The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 228 - Hari Pertandingan


__ADS_3

Keesokan harinya....


"Elin. Bangun. Sudah jam 5 lebih ini." Ucapku sambil terus menepuk tubuh Elin.


"Enggghhh sebentar lagi.... Aku masih harus mengalahkan mmm...." Balas Elin dengan mata yang masih tertutup rapat.


'Sialan. Tak biasanya Ia sulit untuk dibangunkan seperti ini.'


Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku pun segera mandi dan bersiap untuk berangkat ke stadion dimana kompetisi akan dilaksanakan.


Musuhku kali ini yaitu salah satu mantan anggota Seven Star yaitu Brunhilda. Sebenarnya dia seperti orang yang baik dan cukup tegas. Akan tetapi mengingat perselisihanku dengannya dulu di daerah hutan itu....


'Apakah Ia akan membenciku sekarang?' Ucapku pada diriku sendiri sambil menggosok gigi dan melihat bayanganku di cermin.


Segera setelah itu, aku pergi ke ruang tengah hotel dan melihat berbagai video pertarungan Brunhilda yang sebelumnya.


Mengabaikan apalah dia membenciku atau tidak, Brunhilda adalah seorang Player yang sangat kuat sekarang.


Ia merupakan salah satu pengguna Buku Kuno [Lightning Fencer] yang memberikan kecepatan gerak dan kecepatan serangan yang begitu luarbiasa.


Setelah menonton ulang video pertarungan Brunhilda dengan berbagai lawan sebelumnya, Ia selalu menang bahkan tanpa menggunakan skill. Semua itu dikarenakan efek Passive Skill dari [Lightning Fencer] yang memberikannya kecepatan begitu tinggi.


Akan tetapi...


'Hmm.... Elin masih lebih cepat darinya, meskipun hanya sesaat. Tapi Brunhilda ini.... Dia selamanya secepat itu bahkan hanya dari pasif?' Ucapku dalam hati sambil terus menonton video pertarungannya.


Beberapa menit telah berlalu. Dan aku hanya bisa semakin ngeri melihatnya.


'Jika kecepatannya selalu seperti itu, bukankah dia lebih berbahaya dari Miyamoto yang mengandalkan hentakan satu langkah cepatnya?!'


Berbeda dengan Miyamoto yang cepat karena melompat, Brunhilda sangat cepat karena terus bergerak kesana kemari. Dengan kata lain, arah gerakannya hampir tak bisa diprediksi.


Pada saat aku masih serius melihay video itu....


'Sruugg!'


Elin memelukku dari balik kursi yang sedang kududuki ini.


"Erik.... Kurasa aku akan menonton dari kamar saja. Entah kenapa.... Aku sedikit mual...." Ucap Elin dengan suara yang sedikit lemas.


"Eh? Mual? Tunggu.... Semalam kau memakan...."


Aku pun mengingat-ingat apa yang telah Ia makan semalam. Dan segera setelah menyadarinya aku pun sedikit berteriak.


"Ah! Sudah kubilang jangan ambil sambal yang banyak di rumah makan soto itu! Kau ini, soto satu mangkuk sambalnya lima sendok. Sekarang kau paham akibatnya kan?!"


Tapi Elin hanya diam sambil terus memelukku.


"Baiklah.... Aku akan mencarikanmu bubur dan obat mual jika ada. Dan juga coklat, kudengar coklat bisa sedikit meredakannya. Sekarang kau beristirahatlah saja. Pertandinganku masih 3 jam lagi." Ucapku sambil segera mematikan TV itu dan berdiri.

__ADS_1


"Gendong."


"Hah?!"


"Gendong aku ke kamar, Erik." Ucap Elin dengan wajah yang memelas.


'Guuuhh! Tak kusangka dia akan semanis ini ketika bersikap manja!'


Tanpa menunggu lama, aku pun segera menggendong Elin seperti seorang pangeran yang menyelamatkan putri dari penyihir jahat.


Senyuman yang begitu manis terlihat di wajah Elin.


...***...


...Stadion Kompetisi...


"Mari kita sambut kedua Player yang akan bertarung hari ini! Erik dengan membawa bendera Indonesia di sisi Timur! Dan Hilda yang membawa bendera Jerman di sisi Barat!" Ucap sang pembawa acara dengan suara yang begitu menggelegar.


Aku pun berjalan mengikuti acara yang telah disiapkan ini. Jujur saja sedikit aneh memasuki panggung pertandingan dengan sambutan yang begitu meriah seperti ini.


Lagipula apa-apaan semburan api dan asap berwarna-warni ini?!


Setelah aku sampai di panggung, aku melihat sosok seorang wanita yang nampak begitu tenang. Tak ada sedikitpun keraguan ataupun rasa gugup.


Ia memiliki rambut berwarna kecoklatan yang diikat ekor kuda hingga sepanjang punggungnya. Sedangkan pakaian yang Ia kenakan adalah setelan jas abu-abu dengan rok span abu-abu yang cukup ketat.


Dibalik wajahnya yang nampak tak memiliki ekspresi itu, Ia mulai berbicara.


"Jadi kau sekarang adalah seorang Solo Player?" Tanyaku singkat menanggapi perkataan Hilda.


"Bisa dibilang begitu. Tapi jangan kau samakan diriku yang sekarang dengan yang melawanmu di hutan itu. Aku sudah jauh lebih kuat dari itu." Balas Hilda dengan tatapan yang tajam.


"Begitu pula dengan diriku."


Setelah pertukaran kata yang singkat itu, kami berdua segera memasuki kapsul untuk segera bertarung di dunia virtual itu.


Seketika, pandanganku berubah.


Lokasi pertarungan yang ada di hadapanku saat ini yaitu sebuah padang pasir yang ujungnya tak dapat diketahui.


Di arah Utara, nampak seorang wanita dengan rambut kehijauan yang terurai hingga sepanjang punggungnya. Terpaan angin di padang pasir ini membuat rambutnya bergerak kesana kemari dengan indah.


Brunhilda nampak mengenakan perlengkapan zirah ringan yaitu beberapa potong zirah mithril tipis yang menutupi pundak dan dadanya. Sementara dibalik semua itu yaitu zirah kulit yang berwarna hitam dan menutupi seluruh badannya.


Di pinggang kirinya terdapat sebilah rapier yang tesarung dengan rapi. Warna rapier itu biru mengkilap yang begitu indah dengan alur putih yang membentuk seperti es.


Pada saat aku melihat informasi mengenai rapier itu....


[Eternal Snow Rapier +13]

__ADS_1


[Rarity : Legendary]


[Pembuat : Tidak Diketahui]


[Atribut]


Attack Power : 4.280


Attack Speed : +82%


Strength : +32%


Agility : +57%


Movement Speed : +12%


Ignore Defense : 5.210


Defense Penetration : 74%


[Efek Khusus]


Eternal Snow


Senjata ini memiliki aura dingin yang begitu kuat. Memberikan efek negatif berupa Slow terhadap lawan yang terkena tebasan Rapier ini sebesar 48%.


Twelve Frost


Setelah memberikan 12 serangan secara berturut-turut pada satu target yang sama, maka target tersebut akan menerima efek negatif Frost yang membekukan sebagian tubuh target.


Ice Shatterer


Ketika memberikan serangan pada bagian tubuh target yang memiliki efek negatif Frost, maka damage yang diberikan akan meningkat sebesar 250% serta mengabaikan seluruh defense target.


Ultimate Rune of Agility


Meningkatkan kecepatan gerak sebesar 20% dan kecepatan serang sebesar 40%. Meningkatkan status pada atribut Agility sebesar 20%.


Setelah melihat informasi mengenai Rapier milik Brunhilda, aku sedikit merasa ngeri mengenai senjata yang Ia gunakan.


'Jadi itulah kenapa Ia bisa selalu mengalahkan lawannya dengan sangat mudah? Bahkan membuat seakan lawannya tak bisa melakukan perlawanan sedikitpun?' Pikirku dalam hati.


Pada saat aku masih disibukkan dengan pikiranku sendiri mengenai kengerian senjata yang dimiliki oleh Brunhilda, aku segera tersadar.


Waktu yang menentukan kapan dimulainya pertandingan kami berdua, kini hanya tersisa 8 detik saja.


Brunhilda nampak menarik Rapiernya yang begitu mengerikan itu.


Sementara itu, aku segera mempersiapkan [Oracle Staff] milikku dan bersiap untuk menggunakan berbagai jenis skill yang dibutuhkan untuk memenangkan pertandingan ini.

__ADS_1


Pada saat itu juga, kubus yang berada di tengah arena pertandingan ini menunjukkan tulisan [Go] dengan warna hijau yang begitu terang.


Dan dengan itulah, pertarungan kami berdua akhirnya dimulai.


__ADS_2