
Namaku Arlond. Aku hanyalah seorang petualang biasa di dalam game Re:Life ini. Levelku hanya mencapai 53. Bukan angka yang buruk tapi juga bukan angka yang mengesankan.
Setiap hari aku memainkan game ini selama 3 jam sebelum tidur.
Meski bukanlah seorang Player yang hebat, aku tetap sangat menikmati game ini.
Aku dapat memperoleh banyak teman baru disini. Selain itu, pemandangan yang ada di dunia ini sangatlah indah sehingga membuatku ketagihan.
Malam hari ini pun sama.
Aku pergi ke sebuah Tavern untuk memesan makanan dan minuman serta mendengarkan obrolan dari para petualang. Di saat ada obrolan yang menarik, aku akan bergabung dengan mereka.
Jika ini dunia maya kenapa aku makan dan minum? Tentu saja karena itu sangat enak! Aku bisa memakan sebanyak yang aku inginkan serta minum sebanyak yang aku mau tanpa khawatir tubuhku di dunia nyata akan terpengaruh.
Jujur saja, salah satu fitur terhebat di dalam game ini menurutku adalah kemampuan player merasakan nikmatnya makanan dan minuman.
"Ini pesanan Anda, Tuan." Ucap seorang pelayan yang menyerahkan pesananku.
Aku memesan daging kambing dengan bumbu saus pedas serta 3 lembar roti bakar. Untuk minumannya tentu saja aku memesan susu sapi dingin.
Aku terus menikmati makananku sambil mendengarkan kisah para petualang lain. Jujur saja suasana ini sangatlah nyaman bagiku yang baru saja pulang bekerja di dunia nyata.
"Oi apakah kau sudah dengar? Ada seorang penjinak monster di kaki Pegunungan Alpa!" Teriak salah satu pria yang sedari tadi ikut bergosip.
"Apakah itu benar?" Tanya pria yang ada di sebelahnya.
Tiba-tiba suasana ruang yang sebelumnya sangat ramai kini menjadi sepi. Semua orang menutup mulutnya untuk mendengarkan kisah dari pria itu. Termasuk aku.
"Itu benar. Kawanku menceritakannya kepadaku. Bahkan Ia menunjukkan kesetiaan monster yang Ia beli kepadaku!"
Semua orang mulai berbisik satu sama lain seakan tidak percaya.
"Seperti apa penjual monster ini? Apakah dia Player atau NPC?"
"Dimana dia berjualan?"
"Berapa harga tiap monsternya?"
"Monster apa saja yang dia jual?"
Semua orang melemparkan pertanyaannya kepada pria yang membuka pembicaraan ini.
"Aku dengar dia adalah seorang Unofficial Ranker dengan level 120 ke atas!" Jawab pria itu.
Semua orang mulai ketakutan termasuk aku.
"Penampilannya ditutupi jubah abu-abu, menurut perkataan temanku, Ia menggunakan jubah ini untuk menutupi sayap dan ekornya!"
"Apa? Jadi dia seorang player tapi memiliki penampilan seperti iblis? Bagaimana itu mungkin! Ras yang bisa dipilih oleh player saat ini hanyalah manusia!"
"Ya itu benar!"
"Jangan menyebarkan omong kosong disini!"
__ADS_1
Suasana menjadi ramai untuk mengolok-olok pria tersebut. Tapi Ia tetap tenang.
"Kaki Pegunungan Alpa, sisi Timur. Untuk koordinat tepatnya yaitu...." Jelas pria itu.
Tak ada yang percaya.
Tapi disaat yang sama semua orang ingin percaya.
Jika penjelasan mengenai iblis penjual monster ini benar, maka petualangan akan menjadi lebih mudah dengan memanfaatkan monster sebagai tamengnya.
"M-mungkin aku akan mencoba untuk kesana." Balas seorang petualang yang daritadi tidak pernah membuka mulutnya.
Seketika banyak orang yang sepemikiran dengannya, termasuk aku.
"Ya, meskipun cerita itu hanyalah bualan, kita masih bisa berburu monster disana."
"Kau benar!"
"Kalau begitu, jelaskan lebih rinci lagi mengenai ceritamu itu!"
Pria itu kemudian melanjutkan kisahnya mengenai Player dengan ras iblis serta level lebih dari 120 yang menjual monster sebagai budak kepada pemain lain.
Pria yang dimaksud adalah Eric yang saat itu masih berada pada level 31. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang tahu akan kebenarannya.
Keesokan harinya, 5 orang pemain memutuskan untuk melihat kebenaran dari cerita ini. Termasuk aku.
Perjalanan berjalan dengan sangat lancar karena kami berlima membentuk kelompok dan saling bekerja sama dengan baik.
Hingga akhirnya, sampailah kami di lokasi yang dimaksud.
Para player itu mencocokkan koordinat lokasi Ia berada dengan koordinat yang disebutkan oleh pria misterius itu semalam.
Pemanfaatan koordinat sudah merupakan pengetahuan dasar bagi setiap pemain. Meskipun tidak memiliki peta, pemain dapat memanfaatkan koordinat dirinya sendiri dan membandingkannya dengan koordinat tujuan untuk sampai di lokasi yang diinginkan.
Di hadapan mereka terdapat sebuah gua yang gelap. Mereka memberanikan diri untuk masuk.
'Jika iblis itu menyerang, bisakah kami berlima melawannya?' Ucapku dalam hati.
Setelah menyusuri lorong yang gelap hanya dengan 3 obor, kami menemukan sebuah pintu kayu yang sudah usang. Di samping kanan dan kiri pintu itu terdapat 2 obor yang menyala.
'Apakah benar disini?' Pikir kami berlima.
kami pun mencoba mengetuk pintu itu. Melihat dari situasinya, kisah yang diceritakan oleh pria semalam nampak nyata.
Dari balik pintu terdengar suara yang sedikit mengerikan.
"Silakan masuk!" Ucapnya.
Pedang dan perisai, tongkat sihir serta belati telah kami persiapkan. Jika Ia memang menyerang kami berlima, maka kami setidaknya akan membalas serangannya.
Akan tetapi hal yang terjadi mengejutkan kami.
Di dalam ruangan itu terdapat ratusan goblin yang bervariasi. Ada yang kurus kering, ada yang sedikit gemuk, bahkan ada yang sebesar manusia.
__ADS_1
Belum sempat berkata-kata, iblis itu membuka mulutnya.
"Selamat datang, pelangganku. Goblin seperti apa yang kalian inginkan?" Tanya iblis itu.
"A-apakah kau benar-benar menjual goblin sebagai budak?" Tanyaku tanpa ragu.
"Ya itu benar. Kesetiaan mereka bisa kalian buktikan disini."
Iblis itu pun memberi kami seekor goblin.
"Berikan dia perintah apapun."
"Uh, serang goblin kurus itu!"
Seketika, goblin itu menusukkan pedang kecilnya ke arah goblin yang kurus. Sang iblis itu pun segera menghentikan pertarungan mereka.
"Itu adalah barang daganganku, jika kau melukainya maka kau harus membelinya!" Teriak iblis itu.
Seketika kelima petualang itu ketakutan mendengarnya. Nyawa mereka seperti terancam. Tak hanya dari iblis dengan level tinggi itu saja, tapi juga dari ratusan goblin yang mengelilingi mereka.
'Sialan, kita tidak boleh membuatnya marah.' Pikirku.
"Te-tentu saja kami akan membelinya. Lagipula kami sangat puas dengan hasil ujicobanya hahaha." Jawab petualang di sebelah kiriku.
"Baguslah kalau begitu. Silahkan pilih goblin yang kau inginkan." Jawab iblis itu.
Setelah berdiskusi mengenai harga tiap goblin, pada akhirnya kami membeli 60 goblin. Tiap orang akan membawa 12 goblin.
Setelah transaksi selesai, kami keluar dari gua itu tanpa kehilangan rasa takut. 60 ekor goblin berbaris di belakang kami.
Sesampainya di luar gua....
"Hah, sialan! Kenapa aku tidak mempercayai perkataan pria itu semalam!" Teriak salah satu anggota kami.
"Benar saja, iblis penjual monster itu sangat mengerikan. Melihat auranya saja membuatku merinding ketakutan!"
"Seharusnya kita mengajak lebih banyak orang untuk berjaga-jaga dari situasi yang buruk."
"Bukan! Seharusnya kita bersikap lebih baik dihadapan iblis itu! Meskipun berpenampilan seperti manusia, tak salah lagi itu merupakan iblis tingkat tinggi!"
"Meski begitu, bukankah barang dagangannya sangat bagus? Selain itu hargnya juga sangat murah." Ucapku untuk mencairkan suasana.
Jujur saja aku masih ketakutan dengan iblis itu, tapi aku tidak boleh hanya melihat sisi negatifnya. Sisi positifnya, tentu saja barang dagangannya sangat baik.
"Kau benar, Arlond. Tak kusangka monster ini akan menuruti seluruh perintah kita."
"Ya itu benar."
Setelah itu, suasana menjadi ringan kembali.
Meskipun Eric berpura-pura sebagai player berlevel tinggi, akan tetapi ada suatu hal yang tidak diketahui oleh Eric.
Ya.
__ADS_1
Itu adalah fakta bahwa dirinya dikenal sebagai iblis tingkat tinggi.