
Di daerah Perbatasan antara Kerajaan Farna dan Teokrasi Julia....
Terdapat sebuah menara dengan tinggi yang hanya mencapai sekitar 30 meter. Menara itu memiliki total sebanyak 6 lantai dimana di setiap lantai dihuni oleh satu orang penjaga.
Mereka adalah sosok terkuat dan perwakilan dari tiap ras. Keberadaan mereka tidak pernah diketahui oleh seluruh penduduk asli dunia Re:Life termasuk juga para Player.
Akan tetapi, mereka sebenarnya telah dirancang oleh pihak Developer sebagai Safety Measure atau Pengaman ketika dunia manusia yang seharusnya dijadikan tempat bermain ini berada dalam bahaya.
Para Guardian ini adalah sosok yang Netral dimana mereka akan membantai siapapun dan apapun yang mengancam untuk menghancurkan dunia manusia ini.
Akan tetapi, tugas itu akan dibebankan pada ras selain ras targetnya.
Sebagai contoh ketika manusia mengacaukan benua tengah ini, maka 5 Guardian selain Guardian manusia lah yang akan bergerak untuk menghentikan kehancuran itu.
Itu dilakukan agar tak ada sedikitpun rasa belas kasihan kepada target mereka.
Jadi apakah mereka sosok yang jahat?
Hal itu sulit untuk dijawab. Karena dari segi keselamatan dunia, para Guardian itu adalah sosok penyelamat. Tapi di sisi lain, di mata target yang dibantai oleh mereka, para Guardian adalah penjahat yang sebenarnya.
Di lantai satu menara itu....
Sedang dilakukan pertemuan antara keenam wakil terkuat dunia itu.
"Oi oi.... Apa maksudnya ini? Mengapa ada seseorang yang menggunakan skill tingkat [Apocalypse] di dunia ini?" Tanya sang wakil dari ras Giant. Ia memiliki tubuh yang sangat besar dengan otot yang begitu kekar. Tinggi tubuhnya sendiri mungkin mencapai 3 meter lebih.
"Aah.... Skill tingkat [Apocalypse] ya? Mengingatkanku akan peperangan yang terjadi di dunia iblis beberapa ratus tahun yang lalu." Balas seorang wanita dengan rambut pirang yang panjang dan begitu indah. Wajahnya yang begitu lembut dan menawan itu mengucapkan perkataan semacam itu seperti hal yang sudah biasa. Ia adalah wakil dari ras Elf yang bahkan hampir punah itu.
"Valiant.... Bukankah kali ini terlalu banyak manusia yang akan menderita karena ulah pengguna skill ini? Segera lakukanlah sesuatu demi melindungi ras mu itu. Semenjak Ras ku telah bermigrasi ke dalam pegunungan dan menyembunyikan diri mereka, aku tak memiliki begitu banyak alasan untuk melindungi benua tengah ini." Ucap seorang Pria yang cukup pendek tapi memiliki tubuh yang sangat kekar.
Rambutnya yang berwarna hitam kecoklatan itu cukup panjang dan kaku. Dengan hiasan jenggot yang tebal dan panjang itu memperjelas sosoknya sebagai wakil dari para Dwarf.
"Aku takkan memperdulikan benua tengah ini selama keselamatan alam dan para peri masih terjaga." Balas seorang wanita dengan tubuh yang cukup ramping dan memiliki sayap seperti kupu-kupu itu. Ia adalah perwakilan terkuat dari ras Fairy yang kini bahkan dianggap sebagai monster langka oleh banyak pemain.
"Para manusia itu menjaga laut dengan baik karena ketakutan mereka atas ras ku. Terlebih lagi aku sedang sibuk mencari keberadaan Searis, seorang naga air yang begitu merepotkan karena keusilannya." Jelas seorang wanita yang nampak memiliki insang itu. Ia adalah perwakilan terkuat dari ras Siren.
Mendengar perkataan Siren itu, sang perwakilan dari ras Dwarf ikut membahas hal yang sama.
"Hoho.... Jadi ular air itu masih hidup? Apakah kau membutuhkan bantuanku untuk menghajarnya?"
"Menemukannya saja belum. Bagaimana caraku untuk menghajarnya? Nanti jika aku telah mengetahui lokasinya maka akan ku bagikan dengan kalian semua."
Meskipun semua orang sibuk berbicara, sang wakil dari ras manusia yaitu Valiant hanya bisa diam. Ia sibuk memikirkan apa yang harus dilakukannya dengan situasi ini.
Setelah memikirkannya selama beberapa saat, Ia mulai berbicara.
"Baiklah. Aku yang akan mengatasi masalah ini. Kalian cukup bersantai saja." Ucap Valian sambil berdiri dari kursinya dan mengambil pedang dengan sarung berwarna perak itu.
Pada akhirnya, Valiant memutuskan untuk pergi ke Kota Lesta sendirian.
...***...
...Kota Lesta...
Di hadapan tanah kematian itu....
__ADS_1
"Hmm.... Bukankah ini cukup buruk? Death Plague, sebuah skill yang akan semakin kuat ketika memakan lebih banyak jiwa. Permasalahannya.... Siapa yang melakukannya?" Tanya Valiant pada dirinya sendiri sambil melihat istana yang telah hancur itu.
Pada saat Ia masih berdiri dengan tenang, tiba-tiba seorang Iblis muncul dan menyerangnya secara tiba-tiba entah darimana.
'Sraaaasssh!!'
Iblis yang merupakan ras minotaur itu melayangkan kapaknya dengan sangat cepat untuk memenggal kepala Valiant.
Tapi itu sama sekali tak berguna karena Valiant bisa menahannya hanya dengan dua jarinya.
"Jadi bangsa iblis ya? Aku penasaran bagaimana cara kalian bisa sampai ke dunia ini tanpa melewati World Rift yang kami berenam jaga. Untuk itu...."
Tapi sebelum Valiant berhasil menangkap Minotaurus itu, sebuah celah berwarna hitam gelap muncul di balik tubuh Minotaurus itu. Dengan cepat lawannya segera melompat ke belakang dan menghindari maut.
"Hoo.... Sihir ruang ya? Aku tak tahu apa nama sihir itu tapi sepertinya cukup merepotkan. Meski begitu...."
Valian nampak mencoba melangkahkan kakinya ke tanah hitam tersebut. Dengan cepat, kaki kanan Valiant mulai terbakar oleh api hitam yang sangat kuat. Damage yang sangat besar pun diterimanya tanpa bisa melakukan apapun.
Setelah beberapa saat mengamati tubuhnya yang terbakar, Valiant kembali berbicara pada dirinya sendiri.
"Bahkan berkat dari Dunia tak bisa menahan skill tingkat Apocalypse ya? Sedikit merepotkan tapi kurasa aku harus membahas hal ini dengan Ruderioss."
Valiant dengan segera mengangkat kaki kanannya dan mundur dari Kota Lesta. Tujuan barunya sangatlah jelas yaitu Kuil Naga Gurun Kuno, Ruderioss yang berada di Padang Pasir di ujung Paling Timur Benua Tengah.
...***...
...Kuil Ruderioss...
Kuil yang dulunya hanya berupa reruntuhan dan dipenuhi dengan debu serta kotoran itu, kini telah berubah drastis menjadi sangat bersih dan juga megah.
Sejak saat itu, Ruderioss telah membangun kembali kuilnya dan memperoleh banyak sekali pengikut dari para NPC yang ada di daerah Gurun itu.
Di tengah kemegahan kuil itu, Ruderioss duduk di atas sebuah singgasana emas yang cukup tinggi dan juga begitu megah.
Pada saat itu juga....
'Tap! Tap! Tap!'
Seorang Pria yang mengenakan jubah berwarna putih polos serta zirah kulit ringan itu berjalan dengan santai memasuki kuil itu. Satu-satunya senjata yang dimilikinya adalah sebuah pedang berwarna perak dengan sarung yang juga berwarna perak.
Dengan sarung tangan kulit berwarna coklat itu, Pria itu menggenggam erat pedang yang sebenarnya hanyalah tingkat [Normal] itu untuk selalu bersiaga.
Rambut hitam Pria itu cukup panjang hingga mencapai pundaknya dan saat ini dibiarkan terurai begitu saja. Penampilan wajahnya cukup garang dengan mata yang tajam serta kumis dan jenggot yang cukup tipis.
"Ruderioss. Apakah kau sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di wilayah Barat?" Tanya Valiant dengan tenang sambil meneruskan langkah kakinya itu.
Ruderioss yang sedang sibuk menikmati berbagai jenis buah-buah itu segera menghentikan semua kegiatannya dan fokus untuk menghadapi lawan bicaranya saat ini.
"Kupikir siapa yang datang, ternyata kawan lamaku ya? Bagaimana kabarmu, Valiant? Apakah baik-baik saja?" Balas Ruderioss kepada perkataan Valiant.
"Aku baik-baik saja. Jika melihat kondisimu kau justru jauh lebih baik dari sebelumnya kan? Sekarang berhentilah basa basinya. Katakan padaku apakah kau sudah mengetahui hal ini sebelumnya? Sebagai pemilik dari mata para dewa, kau seharusnya bisa mengetahui semua yang terjadi di dunia manusia ini kan?" Tanya Valiant tanpa sedikitpun menghentikan langkah kakinya mendekati Ruderioss.
Mendengar pernyataan itu, Ruderioss hanya tersenyum pahit dan membalasnya.
"Tentu saja aku tahu. Tapi semua itu sudah terlambat. Meski bisa melihat ke segala arah, mata ini tak bisa mengetahui semua yang terjadi di dunia ini. Aku mengetahui keberadaannya sudah terlambat."
__ADS_1
"Apa maksudmu dengan sudah terlambat? Apakah sejak Death Plague di aktifkan?" Tanya Valiant yang kini telah berhenti tepat di depan singgasana emas Ruderioss.
"Tidak.... Tapi jauh sebelum itu. Yaitu ketika Raja Iblis itu memperoleh kekuatan suci yang membuatnya setara dengan dewa."
Mendengar jawaban itu, Valiant merasa sangat ngeri dan merinding. Hal yang wajar karena tingkat dewa adalah tingkatan tertinggi di dunia ini.
"Apa... kau bilang? Kekuatan suci?"
Ruderioss hanya mengangguk mendengar pertanyaan dari Valiant. Segera setelah itu, Ia bahkan seakan menambahkan bumbu kengeriannya.
"Bahkan Naga Kuno yang terkuat sekalipun, Arroth, tak bisa melukainya sama sekali. Kurasa akan lebih bijak jika kau mengajak semua kawan-kawanmu itu, Valiant."
Valiant segera berpikir dengan keras untuk menanggapi situasi yang mengerikan ini.
Meskipun dirinya ikut bertarung pun, daya tempurnya masih berada di bawah Arroth yang dikenal sebagai penghancur dunia pada jaman dulu.
Ia juga pernah melawan Arroth beberapa ratus tahun yang lalu. Bahkan dengan bantuan Guardian Elf dan juga Guardian Giant, Arroth masih bisa mengungguli para Guardian dan menang dengan telak.
Maka dari itu membayangkan bahwa Arroth sekalipun tak bisa menggores Raja Iblis yang muncul di dunia ini....
"Apakah ini akhirnya? Akhir dimana dunia tengah benar-benar akan hancur?" Ucap Valiant yang saat ini mulai merasakan keputusasaan yang besar.
Ia menyadari bahwa kekuatan dari Death Plague bukan hanya untuk membunuh semua makhluk hidup dan memperluas jangkauannya. Tapi juga untuk memperkuat diri pengguna skill tingkat Apocalypse itu.
Dengan kata lain, Raja Iblis Abaddon akan semakin kuat seiring dengan berjalannya waktu. Jika beberapa hari yang lalu saja Raja Iblis Abaddon bisa mengalahkan Arroth maka....
Sebelum Valiant selesai dan puas dengan kebingungannya sendiri, Ruderioss nampak membelalakkan matanya lebar-lebar setelah melihat di kejauhan.
Dengan ekspresi ketakutan yang sama sekali belum pernah Ia tunjukkan sebelumnya, Ruderioss mulai melontarkan tambahan keputusasaan.
"Eric? Kau.... Kenapa bisa ada orang itu di pihakmu? Bagaimana bisa ini.... Jangan katakan?!"
Di tengah kepanikan itu, Ruderioss segera turun dari tahtanya dan menyeret Valiant keluar dari kuil.
"Ruderioss, ada apa?"
"Gawat! Apapun yang terjadi kita harus menghentikan seorang manusia yang sedang bersama dengan Iblis itu!" Teriak Ruderioss sambil segera terbang ke udara dan melesat ke arah Kerajaan Farna.
"Aku sama sekali tak paham dengan maksudmu! Jelaskan dengan detail!" Teriak Valiant karena saat ini suara yang mendominasi telinga mereka adalah suara angin yang begitu kencang.
"Eric.... Tak ku sangka sumber kekuatannya berasal dari seorang Primordial Vampire. Jika kita terlambat, dunia akan benar-benar hancur ke depannya!"
Ruderioss pun akhirnya menjelaskan semuanya mengenai sosok yang bernama Eric dan juga sosok Iblis yang bersamanya.
Asmodeus.
Ratu Iblis Kuno yang menyandang gelar sebagai Ratu Iblis terkuat yang pernah ada. Keberadaannya saja bahkan memaksa keenam Raja dan Ratu Iblis Kuno lainnya untuk bekerja sama hanya demi mengalahkan Asmodeus.
Kematiannya membawah kebahagiaan atas seluruh dunia karena pada akhirnya keseimbangan kekuatan antar ras iblis bisa dicapai. Dan begitu juga, ras Vampir pun runtuh.
Tapi ada satu hal yang sama sekali tak diketahui oleh semua orang.
Yaitu sebuah kenyataan bahwa Asmodeus masih hidup dan terus menyembunyikan keberadaannya hingga saat ini.
Dimana Eric yang telah berasimilasi dengan Asmodeus itu, sedang bertarung di garis depan Kota Lesta melawan enam Iblis bawahan Abaddon.
__ADS_1