The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 256 - FFA PvP 9


__ADS_3

Di balik sebuah menara pengawas di desa yang telah ditinggalkan itu, terlihat sosok seorang Pria yang sedang duduk dengan tenang.


Posisi Desa itu terletak di sisi Timur pulau kompetisi ini tapi cukup jauh dari garis pantai.


'Hmm.... Memburu Player jauh lebih menguntungkan daripada memburu monster.' Ucap Pria yang tak lain adalah Eric itu.


Ia terlihat mengintip dari beberapa lubang yang ada di dinding kayu menara pengawas itu. Pada saat Ia melihat sosok tiga orang Player yang melintasi Desa ini....


'Ketemu!'


Eric segera menarik busurnya sekuat tenaga sambil mengaktifkan skill [Focused Shot] dimana kekuatan tembakan akan meningkat semakin lama pengguna skill menarik dan memfokuskan diri hingga batas maksimal 5 detik.


Segera setelah itu....


'Syyuuuuutt!!!'


Anak panah itu melesat dengan sangat cepat ke arah kepala salah seorang pemain itu.


'Jleebb!'


[Anda telah mengenai tepat di titik vital target!]


[Anda telah memberikan Critical Hit!]


[Anda telah memberikan 8.429 damage!]


[Target telah mati!]


[Anda memperoleh 780.529 Experience Point!]


[Anda telah naik Level!]


Notifikasi yang cukup menggembirakan itu muncul di hadapan Eric. Ia terlihat tersenyum puas sambil segera bersembunyi di balik dinding kayu menara pengawas itu.


'Bagus! Korban ke 84 hari ini!' Teriak Eric dalam hatinya sambil segera menyiapkan kembali busur dan panahnya.


Dua orang yang tersisa segera bersembunyi di balik pepohonan itu.


"Sialan! Sudah kubilang lebih baik bergerak di tempat yang tertutup kan?!" Teriak salah seorang Player itu.


"Hah?! Sekarang kau menyala...."


'Jleb! Jleb!! Jleb!!!'


Tiga buah anak panah yang melesat entah darimana itu seakan mampu berbelok sehingga mampu melewati barier berupa pohon itu.


Player yang sedang berbicara itu segera berubah menjadi cahaya putih. Tapi sebelum player yang lain mampu bereaksi sedikitpun, sebuah panah cahaya yang bahkan mampu melubangi beberapa pohon sekaligus itu telah membuat lubang yang besar di dada pemain itu.


"Si-sialan!"


Sedangkan di atas menara pengawas itu, Eric tersenyum lebar karena telah naik level sekali lagi. Kini Ia memiliki level sebesar 83 dan berniat untuk mengubah Job Classnya.


"Fuuuh.... Ternyata menjadi seorang pemanah sangat menyenangkan. Haruskah aku membuang sihirku di dunia game yang asli lalu menjadi seorang pemanah? Tidak, memangnya aku harus membuangnya? Aku bisa saja menjadi keduanya."

__ADS_1


Eric terus disibukkan oleh pikirannya sendiri sambil terus mengutak atik jendela menu yang ada di hadapannya. Hingga akhirnya, muncul sebuah notifikasi dari sistem.


...[Apakah Anda yakin akan menggunakan 50 Talent Point untuk membuka Mid Tier Class dari Archery?]...


...[Ya] [Tidak]...


Eric tanpa ragu segera menekan tombol [Ya].


...[Silahkan pilih Job Class yang Anda inginkan!]...


...[Hunter]...


...Daya Serang : A...


...Daya Tahan : C+...


...Kelincahan : B-...


...[Marksmen]...


...Daya Serang : S...


...Daya Tahan : D-...


...Kelincahan : C-...


...[Wind Walker]...


...Daya Serang : C+...


...Kelincahan : S...


Tak ada pemberitahuan dan penjelasan lebih lanjut selain notasi yang menyatakan kekuatan dari tiap Class yang bisa dipilih.


Eric nampak ragu sesaat karena bingung akan memilih yang mana.


Berbeda dengan dunia Re:Life yang sebenarnya, dunia game di pulau kompetisi ini memiliki sistem yang berbeda. Seorang Player hanya bisa memiliki skill dari Talent yang mereka alokasikan pada status mereka.


Tentu saja setiap pemain bisa mengalokasikannya secara merata ke semua jenis Talent. Akan tetapi hal itu akan membuat player tersebut menjadi "Jack of All Trades" yang bisa melakukan banyak hal tapi bukanlah ahli di satu bidang tertentu.


Pada beberapa situasi, hal itu mungkin menguntungkan. Sedangkan di kebanyakan situasi terutama ketika berhadapan dengan lawan yang kuat, Jack of All Trades hampir dipastikan kalah karena tak memiliki suatu keunggulan khusus.


Setelah memikirkannya lebih dari 5 menit, pada akhirnya Eric memutuskan untuk mengubah Job Classnya menjadi seorang Marksmen yang memiliki daya serang terbesar meskipun harus mengorbankan kelincahannya.


"Aku sudah memutuskannya. Maka dari itu aku takkan menyesalinya!" Teriak Eric pada dirinya sendiri sambil menekan tombol penggantian Class itu.


Sesaat setelah menekan tombol itu, tubuh Eric seakam dikelilingi oleh cahaya perak yang indah. Semua cahaya itu seakan terserap ke dalam tubuh Eric, lalu memberinya kekuatan dan skill set seorang Marksmen.


...[Anda telah memperoleh Unique Skill : Lethal Shot!]...


...[Anda telah memperoleh Epic Skill : Stealth]...


...[Anda telah memperoleh Passive Epic Skill : Nature Disguise!]...

__ADS_1


...[Strength Anda telah meningkat sebesar 200 poin!]...


Melihat notifikasi itu, Eric cukup puas tapi kesal di saat yang sama setelah melihat notifikasi berikutnya.


...[Advanced Class akan dibuka pada level 150!]...


...[Biaya : 80 Talent Point!]...


"Sialan.... Kurasa aku harus farming lebih giat lagi. Tunggu dulu, apa itu?!" Teriak Eric terkejut setelah melihat ke sisi Timur, tempat dimana Ia tiba di dunia ini.


Dari ujung pantai itu, terlihat meteor yang berjatuhan dari langit. Meteor dengan beragam ukuran itu nampak menghancurkan apapun yang ada di hadapannya. Termasuk Player, para NPC dan juga Monster yang ada.


Langit yang cerah berawan dengan warna biru indah itu seketika berubah menjadi merah darah.


Tak berhenti disana, langit merah darah itu lambat laun meluas sambil membawa kehancuran dengan meteor yang dijatuhkannya ke daratan.


Pada saat itulah Eric mulai menyadarinya.


"Jadi ini sistem zonasi yang disebutkan ya? Para pemain harus segera mengungsi dan bergerak ke tengah pulau, begitu?" Ucap Eric pada dirinya sendiri sambil melihat ke arah Barat, tepatnya ke gunung berapi berukuran raksasa yang berada di tengah pulau ini.


Ia nampak santai karena jarak antara dirinya dan langit merah darah itu cukup jauh. Setelah memantapkan pikirannya sejenak, Eric telah memutuskan untuk segera pergi ke pusat pulau ini dan segera mengamankan posisi bertahan yang terbaik.


"Jika memang lokasi pertarungan terakhir ada di sana, kurasa akan lebih baik jika aku sampai di sana lebih dulu dan membunuh siapapun yang mendekat. Ya, itu ide yang bagus! Tapi sebelum itu, kurasa akan lebih baik jika aku memiliki lebih banyak anak panah. Dan juga senjata yang lebih kuat."


Bersamaan dengan perkataan terakhirnya, Eric segera mempercepat langkahnya dan pergi ke arah pusat pulau yaitu gunung berapi raksasa itu.


...***...


...Ruang penonton VIP...


"Bisakah aku duduk di sebelahmu, Nona?" Ucap seorang Pria dengan pakaian bergaya bangsawan dengan warna utama kuning dan corak biru yang indah. Rambut pirangnya yang begitu rapi namun cukup panjang itu begitu mempesona di hadapan semua orang. Belum lagi ditambah parasnya yang begitu rupawan.


Tapi semua itu sama sekali tak berguna di hadapan wanita berambut hitam dengan pakaian renang itu.


"Maaf, tidak bisa. Kursi ini sudah dipesan." Balas Lisa dengan singkat bahkan tanpa melirik ke arah Pria itu.


Merasa heran mengapa parasnya tak bisa memikat wanita yang ada di hadapannya, Pria itu kemudian bertanya kepada Lisa.


"Bukankah kursi ini kosong, berarti...."


"Kursi ini sudah dipesan. Urusan ada yang mendudukinya atau tidak itu tidaklah penting. Yang jelas aku takkan mau duduk bersama Pria yang narsis sepertimu."


Seketika hati Pria itu seakan baru saja dihujani oleh ratusan pisau. Ia sama sekali belum pernah merasakan pedihnya ditolak oleh seorang wanita karena selama ini Ia selalu diberkati dengan penampilan dan kekayaannya.


Tapi sekarang?


Akhirnya, Pria itu mengeluarkan kartu As yang telah Ia simpan selama ini.


"Kalau begitu, aku akan menyebarkan fakta bahwa Tuanmu adalah seorang Summoner yang bersembunyi di balik topeng seorang Penyihir. Bagaimana? Masih tak ingin berbisnis denganku?" Bisik Pria itu dengan suara yang begitu lirih.


Pada saat itulah, Lisa tersadar.


Pria yang ada di hadapannya saat ini, adalah salah seorang yang paling beruasa di dunia Re:Life bukan sebagai Raja. Tapi sebagai seorang pedagang yang paling licik dan juga yang paling kuat.

__ADS_1


William, sang pemimpin di balik layar dari Federasi Pedagang. Kekuasaan dan pengaruh Guild Red Velvet miliknya bahkan menjangkau hingga Kekaisaran Avertia yang seharusnya sangat sulit untuk di sentuh itu.


__ADS_2