
Pertarungan antara Angie dengan Cecilia berlangsung dengan sangat sengit.
Di satu sisi, Cecilia terus menerus menekan Angie dengan kemampuan penguasa bayangan miliknya. Ia mampu membuat bayangan dari dirinya sendiri yang bahkan bisa menyerang dan memikiki status sebesar 10% dari status asli Cecilia.
Sementara itu, Angie mulai bertarung dengan sangat fleksibel. Ia meletakkan tombak yang menjadi senjata terkuatnya dan terus menerus mengganti senjata sesuka hati.
Pergerakan Angie yang begitu fleksibel serta pergantian senjata yang sama sekali tak dapat diprediksi itu lambat laun membuat Cecilia mulai kuwalahan.
"Mana kepercayaan dirimu tadi, Cecilia?! Bahkan sebagai seorang Assassin kau jauh lebih lemah daripada Eric!" Teriak Angie dengan suara yang begitu keras hingga terdengar oleh semua penonton.
Mendengar ejekan Angie, Cecilia semakin panas dan mempercepat gerakannya.
Tapi itulah yang diincar Angie.
Ketika orang sedang dalam keadaan emosi, maka pergerakannya akan menimbulkan banyak sekali celah.
Cecilia nampak masuk ke dalam bayangan dan muncul lagi di tempat lain. Lalu masuk lagi dan muncul di tempat yang berbeda lagi.
Hal itu terus berulang dengan tujuan untuk membingungkan Angie.
Tapi Angie hanya berdiri dengan tenang. Bahkan nampak memejamkan matanya.
Pada saat itulah Cecilia menganggap bahwa ini adalah kesempatan emasnya. Ia segera masuk ke dalam bayangan dan keluar tepat dari bayangan Angie.
Dengan kecepatan yang begitu tinggi, Ia nampak akan menebas leher Angie.
Yang Ia butuhkan hanyalah waktu yang begitu cepat. Hingga akhirnya....
'Jleeebb!'
"Ughhh!!"
Angie nampak telah kembali mengganti senjatanya sebagai tombak dan menusukkannya ke belakang bahkan tanpa melihat sama sekali.
Bersamaan dengan itu, notifikasi sistem muncul di hadapan Angie.
[Anda telah mengenai titik vital target!]
[Anda telah memberikan Critical Hit pada target!]
[Target telah menerima 241.139 damage!]
[Target telah mengalami pendarahan serius!]
[Target akan menerima 8.000 damage per detik!]
Melihat notifikasi itu, ekspresi Angie tetap datar seperti sebelumnya. Dengan santai, Ia berkata.
"Pergerakanmu terlalu sederhana dan mudah sekali ditebak. Kau terlalu bergantung pada skill Shadow Master milikmu sehingga aku bisa memprediksi semua gerakanmu setelah beberapa saat."
__ADS_1
Setelah itu, Angie segera mencabut tombak yang saat ini masih menancap di dada Cecilia. Ia dengan segera memutar tubuhnya dan mengayunkan tombak perak keemaaan itu tepat ke leher Cecilia dan memotongnya.
Hasil akhir pertandingan final yang tak terlalu meriah ini pun segera diumumkan.
...[Angie Vs Cecilia!]...
...[Winner : Angie!]...
Acara pesta yang begitu meriah untuk sang juara PvP yaitu Angie pun segera dilaksanakan oleh seluruh pengurus acara.
Tentu saja termasuk juara kedua yaitu Cecilia dan Juara ketiga serta keempat yaitu aku dan seorang pendekar pedang bernama Marcus.
Aku pun dengan terpaksa mengikuti acara pesta itu sambil mengangkat piala perunggu yang sama dengan Marcus. Meskipun baru saja kenal, nampaknya Marcus adalah orang yang cukup asik untuk diajak mengobrol.
Hadiah pun dibagikan kepada kami semua di penghujung acara itu.
...***...
...Lobby...
"Hah.... Juara harapan ya?" Ucapku pada diriku sendiri sambil memandangi sebuah kartu yang berisi hadiah di dunia virtual yang telah ku pilih.
"Erik, apa isinya?" Tanya Elin penasaran sambil menggandengku dengan sangat erat.
"Kau mau tahu? Fufufu.... Isinya adalah rahasia yang bahkan takkan kuberitahu kepada si...."
"Erik meminta sebuah material aneh yang seharusnya merupakan drop item dari boss yang sangat langka. Nama item itu adalah...." Ucap seorang wanita berambut pirang yang tiba-tiba saja ada di dekat kami berdua.
"Angie kenapa kau mengatakannya?!"
"Hahaha.... Tenang saja. Lagipula aku bukan musuhmu kan?"
Mendengar percakapan kami berdua, Elin semakin penasaran.
Tapi seakan tak ingin membiarkan Elin mati dengan rasa penasaran, Angie segera membisikkannya kepada Elin.
"Erik.... Kau?!"
Elin nampak begitu terkejut setelah mengetahui item apa yang telah ku pilih sebagai hadiah kompetisi yang panjang dan menyusahkan ini.
"Catalyst kan? Tak ku sangka bahwa kau memang begitu gila terhadap uang, Erik." Ucap Angie menyela perkataan Elin.
"Biarkan saja. Lagipula dengan Catalyst ini, aku bisa membuka peluang kerjasama yang baru dengan Raja Arlond."
"Jangan katakan padaku bahwa Catalyst ini adalah item super langka yang bisa mempercepat pembuatan bahan-bahan kimia?!" Teriak Elin terkejut.
Aku hanya tersenyum mendengar perkataan mereka berdua.
"Benar sekali! Terlebih lagi katalis ini adalah yang langka dari yang langka. Frost Dragon Heart!" Teriakku dengan penuh kebanggaan.
__ADS_1
Beberapa orang yang lewat maupun berada di dekat kami nampak kebingungan sekaligus merasa risih melihat perkataanku yang terkesan aneh.
Meski begitu, aku tak memperdulikannya. Lagipula dengan bantuan Catalyst : Frost Dragon Heart ini aku dapat mempercepat dan meningkatkan kualitas Mana Potion yang dibuat.
Dengan kalimat sederhana, aku akan mampu menghasilkan banyak sekali uang!
"Kau sudah gila ya Erik?!" Teriak Elin dengan perkataan yang seakan mengejek tapi dengan raut wajah yang begitu bahagia. Ia bahkan memelukku dengan sangat kegirangan. Bersamaan dengan itu, Ia kembali berbicara.
"Kita akan sangat kaya raya, Erik! Kita akan kaya raya! Milyuner, biliuner, triliuner!"
"Kenapa berhenti disana?! Kita bisa menjadi kuadriliuner!"
"Kuintiliyuner!"
Mendengar kegirangan kami berdua yang begitu heboh tentang uang, Angie nampak merasa sedikit risih.
"Uh.... Aku rasa kalian memang pasangan yang sangat cocok. Entah kenapa kegilaan kalian terhadap uang sedikit membuatku merasa ngeri...."
Pada akhirnya, kami berdua dengan Angie berpisah dan kembali ke tempat masing-masing.
...***...
...Kerajaan Farna...
...Kota Forgia...
Di dalam istana yang begitu biasa ini, terlihat sosok 12 orang yang muncul dari balik lingkaran yang seukuran manusia dengan warna hitam keunguan itu.
"Raja Arlond. Kudengar kau membutuhkan bantuan kami. Jadi, apa yang sebaiknya kami lakukan untuk membantumu dalam peperangan ini?" Tanya seorang wanita berambut pirang yang acak-acakan dengan zirah mithril tipis dan ringan di tubuhnya.
Melihat kedatangan mereka, Arlond segera bangkit dari kursi yang menghadap sebuah meja cukup tua. Ratusan berkas dan perkamen tua nampak berserakan dimana-mana.
"Akhirnya kalian datang juga. Aku, mewakili seluruh petinggi dan rakyat Kerajaan Farna menyambut kalian semua." Ucap Arlond sambil sedikit menundukkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian, Ia nampak menepukkan tangannya beberapa kali sambil memberi isyarat kepada para pelayan untuk menyiapkan jamuan.
"Maafkan karena aku tak bisa menjamu kalian semua dengan layak. Silakan duduk." Ucap Arlond sambil mempersilahkan semua anggota Rebellion untuk duduk di hadapan sebuah meja persegi panjang dengan puluhan kursi itu.
Setelah basa-basi yang ringan dan menyantap hidangan pembuka, Arlond segera memasuki inti pembicaraannya.
"Aku akan terus terang. Jika kalian menerima kerjasama ini, aku telah menyiapkan lokasi yang sangat indah dan strategis untuk Guild Base kalian. Lokasinya yaitu disini, di sebuah bukit yang dikenal dengan nama Bukit Albion.
Luas tanah yang ku siapkan yaitu sebesar 21,6 hektar. Dengan kata lain, telah mencakup seluruh wilayah di bukit itu. Tentu saja kalian akan dibebaskan dari pajak selamanya. Tapi sebagai gantinya...."
Arlond nampak menjeda perkataannya sesaat.
Seluruh anggota Rebellion yang mendengar tawaran yang jauh melampaui ekspektasi mereka itu nampak tersenyum lebar.
Tapi senyuman mereka segera berubah dengan ekspresi keheranan atas keputusan Arlond.
__ADS_1
"Aku ingin kalian, bersama dengan Pahlawan Kerajaan Farna dan 2.000 prajurit elit kami, untuk menghancurkan Kota Reinard hingga rata dengan tanah. Segera setelah itu, kami akan menawarkan perdamaian kepada mereka dengan syarat membayar ganti rugi atas kerugian perang yang kami alami."