The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 255 - FFA PvP 8


__ADS_3

Di tengah sebuah Kota kecil, tepatnya di depan sebuah toko bahan monster.


"Sialan. Jadi semudah ini untuk menjual hasil buruan? Pantas saja mereka semua menertawakanku." Ucap Eric pada dirinya sendiri sambil memperhatikan kantung yang ada di tangan kanannya.


Ia segera mempercepat langkahnya untuk kembali ke toko pandai besi itu.


Segera setelah sampai disana, Eric memilih beberapa jenis senjata yang dipajang di toko. Atau lebih tepatnya dikunci dengan cukup rapat oleh rantai besi.


"Totalnya 194 koin emas dan 72 koin perak." Ucap pegawai toko itu setelah memeriksa kembali seluruh pesanan Eric.


Menghiraukan perkataan pemuda itu, Eric segera melemparkan kantung berisi sekitar 220 koin emas itu kepadanya.


"Ambil saja kembaliannya."


"Terimakasih banyak, Tuan. Kami akan segera mengirimkannya ke pos penjaga. Tuan bisa mengambilnya sekitar satu jam lagi."


Bersamaan dengan itu, beberapa pemuda nampak mengangkut seluruh pesanan Eric ke 3 buah kereta kuda.


Jumlah pesanannya sungguh teramat banyak. Terutama anak panah yang jumlahnya mencapai 8.000 lebih.


Di dalam hati, Eric sedang memikirkan sesuatu.


'Jika ini memang game, kenapa aku tak bisa membawanya langsung ke dalam inventoryku? Ah sudahlah, pemikiran yang tak berguna di tengah kompetisi ini.'


Setelah menepis pikirannya, Eric memutuskan untuk berkeliling sesaat sambil mencari sebanyak mungkin informasi mengenai pulau kompetisi ini.


...***...


"Terimakasih atas kunjungannya! Lain kali mampir lagi kemari!" Teriak sang penjaga itu.


Mengetahui bahwa dunia ini hanya diciptakan untuk kompetisi ini, bahkan mungkin saja akan hilang setelah 3 hari lagi membuat Eric merasa iba dengan mereka.


Tapi baru saja beberapa menit meninggalkan kota itu....


'Sreekk! Sreekk!'


Terdengar suara gesekan dari balik semak-semak di hutan ini. Eric yang segera menyadarinya langsung menghela nafasnya.


'Hah.... Pemikiran yang bagus untuk merampok pemain yang baru saja berbelanja di tempat ini. Tapi bukankah mereka terlalu buruk?'


Tanpa berpikir panjang, Eric segera mengeluarkan busurnya dan menggunakan salah satu skill yang bahkan tak pernah Ia gunakan sebelumnya karena tak memiliki busur dan panah.


"Wedge Shot." Ucap Eric dengan santai sambil menarik busurnya bersama dengan 5 anak panah.


'Syuuuttt!'


Kelima panah itu melesat dengan sangat cepat ke samping. Tapi sayangnya....


Tak ada satu pun notifikasi sistem yang muncul.


"Kurasa aku masih perlu berlatih lagi." Ucap Eric pada dirinya sendiri sambil menurunkan busur yang Ia pegang dengan tangan kirinya itu.


Pada saat itu juga....

__ADS_1


'Kreseekk! Tap!'


Seorang yang nampaknya merupakan Assassin itu melompat dari semak-semak yang berada di belakang Eric. Ia nampak bersiap untuk menghunuskan pisau hitamnya itu tepat ke punggung Eric.


Tanpa melirik sama sekali, Eric segera mengeluarkan pedang dari inventorynya dan memegangnya dengan tangan kanannya.


Dengan segera, Eric memutar tubuhnya dengan cepat dan menebas tepat di leher Assassin itu.


"Kuuugghh! Ba-bagaimana?!"


Sang Assassin itu nampak seolah tak bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi dengannya.


Tak berhenti sampai di situ, Eric segera memutar kembali tubuhnnya dan melayangkan 3 tebasan lagi yang mengenai dada, perut dan paha Assassin itu.


Hanya dalam waktu kurang dari 2 detik, Assassin yang seharusnya membunuh Eric secara diam-diam itu justru mati di tangan targetnya dan berubah menjadi cahaya putih.


Semua anggota party dari Assassin itu segera berdiri dan keluar dari persembunyiannya.


Jumlah total mereka ada 16 orang. Semuanya mengelilingi Eric di tengah hutan yang cukup lebat ini.


"Beraninya kau membu...."


'Jleebbb! Jlebbb!'


Bahkan tak membiarkan lawannya mengumpat, Eric telah menembakkan dua buah panah dengan bantuan skill [Quick Shot] dan juga passive skill [Hawk Eye] yang mengenai tepat di dua bola mata targetnya.


Kini di hadapan Eric, terlihat notifikasi yang begitu menggembirakan.


[Anda telah mengenai titik vital target!]


[Anda telah memberikan total 2.129 damage!]


[Target telah Buta!]


Pada saat itu, pandangan semua orang yang hendak merampas Eric segera teralihkan ke kawannya yang menerima tembakan panah itu. Mereka semua lupa, bahwa yang menjadi targetnya telah meletakkan kembali busur itu di inventorynya lalu mengganti senjatanya menjadi dua buah belati di tangan kanan dan kirinya.


'Sraaasshh! Sraaashh!'


Eric menebas leher target barusan dengan sangat cepat hingga membuatnya berubah menjadi cahaya putih.


Tanpa jeda, Eric kembali mengganti senjatanya menjadi sebuah tombak yang hampir rusak itu. Ia dengan sangat cepat menusukkan tombak itu sebanyak 3 kali tepat di jantung pemain yang ada di sebelahnya.


'Stab! Stab! Stab!'


[Anda telah....]


'Berisik.' Ucap Eric dalam hati sambil segera melompat hingga mencapai dahan pohon yang cukup tinggi itu.


Kini, semua Player yang berencana untuk menyergap Eric justru dilanda dengan kebingungan.


"Oi?! Kau bilang target kita lemah?!"


"Jangan salahkan aku! Aku tidak pernah menga...."

__ADS_1


Tiba-tiba, ratusan anak panah yang seakan terbuat dari cahaya itu menghujani tempat ini dari atas.


Beberapa pemain yang cukup sial menerima skill [Arrow Rain] itu menerima damage yang tak sedikit. Bahkan dua orang segera menyusul kematian kawan mereka sebelumnya.


Sang pemimpin kelompok itu segera memutar kepalanya sebaik mungkin sambil bersembunyi di balik semak-semak yang sangat rimbun itu.


'Pikirkan dengan tenang. Targetnya adalah seorang Pria. Jadi Ia tidak mungkin Angie. Kemudian dari penampilannya memang menyerupai Eric, tapi Eric adalah seorang penyihir. Tak mungkin Ia akan menggunakan senjata seperti ini. Kemudian....'


Sebelum sempat menyelesaikan pemikirannya di dalam hati yang bahkan hanya berlangsung selama 45 detik itu, Ia telah disambut oleh tamu tak diundang.


Seorang tamu yang datang membawa senyuman yang begitu ramah sambil mengulurkan tangan kanannya.


"Yo, jadi kau yang terakhir? Pria sebelumnya bilang bahwa kau adalah pemimpinnya sambil mengemis untuk mengampuni nyawanya. Tentu saja, aku sama sekali tak mengampuninya. Sekarang.... Mari, kita berbicara sejenak." Ucap Pria berambut hitam dan bermata agak kemerahan itu. Ia tak lain dan tak bukan adalah Eric.


Pria berbadan kekar dengan penampilan seperti seorang Barbarian itu merasakan ngeri di sekujur tubuhnya pada saat menatap mata Pria itu.


'Mata itu.... Tidak.... Dia tidak hanya licik, orang ini....'


Merasa bahwa Pria yang ada di hadapannya sangatlah berbahaya, pemimpin kelompok itu segera menjabat uluran tangan Eric.


Akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk berbicara sejenak.


"Jadi, kenapa kau memburuku?" Tanya Eric yang bahkan tak memperkenalkan namanya itu.


"Kupikir bisa memperoleh jarahan untuk memperkuat kami."


"Apakah kalian disuruh orang untuk memburuku?"


"Tidak, itu murni terjadi karena spontanitas."


"Katakan kalian berhasil memburuku, lalu bagaimana hasil bagi jarahan yang diperoleh?"


"Kita akan membaginya secara merata." Balas Pria itu sambil terus berjalan mengikuti Eric ke suatu arah.


Merasa puas dengan semua jawabannya, dan menyadari bahwa mereka bukan hanya tak mengenalinya tapi juga sama sekali tak mengincarnya, Eric tersenyum cukup lebar.


"Pertanyaan terakhir. Jika kelompok kalian menang, bagaimana kalian akan menentukan siapa yang memperoleh hadiahnya? Mengingat hadiah uangnya begitu besar."


"Aku yang akan memenangkannya dan membagikan semua ke rekening mereka secara merata. Lagipula, kami memang sudah kenal sejak di dunia nyata. Meski terpencar, dan delapan orang lagi belum bergabung dengan kami, tapi aku akan tetap membagi kepada semuanya secara merata."


Mendengar jawaban itu, Eric terlihat terdiam sejenak lalu kembali berbicara.


"Terimakasih. Dengan begini aku telah memutuskan untuk bermain sendirian hingga akhir kompetisi ini. Ah, aku belum memperkenalkan diriku ya?"


Mendengar pertanyaan aneh itu, sang pemimpin kelompok terlihat melupakan rasa takutnya dan kini menjadi sangat penasaran akan siapa orang yang sejak tadi ada di sampingnya itu.


Tapi bukan melalui kata-kata, Pria itu menjawabnya dengan lima tusukan tombak yang mengenai tepat di jantungnya.


HP miliknya segera turun hingga mencapai angka 0, menandakan kematiannya dan log out paksa akan segera berlangsung.


Ia memang sudah siap untuk mati mengingat kemampuan lawannya yang jauh melampaui dirinya dan juga kelompoknya.


Jika ada yang disesalkan, Ia sangat ingin tahu siapa sosok yang membantai kelompoknya ini.

__ADS_1


Pada saat itulah, Ia mendengarnya dengan samar-samar perkataan Pria yang membunuhnya itu.


"Eric. Namaku adalah Eric sang penyihir." Ucap Pria itu sambil melempar tombak yang mulai hancur itu.


__ADS_2