The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 135 - Pertarungan Penentu


__ADS_3

“Menjadi…. Lawanmu?” Ucapku penuh dengan rasa terkejut.


Bagaimana tidak, Ruderioss memiliki kekuatan untuk mengubah seluruh dunia menjadi padang pasir. Membunuhku? Itu hanya seperti memukul nyamuk baginya.


Bersamaan dengan itu, seluruh monster yang ada di padang pasir ini menghilang. Mereka semua hancur dan berubah menjadi pasir. Sungguh, kekuatan macam apa yang dimiliki olehnya.


Menyadari diriku yang tertelan oleh rasa panik, Ruderioss kembali berkata. Tapi kini, Ia tidak berbicara dengan suara yang mampu menggetarkan dunia. Melainkan, sebuah suara yang merdu dari seorang Pria.


“Ini adalah pertama kalinya aku menunjukkan diriku kepada Manusia setelah ratusan tahun. Terakhir kali, aku hanya menunjukkan diriku kepada para pengikutku.” Ucap Ruderioss dengan nada yang begitu indah. Namun kini, dengan wujudnya yang menyerupai manusia.


Penampilannya sangatlah menawan. Ia memiliki kulit kecoklatan yang sedikit gelap. Pakaiannya yaitu kain putih yang membalut sebagian besar tubuhnya serta dihiasi dengan berbagai perhiasan emas.


Rambutnya yang hitam lurus dan panjang itu bergerak kesana kemari saat diterpa angin di padang pasir ini.


Di kedua pergelangan tangannya terlihat sebuah gelang emas yang cukup indah dan sangat pas dengan ukuran tangannya. Sedangkan mata berwarna emasnya itu seakan memiliki daya tarik yang sangat kuat.


Aku bahkan tak mampu berhenti untuk memandangi sosok Ruderioss yang begitu menawan. Sedikit terbesit di hatiku, bisakah aku bisa menjadi sosok yang keren sepertinya.


Tapi segera setelah aku tersadar dari hipnotis yang diakibatkan oleh penampilannya, aku pun mulai berbicara.


“Bukankah kau bilang, bahwa membunuhku dengan tanganmu sendiri hanya akan mempermalukanmu?” Tanyaku kepada Ruderioss.


“Hahaha! Kau memang benar! Itulah kenapa, aku sama sekali takkan mencoba untuk menyerangmu! Dan kau, Eric. Aku akan menyatakanmu sebagai pemenang jika kau berhasil melukaiku sedikit saja.” Ucap Ruderioss dengan senyuman yang lebar.


Seketika, notifikasi sistem kembali muncul di hadapanku.


...[Quest Rahasia!]...


...[Ruderioss’s Challenge!]...


...[Rank : SSS]...


...[Misi]...


...Berikan setidaknya 1 damage kepada Ruderioss....


...[Hadiah Menyelesaikan Quest]...


...[Legendary Skill Book : Ancient Desert Dragon’s Footwork]...


...[Konsekuensi Menolak Misi]...


...[Ruderios akan kecewa kepadamu!]...


...[Konsekuensi Kegagalan Misi]...

__ADS_1


...[Tidak ada]...


...[Apakah Anda akan menerima Quest Rahasia ini?]...


...[Ya] [Tidak]...


Setelah menelan ludahku karena melihat notifikasi yang muncul di hadapanku, aku segera menekan tombol [Ya]. Bagaimana pun, kekalahan bukanlah suatu masalah disini selama aku tidak menolaknya.


“Baiklah, Ruderioss! Aku akan melawanmu!” Teriakku dengan penuh semangat setelah melihat hadiah yang bisa diperoleh.


Lagipula, apa susahnya memberikan satu poin damage? Aku yakin bahkan skill terendah milikku [Ex Magic Missile] juga bisa memberikan setidaknya 1 damage.


“Keputusan yang bagus, Eric. Sekarang, mari kita mulai! Serang aku kapan saja!” Teriak Ruderioss dengan lantang sambil menyilangkan kedua lengannya yang cukup gelap itu.


Tanpa menunggu lama, aku segera menggunakan skill tercepat milikku.


‘Ex Magic Missile.’ Ucapku dalam hati sambil mengarahkan tongkatku ke arah Ruderioss.


Hanya dalam waktu kurang dari 1 detik, peluru sihir itu telah melesat ke arah tubuh Ruderioss yang menyerupai manusia itu.


‘Duar!’


Terdengar suara ledakan. Sudah jelas sekali bahwa….


[Anda telah memberikan 0 damage!]


“Bukankah itu namanya tidak memberikan damage sama sekali?!” Teriakku penuh kesal.


Tanpa kusadari, tubuhku yang dipenuhi oleh rasa kelelahan kini mulai terbakar oleh api semangat yang sangat membara. Seakan…. Aku bisa bertarung dengan kekuatan penuh tanpa adanya keraguan sama sekali.


“Hmm! Seranganmu cukup cepat, tapi nampaknya bahkan tidak bisa menyentuh tubuhku!” Teriak Ruderioss sambil tersenyum lebar.


Saat aku memperhatikannya dengan baik, di sekeliling tubuhnya terdapat tekanan angin beserta pasir yang kuat. Mungkinkah, sebutir pasir miliknya mampu menahan serangan Magic Missile?


“Kalau begitu, aku akan mulai sedikit serius Eric!” Ucap Ruderioss sambil melepaskan silangan tangannya.


Hanya dalam sekejap.


Ruderioss menghilang. Tidak…. Lebih tepatnya Ia bergerak dengan sangat cepat! Ia berlari mengelilingi diriku dengan kecepatan yang sangat tinggi serta arah yang sama sekali tidak dapat diprediksi.


“Hahaha! Sekarang, bisakah kau memberikan serangan yang cukup kuat untuk melukaiku sambil mengikuti kecepatan gerakanku?!” Teriak Ruderioss. Entah kenapa, suaranya seakan dipenuhi keceriaan.


“Sialan! Ex Magic Missile!” Teriakku dengan kesal. Bagaimana pun, kecepatan langkah Ruderios sangatlah tidak masuk akal. Bekas langkah kakinya masih menyisakan pasir yang berterbangan di udara sedangkan tubuhnya telah jauh meninggalkan tempat itu.


Segera setelah perapalan skill [Ex Magic Missile] selesai, sekitar 20 peluru sihir muncul mengelilingi tubuhku. Semuanya telah siap untuk ditembakkan ke segala arah.

__ADS_1


‘Jika aku bisa mengenainya setidaknya beberapa kali mungkin saja….’ Pikirku dalam hati.


Tapi seperti biasa.


Ekspektasi tak pernah sesuai dengan realita.


‘Duaarr!! Duaarr!!’


20 peluru sihir itu meledak ke berbagai arah. Meski begitu, tak ada satupun yang mengenai Ruderioss yang masih terus mengelilingi diriku. Bukankah skill [Ex Magic Missile] merupakan tipe sihir yang mengunci targetnya?!


Dengan kata lain, Ruderioss terlalu cepat untuk diikuti peluru sihir itu.


“Hahaha! Apa yang kau lakukan, Eric?! Bukankah kau menginginkan hartaku?! Buku skill yang akan kuberikan merupakan salah satu bagian dasar dari kecepatan langkahku ini!” Teriak Ruderioss sambil terus berlari.


Kini kecepatannya semakin meningkat dan mulai muncul badai pasir hanya karena dirinya yang berlari mengelilingiku.


“Bagaimana aku bisa mengenaimu jika kau bergerak secepat itu?! Lagipula jika aku mengenaimu, aku tak bisa memberikan bahkan 1 poin damage!” Teriakku penuh kesal sambil memikirkan apa yang seharusnya kugunakan untuk mengalahkannya.


“Aku akan menunggu 2 menit lagi, Eric! Jika lebih dari itu, maka aku akan menganggapmu kalah dan buku itu takkan pernah bisa kau peroleh lagi!” Lanjut Ruderioss.


2 menit?


Bagaimana caranya?


Meskipun aku memanggil ratusan monster, aku yakin mereka takkan mampu untuk mengikuti kecepatannya. Meskipun mampu, aku sangat yakin bahwa mereka takkan bisa memberikan damage bahkan satu angka saja.


Aku juga tidak tahu apakah Ruderioss akan membiarkan monster panggilanku hidup seperti diriku. Kemungkinan besar, Ia akan membunuhnya seketika mengingat betapa cepatnya gerakannya.


Terlebih lagi jika aku harus melakukan evolusi dan pemberian sigil kepada monster yang baru. Secara waktu, hal itu sangatlah mustahil untuk dilakukan. Bahkan untuk….


Tunggu dulu!


“Ex Healing.” Ucapku pada diriku sendiri. Dengan segera, tubuhku dikelilingi oleh cahaya hijau yang menyembuhkan seluruh luka yang sebelumnya kualami ketika melawan para monster. Health Pointku pun kembali penuh ke titik 100%.


Segera setelah itu….


“Amplify….”


Aku menunggu hingga 30 detik, kemudian menggunakan skill [Overdrive] untuk mereset Cooldown dari skill Amplify.


Setelah Cooldown itu telah di reset, aku kembali menggunakan skill [Amplify]. Aku juga menunggu Amplify untuk terisi penuh yaitu selama 30 detik. Dengan begitu, skill berikutnya yang akan kugunakan akan mengalami peningkatan sebesar 200% setelah 2 kali amplifikasi ini.


Sedangkan skill yang ingin kugunakan?


“Self…. Destruct.” Ucapku dengan suara yang sangat lirih. Seluruh tubuhku kini mulai diselimuti oleh cahaya merah yang indah. Lambat laun, cahaya itu menjadi semakin terang hingga akhirnya….

__ADS_1


__ADS_2