The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 264 - FFA PvP 17


__ADS_3

'Sraaaaang!'


Angie mengangkat pedang emas yang ada di altar itu. Sebuah pedang dengan penampilan yang luarbiasa indah dengan banyak sekali ornamen berupa permata dengan berbagai warna.


Itulah senjata tingkat legendaris yang ada di dalam ruang harta ini.


Sesaat sebelumnya, Eric dan Angie sempat berdiskusi untuk menentukan siapa yang akan menggunakan pedang itu.


Pada akhirnya, Eric memilih untuk memberikan pedang itu kepada Angie dengan syarat mutlak yaitu untuk tetap bekerjasama dengannya hingga akhir kompetisi yang hanya menyisakan dirinya dan Angie.


Sedangkan Eric?


Ia telah mengantongi puluhan senjata dan perlengkapaj lain tingkat Unique, termasuk Mithril Bow serta Mithril Arrow yang sangat kuat untuk kaliber Unique.


Meski Angie juga mengantongi beberapa senjata dan juga perlengkapan tingkat Unique, Ia menyerahkan pemilihan pertama kepada Eric. Itu semua karena Ia telah diberikan satu-satunya perlengkapan legendaris di ruang harta ini.


Setelah sekitar 1 jam menjarah, mereka akhirnya telah siap.


"Angie, masih ada waktu sekitar 18 jam lagi hingga babak akhir. Apakah kau mau leveling denganku?" Tanya Eric sambil membiasakan dirinya terhadap Mithril Bow itu.


"Tentu saja. Jika mereka berdua memang sudah bekerja sama bahkan sebelum kompetisi ini dimulai, sebuah tindakan bodoh untuk melawan mereka dengan level kita yang seperti ini. Terlebih lagi, tak ada jaminan bahwa hanya ada dua dari mereka. Bisa jadi akan ada beberapa orang lagi."


Angie menjelaskan semua alasannya sambil mengayunkan pedang emas itu.


Melihat Angie yang begitu senang dengan pedangnya, Eric segera menanyakan sesuatu untuk memecahkan suasana.


"Antara tombak dan pedang, mana yang lebih kau sukai?"


"Aku menyukai semua jenis senjata. Satu-satunya alasanku menggunakan sebuah tombak adalah karena ketidaksengajaan ku memperoleh skill tingkat legendaris itu." Balas Angie dengan wajah yang datar seakan perkataannya sama sekali tak ada bobotnya.


Eric yang mendengar penjelasan itu memperlebar matanya sekuat tenaga.


"Tu-tunggu! Skill legendaris itu adalah hasil dari ketidaksengajaan?" Tanya Eric seakan tak mempercayai perkataan Angie.


Sedangkan Angie? Ia hanya tersenyum tipis sambil berkata.


"Banyak sekali orang yang memantau kita dari kamera itu. Untuk detailnya, aku akan menjelaskannya di dunia nyata nanti."


Tanpa di sangka-sangka sedikitpun, Eric baru saja memperoleh informasi yang seharusnya tak bisa diketahui kebanyakan orang begitu saja.


Setelah perbincangan singkat, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk segera berangkat ke wilayah yang memiliki banyak monster tingkat tinggi.


...***...

__ADS_1


...Ruang Penonton VIP...


"Hmm? Apakah telingaku baru saja mencoba untuk menipu diriku sendiri?" Tanya seorang Pria tua yang sedang membelai jenggot putihnya itu.


"Tidak, Tuanku. Saya sangat yakin bahwa wanita itu baru saja mengatakan hal yang Anda dengar." Balas seorang pelayan dengan penampilan khas cina.


Pria tua yang seluruh rambutnya telah berwarna putih itu nampak sedikit menyipitkan matanya.


"Apakah ada orang lain yang menyadari hal ini?" Tanya Pria tua itu.


Beberapa pelayan yang memakai setelan berwarna merah dengan pola naga khas cina itu segera bergerak ke segala arah.


Tanpa membiarkan siapapun melihat apa yang baru saja terjadi, Pria tua itu segera mengganti saluran yang Ia tonton menjadi pemain acak. Ia sama sekali tak ingin ada orang lain yang mengetahui informasi yang sangat berharga itu.


'Memperoleh skill legendaris karena sebuah ketidaksengajaan? Seperti yang diharapkan dari seorang pemain yang bahkan dianggap sebagai keajaiban itu sendiri. Jika saja aku mengetahui rahasia itu.... Kemudian digabungkan dengan Dungeon buatan penyihir yang kini berada di tangan Golden Dragon itu....'


Tanpa Ia sadari, Pria tua itu telah tersenyum begitu lebar hingga memamerkan seluruh giginya yang bahkan masih utuh itu.


'Jika kedua hal itu diperoleh.... Cina akan mampu untuk mendominasi dunia virtual itu!'


Sebelum kebahagiaannya berakhir, beberapa pelayan yang baru saja pergi itu kini telah kembali.


Mereka semua membungkukkan badannya dan memberi hormat kepada Pria tua itu.


Pada saat itulah, Pria tua itu merasakan bahwa naga yang sejak lama telah tertidur kini mulai bangkit.


Ia mengepalkan tangannya sekuat tenaga sambil tersenyum lebar.


"Segera hubungi Liu Ying, pemimpin dari Guild Golden Dragon itu. Kemudian hubungi ketua dari beberapa Guild lain. Berikan perintah mutlakku. Semua Guild dari Cina akan bersatu di bawah naungan Transcendent Dragon!"


Pada saat itu juga, tanpa diketahui oleh siapapun, sebuah Guild terbesar yang akan pernah ada di dunia Virtual itu mulai terbentuk.


Sebuah Guild, yang akan mampu menggeser keseimbangan kekuatan dari sebuah pulau di luar Benua Tengah.


...***...


'Sraaat! Braaak!'


"Eric! Bantuan!"


"Fire Wall!" Teriak Eric dengan keras.


Seketika, sebuah dinding api yang membara cukup kuat itu memisahkan antara Angie dengan seekor Giant Tortoise.

__ADS_1


Makhluk yang berupa kura-kura raksasa itu adalah Field Boss yang memiliki level mencapai 350 lebih.


Giant Tortoise itu muncul setelah Eric dan Angie membantai monster level 200 [Tortoise] selama 14 jam lebih tanpa henti. Jumlah yang dibantai oleh dua orang yang tak kenal lelah itu mencapai angka puluhan ribu.


Level mereka berdua pun meningkat pesat jauh melampaui perkiraan semua orang hingga menjadikan Eric berada di peringkat ke 3 dan Angie di peringkat ke 2.


Tentu saja, Player sama sekali tak mengetahui peringkat mereka demi menjaga lingkungan pertandingan. Yang mengetahui semua itu hanyalah para Supporter.


Kembali ke situasi pertarungan....


Giant Tortoise yang kini terhadang oleh sihir tingkat menengah milik Eric mulai kesulitan untuk mendekat.


Meskipun mudah untuk dihindari, skill [Fire Wall] dapat memberikan damage yang sangat besar apabila diterobos secara paksa. Terlebih lagi jika ukuran makhluk yang menerobosnya semakin besar.


Sedangkan Giant Tortoise yang memiliki panjang tubuh lebih dari 100 meter, lebar tubuh sekitar 60 meter serta tinggi tubuh mencapai 25 meter itu tentu saja akan menerima damage yang melampaui tingkat kewajaran. Bahkan jika status Intelligence milik Eric cukup rendah.


Angie yang telah tertolong oleh dinding api itu, kini melompat ke belakang dan mengisi pelurunya dengan [Steel Bullet] buatan pandai besi legendaris itu. Kini sisa pelurunya hanyalah 22 buah peluru.


'Klak!'


Menunggu Angie menyiapkan senjatanya, Eric telah menembakkan 3 buah anak panah spesialisasi Marksmen yaitu [Weakening Shot] yang menyebabkan target melemah.


Tembakan ke empat Eric adalah [Armor Breaker] yang menghancurkan defense gila milik Giant Tortoise itu.


'Duaaaaarrr! Daaaaarr!'


"Angie! Sekarang!"


Tanpa menjawab, Angie hanya mengangguk sambil berlari mendekati mulut Giant Tortoise di balik dinding api itu yang kini telah menganga lebar akibat serangan Eric.


Dengan senyuman tipis di wajahnya yang anggun karena nuansa liarnya itu, Ia mengarahkan pistolnya dengan tangan kanannya tepat di dalam mulut kura-kura raksasa itu.


"Matilah kau!"


'DUAAAARR!!!'


Dengan tarikan pelatuk itu, Angie berhasil membunuh Field Boss itu.


Kedua pemain itu pun memperoleh Experience Point dan juga Item yang akan sangat membantu mereka nantinya.


Pertandingan pun, kini telah memasuki babak akhir. Sisa pemain yang ada di pulau ini hanyalah 16 pemain saja.


Kini, mereka semua harus mulai berjalan ke pusat pulau yaitu gunung berapi yang sangat berbahaya.

__ADS_1


Bukan hanya karena lingkungannya saja, tapi karena lima pemain dari Eropa yang bekerjasama telah menanti kedatangan mereka.


__ADS_2