The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 234 - Eric Vs Angie 2


__ADS_3

Di tengah hutan akar yang berduri dan beracun ini, aku segera bersiap untuk melepaskan [Extermination Ray] ke arah lokasi Angie berada.


Tapi sesaat sebelum aku dapat melakukannya, terlihat kilatan cahaya keemasan yang sedikit mengerikan.


'Zraaatt! Zraaatt! Zraaattt!'


Angie mengayunkaj tombaknya dengan cepat ke segala arah dan menciptakan tebasan angin yang begitu kuat. Tebasan itu dengan mudahnya memotong seluruh akar berduri yang ada di sekitarnya. Bahkan salah satu tebasan itu sampai ke arahku berdiri.


[Anda telah menerima 24.514 damage!]


'Yang benar saja?!' Teriakku kesal dalam hati sambil segera bersiap untuk melontarkan [Extermination Ray].


Akan tetapi cukup disayangkan, bahwa aku sedikit terlambat.


Angie telah berlari dengan cepat ke samping sambil segera menebas berbagai akar yang menghalanginya dengan tombak di tangan kanannya. Sedangkan tangan kanan kirinya nampak mengeluarkan cahaya kehijauan yang cukup indah.


Cahaya itu adalah bukti sebuah skill dengan jenis Healing atau penyembuh. Termasuk juga Cure.


Melihat Angie telah menyembuhkan dirinya sendiri dengan skill itu membuatku sedikit kesal.


Tapi tak masalah, aku akan segera menghabisinya.


Begitu aku telah memahami arah dan pola gerakannya, aku segera mengeluarkan [Extermination Ray].


Cahaya putih yang begitu terang dan keluar dari balik lingkaran sihir putih itu nampak melelehkan semua yang ada di jalurnya. Tak terkecuali akar yang menjadi hutan ini.


Angie yang menyadari cahaya itu berada tepat di hadapannya segera melompat dengan begitu indahnya sehingga mampu menghindari cahaya itu.


"Takkan kubiarkan!"


Aku pun segera menggeser tongkat sihirku agar bisa mengenai Angie.


Yang kubutuhkan hanyalah satu goresan saja.


Dengan kekuatan sihir sebesar ini, satu goresan sudah lebih dari cukup untuk membunuhnya.


Pada saat ini, kondisi pertarungan menyerupai sebuah jarum jam yang bergerak mengejar semut yang berlari searah dengan gerakan jarum jam itu.


Aku berusaha sekuat tenaga untuk mempercepat diriku menggeser [Extermination Ray] ini. Akan tetapi kecepatan lari Angie jauh melebihi kecepatanku.


Bagaimanapun, menggeser [Extermination Ray] yang telah memperoleh dua kali amplifikasi ini cukup berat.


Sedangkan Angie yang hanya perlu berlari dan secara perlahan mendekatiku nampak begitu tenang.


Pada saat Angie sudah semakin dekat, aku segera melepaskan tangan kiriku dari pegangan ke tongkat sihirku itu. Meskipun sedikit memperlambat gerakanku dalam memutar skill ini, tapi aku harus bisa menghentikan langkah Angie.


'Thorn Vine!' Teriakku dalam hati sambil mengarahkan tangan kiriku ke dekat lokasi Angie.


Meski begitu, Angie yang melihat sedikit saja perubahan di tanah akibat mulai munculnya akar segera merespon dengan sangat cepat.


Dan respon tercepat pada saat itu adalah dengan mengayunkan tombaknya.


'Zraaaattt!'


Dalam waktu kurang dari 0,2 detik, Angie telah memotong sebagian besar tanah di hadapannya. Termasuk juga Thorn Vine yang baru saja tumbuh untuk mengikat kaki Angie.


'Yang benar saja, apa-apaan itu?!' Teriakku dalam hati.


Kini Angie sudah semakin dekat, dan durasi [Extermination Ray] yang hanya selama 60 detik ini akan segera berakhir.


Akhir dari pengejaran jarum jam pun semakin mendekat.


Menyadari hal itu, aku segera menyiapkan sihir [Amplify] sekali lagi untuk memperkuat [Crystal Shield] yang mungkin akan kuperlukan nantinya.


Saat ini cara memenangkan pertandingan yang terpikirkan olehku adalah dengan bertahan dan mengalahkan Angie ketika Mana Pointnya telah habis. Sama seperti pada saat melawan Miyamoto.


Akan tetapi dengan kecepatan dan refleks Angie yang seperti monster ini, aku tak yakin bisa bertahan selama itu.

__ADS_1


Pada saat aku sedang disibukkan oleh pikiranku itu, Angie secara tiba-tiba melompat ke arahku dengan kecepatan yang sangat tinggi.


Ujung tombaknya seakan telah siap untuk menusukku tepat di jantung.


Tapi aku masih memiliki sedikit waktu untuk merespon gerakan Angie itu.


'Wind Blast!'


Ledakan angin yang besar tercipta di tengah-tengah antara diriku dengan Angie. Meski tanpa amplifikasi, kekuatan ledakannya sudah cukup untuk memisahkan kami berdua dengan jarak yang lebar.


Setelah terlontar cukup jauh, aku segera kembali berdiri dan mempersiapkan lingkaran sihir amplifikasiku yang kedua.


Pada saat itu juga, terlihat sosok Angie yang melompat begitu tinggi di udara berkat skill [Air Step] miliknya.


Posturnya saat ini mengingatkanku akan salah satu mimpi burukku. Sebuah postur yang seakan telah bersiap untuk melemparkan tombaknya sekuat tenaga. Sebuah lemparan yang dipastikan akan mengenai target hingga melubangi bumi.


"Jangan katakan kau akan mengungkapkan identitasmu sendiri disini, Angie?!" Teriakku pada diriku sendiri dengan sedikit keheranan.


Tapi kilatan dan cahaya emas yang mengelilingi tubuhsegera menjawab semua pertanyaanku.


"Sialan.... Dia benar-benar melakulannya. Sekarang, apakah aku harus mati sama seperti saat itu? Terlebih lagi saat ini dia berada cukup jauh dariku, memberikan serangan balasan.... Tunggu!"


Aku dengan segera mengeluarkan skill [Crystal Shield] sebanyak tujuh lapis dengan menggunakan tangan kiriku.


Dua buah lingkaran sihir amplifikasi yang ada di tongkat sihirku telah kugunakan tepat pada lapisan pertama [Crystal Shield].


Jumlah total Mana Point yang kugunakan mencapai 3.200.000 lebih dimana 1.200.000 berada pada lapisan paling kecil dan terluar yaitu lapisan pertama.


Enam lapisan berikutnya memiliki ukuran yang lebih besar daripada lapisan sebelumnya dan terus bertumpuk hingga lapisan ke tujuh yang berada tepat di depan tangan kiriku.


Sedangkan tangan kananku sedang mempersiapkan skill [Thunder Burst] yang akan menghantam Angie tepat di tubuhnya dari langit. Yang perlu kulakukan hanyalah menentukan lokasi dimana petir raksasa itu harus menyambar. Hal yang mudah setelah aku melihat posisi Angie barusan.


Pada saat itu juga, hentakan angin dan energi yang begitu kuat menghempaskan sebagian besar dunia virtual ini.


Semua tanah yang ada di belakang Angie nampak mulai retak dan hancur karena kuatnya lemparan tombak itu.


Kilatan emas itu menyambar kesana kemari dengan sangat kuat. Sedangkan pusat kekuatan kilat emas itu berada tepat di ujung tombak yang saat ini sedang melesat tepat ke arahku.


"Mari kita lihat apakah tombak yang mampu melubangi bumi ini mampu menembus perisai dengan seluruh sisa kekuatanku ini?!" Teriakku seakan menantang maut.


Tapi bagaimana lagi, hanya inilah satu-satunya solusi yang bisa kupikirkan pada saat ini.


Sesaat sebelum tombak Angie mengenai perisaiku, aku dengan segera mengarahkan tongkat sihirku kepada Angie.


Seketika, kumpulan awan hitam segera berkumpul tepat di atas tubuh Angie dan nampak bersiap menjatuhkan hukuman langit berupa petir raksasa itu.


Pada saat yang bersamaan....


...'DUAAAAAARRRRRR!!!'...


Suara sambaran petir yang begitu besar itu terdengar beriringan dengan hantaman tombak milik Angie.


Pada saat itu juga notifikasi serta pemandangan yang membuatku merinding tak hanya terlihat bagiku. Tapi juga seluruh penonton di berbagai belahan dunia.


[Crystal Shield telah menerima 4.724.174 damage!]


[Crystal Shield telah menerima 3.257.195 damage!]


[Crystal Shield telah menerima 6.252.611 damage!]


[Crystal Shield telah .... ]


"A-apa maksudnya ini?!" Teriakku keheranan melihat tombak Angie yang masih terus menerus berusaha menembus Crystal Shield pada lapisan pertamaku.


Setelah menerima amplifikasi, Crystal Shield pada lapisan terluar itu memiliki Health Point yang sebesar 240.000.000 atau 240 juta. Sebuah angka yang seharusnya sangat diluar nalar pemain pada umumnya.


Akan tetapi kekuatan tombak Angie itu seakan menganggap bahwa perisai itu setipis kertas.

__ADS_1


Notifikasi damage yang bernilai jutaan itu terus menerus muncul setiap 0,2 detik. Dengan kata lain, lemparan tombak itu memberikan damage sebesar 25 juta setiap detiknya.


"Jangan bercanda, bukankah dulu aku hanya menerima.... Tunggu dulu...."


Pada saat itulah aku tersadar.


Dulu ketika aku terbunuh oleh lemparan tombak Angie, tombak itu hanya menembus tubuhku lalu melesat jauh ke dalam bumi.


Dengan kata lain, aku hanya menerima sebagian kecil dari damagenya saja.


Jika diingat kembali damage sekecil itu seharusnya tak mungkin menembus bumi hingga membuat lubang sebesar itu.


Tapi kini aku paham.


Tombak itu memiliki daya hancur yang mengerikan setiap kali mengenai targetnya.


Saat aku masih terlarut dalam pikiranku sendiri....


'Pyaaaaarrr!'


Perisai paling luar itu telah pecah dah hancur, kini tombak Angie dengan mudahnya melesat dan memecahkan 5 buah perisai yang ada dibawahnya. Hal yang wajar karena perisai di bawah lapisan pertama itu jauh lebih lemah.


'Pyaaaarrr! Pyaaarrr!! Pyaaarrr!!!'


Akan tetapi, aku melihat secercah harapan.


Tombak yang terus mengikuti kemanapun aku bergerak itu, kini mulai melambat. Bahkan damage yang dihasilkan jauh lebih kecil dibandingkan dengan sebelumnya.


Pemikiranku itu juga didukung dengan melemahnya kilatan emas yang menyambar kesana kemari dari ujung tombak itu.


Pada saat aku melihat notifikasi sistem mengenai damage yang dihasilkan....


[Crystal Shield telah menerima 211.538 ?damage!]


'Jika terus seperti ini maka aku pasti bisa bertahan!' Teriakku dalam hati sambil memberikan senyuman yang lebar.


Bersamaan dengan itu, aku segera membentuk perisai baru tepat di hadapan tombak itu. Sebuah perisai yang menghabiskan seluruh sisa Mana Point milikku.


Akan tetapi pada saat aku mencoba melihat notifikasi mengenai damage yang kuberikan kepada Angie....


'Eh? Tidak ada?'


Tak ada notifikasi mengenai damage sambaran petir itu. Jujur saja aku sangat kebingungan dengan hal ini.


Tapi semuanya segera terjawab dengan notifikasi yang muncul berikutnya.


[Kepala Anda telah terpotong!]


[Anda telah menerima damage Fatal!]


[Anda telah menerima 935.196 damage!]


[Anda telah mati!]


Sesaat sebelum aku berubah menjadi cahaya putih sepenuhnya, aku melihat sosok Angie yang telah berdiri tepat di belakangku.


Ia nampak baru saja mengayunkan pedang besar dengan kedua tangannya.


Dengan kesadaranku yang sedikit samar-samar itu, aku mendengar ucapan Angie.


"Akulah yang memenangkan pertarungan ini, Eric. Berbahagialah karena telah memaksaku menggunakan skill terkuat milikku itu sebagai pengecoh."


Bersamaan dengan itu, kesadaranku pun kembali ke dunia nyata. Dan sebuah layar hologram dengan tulisan mengenai hasil pertandingan barusan itu, terpampang jelas di hadapanku yang masih terbaring dalam kapsul itu.


...[Angie Vs Eric]...


...[Winner : Angie!]...

__ADS_1


__ADS_2