The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 243 - Permasalahan Baru


__ADS_3

...[Author's Note]...


...Mohon maaf karena menghilang selama 3 hari, tapi sekarang saya telah kembali!...


...Semoga masih banyak yang menanti hehehe...


...Ohya, ada satu pengumuman yang mungkin akan merubah semua cerita saya untuk selamanya yaitu.......


...PENGUBAHAN POINT OF VIEW!...


...Berhubung Arc kedua TDM akan segera tamat, dan rencana memang akan menggunakan POV pihak ke 3, maka saya berencana untuk memulainya dari sekarang...


...Semoga tidak ada yang kecewa...


...Intinya cerita dan esensinya tetap sama, hanya saja takkan lagi ada kata 'Aku' yang menunjuk pada Eric di cerita...


...Anyway, let's get started!...


...______________________________...


Beberapa minggu telah berlalu semenjak perjanjian perdagangan antara Eric dengan Chris dari Salvation.


Semuanya telah berjalan dengan lancar dimana Eric, atau lebih tepatnya Dungeon Origin memperoleh keuntungan yang luarbiasa besar dari penjualan barang-barang sampah yang dihasilkan oleh Tasmith serta pandai besi lainnya.


Meski begitu, Eric mengirimkan semua keuangannya kepada Kerajaan Farna atau lebih tepatnya Arlond. Alasannya sangat sederhana.


Yaitu untuk meningkatkan kekuatan dan ekonomi Kerajaan Farna.



*Note : Kerajaan Rena telah runtuh dan sekarang menjadi Kerajaan Salvation yang dipimpin oleh Chris


Dari total 8 kekuatan besar yang ada di Benua Tengah ini, Kerajaan Farna dulunya duduk di peringkat terbawah sejak keterpurukan ekonomi itu.


Akan tetapi semenjak kepemimpinan Arlond yang bekerja sama dengan baik bersama Eric, Kerajaan Farna kini melejit hingga mencapai peringkat 4 kekuatan terbesar di Benua Tengah dalam waktu beberapa tahun saja di dunia virtual itu.


Pendapatan Kerajaan Farna per tahun mencapai lebih dari 25 juta koin emas, dimana semuanya dengan rapi dialokasikan untuk pembangunan Keeajaan.


Saat ini, seluruh petinggi Kerajaan Farna sedang mengadakan rapat bersama dengan Eric yang tentunya dikawal oleh Cathy dan Rianne.


"Eric, apakah kau serius dengan itu?" Tanya Arlond dengan wajah yang kebingungan.


"Aku serius. Sekarang ekonomi kita sudah sangat kuat. Aku memintamu secara khusus untuk membentuk pasukan penaklukan dan bersiap untuk menguasai Kerajaan Ilandis beberapa tahun lagi." Jelas Eric sambil menunjuk ke suatu lokasi di peta.


Semua Menteri yang hadir dalam rapat ini sedikit kebingungan dengan pernyataan Eric.


Kenapa Ia ingin menaklukkan Ilandis?


Pertanyaan itu tergambar jelas di wajah mereka. Eric yang menyadari hal itu nampak tersenyum tipis dan menebak-nebak isi pikiran mereka.


"Aku tahu kalian mungkin akan sedikit khawatir dengan Kekaisaran Avertia, secara wilayah Kerajaan Ilandis tepat berada di sebelah Avertia. Tapi tak perlu takut. Aku akan mendukung kalian semua dalam penakluka...."

__ADS_1


Belum sempat menyelesaikan perkataannya yang terkesan sedikit sombong itu, seseorang nampak membuka pintu ruang tahta ini secara paksa.


'Brakkk!!!'


Semua mata tertuju ke arah sumber suara.


Apa yang mereka lihat, adalah sosok seorang Pria yang berpakaian ala bangsawan dengan warna hitam dan putih.


Rambut hitamnya yang sedikit mengombak, mata merah darah serta kulit pucatnya itu memperjelas sosoknya.


"Tuanku! Berita buruk!" Teriak Pria itu yang tak lain adalah Lucien.


"Hmm? Setelah meninggalkanku dalam waktu yang sangat lama, akhirnya kau kembali? Jadi bagaimana?" Tanya Eric dengan wajah yang nampak sedikit kesal.


Lucien yang menghiraukan ekspresi Eric hanya mempercepat langkahnya. Setelah tepat berada di belakang Eric yang sedang duduk di kursi kayu itu, Lucien nampak membisikkan sesuatu.


Beberapa saat berlalu dengan keheningan yang menyelimuti ruangan ini.


Arlond, dan juga para menteri benar-benar paham bahwa Eric adalah sosok yang sangat penting dan berpengaruh. Pasalnya, Pria yang dikenal sebagai Penyihir Agung itu telah menyelamatkan Kerajaan Farna berkali-kali.


Itulah kenapa para menteri dan juga para petinggi di Kerajaan Farna sangat menghormati Eric meskipun Ia jarang hadir.


Setelah beberapa saat....


"Apa kau bilang?!" Teriak Eric sambil menyipitkan matanya. Ia nampak begitu kesal dengan berita yang baru saja didengarnya.


"Maafkan aku, Tuanku.... Akan tetapi kekuatan dari...."


"Arlond, maafkan aku tapi ada sedikit perubahan rencana. Alokasikan semua uang yang ada untuk membentuk pasukan dan membuat alat berat untuk pertahanan. Jangan lupa untuk membangun dinding yang kokoh di semua tempat. Apa kau mengerti?" Jelas Eric panjang lebar.


"Semua di militer? Kenapa?" Tanya Arlond kebingungan.


"Aku belum bisa memastikan kebenarannya, dan kepada siapa orang itu akan berpihak. Tapi kurasa dia telah benar-benar kehilangan akalnya." Ucap Eric sambil segera pergi meninggalkan ruang tahta itu.


Dan kini, Arlond dan para menterinya hanya bisa berspekulasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Meski begitu, mereka menuruti perkataan Eric karena semua kekayaan yang dimiliki Kerajaan Farna saat ini adalah berkat Eric.


...***...


...Dungeon Origin...


...Lantai 5...


...Pusat Fasilitas Kimia...


"Membuat ramuan dan benda suci? Maaf tapi kenapa, Tuanku?" Tanya Lurka, pemimpin dari semua alkemis dari kalangan monster ini.


"Kemungkinan besar kita akan segera bentrok dengan kekuatan kematian. Tak ada salahnya untuk mempersiapkan diri." Jelas Eric sambil terus melihat-lihat sekeliling.


Tumpukan buku di atas meja yang tersusun rapi, ratusan botol kaca dan juga berbagai alat yang terbuat dari besi atau kaca.


Semuanya nampak berjejer dengan rapi di dalam ruangan yang diterangi oleh [Light Rune] buatan bawahan Tasmith ini. Cahaya yang dikeluarkan oleh [Light Rune] cukup terang, akan tetapi membutuhkan Mana setiap detiknya untuk bisa berfungsi.

__ADS_1


Oleh karena itu, seluruh fasilitas kimia dan juga hampir seluruh bagunan yang ada di Dungeon Origin telah dialiri oleh Mana yang berasal dari para penyihir.


Jika dibandingkan dengan baik, mungkin mirip dengan konsep listrik di dunia nyata.


Eric yang masih sibuk menikmati pemandangan di dalam ruang kerja ini, dikejutkan oleh jawaban Lurka.


"Melawan Undead dengan benda dan item beratribut suci memang pilihan yang bijak. Tapi di dunia sekitar sini yang memiliki kekuatan kematian.... Jangan katakan padaku, Evan?"


Sebagai sesama Alchemist, Lurka tentu saja mengenal Evan sebagai salah satu alkemis terhebat di dunia ini.


Mengetahui bahwa kemungkinan sumber dari semua masalah ini adalah orang yang Ia anggap sebagai rivalnya, Lurka justru tersenyum puas.


"Tenang saja Tuanku. Akan ku buktikan bahwa berkat yang diberika oleh Tuan Eric kepadaku, mampu membuatku menjadi seorang alkemis yang jauh lebih hebat darinya.


Item beratribut suci? Bah, serahkan saja padaku! Aku akan membuat ramuan suci pembunuh Undead terkuat di dunia ini!" Sambung Lurka tanpa membiarkan Eric berbicara.


Mendengar hal itu, Eric juga ikut senang.


"Bagus. Tapi seperti perkataanku, Evan belum tentu akan menyerang kita. Tapi jika Ia merusak dunia yang menjadi sumber kekayaanku ini, kurasa mau tak mau dia harus berurusan denganku."


...***...


...Dungeon Forteresse de Deus...


Di dalam sebuah istana megah yang cukup gelap ini, nampak sosok seorang Wanita yang sedang duduk santai di sebuah singgasana emas.


Ia terlihat sedang meminum suatu cairan berwarna merah dari gelas kaca yang begitu elegan itu.


Di hadapannya, terlihat sosok 9 vampir.


Mereka adalah vampir bangsawan terkuat, yang setiap orangnya saat ini memiliki kekuatan yang hampir setara dengan Lucien.


Meski memiliki kekuatan yang begitu besar, mereka nampak berlutut di hadapan Wanita itu.


Tentu saja, sosok Wanita itu bukanlah orang sembarangan. Ia dikenal dengan panggilan singkatnya yaitu Deus.


Atau lebih dikenal dengan nama aslinya.


Asmodeus, sang Primordial Vampire.


Vampir pertama di dunia ini sekaligus yang terkuat.


"Apakah kalian tahu alasan aku memanggil kalian semua kemari?" Tanya mantan Ratu Iblis itu.


"Alasan utama keberadaan kami hanyalah satu. Yaitu menanti hari pembalasan. Jika kami semua dipanggil secara langsung oleh Yang Mulia, maka apakah hari pembalasan sudah dekat?" Tanya salah seorang Vampir yang masih terus berlutut itu. Bahkan tanpa mengangkat wajahnya sedikitpun.


Mendengar jawaban itu, Deus nampak tersenyum tipis lalu mulai berbicara.


"Benar sekali. Abaddon, sang pembawa kehancuran, akan segera memasuki dunia manusia ini dengan bantuan bawahan dan bonekanya.


Sebagai salah seorang yang berani menjatuhkan kekuasaanku di dunia Iblis, bukankah sudah sewajarnya bagi diriku untuk menyambut kedatangannya dengan memberi kematian yang menyakitkan?"

__ADS_1


__ADS_2