
‘Ding dong!’
Terdengar suara bel pintu depan rumahku. Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku segera berjalan untuk membukakannya. Tapi aku sudah tahu siapa sosok yang ada di balik pintu itu.
‘Klek!’
Aku pun membuka pintu rumahku itu. Di balik pintu, nampak sosok seorang gadis kecil dengan rambut hitam yang pendek. Tidak…. Kini rambutnya telah sedikit lebih panjang.
“Selamat datang, Elin.” Ucapku kepada gadis itu.
“Terimakasih, aku akan merepotkan keluargamu selama beberapa hari.” Balas Elin.
Aku segera mempersilakan Elin masuk. Kedua orangtuaku yang masih menikmati sarapan pagi mereka terlihat terkejut atas kehadiran Elin.
Singkat cerita, Elin juga ikut sarapan bersama keluargaku. Ia menjelaskan mengenai kehadirannya kembali di rumah keluargaku. Alasannya yaitu untuk mengurus bisnis yang telah direncanakan oleh Rina untukku.
Mendengar hal itu, kedua orangtuaku nampak sangat terharu, bahkan mereka nampak mulai meneteskan air mata dan terus menerus memuji Elin.
“Maafkan anak laki-lakiku yang begitu payah ini ya, Elin!” Teriak Ayahku sambil mengusap kedua matanya.
Sedangkan Ibuku?
“Elin!!! Apakah kau yakin mau menikahi anakku yang payah itu?!”
“Ibu?! Apa yang kau katakan?!” Teriakku memotong perkataan tak masuk akal dari Ibuku.
Meskipun aku dan Elin sudah cukup lama menjadi sepasang kekasih, tapi aku masih belum siap untuk menikahinya. Setidaknya aku belum siap jika aku masih belum bisa berdiri dengan kedua kakiku sendiri.
Tapi menghiraukan teriakanku, Elin menjawab dengan senyuman.
“Tenang saja Bibi. Aku yang akan mengurus Eric jika memang dia tetap payah seperti ini kedepannya. Aku rela untuk menjadi….”
“Hentikan!!! Kenapa kalian semua menganggap diriku payah?!” Teriakku di tengah meja makan itu.
“Ara…. Kalau begitu kau mau mengurus pembangunan apartemen ini sendiri, Eric? Kau masih perlu untuk menyewa jasa penasehat pajak, mengurus perizinan pembangunan, kemudian membuat kontrak dengan para pekerja dan tentunya membuat….” Ucap Elin panjang lebar setelah mendengar teriakanku.
Ia mengakhirinya dengan sebuah kalimat yang sederhana.
“Jika kau memang bisa melakukannya, tentu saja aku akan sangat senang dengan hal itu!” Ucap Elin sambil merangkul lenganku.
“A-aku…. Aku tidak yakin jika…. Uh…. Pajak…. Apa tadi?” Ucapku kebingungan mendengar seluruh penjelasan Elin barusan.
“Ahahaha! Kalau begitu jangan protes jika aku memanggilmu payah ya, sa-yang-ku.” Ucap Elin dengan nada yang penuh ejekan.
__ADS_1
...***...
...16 Juni, 2073....
Elin dan Rina terus menerus berdiskusi mengenai rencana bisnis yang akan di kerjakan. Rina berperan sebagai pembuat rencana dan bagian perhitungan ekonominya, sedangkan Elin berperan sebagai pelaksananya di lapangan.
Keduanya tak mampu untuk saling berdiri sendiri. Di satu sisi, Rina tak dapat merealisasikan rencananya karena memang masih di bawah umur dan sangat kurang dalam pengalaman.
Sedangkan di sisi lain, Elin yang tidak memiliki bekal pendidikan yang tinggi takkan mampu membuat perencanaan dan perhitungan yang kompleks. Akan tetapi, dengan berbekal kecerdasannya yang memang luarbiasa Elin dapat memahami seluruh penjalasan Rina.
Dengan kalimat sederhana, mereka berdua adalah wujud dari kombinasi yang sempurna. Mereka saling melengkapi kelemaham masing-masing dan mendukung satu sama lain dengan kelebihannya.
Sedangkan aku?
Aku mengikuti Elin kemanapun Ia pergi. Bukan tanpa alasan, tapi Ia ingin aku berkembang lebih jauh sebagai seorang pebisnis.
“Kau tak perlu melakukan apapun, tapi sebagai pemilik Grandia Apartment kau harus hadir di seluruh kegiatan yang ada. Setidaknya hingga peresmian Apartment milikmu ini dilakukan, kau harus sudah memiliki karisma seorang pemimpin.” Jelas Elin sambil berjalan di sampingku.
Di sebelah Elin nampak dua orang Wanita dengan umur sekitar 30an awal. Mereka berdua merupakan sebagian kecil dari Advisor atau Penasehat yang dipekerjakan oleh Elin. Tugas mereka?
“Nona Elin. Untuk agenda hari ini, maka Anda harus….”
“Nona Elin. Seluruh pekerja meminta bantuan dalam hal penyewaan Drone pembangun dan juga….”
Semua diskusi tingkat tinggi itu berlangsung setiap Elin berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya. Pada saat Elin telah sampai di tujuannya, kedua penasehat itu segera menyiapkan persoalan berikutnya untuk didiskusikan.
Sedangkan aku? Aku bertugas untuk mengamati kinerja mereka semua dan belajar dari itu. Bisa dibilang, belajar secara langsung di lapangan.
Tapi jujur saja, hal ini cukup berat untuk ku lakukan karena bukan hanya tidak pintar tapi aku juga tidak mengecam pendidikan tinggi.
Pada saat mendengar alasanku itu….
“Bukankah kau masih lulus SMA, Eric? Seharusnya kau lebih pintar dariku yang bahkan putus sekolah. Aku tak pernah menyelesaikan pendidikan SMA ku.” Jelas Elin.
Aku sangat ingin menyanggahnya bahwa Ia diberkati dengan kecerdasan yang jauh melebihiku. Tapi mengingat Ia nampak begitu sibuk, aku hanya menahan perkataanku dan fokus untuk belajar.
Di tempat konstruksi….
“Nona Elin! Kami membutuhkan beberapa tambahan alat berat dan….”
“Tuliskan saja di daftar dan berikan kepada penasehatku. Jangan permasalahkan soal dana karena kami akan selalu mencukupinya.” Balas Elin memotong perkataan kepala pekerja bangunan itu.
“Terimakasih banyak! Nona Elin!” Balas Pria itu sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Jujur saja, istilah “Pekerja Bangunan” yang ku pahami nampaknya melenceng sangat jauh dari kenyataannya. Bagaimana tidak, sebagian pekerja yang ada di proyek ini bekerja dengan menggunakan pakaian yang sangat rapi!
Lalu, bagaimana mereka bekerja?
Jawabannya ada di dalam Control Room atau ruang kendali ini.
“Bagaimana perkembangan pembangunannya?” Tanya Elin segera setelah memasuki ruangan yang sangat bagus ini. Seluruh dindingnya terbuat dari bahan yang bisa dipasang maupun dicopot kapan saja. Selain itu, nampak beragam monitor dengan layar hologram.
Sedangkan di tengah ruangan terdapat beragam layar yang menunjukkan video tiap sudut pembangunan. Semuanya dapat teramati dengan sangat baik melalui ruangan ini.
Lalu dimana pekerjanya? Mereka sedang berbaring di sebuah ranjang besi. Kepala mereka tertutupi oleh semacam alat yang berbentuk seperti helm dan memiliki banyak sekali kabel. Seluruh tubuhnya nampak terhubung dengan besi dan kabel yang berasal dari sebuah mesin besar.
Ya, ini adalah sarana pengendalian Worker Droid atau robot pekerja. Para pekerja bangunan ini hanya perlu berbaring di perangkat ini dan mengendalikan robot dari jarak jauh. Sebuah temuan luarbiasa yang meningkatkan keamanan dan kinerja para pekerja bangunan secara signifikan.
‘Der.. Der.. Der.. Buzzzztt!’
Terdengar suara langkah kaki salah satu robot yang berada di luar ruangan ini. Aku dengan segera keluar untuk melihatnya karena rasa penasaran.
Wujud robot pekerja ini seperti seorang manusia dengan tinggi sekitar 2 meter. Hanya saja seluruh tubuhnya terbuat dari Stainless Steel berupa kerangka-kerangka yang rumit. Di atas semua itu, tubuh robot ini tertutupi oleh lapisan besi tipis dengan warna putih dan corak oranye.
Di beberapa bagian tubuhnya nampak terpancar sinar yang cukup terang. Sedangkan di pinggangnya terdapat beragam peralatan yang diperlukan untuk bekerja. Tangan robot ini mampu digunakan sebagai las yang memancarkan api sangat panas dengan konsentrasi tinggi.
Tak hanya itu….
‘Wuuuooosssh!!!’
Robot itu dapat terbang dengan menggunakan pendorong yang ada di punggungnya. Aku yang melihat pemandangan ini sedikit heran.
“Ini…. Bukan zona perang kan ya?”
Wajar saja karena kemampuan setiap individu robot yang dikendalikan oleh pekerja dari ruang kendali sangatlah kuat. Bahkan aku rasa 10 orang manusia takkan mampu untuk melawan robot ini! Tapi entahlah, aku belum pernah mencobanya.
“Hahaha! Tenang saja Nak! Mereka sama sekali tak berbahaya bagi manusia!” Teriak seorang Pria dari balik tubuhku.
“Uh…. Apakah kau yakin?” Tanyaku dengan sedikit ragu.
“Tentu saja! Itu karena semua operator di bagian kendali telah tersertifikasi dengan baik! Mereka takkan mengamuk sesuka hati mereka! Terlebih lagi, para pengawas dapat memutus koneksi antara operator dengan robot itu jika situasi sedikit mendesak. Jadi tenang saja.” Jelas Pria itu dengan senyum yang lebar.
Aku yang mendengarnya merasa lega. Wajar saja karena pada saat aku masih sekolah dulu, aku sering menonton film mengenai peperangan antara manusia dengan robot.
“Ngomong-ngomong, orang luar tidak diijinkan untuk masuk kemari. Aku yakin para penjaga sudah menutup dengan baik gerbang dari orang luar. Bagaimana kau bisa masuk, Nak?” Tanya Pria itu dengan wajah keheranan.
Aku yang mendengarnya merasa tertusuk di hatiku. Bukannya apa-apa, tapi….
__ADS_1
“Uh…. Mungkin kau tidak akan menyangkanya. Tapi aku adalah Eric, pemilik dari Grandia Apartment ini.”