The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 118 - Penaklukan Dungeon 3


__ADS_3

...Dungeon Treasure...


...Zona Gua...


...Lantai 11...


Di dalam zona gua ini terdapat banyak sekali lorong-lorong gua kecil yang sangat gelap. Keenam orang yang tersisa itu harus terus menerus menggunakan sihir cahaya untuk dapat melihat jalan di hadapan mereka.


“Apa maksudnya semua ini?” Tanya sang penyihir kebingungan sambil menerangi lorong di gua ini.


“Kau benar…. Tak ada jebakan maupun monster sama sekali! Selain itu, ada apa dengan kerusakan yang terjadi di sepanjang jalanan ini?!” Balas sang Assassin.


Keenam pemain yang tersisa itu mulai dibuat kebingungan dengan keadaan yang ada saat ini. Bagaimana tidak, Dungeon yang sebelumnya sangat berbahaya dan mencekam kini terlihat sangat aman dan damai.


Terlebih lagi, lokasi-lokasi yang nampaknya menjadi tempat jebakan dan munculnya monster sudah hancur.


“Apakah ada seseorang yang mendahului kita?” Tanya sang penyembuh dengan wajah penuh rasa khawatir. Di tangan kanannya, nampak sebuah kamera hologram seperti milik Angie. Ia adalah seorang MeTuber yang juga memiliki tugas untuk merekam dan memetakan denah Dungeon Misterius ini.


“Sepertinya memang ada yang mendahului kita. Tapi siapa mereka? Dan…. Bukankah mereka sangat kuat untuk menembus Dungeon ini? Sudah pengetahuan dasar kalau semakin dalam suatu Dungeon maka jebakan atau monster yang ada akan semakin kuat.” Balas sang pendekar pedang.


“Sepertinya kita bisa sedikit bersantai sekarang! Maukah kalian mendengarkan sedikit musik?” Ucap seorang gadis yang memegang harpa. Ia adalah seorang Bard.


“Hentikan! Kita tidak tahu kapan jebakan itu akan kembali muncul! Belum lagi sergapan para monster! Apakah kalian sudah lupa dengan apa yang terjadi di lantai 6?! Sebuah lantai yang nampaknya sangat aman menjadi sangat mematikan dalam sesaat!” Teriak Agmar.


Dengan begitulah, keenam orang yang tersisa dari pasukan Penaklukan Dungeon itu bergerak secara perlahan dan berhati-hati. Mereka berusaha menghindari apapun yang mungkin saja akan memicu aktifnya perangkap maupun dari lorong yang akan menjadi sergapan dari para monster.


Mereka sama sekali tak menyadari, bahwa jebakan dan monster yang mereka waspadai….


Sama sekali tidak ada.


Itu semua karena Oliver dan beberapa bawahannya telah menghancurkan semuanya.


...***...


“A-apa yang mereka lakukan?!” Teriakku sambil menepuk jidatku.


“Apa ada yang salah Tuanku?” Tanya Lucien sambil memiringkan badannya.


“Bukankah sudah sangat jelas bahwa aku telah membukakan jalan untuk mereka? Lalu kenapa mereka berjalan selambat itu?! Hah dasar…. Tapi setidaknya, ada seseorang yang membawa kamera hologram. MeTuber? Entahlah, yang jelas dengan itu mereka akan membuktikan keberadaan harta di lantai 20.”


Aku menjelaskan panjang lebar mengenai keluh kesahku.


Meski begitu, aku sangat senang melihat seseorang membawa alat perekam. Wajar saja karena tanpa adanya rekaman, maka takkan ada bukti nyata mengenai keberadaan harta yang melimpah di lantai 20 ini.

__ADS_1


Yang ada, para penjajah akan takut untuk menyerbu Dungeon yang sebenarnya sangatlah berbahaya ini.


Saat aku masih sibuk dengan pikiranku, Oliver telah kembali melalui pintu raksasa di lantai 20 ini. Sebuah pintu yang indah dan dipenuhi dengan perhiasan itu memperjelas keberadaan harta di baliknya.


“Tuanku. Aku telah menyelesaikan perintahmu untuk menghancurkan perangkap dan menghabisi seluruh monster yang ada.” Ucap Oliver sambil membungkukkan badannya.


“Kerja yang bagus! Sekarang, mari kita tunggu kehadiran keenam penjajah ini!”


...***...


...Dungeon Origin...


...Zona Labirin...


...Lantai 20...


10 jam lebih telah berlalu semenjak keenam orang itu meninggalkan lantai 10.


Levelku meningkat dengan drastis setelah menghabisi lebih dari 12.000 penjajah itu. Kini, aku telah berada pada level 198 dalam sekejap. Sungguh, Dungeon ini merupakan investasi yang tepat!


Saat ini, keenam orang itu berdiri tepat di hadapan sebuah pintu yang luarbiasa megah. Sebuah pintu yang terbuat dari emas dan perak serta dihiasi beragam permata dan berlian. Siapapun yang pernah bermain game RPG dan melihat pintu ini, pasti sudah bisa menebak apa yang ada dibaliknya.


Sebuah ruangan boss yang berisi penuh dengan harta.


Tapi sebelum mereka memutuskan untuk membuka pintu itu….


“Hah…. Sia-sia saja kita terus menerus berhati-hati sejak tadi. Bahkan tak ada satu pun jebakan atau pun monster yang ada. Apa-apaan Dungeon ini? Apakah dungeon ini meremehkan kita?” Ucap sang pendekar pedang.


“Anggap saja karena kehati-hatian itu, kita bisa sampai disini dengan selamat dan tak bertemu dengan satu pun monster.” Balas sang penyembuh sambil merekam ke segala arah.


“Mari bahas hal yang lain. Bagaimana menurutmu akan harta yang ada di balik pintu itu?” Tanya sang penyihir dengan senyuman yang lebar.


“Sudah pasti sesuai dengan informasi sistem kan? Kalau tidak salah…. 500 ribu koin emas, artifak, relik, senjata suci dan juga buku kuno?” Jawab sang Assassin.


“Hah! Sebelum memikirkan hadiahnya, mari kita pikirkan menganai bagaimana cara untuk mengalahkan bossnya!” Teriak Agmar sambil memecah suasana bahagia barusan.


“Kau ini…. Tidak bisakah membiarkan kami sedikit bahagia?” Balas sang penyihir.


“Untuk apa? Apakah kau tidak lihat bahwa di informasi Dungeon ini, bossnya tidak diketahui?! Bisa saja bossnya sangatlah kuat dan sulit untuk dikalahkan!” Teriak Agmar sambil meneguk beberapa botol Potion.


“Karena itulah, kita akan membahasnya sekarang. Agmar, berapa banyak Potion yang kau miliki? Soal skill, aku yakin skill Unique milikmu juga siap digunakan kan, penyihir?” Tanya gadis pemegang harpa.


Segera setelah itu, mereka mengadakan rapat mengenai strategi-strategi apa saja yang perlu mereka persiapkan sebelum masuk. Mereka juga mendata seberapa banyak Potion yang dimiliki, cooldown setiap skill dan juga jumlah HP, MP dan SP setiap anggota.

__ADS_1


Untuk apa?


Tentu saja untuk menyiapkan diri dari sesuatu yang tak terduga. Bagaimana pun, mereka adalah jajaran Top Player yang berada di peringkat 100 besar dunia. Agmar bahkan berada pada peringkat 9 dari segi level.


Itulah kenapa mereka sedikit memahami, bahwa Boss yang ada di balik pintu ini pasti cukup berbahaya. Bagaimana pun, hadiah yang gila itu pasti akan diiringi dengan bahaya yang sama gilanya.


Setelah beberapa saat ….


“Apakah kalian siap?” Ucap Agmar.


“Kami semua sudah siap.”


Dengan segera, mereka berenam membuka pintu raksasa yang megah dan indah itu. Seketika, senyuman yang sangat lebar menghiasi wajah mereka semua.


“I-ini serius?!”


“A-aku tidak percaya semua ini benar-benar….”


“Oi pendeta! Kau merekam semuanya kan?! Pastikan kau menangkap gambar seluruh harta yang ada di ruangan ini! Jadi meskipun kita akan kalah sekarang, kita bisa kembali dan mengajak lebih banyak player yang kuat!” Teriak sang Assassin.


Bagaimana tidak, semua harta yang diimpikan oleh Player ada disini.


Emas, artifak, senjata suci, bahkan….


Di ujung ruangan nampak sebuah meja emas dengan satu kaki berdiri dengan indah. Di atasnya nampak dengan jelas sebuah buku dengan sampul hitam. Sebuah sampul yang tak biasa dilihat oleh siapapun.


Akan tetapi….


“Tenangkan diri kalian.” Ucap Agmar singkat sambil memperhatikan sesuatu di balik buku itu.


Di bagian paling ujung ruangan, terdapat sebuah singgasana emas yang diduduki oleh seseorang. Di atas kepalanya nampak sebuah mahkota merah menyala yang melayang. Benda itu seakan bukan terbuat dari bahan pada umumnya. Meski begitu, kepalanya masih menggunakan mahkota lain berwarna hitam.


Sedangkan disamping singgasana itu, terdapat sosok empat orang. Keempat orang itu nampaknya merupakan penjaga pribadi dari Pria yang duduk di atas singga sana emas itu.


“Goblin? Manusia serigala? Iblis? Apakah…. Boss kita adalah….” Ucap sang pendeta sambil merekam keempat orang di ujung ruangan itu.


Dikarenakan jaraknya yang sangat jauh, maka gambar yang terlihat tak begitu jelas. Meski begitu, siapapun masih dapat menyebutkan setidaknya dari ras apa setiap orang yang ada disana.


“Raja Iblis?” Gumam Agmar sambil membuka matanya selebar mungkin.


Tapi sebelum mereka sempat melakukan apapun, terdengar sebuah suara yang sangat lantang dari Pria di atas singgasana emas itu.


“Hoo… jadi ada yang bisa bertahan hingga ke lantai 20? Aku memuji kemampuan kalian!”

__ADS_1


Belum sempat melakukan apapun, Pria itu segera mengucapkan kalimat lain yang membuat keenam orang itu berapi-api.


“Seluruh harta yang ada disini…. Aku akan menyerahkannya ketika kalian bisa mengalahkanku! Boss Dungeon ini!”


__ADS_2