The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 220 - Perdebatan


__ADS_3

"Jadi serangan Salvation sekarang sudah berhenti?!" Tanyaku kepada Arlond dengan suara yang cukup keras.


Mengingat betapa serakahnya Chris, aku tak pernah menyangka bahwa hal itu akan terjadi.


"Ya. Aku sendiri juga kebingungan dengan hal itu. Oleh karenanya, saat ini aku masih fokus dalam memperkuat pertahanan sambil membentuk pasukan khusus beranggotakan 200 orang termasuk diriku dan para pahlawan Farna. Pasukan khusus itu akan kupimpin sendiri untuk menusuk jantung Salvation yaitu Reinard." Jelas Arlond panjang lebar.


Jujur saja rencana itu sangatlah menarik. Jika saja Arlond mampu mengambil alih Salvation sepenuhnya, maka keuntunganku di dunia game itu akan meningkat drastis!


Tentunya, tak pernah ada ruginya untuk meningkatkan keuntungan.


Akan tetapi....


"Tunggu, Arlond. Bagaimanapun, pergerakan Salvation ini sangat aneh. Mereka yang sejak awal segera melancarkan serangan gila-gilaan itu tapi kini terdiam? Aku merasa bahwa ini adalah sebuah jebakan." Balasku kepada Arlond.


"Tapi ini adalah kesempatan untuk memberikan serangan balik, Erik! Bahkan bisa jadi satu-satunya kesempatan!" Teriak Arlond dengan suara yang cukup keras.


Setelah beberapa saat berdebat dan berdiskusi, pada akhirnya kami berdua sepakat dengan rencana menyerang Ibukota Salvation yaitu Reinard.


Akan tetapi terdapat perubahan rencana bahwa persiapan pasukan khusus itu harus dilakukan dengan matang di dalam Dungeon Treasure. Tak hanya itu, jumlah pasukan yang dibentuk juga menjadi 1.000 orang.


Pada dasarnya, peperangan yang terjadi kali ini merupakan peperangan dengan Kerajaan Farna sebagai pihak bertahan.


Ditambah dengan kemampuan Alice untuk muncul di berbagai tempat seenaknya itu, bertahan adalah jalan terbaik untuk memenangkan pertempuran ini hingga Salvation kehabisan pasukan dan sumberdaya.


Apabila memiliki sisa tenaga untuk menyerang, maka hanya sebagian kecil pasukan saja yang berangkat yaitu pasukan khusus yang akan segera dilatih ini.


Setelah kedua belah pihak puas, kami pun memutuskan untuk memutuskan panggilan dan kembali beristirahat.


...***...


Beberapa hari kemudian....


Di sebuah tempat, nampak kerumunan wartawan dalam jumlah yang begitu banyak.


Semua orang nampak sibuk mengambil gambar dan merekam apapun yang akan dikatakan oleh seorang Pria yang ada di hadapannya.


Pria itu memiliki penampilan yang khas seperti seorang Samurai. Dengan rambut yang cukup panjang dan diikat ekor kuda, serta pakaian khas jepang itu semakin memperjelas identitasnya.


"Miyamoto! Bagaimana menurutmu mengenai pertandingan penyisihan untuk memasuki perempat final berikutnya? Lebih tepatnya, bagaimana menurutmu mengenai lawanmu yang bernama Eric ini?" Tanya salah seorang wartawan sambil menyodorkan Micnya ke arah Miyamoto.


Mendengar pertanyaan itu, Miyamoto nampak tak menunjukkan ekspresi apapun. Akan tetapi, matanya mulai melirik ke arah kamera secara perlahan.


"Eric ya? Aku akan menghabisinya sekuat tenaga." Jawab Miyamoto dengan sangat tegas.


Akan tetapi, jawaban itu sama sekali tidak memuaskan bagi seluruh wartawan yang sedang mewawancarainya.


Mereka menginginkan jawaban yang lebih pasti serta lebih sensasional.


Oleh karena itu, mereka mendorong Miyamoto sedikit lebih jauh. Semua itu demi memperoleh suatu Headline berita yang akan laris terjual.


"Lebih tepatnya.... Bagaimana cara Anda akan menangani Skill perisai dari kristal yang aneh itu? Karena sejak awal Eric bertarung, tak ada satu orang pun yang bisa menembus pertahanan perisai aneh itu." Tanya salah seorang wartawan dengan nada yang cukup memprovokasi.


Miyamoto pun memakan provokasi itu dan segera menjawabnya dengan lantang.


"Menembusnya? Untuk apa? Cukup serang saja pada bagian yang tak terlindungi oleh perisai kaca yang tipis itu." Jawab Miyamoto dengan nada yang merendahkan.


"Perisai kaca yang tipis?"


Pertanyaan itu seketika muncul dari pikiran semua wartawan yang hadir.

__ADS_1


Bagaimana tidak. Meskipun menyerupai kaca, perisai yang dikeluarkan oleh Eric sangat keras dan bahkan mampu menahan Unique Skill : Extermination Ray yang dikenal memiliki damage terbesar dari semua jenis sihir.


Oleh karena itu, pernyataan Miyamoto sedikit membuat kebingungan semua orang yang hadir.


Seakan ingin segera memperjelas semuanya, Miyamoto segera kembali berbicara.


"Kemampuan berpedangku ini jauh melebihi semua lawan yang telah berhadapan dengan Eric. Tentu saja, dengan dukungan Katana Legendaris yang ku peroleh dari suatu misi rahasia, aku sangat yakin mampu menembus perisai tipis itu."


Itulah....


Pernyataan yang paling dinanti oleh para wartawan. Hanya berbekal beberapa kalimat itu saja, seluruh wartawan yang mewawancarai Miyamoto kini sedang menikmati penjualan berita yang paling laris dalam sejarah hidupnya.


Sementara itu....


"Uh.... Aku tak tahu harus berkomentar apa tapi.... Kuharap aku bisa berjuang sebaik mungkin."


Itulah satu-satunya kalimat yang terlontar dari mulutku pada saat beberapa wartawan mewawancarai diriku.


Segera setelah itu, aku pergi ke hotelku dan merebahkan badanku semalaman.


"Pertandingan esok hari melawan orang samurai itu ya? Aku tak tahu apakah bisa menang tapi.... Aku akan berusaha." Ucapku pada diriku sendiri.


'Klek!'


Terdengar suara pintu yang terbuka dari salah satu sudut ruangan. Lebih tepatnya yaitu pintu kamar mandi.


Di balik pintu itu, nampak sosok seorang gadis yang baru saja selesai membasuh tubuhnya. Bahkan semua itu tergambar jelas pada penampilannya yang saat ini hanya dibalut dengan handuk putih yang cukup besar.


"Ah kau sudah pulang, Erik?" Tanya Elin sambil terus mengusap rambutnya yang masih sedikit basah itu dengan handuk kecil.


"Ya, baru saja." Balasku singkat sambil kembali merebahkan badanku.


Jujur saja, meski sebagai suaminya aku cukup jarang melihat Elin yang baru saja selesai mandi. Dan hal itu....


"Entah kenapa kau tampak begitu cantik hari ini, Elin." Ucapku sambil menyentuh pipinya itu.


Elin hanya terdiam menatapku dengan senyumannya yang begitu manis itu. Tanpa sepatah kata pun keluar dari bibir kecilnya itu, Ia segera menciumku secara perlahan.


Tentu saja, sebagai suami yang pengertian aku membalas ciuman itu dengan memeluk erat tubuhnya.


Waktu pun terus berlalu dengan kami berdua saling berbagi cinta. Hingga pada akhirnya, Elin mulai berbicara.


"Erik.... Berjanjilah satu hal padaku...."


Setelah beberapa saat dipenuhi dengan keheningan, Elin kemudian melanjutkan perkataannya.


"Berjanjilah.... Jangan meninggalkanku sendirian.... Aku tak bisa lagi hidup tanpamu, Erik."


Aku sedikit tertawa mendengar permintaan aneh dari Elin itu.


"Buahahaha! Apa yang kau katakan? Memangnya aku akan pergi kemana Elin?" Tanyaku dengan nada yang mengejek.


"Ka-kau! Dasar.... Di saat aku benar-benar khawatir akan kehilangan dirimu!"


"Aduh! Hei! Sakit! Berhenti menjambak rambutku!"


Elin terus menerus menjambak rambutku penuh dengan rasa kesal.


"Jika kau tidak bilang apa yang sebenarnya terjadi maka aku tidak akan pernah tahu!" Teriakku kesal sambil menarik tangan Elin yang bahkan hingga sekarang masih menjambak rambutku.

__ADS_1


Tanpa ku sangka, Elin benar-benar menjawab pertanyaanku.


"Bukankah kau.... Terlalu dekat dengan Lisa akhir-akhir ini? Kau tahu.... Aku cukup takut jika kau...."


"Aah soal itu? Bukankah kau juga tahu bahwa aku dengan Lisa hanya membahas masalah pekerjaan?"


"Tapi...."


Pada akhirnya, aku pun harus memberikan penjelasan yang mendalam untuk meredakan api kecemburuan itu.


Bukan masalah bagiku, karena pada kenyataannya aku memang sering bersama dengan Lisa akhir-akhir ini.


Waktu terus berlalu dan interogasi pun terus berjalan.


Setelah perdebatan yang cukup alot, akhirnya Elin mau menerima kenyataan bahwa aku dan Lisa memang tidak memiliki hubungan apapun.


Akan tetapi Ia mengajukan syarat bahwa selama berlangsungnya Kompetisi Internasional ini, setiap kali aku harus bekerja dengan Lisa maka Elin harus selalu hadir.


Jujur saja aku tak bisa memahami apa keinginannya yang sebenarnya mengajukan syarat aneh itu.


Tapi sebagai seorang lelaki, aku hanya bisa menerimanya untuk membahagiakan Elin.


Setelah negosiasi itu berakhir dengan kepuasan kedua belah pihak, aku segera merubah topik pembicaraan bukan dengan kata-kata.


Melainkan....


'Sreeeett!'


Aku menarik ikatan handuk yang hingga sekarang masih membungkus tubuh putih dan halus Elin.


"Eh?! Apa yang kau lakukan Erik?" Tanya Elin dengan wajah terkejut.


"Fufufu.... Kau pikir bisa selamat setelah memaksaku menjalani sesi interogasi selama itu? Sekarang kau harus menanggung akibatnya!"


Tentu saja, Elin nampak bahagia meskipun aku bertingkah seakan hendak memangsa tubuh mungilnya itu.


...***...


...Pagi Hari...


...Stadion Kompetisi Internasional...


Aku dan Elin berangkat bersama pada pagi hari ini. Saat ini kami sedang berada di salah satu lorong yang mengarah ke dalam Stadion.


Di belakang kami berdua, terlihat jelas sosok Lisa dan juga Rendy yang mengikuti kami sambil menjaga sedikit jarak.


Di tengah keheningan suasana perjalanan ke dalam Stadion ini, aku melontarkan sebuah pertanyaan kepada Elin. Bukan hal besar, tapi aku hanya sedikit khawatir tentang dirinya yang dalam posisi dirugikan terhadap lawannya itu.


"Elin kau sudah siap untuk pertandingan hari ini? Kalau tidak salah kau akan melawan Ilham kan?" Tanyaku singkat.


"Tentu saja. Menembus pertahanannya itu memang cukup sulit. Tapi secara perlahan aku pasti bisa menyerang pada bagian yang tidak terlindungi oleh zirah tebalnya itu." Balas Elin dengan wajah sombongnya yang begitu khas. Tak lupa Ia juga memasang senyuman manisnya.


"Baguslah jika begitu."


"Bagaimana denganmu Erik? Miyamoto adalah salah satu Player terkuat saat ini semenjak bergabung dengan kelompoknya Angie, bersama dengan Ilham. Pada seluruh pertandingan sebelumnya, Ia mampu menebas leher lawannya dan menjadi pemenang dalam waktu 3 detik.


Bahkan lawan yang dianggap mampu mengalahkan Miyamoto hanya dapat bertahan selama 5 detik. Kecepatan penarikan Katana dan juga gerakannya itu sangatlah mengetikan, terutama untuk Penyihir sepertimu." Tanya Elin panjang lebar.


Tapi aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.

__ADS_1


"Ah soal itu? Nantikan saja. Aku sudah mempersiapkan rencana untuk menghadapi tebasan mematikan milik Miyamoto itu."


__ADS_2