
Ruderioss masih nampak meremehkanku. Ia begitu yakin bahwa serangan apapun yang ku lancarkan tidak akan mampu melukainya. Jangankan melukai, Ia sangat yakin bahwa takkan ada yang mampu mengenainya.
Hingga akhirnya, terlihat sebuah cahaya merah yang terang dari tubuhku. Bersamaan dengan cahaya itu, sebuah ledakan yang sangat besar terjadi.
‘DUUUUUUAAAARRR!!!’
Sebuah ledakan yang memiliki radius mencapai 80 meter lebih. Tak hanya itu, tinggi ledakannya mencapai lebih dari 100 meter.
Ledakan yang berlangsung selama 15 detik lebih itu menyapu bersih pasir yang ada di dalamnya. Semuanya berhamburan ke berbagai arah. Dan kini, hanya menyisakan sebuah cekungan raksasa yang mulai mengerucut karena pasir dari berbagai arah mulai mengisi kekosongan ini.
Aku sangat yakin bahwa Ruderioss yang terus menerus berlari mengelilingi diriku akan termakan oleh ledakan itu.
Meski begitu….
Aku tidak berani untuk membuka mataku. Bagaimana jika bahkan serangan ini tidak memberikan damage sama sekali seperti sebelumnya? Bagaimana jika Ruderioss mampu menyadarinya dan segera menjauh sesaat sebelum terkena dampak ledakan?
Pikiranku dipenuhi oleh berbagai hal negatif. Aku merasa bahwa diriku mulai memiliki kekurangan ini semenjak mampu berpikir dengan baik. Ya, aku mulai berpikir berlebihan terhadap semua hal termasuk hal-hal yang sepele.
Tapi sebuah tepukan yang ringan di pundakku menyadarkanku dari semua itu.
Bersamaan dengan tepukan itu, aku mendengar suara Ruderioss yang begitu merdu.
“Selamat, Eric. Kau jauh melampaui harapanku.”
Aku pun mulai memberanikan diriku untuk membuka mata. Pada saat itulah, aku melihat sosok Ruderioss yang masih nampak baik-baik saja. Aku tak melihat adanya luka sedikitpun di tubuhnya. Bahkan, pakaiannya masih sangat rapi dan bersih.
Meski begitu, kenapa Ruderioss mengatakan selamat kepadaku?
Saat aku melihat notifikasi yang ada di hadapanku….
[Anda telah memberikan 4 damage!]
“Apakah aku….” Ucapku dengan mata yang terbuka lebar dan mulut yang menganga.
Itu hanyalah sebuah damage yang sangat kecil. Bahkan takkan mampu untuk membunuh monster level 1 di desa pemula. Meski begitu, ini adalah damage yang sangat besar mengingat lawanku adalah seorang Naga Gurun Kuno yang memiliki kekuatan setara dengan Dewa.
“Kau menang dengan telak, Eric. Aku tak pernah menyangka bahwa kerusakan dari Skill milikmu akan sebesar itu. Wajar saja karena aku telah lama tidak bertarung! Hahaha!” Teriak Ruderioss sambil tertawa dengan keras. Kedua lengannya nampak mengepal di pinggangnya.
“Jadi, kau akan membiarkanku keluar dari tempat ini?” Tanyaku dengan nada yang sedikit gemetar.
__ADS_1
“Tidak hanya itu! Aku akan memberikan hak khusus kepadamu untuk menjadi pengikutku! Bagaimana? Hal yang menarik bukan?! Hahaha!”
Segera setelah itu, dunia padang pasir ini mulai runtuh. Lebih tepatnya, hancur berkeping-keping mulai dari langit hingga tanahnya.
Pada akhirnya, pandanganku berubah dan kembali pada posisi awal yaitu di dalam sebuah Reruntuhan Kuil Ruderioss.
Aku melihat sosoknya yang berjalan secara perlahan mengarah ke sebuah singgasana yang sudah hancur itu. Ia pun membalik badannya dan segera duduk.
“Eric. Sesuai dengan janjiku, aku akan memberikanmu harta yang kau inginkan. Mendekatlah.” Ucap Ruderioss yang masih berada di wujud manusianya.
Pada saat itulah, muncul notifikasi sistem di hadapanku.
[Quest Rahasia : Ancient Dragon’s Trial telah berhasil diselesaikan!]
[Anda akan memperoleh hak untuk memilih 2 harta dari seluruh harta milik Ruderioss, Sang Naga Gurun Kuno!]
[Berbicaralah pada Ruderioss untuk memperoleh hadiah Anda!]
[Quest Rahasia : Ruderioss’s Challenge telah berhasil diselesaikan!]
[Anda akan memperoleh Legendary Skill Book : Ancient Desert Dragon’s Footwork milik Ruderioss, Sang Naga Gurun Kuno!]
[Berbicaralah pada Ruderioss untuk memperoleh hadiah Anda!]
Segera setelah berada di hadapannya, aku segera berlutut untuk menunjukkan rasa hormatku kepada sosok makhluk kuno bernama Ruderioss.
“Sikap yang bagus.” Ucap Ruderioss. Ia dengan segera menjentikkan jarinya.
Seketika, pemandangan yang ada di hadapanku kembali berubah dengan pengecualian Ruderioss yang masih duduk di singgasana yang telah hancur itu.
Di sekelilingku, terlihat emas dalam berbagai bentuk. Tak hanya itu, berbagai relik dan juga perlengkapan yang tak pernah kubayangkan nampak berjejer dengan rapi. Termasuk juga rak-rak buku yang dipenuhi dengan buku pada berbagai tingkatan.
Mulai dari buku biasa hingga yang paling mencengangkan yaitu buku dengan sampul hitam dan merah. Ancient Book atau Buku Kuno. Sebuah buku yang memiliki kekuatan untuk menggeser roda takdir di dunia ini.
Saat aku masih menikmati keindahan ruang harta ini, Ruderioss mulai berbicara.
“Bagaimana menurutmu mengenai koleksi harta milikku ini, Eric? Cukup indah bukan?” Ucapnya dengan nada yang saat ini terdengar sedikit sedih.
“Semua ini tidak bisa digambarkan dengan kata cukup! Semua harta ini….” Balasku sambil kehabisan kata-kata.
__ADS_1
“Hahaha. Aku mengerti. Dahulu kala, para pengikutku selalu memberiku hadiah setiap saat sebagai bentuk persembahan. Semuanya kujaga dengan baik di ruangan ini. Bahkan hingga hadiah yang paling sederhana seperti sebuah batu. Semuanya ada disini.” Ucapnya sambil memandangi lautan harta ini.
Setelah berhenti selama beberapa saat, Ruderioss kembali melanjutkan perkataannya.
“Tapi itu adalah kisah masa lalu! Sekarang, perjanjian adalah perjanjian! Kau bebas untuk memilih dua harta manapun yang kau inginkan! Silakan melihat-lihat sepuasmu sebelum menentukan pilihan!” Teriak Ruderioss dengan nada yang tegas namun terkesan riang seperti sebelumnya.
Aku sangat yakin bahwa sesuatu telah terjadi dengan para pengikutnya. Haruskah aku menanyakannya? Mungkin saja ini adalah pemicu suatu Quest Rahasia lainnya.
Setelah memikirkannya sejenak, aku memutuskan untuk tidak menanyakannya.
Aku pun segera mengelilingi tempat ini. Sungguh, harta yang ada di Dungeon Treasure terkesan seperti mainan anak-anak jika dibandingkan dengan ruangan ini.
Ruangan ini memiliki desain ruang tengah bundar yang sangat luas, tangga melingkar nampak menghubungkan tiap lantai ruangan ini. Jumlah lantai yang ada tak terhitung jumlahnya pada saat aku menengok ke atas.
Bintang yang menghiasi malam ini dapat terlihat dari tempatku berdiri. Hal itu menunjukkan bahwa ruang tengah ini terbuka.
Sedangkan di segala arah, nampak ruangan yang tak terlihat ujungnya. Sungguh, dimana sebenarnya aku saat ini berada? Jika bangunan sebesar dan semegah ini benar-benar ada, maka seharusnya sudah ditemukan sejak dulu.
Sesekali aku memperhatikan kembali sosok Ruderioss yang masih duduk di singgasananya. Saat aku memperhatikannya dengan baik, hatiku terasa begitu teriris.
‘Bagaimana jika aku yang ada di tempatnya? Aku yang sudah terbiasa dilayani oleh para monster bawahanku, dan tiba-tiba harus hidup sendirian sepertinya di tempat yang sudah hancur ini? Terlebih lagi, menjaga seluruh harta pemberian pengikutnya….’ Pikirku dalam hati.
Sosok Ruderioss nampak begitu kesepian di tempat ini. Haruskah aku….
Tidak. Aku harus menyelesaikan dulu pekerjaanku yaitu memilih hadiah yang kuinginkan.
Beberapa jam telah berlalu….
Pada akhirnya, aku telah memutuskan untuk memilih dua buku kuno.
Beberapa senjata dan perlengkapan tingkat legendaris yang ada nampak begitu menggiurkan setelah aku melihat informasinya. Akan tetapi, aku merasa bahwa perlengkapan itu dapat kubeli nantinya dengan uang kepada Aamori.
Sedangkan buku kuno? Aku yakin tak ada satupun orang yang bisa membuatnya.
Oleh karena itu, aku sangat yakin bahwa dua buku kuno ini merupakan pilihan terbaik yang dapat kubuat saat ini.
Aku pun segera kembali berjalan untuk menemui Ruderioss yang masih nampak duduk dengan tenang di singgasananya. Senyuman yang tipis dapat terlihat pada wajahnya setelah melihatku kembali.
“Kau sudah menentukan pilihanmu, Eric?” Tanya Ruderioss dengan suara yang cukup lantang.
__ADS_1
“Ya, kuharap kau tidak menyesal karena membiarkanku untuk memilih sesuka hatiku.” Balasku dengan senyuman yang sangat lebar.