
"Buahahaha! Lihatlah Eric!"
"Apa-apaan itu?! Dikejar oleh monster?!"
"Ah, membosankan sekali. Kurasa dia akan segera mati di awal."
"Bukankah dia hebat dalam PvP hanya karena level dan statusnya yang sangat tinggi?"
"Memangnya berapa levelnya pada saat melawan Angie?"
"Entahlah. Tunggu! Kau tahu statusnya?! Perlihatkan padaku!"
Obrolan antara para penonton di dalam ruang VIP ini terus berlanjut. Mereka semua setuju bahwa Eric bukanlah pemain yang sangat hebat.
Mereka tahu dan paham bahwa Eric di atas rata-rata. Tapi Ia masih berada jauh di bawah Player jenius seperti Angie, Camila, Miyamoto dan lainnya. Terlebih lagi, kondisi Eric yang saat ini begitu dipenuhi kesialan membuat semua orang setuju bahwa dia akan kalah.
Di bagian belakang ruang VIP itu....
"Erik bodoh. Apa yang ingin dia lakukan dengan membiarkan semua monster itu mengejarnya?!" Teriak kesal wanita berambut merah pendek, Elin.
"Nyonya Elin. Ku mohon pelankan suaramu...."
...***...
...Pulau Kompetisi...
...Sisi Timur...
'Monster sialan ini.... Jika saja ada senjata untuk melawan mereka....' Ucap Eric dalam hatinya sambil melihat ratusan monster yang mengejarnya itu.
Ia sesekali melihat Stamina Point miliknya yang kini telah berubah warna menjadi merah, menandakan akan segera habis.
Meskipun tak begitu parah, tapi stamina yang berada di angka negatif akan menurunkan semua statistik. Termasuk juga kecepatan bergerak.
Jika angka negatif stamina itu semakin besar, maka penaltinya juga akan semakin mengerikan.
Itulah kenapa Eric saat ini sangat fokus untuk mencari dua hal.
Pertama, Ia ingin mencari senjata apapun untuk membunuh seekor tikus. Dengan begitu, Ia akan segera naik level dan meletakkan semua poinnya ke Stamina.
Kemudian kedua, Ia ingin segera menemukan tempat yang strategis untuk bertahan. Melawan 100 monster berlevel 20x lipat lebih tinggi dari diri sendiri sama halnya dengan bunuh diri.
Setelah beberapa menit berlari menyusuri bibir pantai dengan pasir putih yang indah ini....
Akhirnya Eric melihat secercah harapan.
Sebuah benda yang mengkilap terlihat di kejauhan.
'Memang tak seperti yang ku harapkan, tapi setidaknya itu sangatlah berguna!'
Eric segera mempercepat langkahnya ke arah benda mengkilap itu. Sebuah senjata sederhana untuk menangkap ikan di laut, Stone Javelin.
'Sraaaat!'
Setelah menarik benda yang menancap di pasir pantai itu, Eric segera berbalik arah dan berlari menerobos gerombolan monster yang ada di hadapannya.
Tingkat fokusnya saat ini benar-benar tinggi. Tak ada sedikitpun pikirannya yang sia-sia untuk menghadapi situasi ini.
'Ctak! Sraaassh! Wuooosshh! Braaak!'
__ADS_1
Serangan demi serangan oleh para monster berhasil dihindari oleh Eric dengan mudah. Ia memutar tubuhnya, melompati barisan monster, dan berlari secara zig-zag untuk menghindari semua serangan sederhana itu.
Meski memiliki pola serangan yang sederhana, satu serangan dari monster itu sudah cukup untuk mengirimkannya kembali ke dunia nyata.
Tapi Ia berhasil melewati semuanya.
Setelah menerobos, Eric dengan segera mengincar seekor tikur raksasa yang menurutnya paling lemah. Tanpa ragu....
'Staaaabbb!!!'
Eric menusukkan tombak batu itu tepat di kepala [Giant Rat].
[Anda telah menyerang tepat di titik vital target!]
[Anda telah memberikan 'Critical Hit']
[Anda telah memberikan 683 damage!]
'Masih kurang!' Teriak Eric dalam hari. Dengan segera, Ia mencabut tombak batu itu dan bergerak membelakangi tikus raksasa itu.
'Sreett!'
Setelah memutar tubuhnya dengan cepat, Eric segera memberikan tiga tusukan ringan yang cukup cepat untuk ukuran player berlevel 1.
'Stab! Stabb!! Stabb!!!'
[Anda telah memberikan 211 damage!]
[Anda telah memberikan 195 damage!]
[Anda telah memberikan 283 damage!]
[Anda memperoleh 4.860 Experience Point!]
[Level Anda telah naik sebanyak 4 level!]
[Giant Rat telah menjatuhkan Smelly Fang x2]
Menghiraukan semua itu, Eric dengan segera meletakkan setengah Status Pointnya ke Stamina. Sisanya Ia bagi tiga antara Strength, Agility dan juga Vitality.
Semua itu berlangsung hanya dalam waktu kurang dari satu detik. Hal yang wajar karena Eric mengoperasikan jendela menu miliknya dengan tatapan mata dan juga pikirannya saja.
Tapi tetap saja, semua kecepatan itu memiliki resiko. Akhirnya, Eric sedikit membuat kesalahan dalam distribusi Point miliknya dan malah memberikan 4 point ke Dexterity yang hanya berguna bagi Job Produksi.
Tanpa perubahan ekspresi sedikitpun di wajahnya, pikiran Eric masih sangat fokus.
'Sekarang.... Saatnya mengusir semua pendukung....'
...***...
'Tap.... Tap.... Tap....'
Suara langkah kaki terdengar melewati gerbang kayu suatu desa ini.
Pemukiman yang dihuni oleh sekitar 400 manusia itu nampak begitu damai.
"Selamat pagi." Ucap Angie menyapa para warga desa yang sedang sibuk bertani.
"Ah? Petualang? Selamat datang di desa kami." Balas wanita tua itu dengan sangat ramah sambil mengelap keringat di dahinya.
__ADS_1
"Apakah di desa ini ada seorang pandai besi?" Tanya Angie dengan nada yang sangat ramah sambil segera duduk di sebelah wanita tua itu.
"Pandai besi ya? Mungkin si tua Jefra. Meski bukan pekerjaan utamanya, Ia biasa membuatkan kami semua peralatan dari besi sekaligus melakukan perbaikan." Balas wanita tua itu.
Pembicaraan pun berlanjut mengenai dimana rumah Pria tua bernama Jefra itu. Meski sudah memperoleh informasinya, Angie masih tetap duduk santai menemani wanita tua itu berbicara.
Setelah beberapa saat, Angie akhirnya memutuskan untuk membantu wanita tua itu bertani.
Tentu saja, semua ini didasarkan atas asumsi bahwa dunia ini adalah dunia game.
Peluang adanya Hidden Quest sangatlah tinggi jika mencoba hal-hal yang diluar pemikiran player lainnya. Bahkan sekalipun tidak ada hadiahnya, Angie tetap akan melakukannya karena kebiasaannya dalam game.
Hingga akhirnya, hari mulai gelap. Semua warga desa menghentikan pekerjaan mereka dan segera bersiap untuk beristirahat.
"Nona muda, apakah kau mau menginap bersama wanita tua ini? Perjalananmu bisa dilanjutkan esok hari."
Angie yang menikmati suasana ini, terlihat seakan melupakan kompetisi yang sedang berlangsung. Hal itu menyebabkan sebagian Supporter mulai ragu untuk mendukungnya meski jam dukungan telah dibuka.
Itulah kenapa hingga saat ini, Angie yang memiliki level sebesar 19 masih belum mendapatkan dukungan satu pun. Padahal waktu dukungan hanya tersisa 1 jam lagi. Setelah itu, seluruh jenis dukungan akan ditutup.
Di bagian penonton....
"Apa yang dilakukan Angie?! Kenapa dia malah bersantai-santai di desa kecil itu?!" Teriak salah seorang pria tua kesal. Ia masih menyimpan semua uangnya. Tapi masih belum memutuskan untuk mendukung siapa setelah melihat sosok santai Angie.
"Kau benar. Angie nampaknya terlalu santai kali ini. Apakah dia se yakin itu untuk menang?"
"Sudah kubilang, ikut saja denganku mendukung Robert. Ia telah mencapai level 37 saat ini."
"Kau benar. Aku akan segera meletakkan semua uangku ke Robert."
"Berikan saja Robert ramuan penyembuh atau zirah yang baru. Ia telah memperoleh terlalu banyak senjata dari para pendukung yang lain."
"Terimakasih atas sarannya. Lalu bagaimana dengan Erik?"
"Tak ada satu orang pun yang mendukungnya. Ia terlihat masih berlarian dari serbuan monster. Entah kenapa Ia bisa sesial itu, bahkan Istrinya dan perusahaannya sendiri tak mendukungnya. Sungguh malang...."
Semua orang mulai membahas mengenai berbagai hal itu.
Tapi dua orang wanita yang duduk di belakang nampak tersenyum puas.
"Tuan Eric...."
"Tenang saja. Melihat senyumannya, Ia sangat yakin bisa menang. Dan aku sangat mempercayai suamiku sendiri." Balas Elin sambil memakan cemilan itu.
"Tapi.... Bukankah Tuan Eric hanya memiliki level sebesar 12 saat ini? Melihat calon lawan terkuatnya yaitu Robert yang bahkan...."
Elin segera meletakkan jari telunjuknya di bibir Lisa dan berbisik.
"Level bukanlah segalanya di dunia ini. Jika kau memperhatikan tingkah Eric kah pasti sadar bahwa dia sama sekali tak berniat mengalahkan bahkan seekor pun dari 200 lebih monster yang mengelilinginya."
Pada saat itu, Lisa baru menyadarinya.
"Jangan katakan.... Tuan Erik membahayakan dirinya untuk berlatih di tengah kompetisi?!"
Bersamaan dengan itu, pertandingan pun mulai mendekati akhir dari babak awal.
Waktu yang tersisa untuk memberi dukungan....
Hanya 56 menit.
__ADS_1