The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 244 - Team Boss Raid 1


__ADS_3

"Erik? Erik?"


Ilham nampak memanggil Erik yang saat ini masih melamun meski sedang dalam pembahasan masalah Raid Boss.


Di tengah ruangan yang cukup besar ini, terdapat 4 orang yang duduk di hadapan sebuah meja bundar itu. Sedangkan di ujung ruangan terlihat sebuah layar hologram yang menunjukkan data mengenai Boss yang akan mereka lawan.


...[Elder Ice Dragon]...


...[Level : 900]...


...[HP, MP dan SP : 10 milyar]...


Mendengar panggilan Ilham, Erik yang tadi hanya melamun segera tersadar.


"Ah maaf, aku sedikit banyak pikiran. Sampai mana kita tadi?" Jawab Erik sambil segera mengembalikan pikirannya ke dunia nyata.


"Hah.... Aku tak tahu apa yang sedang kau pikirkan tapi bisakah kita fokus membahas mengenai rencana penaklukan boss ini?" Balas Ilham dengan sedikit tersenyum mengejek.


Team Boss Raid merupakan salah satu cabang kompetisi Internasional yang diikuti oleh Erik.


Pada awalnya, susunan tim ini terdiri dari Eric, Elin, Ilham dan Renata. Susunan tim ini sudah sangat seimbang dimana Eric dan Elin akan menjadi Damage Dealer, Ilham menjadi seorang Tanker dan Renata akan menjadi Supporter.


Akan tetapi dikarenakan Elin yang sedang hamil dan memiliki mabuk full dive virtual reality, maka Elin terpaksa harus mengundurkan diri dalam kompetisi ini. Lagipula, ini adalah kehamilan pertamanya. Menjaga kondisi kesehatan dirinya dan bayinya adalah hal yang terpenting saat ini dibandingkan dengan kompetisi ini


Oleh karena itu, player keempat yang akan mengisi kekosongan kursi Elin adalah Febri. Seorang pemanah yang terkuat di Indonesia.


Kembali ke pembahasan rencana penaklukan Elder Ice Dragon....


"Rencanaku cukup sederhana, Eric. Kita akan memanfaatkan skill [Amplify] milikmu itu untuk memberikan damage yang besar dengan [Extermination Ray]. Lalu, kerjasamamu dengan Ilham sangatlah diperlukan dalam rencana ini.


Sedangkan aku, Ilham dan juga Febri akan mengulur waktu untukmu membuat Amplify. Harapannya kita bisa mencetak waktu paling cepat dalam mengalahkan boss ini." Jelas Renata, gadis 19 tahun yang memperoleh ketenaran karena kemampuannya sebagai seorang Healer terbaik di Indonesia.


Penampilannya cukup sederhana, yaitu rambut hitam panjang yang diikat ekor kuda dan kacamata dengan frame berwarna hitam.


"Kurasa aku bisa menangani Elder Ice Dragon itu sendirian. Meskipun aku mati, setidaknya kau bisa menghabisi boss itu secepat mungkin. Dan kau, Renata. Sebaiknya kau memberikan Buff sebanyak mungkin kepada Erik." Balas Febri sambil membalik buku bacaannya.


Mendengar kedua perkataan gadis itu, Ilham dan Erik hanya terheran-heran.


'Mereka berdua.... Bukankah terlalu optimis?!' Pikir Erik dan juga Ilham.

__ADS_1


Setelah pembahasan yang cukup alot antara mereka berempat, pada akhirnya rencana gabungan antara Febri dan juga Ilham yang dipakai. Sedangkan rencana Renata cukup kurang dalam hal kecepatan.


Dan dengan begitulah, persiapan telah selesai.


Kini tim yang beranggotakan empat orang itu hanya perlu menunggu hari pertandingannya sekitar 4 hari lagi.


Sementara itu, mereka berempat memutuskan untuk melatih strategi dan rencana mereka di dunia virtual Re:Life. Tak hanya itu, mereka juga leveling habis-habisan dengan bantuan Erik.


...***...


...Wilayah Federasi Pedagang...


Di tengah sebuah kota yang terlihat sangat sibuk dan dipenuhi oleh pedagang ini, seorang Pria yang didampingi wanita berambut merah ini berjalan dengan santai.


Sesekali mereka melihat kesama kemari seakan sedang mencari sesuatu.


"Apakah kau menemukannya?" Tanya Pria berkulit agak gelap dan berbadan cukup kekar itu.


"Berapa kali aku harus mengatakannya padamu, Aamori? Aku takkan membantumu sama sekali." Balas wanita berambut merah itu.


Aamori terlihat sedikit menggelengkan kepalanya dan tersenyum lebar.


Wanita berambut merah yang bernama Valis itu nampak mengerutkan dahinya seakan kesal dengan perkataan Aamori.


"Kau.... Kurasa aku akan melaporkan hal ini pada Yang Mulia." Balas Valis dengan tatapan kesal. Ia terlihat menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya.


"Tu-tunggu dulu! Aku mohon apapun selain itu!"


Pada akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk melanjutkan pencarian ini.


Beberapa bulan sebelumnya di dunia virtual ini, mereka telah menemukan cincin milik Arroth. Di balik cincin itu, mereka menemukan sebuah petunjuk bahwa peninggalan berikutnya yang berupa kalung berada di dalam sebuah reruntuhan.


Aamori dan juga Valis segera bergegas ke lokasi yang disebutkan di balik cincin itu.


Akan tetapi, apa yang mereka temukan justru diluar dugaan mereka berdua.


Setelah beberapa hari menjelajahi dan juga melakukan pencarian ulang di dalam reruntuhan yang terletak di wilayah Kerajaan Suci Celestine itu, Aamori dan juga Valis tidak bisa menemukan apapun.


Petunjuk terkuat yang mereka temukan adalah dari para penduduk di desa sekitar reruntuhan itu.

__ADS_1


"Beberapa tahun yang lalu, penjelajah dari Federasi Pedagang mulai menjelajahi tempat ini. Mereka akhirnya menemukan harta yang besar. Aku tak tahu apa itu, tapi yang diumumkan adalah sebuah kalung emaa.


Kurasa kau bisa mencarinya di wilayah Federasi Pedagang. Tapi aku memperingatkan kalian, semua orang yang ada di sana sangatlah tamak." Jelas Kepala desa di daerah itu.


Pada akhirnya, Aamori dan juga Valis hanya bisa mencari dengan petunjuk yang samar-samar itu.


Kembali ke wilayah Federasi Pedagang....


"Apa yang kalian cari, Tuan dan Nyonya?" Tanya salah seorang pedagang mendekati Aamori dan juga Valis. Ia memiliki penampilan yang cukup gemuk dengan pakaian yang begitu mewah.


Meski tahu bahwa kemungkinan besar pedagang itu takkan mengetahui apa yang mereka cari, Aamori tetap mencoba bertanya.


"Beberapa tahun yang lalu, ada kelompok penjelajah yang membawa pulang harta. Apakah itu benar?"


"Hoho.... Apakah Tuan ingin membeli pusaka suci? Sangat disayangkan bahwa pedagang kecil sepertiku tak memiliki barang seberharga itu." Jawab pria gemuk itu sambil memamerkan semua cincin berlian yang ada di jarinya.


Mendengar hal itu, Aamori nampak kecewa dan segera melanjutkan langkahnya.


'Tap!'


Baru satu langkah, tapi pedagang itu segera menghentikan Aamori dengan memegang pundaknya.


"Aku tak bilang aku tak tahu dimana barang yang mereka peroleh berada. Hanya saja...." Ucap pedagang itu sambil memberikan pandangan yang penuh kelicikan.


'Sialan.... Apakah mereka semua benar-benar seperti apa yang dikatakan oleh kepala desa itu?' Pikirnya dalam hati dengan kesal.


Segera setelah itu, Aamori segera menjawab.


"Aku hanya bisa memberikan benda ini jika kau mampu membantu kami menemukan benda itu." Ucap Aamori sambil mengambil sesuatu di tasnya.


Melihat apa yang baru saja dikeluarkan oleh Aamori dari tas kulit yang sederhana itu, sang pedagang gemuk itu segera menelan ludahnya dan membuka matanya lebar-lebar.


"I-itu.... Dimana kau menemukannya?! Bukankah itu permata yang disebut-sebut sebagai mahakarya para dewa yang mampu mengeluarkan tujuh warna?!" Teriak pedagang itu penuh rasa terkejut.


Aamori yang melihat ini sebagai peluang emas, segera membuat penawarannya.


"Ingat, benda ini hanya akan ku berikan jika kau bisa benar-benar membantuku menemukan apa yang ku cari. Mengerti?"


Dan begitulah, perjalanan Aamori yang masih sangat panjang pun berlanjut.

__ADS_1


__ADS_2