The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 22 - Amarah


__ADS_3

...Perhatian!...


...Chapter berikut ini mungkin dapat membuat beberapa pembaca tidak nyaman. Diharapkan kebijakannya dalam membaca....


...Jika tidak siap hati, mending di skip ke chapter berikutnya (saran : langsung ke chapter 23)...


Aku yang mendengar berita itu bergegas meninggalkan warung makan itu.


Pemilik warung makan itu sempat menghentikanku karena aku harus membayar pesananku.


Meski sudah kujelaskan mengenai situasiku, Ia masih mengotot meminta bayaran. Parahnya lagi, makananku bahkan belum dibuat.


Karena tak ingin berlama-lama disini, aku mengambil selembar uang kertas berwarna biru dengan nominal Rp. 50.000 dan melemparkannya pada pemilik warung itu.


Jarak antara tempatku berada saat ini dengan rumah sakit tempat Rina dirawat cukup jauh, yaitu sekitar 15 KM berdasarkan aplikasi peta di ponsel.


Tak ingin berlama-lama, aku memesan taksi online melalui aplikasi di ponselku. Sambil menunggu taksi itu datang, aku menelpon kembali Ibuku.


"Bagaimana kondisinya, Bu?" Tanyaku dengan tubuh yang tak kunjung berhenti bergetar.


"Kondisinya sangat kritis, Nak. Tapi kata dokter nyawanya dapat diselamatkan." Jawab ibuku dengan penuh isak tangis.


"Syukurlah kalau begitu. Aku akan segera kesana. Tunggu aku, Bu."


"Hati-hati, Nak."


Setelah itu aku menutup panggilan itu dan segera memasuki mobil yang baru saja berhenti di depanku. Ya, itu adalah taksi pesananku.


Setelah memastikan identitasku dan mengkonfirmasi tujuan, pengemudi itu segera menjalankan mobilnya.


Suasana jalanan cukup ramai. Mungkin karena ini masih pukul 8 malam. Meski begitu, suasana di dalam mobil sangatlah hening.


Aku yang penuh gelisah sambil bertukar pesan dengan Ibuku tak membuka mulut sama sekali selama perjalanan.


Hingga tanpa kusadari, aku telah sampai di depan rumah sakit.


"Berapa biayanya, Mas?" Tanyaku dengan terburu-buru.


"80 ribu." Jawabnya singkat.


Aku segera mengeluarkan uang dari tas pinggangku yang kini cukup gendut. Selembar kertas berwarna merah dengan nominal Rp. 100.000 kuserahkan pada pengemudi itu sambil berteriak.


"Ambil saja sisanya."


Aku segera berlari sekuat tenaga menuju ruangan yang telah dijelaskan Ibuku melalui pesan singkat.


'Brak!'


Aku membuka pintu dengan sekuat tenaga hingga membentur tembok.


"Bagaimana kondisi Rina?" Teriakku.


Tanpa ada jawaban dari kedua orangtuaku yang saat ini sedang menangisi kejadian ini, aku segera mendekat kepada tubuh Rina yang saat ini sedang terbaring lemas diatas tempat tidur.


Keadaannya sungguh mengerikan.


Tangan kanannya yang dulu sering Ia gunakan untuk menampar dan memukuli diriku ketika bercanda, kini sudah tidak ada.


Hanya menyisakan kenanangan.


Begitu pula kaki kirinya.


Hatiku hancur tak karuan.


Perasaanku campur aduk melihat kondisi Rina.

__ADS_1


Bahkan jika aku menawarkan jiwaku ratusan kali kepada iblis, itu tak akan pernah bisa mengembalikan Rina seperti sedia kala.


Saat aku mengalihkan pandanganku, terdapat secarik kertas di meja sebelah tempat tidur Rina.


kertas berwarna putih itu nampak sangat kotor dengan banyaknya noda darah.


Aku meraih kertas itu dan mulai membacanya.


Setelah memahami isi dari surat itu, air mataku tak dapat berhenti. Aku menggigit bibirku dengan keras hingga berdarah. Bahkan tangan kananku yang sedari tadi mengepal mulai meneteskan darah karena luka dari ujung kuku.


Pada intinya, surat itu merupakan isi hati Rina sebelum melompat dari lantai 4 di sekolahnya. Ia tak sanggup untuk terus menerus menyusahkan keluarganya sehingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya disana.


Tapi Ia selamat.


Pandanganku teralihkan kepada ayahku. Mataku memelototinya dengan tajam. Seketika aku mendorongnya hingga ke tembok dengan seluruh kekuatanku.


"Kau! Semua ini salahmu karena kau mengusirku tanpa mendengarkan alasanku! Kau tak tahu bahwa Rina sedang dalam tekanan! Kau lebih mementingkan dirimu sendiri kan?!"


Teriakku terhadap Ayahku yang mulai gemetar.


Mataku memelototinya dengan sangat tajam.


Hingga akhirnya, Ia mulai membuka mulutnya.


"Itu karena kau malah bermain game pada saat adikmu membutuhkan biaya sekolah!"


"Aku tidak bermain main di dalamnya kau tahu?!"


Sesaat setelah menjawab Ayahku, tanganku segera membuka tas pinggang yang ku kenakan.


Aku meraih sesuatu di dalamnya dan melemparkannya di wajah Ayahku.


"Sudah kubilang aku tidak butuh uang gajimu!"


Jawaban Ayahku hanya membuat diriku semakin marah. Aku pun memegang kerah pakaian Ayahku dengan kencang dan berteriak kepadanya.


Tangan kiriku kemudian meraih sebuah amplop yang ada di dalam kantungku. Sesaat setelah itu aku segera melemparkannya kepada Ayahku.


"Sudah hentikan!" Teriak Ibuku sambil melerai kami berdua.


Aku pun melangkah mundur karena aku merasa semua yang perlu ku katakan telah tersampaikan.


Ayahku membuka amplop yang kulemparkan kepadanya dan terheran-heran.


Pikirannya yang kebingungan tertulis dengan jelas di wajahnya.


"E-Erik... bagaimana kau mendapatkan uang ini?" Tanya Ayahku yang mulai memahami situasi saat ini.


"Sudah kubilang, aku bisa menghasilkan uang dari Re:Life, Ayah."


Aku hanya menjawabnya dengan ringan seakan itu bukanlah suatu masalah.


Ayahku yang nampak tidak percaya mengenai perkataanku terus menatapiku.


"Bohong! Re:Life hanya bisa menghancurkan hidup seseorang!" Teriaknya penuh dengan ketidakpercayaan.


"Kalau begitu lihat saja ini."


Aku menyerahkan slip transaksi di tempat persewaan sebelumnya kepada Ayahku.


Aku merasa lega karena memutuskan untuk menyimpan slip itu.


Di dalamnya terdapat data diri mengenai diriku, akun Re:Life milikku serta nominal yang aku terima.


Setelah memperhatikan semua itu, Ayahku mulai tersadar.

__ADS_1


"Maafkan Ayahmu ini, Nak."


Ia mengatakannya dengan penuh isak tangis. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya yang sudah mulai keriput itu.


"Semuanya sudah terlambat, Rina sudah terbaring dengan kondisi kritis karena kau tidak mempercayaiku dan memilih kekerasan." Jawabku dengan santai.


"Tapi kau tahu? Aku akan selalu memaafkanmu, Ayah."


Suasana ruangan dipenuhi dengan isak tangis setelah itu.


Beberapa saat kemudian, aku mulai berbicara kembali dengan Ayahku.


"Jadi bagaimana kondisi Rina?" Tanyaku.


"Seperti yang kau lihat, kondisinya cukup buruk. Akan tetapi tidak mengancam nyawanya. Selain tangan kanan dan kaki kirinya, serta beberapa tulang rusuknya, Rina baik-baik saja." Jawab Ayahku dengan serius.


"Syukurlah."


Aku merasa sangat lega mendengar perkataan Ayahku.


Meskipun kaki kanannya mengalami patah tulang, tapi tidak seburuk kondisi kaki kirinya yang mengharuskannya untuk diamputasi.


"Tapi...." Ayahku mencoba untuk meneruskan penjelasannya.


Ia kemudian memberikanku sebuah berkas.


Saat aku membuka berkas itu, aku tak dapat berkata-kata lagi.


Ya, itu adalah berkas mengenai tagihan perawatan Rina.


Dibaliknya terdapat rincian mengenai pemasangan tangan dan kaki bionik atau buatan.


Pada masa kini dengan teknologi yang sudah cukup canggih, pemasangan tangan dan kaki bionik yang memiliki kemampuan sebaik tangan yang asli bukanlah hal yang sulit.


Akan tetapi semua ada harganya.


"64 juta untuk perawatannya... kemudian 370 juta untuk tangan dan kaki bionik...."


Tubuhku mulai lemas.


Suasana ruangan pun menjadi berat.


Keluargaku yang bahkan kesulitan untuk mencari 12 juta, kini dihadapkan dengan angka yang jauh lebih besar.


Tapi dengan keadaanku saat ini, aku sedikit optimis. Aku dapat menghasilkan uang dari Re:Life.


Ya, pekerjaanku sebagai pedagang monster sangat menjanjikan.


3 bulan.


Itu adalah perkiraan masa perawatan Rina. Aku perlu menghasilkan uang sebanyak itu dalam 3 bulan. Jika aku bertanya pada diriku yang dulu, tentu saja jawabannya adalah tidak mungkin.


Tapi sekarang berbeda.


"Ayah, aku akan kembali ke rumah dan memasuki Re:Life untuk mencari uang. Mana kunci rumahnya?"


Ayahku tak kunjung menjawabku. Wajahnya yang sudah mulai tenang kini berkeringat kembali.


"Ma-maafkan aku sekali lagi, Erik."


"Hah? Sudah kubilang aku telah memaafkanmu. Sekarang mana kunci rumahnya. Aku akan mencari uang di Re:Life untuk biaya pengobatan Rina."


"Soal itu... aku telah menjual kapsul beserta semua barang yang ada di kamarmu, Erik."


Kejadian setelahnya sebaiknya tidak kalian ketahui.

__ADS_1


Ya meskipun pada intinya, Ayah dan Anak sama-sama babak belur.


__ADS_2