
“Dewi Celestine, aku mohon pinjamkanlah kekuatan untuk menumpas kejahatan! Divine Blessing!” Teriak Leo.
‘Eh? Divine Blessing? Dimana aku pernah mendengarnya?’ Pikirku dalam hati. Jika tidak salah, aku pernah mendengar nama Skill itu di suatu tempat.
Tapi aku tidak memiliki waktu untuk berpikir.
Dengan secepat kilat, Leo menerjang kearahku. Kecepatannya sungguh tidak masuk akal mengingat Leo mengenakan zirah yang cukup berat serta perisai besar di tangan kirinya.
‘Slaaashh!’
Tebasannya mengarah tepat ke kepalaku. Aku sangat beruntung dapat menghindarinya sesaat sebelum tertebas.
‘Cepat sekali…. Bagaimana caraku bertahan darinya?!’
‘Stab! Stab! Slaaaassh!!!’
Serangan bertubi-tubi dilancarkan oleh Leo tanpa memberi kesempatan sedikitpun. Dengan segera aku mengaktifkan Skill : Mana Shield untuk menlindungiku dari serangan Leo.
[Anda telah menerima 14.739 damage!]
[Mana Shield telah menahan damage yang Anda terima!]
[Mana telah berkurang sebesar 44.217]
‘Hah? Apa-apaan ini?! 14 ribu damage hanya untuk sebuah tebasan biasa?!’
Aku terkaget melihat notifikasi yang muncul di hadapanku. Meskipun jumlah Mana yang aku miliki telah mencapai angka 400.000 lebih, tapi itu semua hanya bisa menahan 10 kali tebasan.
Untuk dapat berpikir mengenai cara mengatasi Leo dan Kerajaan Suci, pertama-tama aku harus berpikir mengenai cara untuk bertahan hidup.
“Magic Barrage!” Teriakku sambil mengarahkan lenganku kepada Leo.
Puluhan peluru sihir melesat dan meledak di tempat Leo berada. Aku yakin seharusnya aku dapat melemahkannya. Tapi apa yang terjadi hanya membuatku ngeri.
[Anda telah memberikan 1.794 damage!]
[Berkah dari Dewi Celestine telah meniadakan 95% damage yang diterima!]
[Anda telah memberikan 1.215 damage!]
[Berkah dari Dewi Celestine telah meniadakan 95% damage yang diterima!]
[Anda telah memberikan …. ]
“Yang benar saja!!! Lalu bagaimana caraku mengalahkannya! Thunder Storm!” Teriakku kesal sambil menggunakan sihir petirku. Harapanku adalah dengan sihir ini mampu memperlambat pergerakannya sedikit untuk memberiku kesempatan berpikir.
“Elin sialan! Memaksaku untuk menggunakan kepalaku hingga panas! Aku akan meminta bayarannya nanti!”
Sihir petir ini nampak sangat efektif. Gerakan Leo melambat dan setiap petir menyambar tubuhnya, Ia akan menerima efek Stun yang cukup kuat. Meskipun….
[Berkah dari Dewi Celestine telah …. ]
“Notifikasi sialan itu terus menerus muncul. Jika berkahnya sekuat ini lalu bagaimana caraku untuk mengalahkannya? Tunggu dulu…. Aku tidak harus mengalahkannya…. Aku juga tidak perlu bertarung di sini!”
__ADS_1
Seketika aku memperoleh ide cemerlang yang tak pernah kubayangkan. Meski begitu, kepalaku terasa sangat sakit karena digunakan dengan keras setelah sekian lama.
Setelah efek dari Thunder Storm selesai, Leo segera menerjang ke arahku dengan tatapan yang penuh akan kebencian. Pedangnya sudah siap untuk menusuk jantungku. Tapi seketika….
‘Srruuuttt!! Braak!!’
Leo terpeleset di lantai tempat Ia berlari. Ya, aku telah memasang jebakan Slippery Floor di seluruh ruangan ini. Meskipun menghabiskan cukup banyak uang dan Mana, kurasa itu cukup untuk memberiku waktu.
Untuk apa? Tentu saja untuk kabur dari sini!
“Hahaha! Lucu sekali melihat sosok Ksatria Suci terpeleset! Sayang sekali tapi aku akan segera pergi… Jika kau tidak cepat bangun aku mungkin akan….”
Mendengar provoasiku, Leo nampak semakin marah. Ia berusaha sekuat tenaga untuk berdiri dan mengejarku. Tapi sayangnya Ia selalu terpeleset karena seluruh lantai di ruangan ini dipenuhi oleh cairan yang sangat licin.
“Summoner sialan! Menggunakan trik rendahan ini tidak akan….” Teriak Leo dengan tatapan penuh kebencian.
“Braakk!!! Brukk!! Sruuut!!”
Lagi dan lagi. Semakin Leo berusaha untuk bangun, Ia semakin sering terjatuh karena licinnya lantai.
Tentunya aku tidak hanya diam dan menikmati pemandangan ini. Aku segera menyusun rencana untuk mengatasi krisis Summoner dan Dungeon ini. Jendela menu yang ada di hadapanku nampak begitu jelas. Jari jemariku kesana kemari untuk mengetikkan pesan kepada seseorang.
[Chris! Aku butuh bantuanmu! Aku minta tolong padamu untuk….]
...***...
Sementara itu di Dungeon Origin.
“Sampai kapan kau akan diam disana, Kak Elin?” Tanya seorang gadis dengan rambut hitam. Ia tak lain dan tak bukan merupakan adik Erik, Rina.
“Hah… jadi inikah sosok Elin yang selalu dibangga-banggakan oleh kakakku? Sungguh memalukan. Kau tahu? Jika saja aku memiliki level setinggi dirimu, aku pasti sudah ikut membantu kakakku. Tapi apa-apaan yang kau lakukan ini? Duduk santai menikmati pemandangan?”
Rina terus menerus mendesak Elin. Bagaimanapun juga, Rina masih kesal padanya karena melakukan hal buruk pada kakaknya. Tapi mengesampingkan hal itu, Rina lebih kesal karena dengan level Elin yang tinggi Ia tidak ikut membantu pertarungan yang ada.
Tiba-tiba, seorang Pria dengan rambut abu-abu mendekati mereka berdua.
“Apakah Eric memutuskan untuk menang?” Tanya seorang Pria dengan tubuh setengah serigala, Tasmith.
“Entahlah, tapi melihat kubus hitam itu masih ada disana kurasa kakakku masih berjuang.”
Ya, tempat Eric menggunakan Skill : Dungeon Manifestation berubah menjadi sebuah kubus hitam dengan radius yang cukup besar. Mungkin mencapai 100 meter lebih. Jika dilihat dari dekat, permukaan kubus itu berwarna hitam dengan banyak bintik-bintik dari berbagai warna yang terus bergerak kesana kemari.
Rina yang mendekati kubus itu mencoba untuk menyentuhnya, namun notifikasi sistem muncul dihadapannya.
[Sihir distorsi ruang sedang digunakan!]
[Tidak dapat memasuki tempat yang terdistorsi!]
Meskipun Skill : Dungeon Manifestation menyebutkan akan merubah tempat sekitar menjadi Dungeon pilihan, Eric tidak pernah tahu bahwa penampilannya dari luar cukup menyeramkan.
“Jika Eric memilih untuk menang, tolong berikan ini kepadanya. Jika dia memutuskan untuk kabur, berikan ini kepadanya.” Ucap Tasmith sambil menyerahkan sebuah tombak dan sebuah sepatu.
[Magic Spear of Destruction]
__ADS_1
Deskripsi :
Sebuah tombak sihir yang hanya bisa digunakan sekali saja tapi memberikan kerusakan fatal bagi yang menerimanya, termasuk seluruh area di sekitar.
[Boots of Cowardice]
[Rarity : Epic]
[Pembuat : Tasmith]
[Atribut]
Agility : + 25%
Stamina : + 25%
Kecepatan lari : + 30%
Deskripsi :
Sebuah sepatu untuk pengecut yang hanya bisa lari. Jika kau menggunakan sepatu ini, lebih baik kau berkaca untuk mengetahui seberapa rendahnya dirimu.
“Ah…. Aku paham. Terimakasih Tasmith.” Balas Rina setelah menerima 2 item itu.
“Kalau begitu aku akan segera mengungsi. Sayang sekali masih banyak yang ingin kupelajari sehingga mati disini bukanlah pilihanku.” Ucap Tasmith sambil segera pergi untuk menggunakan Teleportation Circle yang ada.
“Kak Elin, gunakanlah sepatu ini. Lalu bawalah tombak ini untuk berjaga-jaga.”
“….”
“Sampai kapan kau akan mematung di situ! Cepatlah!”
“Semua yang telah kubangun susah payah…. Akan hilang….” Jawab Elin lemas mengetahui Dungeon ini akan segera dibinasakan oleh pihak Kerajaan Suci Celestine.
“Dungeon ini hancur adalah satu hal, tapi kau yang tidak melakukan apapun itu membuatku muak. Baiklah, jika kau memang tidak mau melakukannya maka aku yang….”
Elin segera memegang tangan Rina untuk menghentikan langkahnya.
“Aku akan melakukannya… tapi tolong jangan usir aku… aku masih butuh uang….” Jawab Elin sambil mengenakan sepatu itu. Meskipun sepatu milik Elin sebelumnya memiliki atribut yang lebih bagus, tapi sepatu ini meningkatkan kecepatan lari Elin dengan lebih tinggi. Sungguh sangat sesuai dengan nama sepatunya.
“Soal itu kau tanyakan sendiri ke kakakku. Cepatlah berdiri dasar….”
Tiba-tiba, kubus hitam yang ada di hadapan mereka menghilang. Dibaliknya muncul puluhan monster yang menjaga seorang Ksatria Suci serta dua orang Pria yang saling berhadapan satu sama lain. Pria dengan zirah hitam di sisi kiri serta Pria dengan zirah putih yang masih tersungkur di tanah.
“Elin! Cepat bawa aku lari dari sini!” Teriak Pria dengan zirah hitam itu.
...___________________________________...
...[Sebelum lanjut membaca]...
...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...
...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...
__ADS_1
...[Tak ada ruginya bagi kalian]...
...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...