The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 64 - Elin


__ADS_3

Semua orang bahagia melihat notifikasi peresmian Dungeon Barrack dan juga Buff perolehan EXP yang diberikannya. Aku juga tersenyum dengan sangat lebar membayangkan levelku yang meningkat dengan pesat. Akan tetapi nampaknya ada satu orang yang tidak bahagia.


Sebuah lingkaran sihir berwarna biru muncul di hadapan kami semua. Dibalik cahaya yang membalutnya dengan lembut, muncul dua orang gadis yang cantik. Alice dan Elin.


“Eric! Apa yang kau lakukan disini! Cepat ikut denganku!” Teriak Elin dengan keras sambil menarik tubuhku.


“E-Elin?! Kenapa kau….”


“Sudah diam saja, Eric! Alice, tolong antarkan kami kembali ke Dungeon Origin.” Teriak Elin meminta Alice untuk mengantarkannya.


“Kalau mau ke….” Lagi-lagi belum sempat menyelesaikan perkataanku, Elin memotongnya secepat kilat.


“Diam!”


‘Kenapa dia seperti ini?’ Pikirku dalam hati. Chris dan Neo yang melihat tingkah Elin memasang wajah yang kesal. Tapi mereka nampak tidak begitu terkejut. Seakan mereka sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi.


Aku dan Elin segera berpindah tempat ke Dungeon Origin.


Pemandangannya membuatku rindu karena telah meninggalkan tempat ini selama beberapa hari waktu dunia Re:Life.


‘Plaaaak!!!’


Tapi secepat kilat, tamparan Elin mendarat di wajahku.


“Hah?! Apa yang kau lakukan, Elin?!” Teriakku menerima tamparannya.


“Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak bekerjasama dengan Chris kan?! Kenapa kau malah mengabaikan perkataanku?! Bahkan membuat Dungeon baru di wilayah Chris?!” Teriak Elin dengan wajah kesal dan mata yang memelototiku cukup tajam.


“Memangnya kenapa? Bukankah kau tahu sendiri bahwa Dungeon Origin berada dalam kondisi yang cukup berbahaya? Jika aku bekerjasama dengan Chris, maka setidaknya aku mampu mengungsikan para petinggi monster ke Dungeon Chris! Para petinggi monster juga sudah tahu cara menggunakan lingkaran sihir itu!” Teriakku kepada Elin.


“K-kau!!! Sejak kapan aku memperbolehkanmu untuk bertindak semaumu?! Kau tahu kan bahwa itu bisa membahayakan Dungeon ini?! Lagipula, Chris juga hanya memanfaatkanmu kan?! Kenapa kau mau….”


Kali ini, sebelum Elin menyelesaikan perkataannya aku dengan cepat segera memotongnya.


“Bukankah kau juga hanya memanfaatkanku, Elin?” Ucapku dengan tatapan yang sini.

__ADS_1


Ya, aku tahu sejak awal. Aku tahu jika dia hanya memanfaatkanku. Membagi keuntungan 50:50 antara aku dan Elin? Pertukaran yang adil? Apa-apaan itu?


Memang pada awalnya aku tidak mengetahui cara memanfaatkan skill ini dengan baik, tapi bukan berarti aku tidak akan pernah menyadari untuk membuat suatu kerajaan monster! Bahkan sebelum kedatangan Elin, aku juga sudah mengetahui bahwa aku bisa mempersenjatai mereka dengan perlengkapan lain.


Tidak jauh dari itu aku juga akan menyadari bahwa memanfaatkan mereka sebagai penambang dan memenuhi kebutuhan makanan mereka dapat dilakukan.


Bahkan tanpa kehadiran Elin, Chris dan Neo pasti akan mencari diriku. Ya, mereka pasti akan mencari iblis penjinak monster untuk membantu krisis pada kerajaan mereka. Memang benar aku tidak akan memiliki Mana yang besar jika tidak bekerjasama dengan Elin. Tapi Magic Device pemberian Luna juga akan mengatasi masalah itu.


Jika Neo memahami kebutuhan Mana milikku yang besar, Ia pasti akan meminta Chris untuk mencarikanku item untuk meningkatkan Mana.


Lalu kenapa aku selalu bertahan hingga sekarang padahal aku tahu Elin hanya memanfaatkanku?


Tentu saja karena aku suka dengannya. Apalagi? Aku senang memandangi sosoknya yang manis dari kejauhan. Hal itulah yang membuatku tetap waras selama mengurusi biaya pengobatan adikku. Elin juga sepertinya tahu akan perasaanku dan mampu memanfaatkannya dengan baik.


Ya, dia hanya memanfaatkanku. Aku yakin itu. Alasan sebenarnya aku tidak boleh bekerjasama dengan Chris… aku dapat memahami kasarannya. Ya, Elin tidak ingin ada Player lain yang mampu mendukungku selain dirinya sehingga Elin dapat terus memasang belenggunya kepadaku.


Tapi aku penasaran.... Apa alasannya melakukan semua ini?


“E-Eric…. Apa maksudmu dengan itu?” Tanya Elin dengan ekspresi yang belum pernah Ia tunjukkan kepadaku. Ekspresi kaget yang dipenuhi akan ketakutan.


Tapi tak sepatah katapun keluar darinya. Elin hanya menundukkan kepalanya.


“Jika kalimat sederhana itu tak dapat dimengerti oleh otak cerdasmu, maka akan kuperinci Elin.” Ucapku kepadanya.


“Auction Market. Merupakan pasar yang menjual barang dengan sistem lelang. Penjual dapat menentukan harga awal suatu barang. Setelah itu, para pembeli akan berebut dengan meningkatkan harga beli dari harga awal. Sebagai contoh sederhana yaitu Cursed Mithril Blade yang dibuka pada harga….” Jelasku.


Tapi belum sempat menyelesaikan perkataanku, Elin menyandarkan tubuhnya padaku. Terdengar nafas yang berat dan isak tangis yang tertutupi oleh rambutnya. Dibalik semua itu, suara lirih terdengar bersamaan dengan tangisannya.


“Eric… maafkan aku…. Kau tahu kan aku tidak bermaksud melakukannya?” Jelasnya dengan suara yang sangat pelan. Perlahan tangannya mulai berusaha untuk memelukku. Tapi aku segera menyingkir darinya.


“Tipuanmu ini tidak akan bekerja lagi untuk ketiga kalinya, Elin. Aku sudah tahu semuanya.” Balasku sambil menjauh dari Elin.


Bagaimana aku tahu? Tentu saja bukan karena usahaku sendiri, melainkan adikku. Auction Market juga dapat diakses melalui situs resmi Re:Life di dunia nyata. Memungkinkan Player yang sedang tidak berada di dalam game untuk melakukan pemasangan harga. Begitu juga sejarah jual beli yang pernah dilakukan.


Rina melihat sejarah jual beli item itu setelah aku menceritakan mengenai kerjasamaku dengan Elin. Hanya berbekal nama pembuat item yaitu Tasmith, Rina mampu menemukan semua transaksi item yang pernah dilakukan.

__ADS_1


Hasilnya?


Setiap pembuatan pedang satu tangan oleh Tasmith dibutuhkan 3.000 koin emas lebih untuk membeli Mithril yang dibutuhkan. Menurut penjelasan Elin, keuntungannya yaitu sekitar 7.000 koin emas. Tapi kenyataannya jauh dari itu.


Rina menanyaiku bagaimana keuntungan penjualan item itu pagi hari sebelum dirinya berangkat sekolah. Setelah mengetahui ada yang aneh, Ia membagikan kepadaku print out sejarah penjualan semua item buatan Tasmith kepadaku. Tentu saja aku bisa mengaksesnya secara langsung di situs resmi Re:Life untuk memastikan kebenarannya.


Setiap Cursed Mithril Blade tingkat Unique yang terjual, memiliki nilai akhir setidaknya 32.000 koin emas. Memang benar bahwa Elin memasang harga awal sebesar 10.000 koin emas, tapi Ia tak pernah menceritakan mengenai kelebihan keuntungan yang diperoleh kepadaku.


Melihat hal itu, jujur saja bahwa aku cukup marah. Aku mempercayakan semuanya kepada Elin karena kupikir dia merupakan orang yang dapat dipercaya. Dia juga yang paham mengenai bagaimana cara memanfaatkan situasi dengan baik. Jadi kupikir jika Elin yang melakukannya, maka aku akan memperoleh keuntungan yang lebih besar.


Setelah itu, Rina hanya memberikan beberapa kalimat sederhana kepadaku.


“Kakak, lupakan saja gadis penipu itu. Nanti aku akan memesan kapsul Re:Life dengan rekeningmu, Kak. Setelah itu aku akan menjadi penasehat kakak setidaknya di waktu luangku. Boleh kan?” Ucap Rina kepadaku. Aku pun segera menganggukkan kepalaku tanpa berkata.


Meskipun aku cukup bodoh, tapi aku tidak sebodoh itu hingga tidak mampu memahami perbedaan angka yang sederhana ini. 10.000 dan 32.000. Diatas semua itu, Elin masih mengambil 3.000 koin emas lagi untuk memperlihatkan bahwa dirinya memang hanya mengambil setengahnya.


Jika dipikir-pikir kembali, semua penjualan hasil produksi selalu dilakukan oleh Elin. Ia tak pernah mengijinkanku untuk keluar dengan alasan seperti ‘kau akan ditangkap oleh musuh’ atau ‘aku akan mampu bergerak dengan lebih cepat.’


Jujur saja hingga saat ini aku masih percaya padanya. Tidak…. Aku ingin percaya kepadanya. Tapi aku tak pernah menyangka bahwa Elin akan melakukan hal serendah itu kepadaku. Aku telah menganggapnya rekanku sendiri. Tapi ini?


“Bukankah kau sudah memperoleh cukup banyak keuntungan dariku? Atau masih kurang?” Tanyaku kepada Elin dengan nada sinis.


“Eric…. Aku mohon…. Maafkan aku….” Ucapnya lirih sambil menutupi wajah kecilnya itu.


...___________________________________...


...[Sebelum lanjut membaca]...


...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...


...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...


...[Tak ada ruginya bagi kalian]...


...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...

__ADS_1


__ADS_2