum lanjut membaca]...
...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...
...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...
...[Tak ada ruginya bagi kalian]...
__ADS_1
...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...