The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 140 - Ancaman Baru


__ADS_3

...Dungeon Origin...


...Lantai 5...


“Dimana Oliver?” Tanya seorang Vampir dengan paras yang sangat elegan dan menawan, Lucien.


“Ah, Tuan Lucien. Sepengetahuanku,Tuan Oliver sedang berada di Lantai 6. Ia sedang mengawasi dan membantu pembangunan lantai baru Dungeon Origin.” Balas seekor goblin yang nampak sedang mengangkut hasil tambang.


Goblin itu dengan segera menunjuk ke suatu arah kepada Lucien, menunjukkan arah ke lantai 6.


Lucien segera mengangguk dan berterimakasih kepadanya.


‘Aku harus segera mengumpulkan para petinggi. Tuan Eric, dimana kau? Aku tak bisa menghubungimu dengan Telepathy sama sekali. Tidak seperti biasanya kau pergi tanpa meninggalkan pesan apapun.’ Pikir Lucien dalam hati sambil segera terbang ke suatu arah.


...***...


...Dungeon Origin...


...Lantai 6...


“Apa? Tuan Eric menghilang tanpa memberi kabar?!” Teriak Oliver dengan mata yang terbuka lebar.


“Hentikan itu. Sekarang kita memiliki masalah yang jauh lebih penting.” Balas Lucien singkat.


“Bisakah kau menjelaskannya?”


“Aku akan menjelaskannya secara rinci di hadapan seluruh petinggi nantinya. Jika diringkas…. Rencana Tuan Eric untuk menguasai Kerajaan Farna nampaknya akan terganggu oleh kehadiran seorang Necromancer bernama Evan.” Jelas Lucien.


Mendengar hal itu, Oliver nampak mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Sedangkan di wajahnya, nampak ekspresi yang belum pernah dilihat sebelumnya. Yaitu sebuah ekspresi marah yang penuh dengan kekesalan.


"Mengganggu... rencana Tuan Eric kau bilang?!"


Segera setelah itu, seluruh petinggi Origin dikumpulkan di kastil pemerintahan di lantai 5.


Lucien segera menjelaskan seluruh detailnya.


“Lucien, jika apa yang kau jelaskan itu benar maka…. Rencana untuk melambungkan nama seseorang bernama Arlond itu….” Ucap Knox dengan sedikit keraguan.


“Kita harus membatalkannya. Bagaimanapun juga, kekuatan penuh dari Necromancer itu masih belum diketahui.” Balas Lucien.


“Kalau menurutku, kita sebaiknya segera memberikan pukulan yang kuat kepada Necromancer bernama Evan itu. Jika dibiarkan saja maka….” Ucap Oliver seraya mencoba untuk mengutarakan pendapatnya.


Tapi sebelum menyelesaikan perkataannya, seluruh petinggi yang ada di ruangan ini menggelengkan kepala mereka.


“Apakah kau lupa dengan keberadaan Inquisitor dari Kerajaan Suci Celestine, Oliver?” Tanya Minis dengan tatapan tajam.


“Kau harus ingat bahwa Tuan Eric pernah mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan kita semua. Bahkan bentuk pengorbanan itu masih bisa terlihat di reruntuhan kota di lantai 1.” Tambah Knox dengan nada yang dingin.

__ADS_1


“Tentu saja aku tidak lupa! Bagaimana mungkin aku melupakan kekalahan telak di hari itu? Jika saja Nona Elin ada disini, mungkin Ia bisa memberikan kita arahan yang lebih baik.”


Pembahasan terus berlanjut mengenai bagaimana cara menangani sosok Necromancer bernama Evan itu. Semua terus mengutarakan dan mempertahankan pendapat mereka masing-masing.


Pada intinya, mayoritas pendapat dibedakan menjadi 3 kubu.


Kubu pertama yaitu menyarankan untuk segera menghapuskan keberadaan Evan. Tentu saja, dengan menggunakan sedikit pasukan elit dari Origin seperti Lucien dan juga para petinggi lain.


Meskipun terdengar menjanjikan, Lucien sendiri menolak usulan ini. Alasannya yaitu Evan memiliki 7 bawahan yang menurutnya memiliki kekuatan yang setara atau bahkan lebih tinggi daripada para eksekutif Origin. Hal itu juga belum mempertimbangkan kekuatan Evan itu sendiri.


Sedangkan kubu kedua menyarankan untuk menarik mundur seluruh rencana penguasaan Kerajaan Farna. Hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa Origin saat ini kemungkinan tidak bisa menghentikan Evan tanpa menunjukkan diri ke dunia.


Tentu saja sebagian besar menolak rencana ini.


Kubu terakhir yaitu menyarankan untuk melanjutkan rencana penguasaan Kerajaan Farna, tapi dalam kondisi tidak sempurna. Dengan kata lain, Lucien dan petinggi lain akan segera membunuh para keluarga kerajaan dan menobatkan Arlond sebagai seorang Raja.


Meskipun….


“Arlond memang sudah memiliki nama ‘Pahlawan’ di wilayah bagian Utara Kerajaan Farna. Tapi bagaimana dengan wilayah yang lain? Ia tak mungkin bisa dinobatkan dengan kondisinya yang bahkan belum setengah matang itu.” Ucap Knox sebagai rekan kerja Arlond itu sendiri.


“Kau benar, Knox. Jika saja Tuan Eric ada disini….”


Pada akhirnya, seluruh petinggi sepakat untuk menjalankan rencana dari kubu ketiga. Setidaknya, itu adalah rencana yang paling aman untuk dilakukan sebelum Eric kembali.


...***...


...Kerajaan Farna...


...Wilayah Utara...


Nampak seseorang dengan kulit yang pucat sedang berjalan di sebuah gang yang gelap. Ia menutupi seluruh tubuhnya dengan jubah yang serba hitam.


Di ujung gang itu, nampak sosok seorang Pria yang mengenakan pakaian berupa Tunic tanpa pola sama sekali.


“Pesan dari pengajar. Tajamkan pedangmu.” Ucap Pria dengan kulit pucat dan berjubah itu kepadanya. Ia juga nampak memberikan selembar kertas yang cukup usang beserta sekarung buku dengan warna yang berbeda pada tiap sampulnya.


“Dimengerti.” Balas Pria dengan pakaian Tunic itu singkat. Ia segera mengambil kertas dan karung berisi penuh dengan buku itu lalu segera berjalan melewati sang Pria berjubah. Tujuannya? Segera meninggalkan tempat itu.


‘Kenapa mereka terburu-buru untuk melakukan ini? Bukankah rencana awalnya adalah sekitar 6 bulan dari sekarang dalam waktu dunia virtual ini?’ Pikir Pria dengan Tunic itu. Ia adalah Arlond yang saat ini sedang berusaha menyebarkan namanya di kota ini.


Isi dari surat itu adalah detail dari rencana yang telah diputuskan oleh para petinggi Origin. Tentu saja dengan bahasa yang sudah disamarkan dan hanya dimengerti antara Arlond dan para petinggi Origin.


Pada intinya, Lucien akan mulai membunuh keluarga kerajaan satu persatu sesegera mungkin. Sedangkan Arlond diminta untuk segera menyebarluaskan namanya di seluruh Kerajaan Farna.


Termasuk juga untuk segera meningkatkan levelnya di dalam Dungeon Treasure dengan bantun Knox. Tak hanya itu, karung yang dipenuhi buku itu merupakan Skill Book mulai dari rarity Rare hingga Unique. Arlond diminta untuk menggunakan semuanya agar menjadi semakin kuat.


Pada pertarungan akhir dimana Lucien akan membunuh sang Raja, Arlond sudah harus memiliki reputasi yang cukup untuk memasuki istana kerajaan dan terlihat berusaha menyelamatkan sang Raja.

__ADS_1


Setelah Raja terbunuh, maka Arlond akan berpura-pura melawan Lucien. Harapannya adalah untuk memperoleh kepercayaan dari seluruh orang sehingga mampu naik tahta menjadi seorang Raja.


Hanya saja, karena masalah kemunculan Evan membuat semua ini harus dilakukan dengan segera. Tentu saja, termasuk Eric yang tidak bisa dihubungi oleh para petinggi Dungeon Origin.


‘Eric, apa yang sedang kau lakukan sekarang?’ Ucap Arlond dalam hati sambil memandangi langit malam yang dihiasi bintang-bintang.


...***...


...[PERINGATAN!]...


...[Kisah dibawah ini mungkin dapat membuat beberapa pembaca tidak nyaman.]...


...[Jika melanjutkan membaca meskipun tanpa kesiapan hati, Anda telah setuju untuk tidak protes setelah itu.]...


...Di sebuah Desa...


...Kerajaan Farna...


“Hari sudah malam. Segera matikan lenteramu dan tidurlah, sayangku.” Ucap seorang Wanita dengan tubuh kurus dan pakaian yang compang-camping itu.


“Ibu…. Aku ingin tidur bersamamu malam ini.” Balas gadis kecil itu.


“Ah, kau ini. Baiklah, apa boleh buat. Ibu akan menemanimu tidur malam ini.” Balas Wanita itu.


“Yey! Ibu, aku ingin mendengarkan dongeng mengenai seorang pahlawan yang menyelamatkan dunia ratusan tahun lalu!” Teriak gadis itu dengan penuh semangat.


“Tentu saja, Sayangku. Ibu akan menceritakannya. Sekarang….”


Nampak suasana yang hangat di dalam rumah kecil itu. Meskipun tanpa sosok Ayah, keluarga ini masih mampu untuk bertahan hidup di tengah krisis ini. Sedangkan sang Ayah? Ia telah terbunuh pada saat dipaksa mengikuti misi penaklukan Dungeon Misterius itu oleh Sang Raja.


Seluruh penduduk desa telah beristirahat di malam yang dingin ini.


Meskipun mengalami masa sulit, mereka mampu bertahan berkat kerja keras mereka semua.


Hanya saja….


Nampak sosok 8 orang di luar desa itu.


Mereka nampak sedang membicarakan mengenai suatu hal. Tapi yang paling mencolok adalah sosok seorang Pria berambut putih yang berdiri di tengah-tengah mereka semua.


“Kita akan menghabisi seluruh penduduk desa ini. Segera setelah itu, kita akan menjarah semua harta yang ada. Kurasa tak perlu untuk memanggil Undead milikku jika tak ada penjaga sama sekali. Ini sesuai dengan apa yang kau inginkan bukan, Lilith?” Tanya Pria berambut putih itu dengan wajah tanpa ekspresi sama sekali.


"Terimakasih karena telah mendengarkan permintaan egois dariku, Tuanku." Balas Lilith sambil menundukkan kepalanya.


Di atas kepala Pria berambut putih itu, nampak tulisan berwarna hitam pekat.


...‘Evan’...

__ADS_1


__ADS_2