
Sementara Arlond dan Chris masih berperang melawan satu sama lain di dunia Re:Life itu, aku dan Elin juga sedang berjuang sekuat tenaga di dunia nyata ini.
Apalagi jika bukan untuk memenangkan Kompetisi Internasional di Cabang PVP dan Team Boss Raid. Semua itu demi memperoleh 2 dari 4 Buku Kuno yang akan dihadiahkan di Kompetisi Internasional kali ini.
Sedangkan untuk Free For All PVP, tentu saja tujuan utamanya adalah untuk memperoleh uang sebanyak mungkin.
"Erik, kita akan berpisah disini karena perbedaan blok kompetisi PVP. Jangan sampai kalah, kau mengerti?" Ucap Elin dengan tatapan seriusnya yang kini sudah cukup jarang ku lihat.
"Hahaha.... Tenang saja Elin. Aku akan berjuang dengan keras untuk menang. Kau sendiri jangan sampai kalah ya?" Balasku sambil merangkul tubuh kecilnya itu.
Melihat tingkahku, Elin nampak sedikit kesal.
"Hentikan! Apa yang kau lakukan? Jangan bermesraan di tempat yang dipenuhi dengan orang dan kamera ini!"
Meski begitu, aku mengabaikan perkataanya dan justru memeluknya.
Di sisi lain....
Nampak rombongan orang dengan seragam yang sama. Yaitu setelan berwarna putih bersih dengan corak merah. Di dada mereka, nampak lambang bendera Indonesia terpampang dengan jelas.
Itulah tim resmi yang berasal dari Indonesia.
Perlu diketahui, bahwa meskipun aku dan Elin berasal dari Indonesia dan juga mewakili Indonesia secara tidak langsung, tapi kami berdua tidak berasal dari tim resmi.
Tim resmi adalah para atlet pilihan yang setiap hari melakukan leveling, pelatihan, penyelesaian misi dan lain sebagainya.
Mereka tidak bermain Re:Life untuk bersenang-senang. Melainkan untuk memperoleh kemenangan dan mengharumkan nama Indonesia.
Basis mereka di dunia Virtual?
Tentu saja di Kerajaan Farna. Alasannya sangat sederhana yaitu sebagai Kerajaan yang dipimpin oleh sesama Player yang berasal dari Asia Tenggara, mereka yakin akan memperoleh keuntungan tambahan.
Meskipun....
Arlond bahkan tidak menyadari keberadaan mereka di Kerajaan Farna. Hal yang wajar karena mereka selalu berburu dan berlatih di wilayah hutan, lembah, ataupun pegunungan.
Jumlah Tim Resmi yang berasal dari Indonesia ini mencapai 43 orang yang semuanya akan mengikuti berbagai cabang Kompetisi. Termasuk PVP, Guild Versus Guild, Marathon, Kecantikan Hewan Peliharaan, dan sebagainya.
Pada saat melihat mereka lewat, jujur saja aku merasakan aura yang sedikit berbeda.
Terlebih lagi pada salah seorang pemain dengan badan yang cukup besar serta rambut pendek itu.
'Eh? Dia berhenti' Pikirku dalam hati setelah salah seorang yang sejak tadi ku amati kini menghentikan langkahnya.
Elin yang melihat perubahan ekspresi pada wajahku segera bertanya.
"Erik? Ada apa?"
"Tidak... tapi orang itu.... Dimana ya aku pernah melihatnya? Hmm...." Aku pun berusaha berpikir dengan keras untuk mengingat siapa sosok Pria itu yang sebenarnya.
Setelah beberapa saat, Pria itu nampak mendekat ke arah kami berdua.
__ADS_1
Aku pun memasang wajah keheranan sambil melontarkan pertanyaan yang umum.
"Maaf, ada keperluan apa ya dengan kami?" Tanyaku kepada Pria itu yang nampak dengan jelas berdiri di hadapan kami berdua.
Tapi tanpa ku sangka, Pria itu justu mengulurkan tangan kanannya seakan meminta jabat tangan.
Pada saat itulah dia mulai berbicara.
"Erik. Maafkan diriku atas perkataanku tahun lalu. Mungkin kau tak mengingat diriku tapi aku sangat mengingatmu. Aku adalah Ilham, seorang Tanker yang dulu pernah melontarkan perkataan buruk tentangmu." Ucap Pria berbadan cukup besar itu dengan Bahasa Indonesia yang cukup kaku.
Mendengar hal itu, aku terdiam sejenak seakan ingin mengingat sesuatu.
'Ilham? Menghina diriku? Kapan ya? Hmm....'
Pada saat aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri, Elin justru mengambil inisiatif terlebih dahulu dengan menjabat tangan Ilham.
"Jangan pikirkan hal sepele seperti itu. Pria bodoh bernama Erik ini kemungkinan besar tidak akan mengingat perkataanmu tahun lalu. Bahkan mungkin saja dia tak mengingatmu. Mewakili Pria bodoh itu, aku menerima permintaan maafmu. Kami menanti kerjasama yang baik denganmu, Ilham." Balas Elin dengan senyuman yang begitu ramah.
"Tu-tunggu dulu! Ada banyak masalah dengan perkataanmu itu Elin! Pertama-tama aku twidwa...."
Elin membungkam mulutku dengan tangannya yang kecil itu seakan tidak ingin aku berbicara.
Seakan mengikuti alur yang sedang terjadi, Ilham justru tersenyum lebar dan membalas perkataan Elin.
"Aah.... Jadi begitu. Baiklah, terimakasih banyak Elin. Perkataanmu sungguh masuk akal melihat tingkah 'Pria' itu." Ucap Ilham dengan nada yang terkesan mengejek.
"Uwapwa kwau bwilang! Uwakwu uwakwan mwenghwajwarmwu nwanti!" Teriakku seakan berusaha berbicara di balik bungkaman Elin.
Perdebatan ringan pun terjadi antara diriku dengan Ilham.
Tapi pada akhirnya, Ilham mengeluarkan jurus terlarang yang seharusnya telah di segel di penjara bawah tanah.
"Hahaha! Aku hanya bercanda Erik. Jangan serius begitu!" Ujar Ilham sambil tertawa keras dan memukul punggungku beberapa kali.
"Dari mananya kau bercanda?!"
Pada saat kami berdua masih sibuk, panggilan dari penyelenggara acara melalui speaker raksasa yang terdapat hampir di seluruh stadion ini terdengar begitu jelas.
..."Seluruh peserta Player Versus Player, diharapkan untuk segera pergi ke blok masing-masing. Pertandingan akan dimulai 15 menit lagi. Kami ulangi...."...
Pemberitahuan itu terus menerus diulang sebanyak 3 kali. Seluruh peserta kompetisi ini pun meyegerakan langkah kaki mereka menuju lokasi yang telah ditentukan.
Termasuk diriku dan Elin yang saat ini harus berpisah karena berbeda blok.
Seluruh penonton nampak bersorak dengan meriah. Di tengah Stadion ini, terdapat 6 buah layar hologram raksasa yang menampilkan isi pertandingan secara langsung dari beberapa pemain.
Sedangkan di depan kursi penonton, sudah disiapkan suatu mesin yang menampilkan layar hologram.
Penonton bebas untuk memilih siapa yang akan mereka tonton.
Berbeda dari Permainan Re:Life yang sebenarnya serta Free For All PVP, seluruh cabang kompetisi yang lain akan diadakan dengan percepatan permainan sebesar 1 banding 1.
__ADS_1
Dengan kata lain, 1 detik di dunia virtual akan sama dengan 1 detik di dunia nyata.
Kini....
Aku berdiri tepat di hadapan kapsul yang telah disediakan untukku. Aku segera memasukinya sesuai dengan instruksi beberapa petugas yang ada.
Tanpa menunggu lama, aku pun segera Log In dan memasukkan data mengenai akunku.
Pada saat itulah, pandanganku berubah.
Pandangan yang sebelumnya hanya melihat atap dari kapsul yang dipenuhi dengan cahaya biru redup itu, kini telah berubah menjadi pemandangan padang rumput yang hijau di segala arah.
"Aku penasaran.... Seperti apa lawanku kali ini?" Ucapku pada diriku sendiri sambil mempersiapkan seluruh perlengkapanku, termasuk Oracle Staff milikku.
'Dengan tongkat ini dan juga kemampuanku yang saat ini.... Aku yakin bahwa aku bisa bertahan setidaknya hingga babak penyisihan akhir.' Pikirku dalam hati sambil memandangi tongkatku.
'Lalu skill baruku itu....'
Pada saat aku masih disibukkan dengan pikiranku sendiri, aku melihat sebuah kubus hitam yang cukup besar melayang di tengah medan pertarungan ini.
Di setiap sisi kubus itu, terdapat angka sebanyak 2 digit berwarna merah menyala.
Sebuah angka....
Yang akan mengisyaratkan dimulainya babak pertama PVP ini.
Pada saat aku mencoba untuk melihat siapa lawanku saat ini, aku sendiri cukup terkejut.
Tanpa ku sadari, senyuman yang tipis terlukis di wajahku.
Di kejauhan, nampak sosok seorang bocah yang kemungkinan masih berusia 18 tahun. Tubuhnya cukup pendek dan kecil.
Dengan rambut yang berwarna merah itu, Ia nampak membawa sebuah pedang besar dua tangan.
Atau bisa dibilang, dia merupakan pemain dengan tipe 'Swordsmen' atau pendekar pedang. Jika melihat dari senjatanya saja, keuntungan telak sudah ada pada diriku.
Kenapa bisa demikian?
"Dengan pedang sebesar itu, apakah kau yakin bisa menghindari sihirku?" Ucapku seakan mencoba untuk memprovokasinya.
Tapi tanpa kuduga, Ia hanya memberikan tatapan tajam dan sebuah senyuman yang cukup lebar.
"Dari jubah dan juga tongkatmu itu, identitasmu sudah terbongkar Eric. Hanya perlu satu tebasan.... Dan nyawamu akan melayang!"
'Teeeeet!!!'
Suara yang begitu nyaring terdengar dari segala penjuru. Sedangkan kubus besar itu, kini telah menunjukkan tulisan [GO] dengan warna hijau terang.
Bersamaan dengan itulah....
Pertarungan kami dimulai.
__ADS_1