
“Apakah kau memahaminya, Agmar?” Tanyaku sambil membuka pintu di ruangan itu.
“Hahaha! Tentu saja! Tapi, aku tak pernah menyangka bahwa ada cara seperti itu. Tidak…. Kurasa aku tak pernah memikirkan kemungkinan itu.” Balas Agmar sambil berdiri dari duduknya.
“Baguslah kalau begitu." Balasku singkat kepada Agmar.
Segera setelah itu, kami berdua keluar dari ruangan dan menemui para prajurit yang ada di barak ini.
“Semuanya! Dengarkan aku!” Teriak Agmar dengan lantang. Jujur saja penampilannya sangat cocok dengan posisinya sebagai seorang Jendral Pasukan.
Segera setelah mendengar teriakannya, seluruh pasukan yang sedang berlatih segera menghentikan aktivitasnya. Mereka segera berbaris dengan rapi untuk mendengarkan apapun yang akan dikatakan oleh Agmar.
“Aku akan memperkenalkan kepada kalian penyihir agung ini!” Teriak Agmar sambil menunjuk diriku.
Ini adalah sebagian kecil dari konspirasi yang aku buat bersama dengan Agmar.
Seluruh prajurit yang mendengarnya nampak kebingungan. Hal yang wajar karena sesaat sebelumnya aku dianggap sebagai iblis yang mungkin akan menyerang kota ini.
“Namanya adalah Eric! Seorang penyihir agung yang akan membebaskan kita dari kesengsaraan dan kelaparan ini! Sambutlah dia dengan baik!” Lanjut Agmar.
“Menyelamatkan dari kelaparan?”
“Tuan Eric! Apakah Tuan benar-benar akan menolong kami?!”
“Aku mohon! Setidaknya, bantulah anak dan istriku di rumah! Mereka sudah tidak mampu memperoleh makanan yang layak selama berhari-hari!”
Sebagian besar pasukan segera melupakan mengenai sosokku yang menyerupai iblis itu. Lebih tepatnya Half Demon atau setengah iblis. Mereka dengan segera menyuarakan isi hati mereka, seakan tak ada lagi orang yang bisa dimintai bantuan.
Aku pun segera mengangkat tangan kananku sedikit, mengisyaratkan kepada mereka untuk tenang.
“Tenang saja. Aku berjanji akan menyelamatkan kalian semua, setidaknya dari kelaparan. Sebagai permulaan, ambil ini.” Ucapku singkat sambil mengeluarkan puluhan potong daging dari dalam Inventoryku.
“Wuuuooohh!!!”
“Hidup Tuan Eric!!!”
“Kalian harus berterimakasih kepada Jendral Agmar karena Ia yang telah menyelamatkanku dari bahaya. Oleh karena itu, aku berencana untuk membalas kebaikannya dengan menolong kalian.”
Segera setelah itu, aku menjelaskan situasinya kepada para prajurit, kapten pasukan dan juga Ksatria yang ada.
__ADS_1
Pada intinya, aku dan Agmar mengarang sebuah cerita bahwa aku adalah seorang penyihir penyendiri di atas pegunungan. Suatu hari, aku diserang oleh banyak Iblis dan menerima kutukan yang kuat.
Tepat sebelum aku dikalahkan oleh para iblis itu, Agmar beserta beberapa pasukannya datang. Tapi sangat disayangkan karena seluruh pasukannya terbunuh dan hanya menyisakan Agmar sendirian.
Setelah itu, aku telah memutuskan untuk membalas pertolongan Agmar dan juga menghormati para prajurit yang telah gugur.
Tentu saja, semua itu hanyalah kebohongan kecuali di bagian Agmar yang menyusuri gunung. Ia benar-benar pernah melakukannya beberapa minggu yang lalu dalam waktu dunia Re:Life dan seluruh bawahannya dibinasakan oleh serangan monster.
Mendengarkan hal itu, wajah para prajurit yang sebelumnya dipenuhi dengan keputusasaan dan rasa takut segera berubah. Kini yang terlihat hanyalah wajah dengan penuh semangat.
Tapi….
“Membantu kalian dengan hanya memberi bantuan makanan saja takkan mengubah nasib kalian. Tentu saja, kalian akan hidup sedikit lebih lama.” Ucapku segera setelah itu.
Seketika, harapan mereka runtuh. Mereka semua menyadari apa yang maksudku.
Civil War.
Atau bisa disebut juga dengan perang saudara.
Keadaan Kerajaan Farna saat ini sangatlah buruk. Pihak yang mendukung keluarga kerajaan telah mengambil alih seluruh barisan pasukan api merah dan menyiagakannya di seluruh kota. Tak hanya itu, mereka membantai seluruh Fraksi atau pihak pendukung Bangsawan.
Tentu saja, efeknya sangatlah besar.
Seluruh keluarga yang kehilangan saudara akibat dipaksa untuk menaklukkan Dungeon Misterius itu segera bergerak. Mereka mengikuti kemauan para Bangsawan untuk menggulingkan Tahta dan mengambil alih kepemimpinan.
Hasilnya, hampir seluruh penduduk di wilayah pedesaan, dan setengah yang ada di kota mulai mendukung Fraksi Bangsawan. Mereka mengangkat panji dengan lambang api biru.
Dengan begitu, peperangan antara kedua belah pihak hanya masalah waktu saja.
Memanfaatkan hal itu, aku dan Agmar membuat rencana ini.
“Eric. Aku mengandalkanmu.” Ucap Agmar segera setelah cerita singkatku selesai.
“Serahkan saja padaku. Kau hanya perlu bergerak sesuai dengan rencana. Jika aku melihat sedikit saja niatmu untuk mengkhianatiku….”
“Hahaha! Tenang saja. Siapa yang akan menolak bekerjasama setelah mendengar rencana gila milikmu itu. Aku yakin kau akan mengirimkan beberapa monster hasil jinakanmu itu untuk mengawasi sekitarku kan?” Balas Agmar memotong perkataanku sambil tersenyum.
“Bagus jika kau paham. Aku juga akan menepati janjiku.”
__ADS_1
Pada akhirnya, aku kembali terbang ke langit menggunakan sayap kelelawar milik Lucien untuk pergi ke tujuanku berikutnya.
Sedangkan Agmar? Ia sedang menyiapkan dirinya untuk langkah pertama dalam rencana ini.
...***...
“Hah… hah….”
Seorang Pria terlihat berjalan sempoyongan di dalam hutan yang cukup gelap ini. Di belakangnya, terlihat sosok 7 orang…. Atau lebih tepat jika disebut sebagai monster?
“Sialan! Sainteess sialan! Apa-apaan kekuatannya itu?! Setelah puluhan kali mencoba untuk menantangnya, kenapa Ia sama sekali tak bisa dikalahkan?!” Teriak Pria berambut putih itu sambil memukul pohon yang ada di sebelahnya dengan tangan kanannya.
‘Kreeeeek….’
Hanya dari pukulan itu, pohon yang sebelumnya berdiri tegak mulai roboh.
“Tuanku. Maafkan kami jika tidak berguna sama sekali.” Ucap salah seorang Wanita Iblis yang berparas sangat cantik itu.
“Aku juga sama sekali tidak berguna. Kumohon, hukumlah kami.” Ucap seorang Ksatria yang memiliki tubuh seperti mayat hidup itu.
“Diamlah…. Aku tak pernah menyalahkan kalian. Tidak, aku tak pernah mengharapkan sesuatu dari kalian ketika menghadapi monster itu.” Balas Pria berambut putih itu.
Ia terus menerus memegang pundak kirinya yang kini telah tidak memiliki lengan itu.
‘Apa yang harus kulakukan? Selama wanita sialan itu masih menjaga wilayahnya sekuat itu, aku takkan pernah bisa masuk sebanyak apapun aku mencobanya…. Apakah aku harus memulai dari wilayah di Selatan?’ Pikir Pria itu sambil duduk di tanah dan bersandar di pohon.
7 orang yang mengikutinya segera mengelilingi Pria itu dan ikut untuk beristirahat di tanah yang penuh dedaunan itu.
“Tuanku, jika kau membutuhkan sesuatu maka katakanlah. Kami akan selamanya setia kepadamu dan selalu siap untuk menyerahkan nyawa kami demi dirimu.” Ucap seorang Wanita yang tak kalah cantiknya dari yang sebelumnya. Di kepalanya, nampak tumbuh dua tanduk yang cukup besar namun tidak begitu panjang.
“Katakan saja ya? Hahaha…. Kalau begitu habisi wanita sialan yang menjaga tempat itu. Apakah kau bisa melakukannya?” Tanya Pria berambut putih itu,
Tapi semuanya hanya terdiam. Sudah hal yang wajar karena mengalahkan seorang Sainteess dengan kekuatan mereka yang saat ini sangatlah mustahil dilakukan.
“Hahaha…. Tidak bisa ya? Baiklah, kalau begitu aku akan meminta sesuatu yang lain. Apapun yang terjadi, kalian harus membantuku memenuhinya.” Ucap Pria berambut putih itu dengan lemas.
Dan begitulah, perjuangan seorang Pria berambut putih itu untuk memasuki wilayah Suci berakhir dengan menyedihkan. Sekarang, mata merahnya itu telah tertuju di suatu tempat.
Semua itu demi memenuhi ambisinya….
__ADS_1
Tidak…. Tapi demi memenuhi ambisi seseorang yang telah lama meninggalkannya.