
“Tuanku!” Teriak beberapa Iblis yang berada di belakang Evan.
“Dasar manusia rendahan! Beraninya kau….”
Seluruh Iblis yang mengikuti Evan nampak begitu marah dengan kondisi ini. Tapi dengan segera Evan memecah suasana itu. Evan segera mengambil tangannya yang ada di tanah dan menempelkannya kembali.
“Hentikan…. Kukuku…. Stitch….”
Evan menggunakan sebuah skill yang mengeluarkan benang-benang tipis dari bahu kirinya. Seketika benang itu mulai menjahit lengannya yang terpotong. Dengan segera, tangan Evan telah kembali seperti sedia kala.
“Katakan, bocah sialan…. Kau ingin mati dengan cara seperti apa?” Ucap Evan sambil tersenyum.
Melihat situasi ini, Lorelei sedikit terkejut.
Memang benar bahwa skill menjahit [Stitch] dapat digunakan untuk menjahit luka. Tapi Ia tak pernah mendengar bahwa skill itu mampu menyambungkan lengan yang telah terputus.
Di dataran yang luas ini, seketika muncul puluhan ribu Undead dengan jenis Skeleton dari dalam tanah.
‘Klak! Klak!’
“Kalian semua…. Serang gadis sialan itu!”
Hanya dengan sebuah kalimat yang sederhana, seluruh Skeleton segera bergerak menyerbu Lorelei. Termasuk 13 Iblis yang berada di belakang Evan.
Salah seorang iblis dengan ras minotaur menerjang dengan sangat cepat meski dalam wujud manusia. Ia mengayunkan kapak besarnya ke tanah dengan kuat.
‘Duuuuuaaar!!!’
Seketika padang rumput yang indah itu hancur lebur. Seluruh tanah yang ada di sekitar minotaur itu retak dan mulai hancur.
Lorelei yang terkejut dengan hal ini mulai sedikit kehilangan keseimbangannya.
Memanfaatkan hal itu, seorang iblis dengan ras Halfling serigala segera menyerangnya. Ia memasuki bayangannya sendiri dan dalam sekejap muncul kembali dari balik bayangan Lorelei. Kedua tangan iblis itu menggunakan belati berwarna hitam pekat yang cukup mengerikan.
‘Ttraaang!!’
Belati yang seharusnya menusuk badan Lorelei hanya memantul karena tak mampu menembus zirah yang Ia kenakan.
“Kau takkan bisa menggoresku dengan pisau itu, iblis!” Teriak Lorelei sambil memutar badannya.
Lorelei dengan segera mengayunkan pedang itu. Tak hanya sekali, tapi sebanyak 7 kali tebasan dalam waktu kurang dari 1 detik!
‘Slash! Slash! Slaaash!!!’
Tubuh Halfling serigala itu terpotong-potong menjadi bagian-bagian kecil. Meski begitu, Ia tak mengeluarkan sedikit pun darah dari tubuhnya. Bahkan Ia nampak masih hidup.
“Turn Undead….” Ucap Lorelei sambil mengarahkan tangan kirinya ke Halfling itu.
Seketika muncul lingkaran sihir berwarna putih yang sangat terang di tanah. Dari lingkaran sihir itu, muncul cahaya yang teramat terang dan membutakan semua ras iblis yang melihatnya. Termasuk Evan, para Iblis dan seluruh Skeleton yang ada di dataran ini.
Tubuh Halfling itu lenyap seketika. Tak menyisakan bahkan sedikit pun tubuhnya. Terlebih lagi, seluruh Skeleton yang cukup dekat dengan lingkaran sihir itu juga mulai menghilang.
“Kalian takkan bisa mengalahkanku…. Tidak selama aku memperoleh perlindungan dari Dewi Julia!” Teriak Lorelei sambil berlari ke arah Evan. Ia terus menerus mengayunkan pedangnya secara mendatar.
__ADS_1
Pada setiap ayunan pedang itu, muncul tebasan jarak jauh yang terbuat dari cahaya suci. Sebuah skill yang seharusnya merupakan tingkat Epic dan membutuhkan cukup banyak Mana itu dapat dikeluarkan dengan begitu mudahnya.
Inilah kekuatan yang sebenarnya dari senjata tingkat Mythical. Sebuah Relik Suci dari para Dewa. Sebuah tingkatan yang takkan pernah bisa digapai dan dipahami oleh manusia.
‘Slaaaashh!!! Klak! Klak!’
Setiap tebasan cahaya yang diberikan oleh Lorelei dapat menghancurkan ratusan Skeleton dalam sekejap. Ia dengan cepat memperpendek jaraknya dengan minotaur itu.
“Takkan kumaafkan kau karena….”
Tak memberi kesempatan pada Minotaur itu untuk berbicara, Lorelei segera menusukkan pedangnya tepat di jantung iblis minotaur itu. Meskipun iblis itu telah berubah bentuk dan mampu merubah lokasi jantungnya, Lorelei dapat melihat semua itu.
Itu semua berkat sebuah Artifak yang Ia kenakan.
[All Seeing Tiara]
[Rarity : Artifact]
Sebuah item yang memiliki bentuk seperti mahkota kecil yang Ia kenakan di kepalanya. Item yang nampak seperti sebuah aksesori biasa itu merupakan salah satu Artifak milik Teokrasi Julia.
Efeknya adalah memberikan pengguna kemampuan untuk mengetahui seluruh titik kelemahan lawannya. Termasuk prediksi pergerakan yang akan dilakukan oleh lawannya.
Meskipun terlihat sangat berguna dan luarbiasa, Artifak ini memiliki kelemahan dibalik kelebihannya.
Itu semua karena untuk memberitahu lokasi kelemahan lawan dan memprediksi pergerakan lawan, sistem Genesis akan memberikan prediksi berupa garis-garis dan bayangan-bayangan semu kepada pengguna.
Bagi pengguna yang tak terbiasa melihat garis prediksi serta bayangan semu yang kabur, maka dapat dipastikan Artifak ini hanya akan memperlemah penggunanya.
“Kuugh!”
“Turn Undead…. Selamat tinggal iblis….” Ucap Lorelei menanggapi teriakan kesakitan Minotaur dengan wujud manusia itu.
Dengan segera, cahaya yang sangat terang kembali muncul. Tapi kini berasal dari pedang yang digunakan oleh Lorelei.
Semua Undead yang berada dalam radius 10 meter mulai rusak dan menghilang. Sebuah Skill mutlak yang diperlukan untuk membasmi Undead dengan mudah.
Melihat kekuatan mutlak milik Lorelei, Evan mulai gentar. Ia mulai merasakan sesuatu yang telah lama Ia buang. Sebuah rasa takut.
Meskipun Evan bersikap seperti orang gila, Ia menyadari bahwa nama hitam yang berada di atas kepalanya sangatlah berbahaya. Jika Ia mati, maka akan dipastikan Ia takkan bisa kembali ke dunia virtual ini lagi untuk selamanya.
Dan jika Ia tak bisa kembali, maka perjuangannya selama hampir 4 tahun ini akan berakhir sia-sia.
“Sialan! Sialan!! Sialan!!! Kalian semua hanya menggangguku!”
Meski berkata seperti itu, tubuh Evan nampak gemetar. Ia mulai ketakutan untuk menghadapi gadis itu. Bahkan dengan tubuh abadi miliknya, Evan akan menghilang ketika terkena skill Turn Undead itu secara langsung.
Tapi Evan tak mengetahui bahwa syarat aktivasi sempurna Turn Undead adalah ketika HP milik target telah berada di bawah 5%. Itulah kenapa Lorelei berusaha mengurangi HP dari iblis itu terlebih dahulu. Meskipun skill Turn Undead juga memberikan damage yang cukup besar.
Segera setelah itu….
Evan mundur dari pertempuran ini dengan perasaan yang penuh akan kekesalan.
...***...
__ADS_1
Beberapa bulan waktu Re:Life telah berlalu semenjak diskusi antara aku dengan Chris. Kini Dungeon perbatasan telah dikelilingi oleh dinding yang membentang cukup jauh di perbukitan batuan ini.
Di sisi bagian dalam dinding terdapat ratusan rumah yang setidaknya memiliki 3 lantai. Itu semua merupakan tempat tinggal untuk 12.000 pasukan milik Chris.
Tak hanya itu, bagian luar dinding juga telah berubah menjadi lahan pertanian yang cukup subur. Di sekitarnya terdapat cukup banyak perumahan bagi para prajurit serta petani yang berasal dari Kerajaan Chris.
Chris memintaku untuk merawat mereka semua dan melatih mereka melawan beberapa Barbarian jenis Monster di sekitar sini. Tentu saja aku menyanggupinya.
Tak hanya pasukan yang berlatih. Aku juga setiap hari menjalani pelatihan yang berat dengan lawan yang sangat kuat.
‘Bruuk!!!’
“Kurasa untuk saat ini sudah cukup, Tuanku. Kita akan lanjutkan esok….”
Tanpa mendengar perkataannya, aku meneguk Full Health Potion dan segera berdiri.
“Lucien! Siapa yang memperbolehkanmu untuk mengalah?! Keluarkan seluruh kekuatanmu!” Teriakku kepada Lucien.
Mendengar perkataanku, Lucien nampak tersenyum.
“Fufufu…. Seperti yang kuharapkan dari Penguasa para Monster! Baiklah, Tuan Eric. Aku akan serius kali ini! Jangan salahkan aku jika kau mati!” Ucap Lucien sambil menutupi kedua mata dengan tangannya.
Dan begitulah, keseharianku berlatih bertarung dengan Lucien. Setidaknya aku menghabiskan 4 jam di dunia Re:Life dengan bertarung melawan Lucien. Lagipula, aku sangat senggang saat ini. Tak banyak yang perlu ku lakukan.
Tak hanya itu, Chris dan Neo juga sesekali mampir dan membawakanku beberapa buku sihir baru. Meskipun sebagian besar berada di tingkat Normal hingga Rare, aku sangat bersyukur.
Sekarang aku mulai memiliki segudang skill yang membuatku sendiri pusing untuk menghafalkan semuanya.
Sedangkan untuk pelatihan para Prajurit Salvation….
Setiap 5 orang prajurit akan ditemani oleh 15 ekor Goblin. Tentu saja tujuan dari pelatihan ini tidak hanya untuk menaikkan level, tapi juga untuk meningkatkan pengalaman pertempuran setiap prajurit.
“Tuan, Eric! Pasukan telah siap untuk mulai berburu pada pagi hari ini!” Ucap salah seorang komandan pasukan dari Kerajaan Salvation.
Nama Pria itu adalah Blaive. Seorang NPC yang kini telah berada pada level 128 karena Ia selalu berlatih dengan keras di Dungeon Barrack.
Penampilannya cukup sederhana yaitu menggunakan Full Iron Armor di seluruh tubuhnya, termasuk helm besi di kepalanya. Sedangkan untuk senjata yang Ia gunakan yaitu sebuah pedang dengan panjang 90 cm dan sebuah perisai besi jenis Kite Shield dengan bentuk seperti layang-layang.
“Bagus! Segera mulai perburuannya!” Teriakku membalas perkataan Blaive sambil menghentikan latih tandingku dengan Lucien.
Segera setelah itu, ribuan kelompok yang beranggotakan Goblin dan Prajurit manusia mulai bergerak dan menyebar ke segala arah. Tujuan mereka yaitu sama. Yaitu untuk berlatih melawan pasukan Barbar sebelum hari invasi dari pasukan utama Barbarian Horde.
...___________________________________...
...[Sebelum lanjut membaca]...
...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...
...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...
...[Tak ada ruginya bagi kalian]...
...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...
__ADS_1