The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 261 - FFA PvP 14


__ADS_3

'Klaaaang! Traaang!'


Suara benturan antara dua buah logam itu terdengar begitu nyaring hingga memekikkan telinga siapapun yang berada di dekatnya.


"Eric! Sekarang!" Teriak Angie sambil terus menahan kapak Minotaurus di bawah ngarai ini.


Angie terlihat begitu kesulitan dalam menghadapi lawannya yang memiliki level 4 kali lipat lebih besar darinya. Bahkan dengan bantuan dukungan dari Eric sekalipun, Angie masih kesulitan untuk bertahan.


Sedangkan di garis belakang, tepatnya di sisi ngarai yang sedikit lebih tinggi itu, terlihat sosok seorang Pria berambut hitam yang sedang menarik busur kayunya itu sekuat tenaga.


Eric menggunakan salah satu skill baru yang Ia peroleh setelah memilih untuk menjadi Marksmen yaitu [Crushing Shot].


Sebuah skill sederhana yang akan memberikan damage berdasarkan attack power yang dimiliki penggunanya.


Akan tetapi terdapat satu perbedaan krusial dari semua skill yang ada. Yaitu skill ini mengabaikan seluruh Defense yang dimiliki oleh musuh. Tak sampai di sana, maksimum HP yang dimiliki oleh lawan beserta Defense lawan juga menentukan damage yang akan dihasilkan.


Apabila lawan memiliki HP dan juga Defense yang tinggi, maka kekuatan serangan ini akan semakin meningkat melampaui damage normal yang bisa diberikan.


Jika ditanya kelemahannya, jawabannya jelas yaitu waktu aktivasinya yang terlalu lama ditambah damage yang tidak seberapa jika dilancarkan pada lawan yang memiliki level rendah.


Tapi sebaliknya pada lawan yang kuat....


'Syuuuuutt!!!'


[Anda telah memberikan 483.194 damage!]


"Masih tidak cukup...." Ucap Eric pada dirinya sendiri sambil berpindah tempat mencari lokasi yang lebih cocok.


Meski memberikan damage yang luarbiasa besar, serangan barusan hanya menggores sekitar 6% Health Point milik Minotaurus itu.


Angie yang telah tak mampu bertahan terlihat melompat mundur dan berteriak.


"Eric! Bawa aku keatas!"


Segera setelah mendengar teriakan itu, Eric melemparkan sebuah pisau yang telah dirantai.


'Sriiiiingg!!'


'Tap!'


Angie dengan cepat segera meraih rantai itu. Begitu juga Eric yang melihat Angie telah menggenggam rantai itu, Ia segera menariknya sekuat tenaga untuk membawa Angie keluar dari sana.


Pada akhirnya, mereka berdua kabur untuk keempat kalinya hingga sore hari ini.


"Fuuuh.... Strategi bodoh ini ternyata sangat efektif." Ucap Angie sambil merebahkan badannya di tanah berumput iti.


Di sisi lain, Eric terlihat sedang memasang pasak besi yang cukup besar lalu diikat oleh rantai yang masuk ke dalam ngarai itu.


Semua itu untuk mempercepat mereka berdua kabur jika kondisi menjadi buruk.


Mereka berdua terus mengulanginya hingga hari menjadi gelap.

__ADS_1


Dan akhirnya, Eric dan Angie memutuskan untuk beristirahat di dekat ngarai itu sebelum memutuskan untuk melakukan penyerangan kepada Minotaurus yang ke 14 kalinya.


Di tengah gelapnya malam yang dihiasi bintang-bintang itu....


"Kau sudah siap, Eric?" Tanya Angie sambil memegang tongkat kayu. Semua senjatanya telah hancur dan rusak akibat terus menahan serangan dari Minotaurus itu.


Sedangkan Eric?


"Aku hanya memiliki 8 buah anak panah yang tersisa. Jika kita gagal disini...."


'Bruukk!'


Angie memukul punggung Eric dengan sangat keras, menghentikan perkataan Eric di tengah jalan.


"Kugh! Apa yang kau lakukan?! Bukankah aku sudah bilang sebelumnya persediaan Potion kita telah menipis?!" Teriak Eric kesal karena menerima 453 damage dari pukulan Angie itu.


"Kau ini terlalu pesimis, Eric."


"Dan kau terlalu optimis!"


Setelah perdebatan yang singkat, mereka berdua memutuskan untuk menuruni tebing itu dan memasuki ngarai yang sangat gelap dan mengerikan.


Apa yang menanti mereka di bawah sana, adalah seekor Minotaurus yang kini hanya memiliki sisa Health Point sebesar 3% saja.


...***...


...Pulau Bagian Tengah...


Di hadapan gunung berapi yang sangat besar dan terus menerus memuntahkan lahar panas dan juga melontarkan batuan vulkanik dengan suhu tinggi itu, terlihat sosok seorang Pria dan Wanita yang duduk dengan santai.


Tentu saja, sang Pria adalah Robert sedangkan sang Wanita adalah Rose yang kini telah kehilangan tangan kiri virtualnya.


"Berhentilah bersikap seperti itu. Jika memang tak bisa lagi disembuhkan, maka terima saja. Lagipula kemenangan kita sudah dekat." Ucap Robert sambil memandangi ke arah kejauahan.


"Enak saja kau bicara seperti itu! Kau pikir kehilangan tangan kiriku membuatku kesal? Tidak! Aku menjadi gila karena masih merasakan adanya tangan kiriku di dunia nyata, tapi tidak ada di dunia virtual ini!"


Rose yang sebelumnya bersikap tenang kini terlihat begitu marah dan kesal.


Setelah menenangkan dirinya sesaat, Rose kembali bertanya.


"Jadi, apakah Angie dan pemanah itu telah mati?"


"Aku tidak bisa memastikannya. Tapi seharusnya mereka mati setelah terjatuh dari puncak gunung setinggi itu. Lagipula, mereka bukanlah tandingan kita." Balas Robert dengan tenang.


Rose tidak menanggapi perkataannya karena semua yang dikatakan Robert itu benar.


Angie memang dikenal sebagai salah satu pemain paling jenius di dunia. Ia bahkan bisa mengejar para Top Player yang ada di Re:Life meskipun telah tertinggal selama beberapa tahun.


Akan tetapi, pertandingan FFA PvP ini tidak hanya mengandalkan kemampuan individu. Melainkan juga mengandalkan kekuatan dukungan dari para penonton, serta kemampuan dalam bekerjasama dengan orang lain.


Setelah beberapa saat berlalu....

__ADS_1


"Ah, akhirnya mereka datang." Ucap Robert sambil berdiri dari duduknya.


Di kejauhan, terlihat sosok 3 orang pemain yang memiliki Class berbeda-beda.


Paling kiri, terlihat seorang wanita yang membawa busur dan panah. Namanya adalah Margrett, seorang pemain dari Inggris.


Di tengah barisan tiga orang itu, seorang Pria berbadan kekar dengan senjata berupa sarung tangan besi itu merupakan seorang ahli bela diri dari Itali. Namanya adalah Antonio.


Sedangkan di samping kanan, seorang Pria muda yang mengenakan perlengkapan serba putih dan membawa tongkat sihir kayu itu merupakan seorang yang mengambil Class penyembuh.


Ia adalah seorang fanatik keagamaan yang bahkan dibawa ke dalam dunia game. Namanya adalah Frans dari Prancis.


Ketiga orang itu adalah bagian kecil dari tim Uni Eropa yang dipimpin oleh Robert di bawah arahan William.


Tujuan mereka semua sama, yaitu memperoleh kemenangan di kompetisi ini untuk memperoleh uang dalam jumlah yang sangat besar.


Kemudian uang itu akan mereka gunakan untuk memperkuat posisi mereka di dunia virtual Re:Life sehingga bisa menghasilkan lebih banyak lagi uang.


Jika disingkat....


Mereka semua adalah orang-orang yang ahli memanfaatkan situasi untuk memperoleh keuntungan sebesar mungkin.


Segera setelah mereka bertiga berdiri di hadapan Robert....


"Dimana yang lain?" Tanya Robert dengan tatapan yang cukup serius.


Frans sang penyembuh itu segera menjawab dengan gugup.


"Ka-karena sergapan da-dari seorang pe-pemain...."


Antonio yang kesal dengan penjelasan gagap dari Frans segera mengambil alih dan menjelaskan semuanya.


"Pemain berambut kehijauan itu menyergap kami berenam dengan sangat cepat. Kemudian...."


Robert segera memotong perkataannya seakan sudah mengetahui jawabannya.


"Jangan katakan, wanita dari Jerman itu?!"


"Kau benar. Hilda sialan itu, setelah menolak tawaran kita, dia malah membunuh dan menghalangi rencana ini! Sebaiknya kita...."


"Tenangkan dirimu, Antonio. Kita pasti akan membalas perlakuannya itu. Sekarang, bisakah kita membahas langkah kita berikutnya untuk mengamankan posisi sebagai pemenang?" Ucap Robert dengan tatapan tajam ke arah semua orang.


Dengan begitulah, tahap akhir dari FFA PvP ini segera dimulai.


Kini apa yang menanti semua orang, hanyalah hasil dari kerja keras dan persiapan mereka.


Di sisi lain....


'Aku harus melaporkan ini kepada Nyonya Elin! Tak disangka Tuan Eric ternyata berhidung belang! Apa-apaan itu?! Menggendong wanita berambut pirang itu seenaknya?! Bahkan aku sendiri yang telah lama melayaninya tak pernah mendapat gandengan tangan! Tak bisa dibiarkan!'


Di dalam ruangan VIP penonton itu, terlihat seorang wanita yang sangat kesal dengan apa yang disiarkan melalui layar hologram di hadapannya.

__ADS_1


Wanita dengan rambut hitam yang indah serta pakaian renang yang sangat out of the dress code itu segera Log Out dan bersiap untuk melaporkan semuanya.


Perang dunia keempat pun.... Telah menanti Eric di dunia nyata.


__ADS_2