
Waktu terus berlalu.
Pertandingan demi pertandingan telah ku lalui di babak awal ini. Tapi sungguh sangat disayangkan. Itu semua karena tidak ada lawan yang menantang sedikitpun!
Bahkan aku sudah mengalah hanya dengan menggunakan skill terendah milikku yaitu [Magic Missile] dan bermain dengan menghindari serangan.
Tapi entah kenapa, musuh sama sekali tidak dapat menjangkau diriku tidak peduli senjata apapun yang mereka gunakan.
Seperti pada saat ini....
'Syuutt syuuut!'
Ratusan anak panah melesat dengan kecepatan tinggi ke arahku. Tapi semua itu sia-sia semebjak aku menggunakan sebuah skill yang sangat sederhana.
"Wind Blow." Ucapku santai sambil tersenyum dan mengarahkan tongkat sihirku ke depan.
Seketika, hembusan angin yang cukup kuat itu menghempaskan seluruh anak panah yang seharusnya menghujani tubuhku.
'Klak! Klak!'
Beberapa anak panah bahkan nampak patah hanya karena menerima hembusan angin milikku.
Hal yang wajar karena dengan total Magic Power milikku yang kini telah mencapai angka 198.000 lebih membuat skill sederhana ini menjadi jauh lebih mematikan.
Bahkan ketika skill ini mengenai tubuh lawanku itu....
[Anda telah memberikan 23.521 damage!]
[Anda telah ....]
Aku hanya bisa tersenyum melihat notifikasi itu.
"Sialaaaaaaan!" Teriak seorang Pria dengan rambut pirang yang menjadi lawanku itu. Ia nampak membawa sebuah busur berwarna hijau dengan alur biru yang begitu indah.
Pada saat aku melihat informasi mengenai item itu, nampaknya busur itu adalah item tingkat Unique yang memiliki kekuatan cukup besar.
Tapi semua itu sia-sia di hadapan status dan juga item legendaris milikku.
"Apakah kau sudah menyerah?" Tanyaku dengan santai sambil berdiri tepat di tempat aku muncul di tengah hutan ini.
Ya, meskipun lokasi pertarungan kami berdua berada di tengah hutan yang seharusnya menjadi keunggulan mutlak seorang pemanah....
Lawanku masih tetap saja tak bisa berkutik bahkan sedikitpun.
Hingga akhirnya, pertarungan sepihak yang terjadi selama 5 menit lebih ini ku hentikan dengan sebuah skill sederhana yaitu [Magic Missile].
Lawanku yang memiliki kebanggaan tinggi terhadap kemampuan menghindar dan pergerakan lincahnya itu dibuat malu oleh [Magic Missile] yang bahkan hingga saat ini masih terus mengejarnya.
'Duaaarr! Duaaarr! Duaaaarr!'
__ADS_1
Ledakan pun terjadi pada saat 12 buah Magic Missile yang kulontarkan kepadanya mengenai tepat di tubuhnya.
Notifikasi damage yang mencapai angka 90.000 lebih pada setiap ledakan itu sama sekali tak membuatku bahagia.
'Sialan.... Memang benar aku ingin memenangkan pertarungan ini untuk memperoleh buku kuno. Tapi kemenangan seperti ini.... Entah kenapa rasanya begitu hampa.' Pikirku dalam hati.
'Teeeeeeeet!'
Suara bel yang begitu kencang terdengar seakan dari segala arah.
Bersamaan dengan suara itu, muncul jendela notifikasi besar yang bukan berada di hadapanku, melainkan di tengah arena pertarungan ini.
Jendela itu menunjukkan hasil pertarungan ini.
...[Eric Vs Loa]...
...[Winner : Eric!]...
Kemudian, karakterku pun secara perlahan menghilang. Kesadaranku juga tertarik kembali ke dunia nyata.
Dengan segera, aku membuka pintu kapsulku dan berdiri di tengah panggung.
Salah seorang pembawa acara nampak menyambutku dengan hangat sambil meneriakkan berbagai hal.
Tapi pandanganku fokus pada salah satu arah. Yaitu arah dimana lawanku yang memiliki nama akun [Loa] itu nampak berjalan sendirian.
Ia nampak berjalan melewati ramainya wartawan. Tak ada satu orang pun yang menyapanya. Bahkan sebagian penonton nampak melemparinya dengan berbagai jenis sampah.
'Loa.... Tenang saja. Aku pernah merasakan hal itu, maka dari itu....'
"Jadi bagaimana kesan dan pesan Anda sebagai pemenang berturut-turut Tuan Eric?!" Tanya pembawa acara itu dengan suara yang begitu menggelegar dan meriah.
Penampilannya juga begitu tampan dengan rambut yang sedikit kemerahan namun dipotong begitu rapi.
Pembawa acara itu pun menyodorkan Micnya kepadaku.
Tanpa menunggu lama, aku segera mengambilnya dan mulai menjawab pertanyaannya.
"Pertama-tama. Aku ingin mengucapkan terimakasih kepada semua orang yang telah mendukungku. Aku tidak bisa mencapai ...."
Sambutan klasik yang digunakan untuk acara resmi itu pun secara otomatis terlontar dari mulutku. Tapi pandanganku masih sesekali memperhatikan sosok lawanku yang begitu murung.
Tepat sebelum lawanku itu meninggalkan stadion, aku memberikan apresiasiku kepadanya. Bukan tanpa alasan, tapi aku hanya ingin Pria itu tak terjatuh dalam kegelapan karena dipenuhi dengan rasa malu seperti ini.
Meskipun.... Itu salahnya sendiri karena sebelum pertarungan melawanku, Loa mengatakan berbagai omong kosong mengenai diriku yang bukanlah tandingannya dan sangat mudah untuk dikalahkannya.
"Kemudian untuk lawanku, sang pemanah elemen cahaya. Jujur saja jika bukan karena jubah penyihir milikku, aku tidak akan bisa menahan serangan elemen cahaya milikmu. Pertarungan ini menjadi kemenanganku murni karena aku menggunakan perlengkapan yang tepat untuk melawan atribut seranganmu.
Oleh karena itu, jangan berkecil hati. Berlatihlah selama satu tahun kedepan. Dan pada saat itu, tantanglah aku kembali." Ucapku panjang lebar sambil memberikan ekspresi yang begitu serius namun masih dihiasi dengan senyuman.
__ADS_1
Mendengar perkataanku, seluruh penonton dan petugas termasuk juga Loa nampak terkejut. Mereka semua tak menyangka bahwa aku akan menyanjung lawanku seperti itu.
Di kejauhan....
Nampak sosok Loa yang tersenyum tipis sambil sedikit menoleh ke arahku. Tapi segera setelah itu, Ia segera melanjutkan langkah kakinya dan segera menghilang di balik pintu itu.
...***...
"Huwaaaaah! Segar sekali minum soda gembira setelah memenangkan seluruh pertarungan merepotkan itu!" Teriak seorang gadis kecil dengan rambut hitam yang cukup panjang.
Ia nampak membawa sebuah gelas kaca yang cukup besar dan berisi penuh dengan cairan soda yang berwarna merah muda. Bahkan sebagian cairan itu nampak menempel pada bibirnya yang kecil itu.
Gadis itu mengenakan sebuah jaket berwarna putih dengan corak merah. Yaitu jaket yang seharusnya merupakan milik tim resmi Indonesia.
"Elin, jagalah sikapmu. Tidak sopan untuk berperilaku seperti itu di hadapan semua orang. Terlebih lagi, jaket siapa itu yang kau curi?!" Tanyaku dengan nada yang sedikit kesal karena kesulitan untuk mengendalikaan sikap istriku sendiri.
"Memangnya kenapa?! Aku bisa sedikit bersantai setelah kemenangan berturut-turut ini kan?!" Teriak Elin dengan suara yang begitu keras.
Tapi pada saat itu juga....
'Bzzzztt! Bzzztt!'
Suatu hal yang cukup jarang ku lihat telah terjadi. Apalagi jika ponselku yang bergetar karena menerima panggilan seseorang.
Itu karena seluruh panggilan maupun pesan yang membahas mengenai bisnis dan juga masalah sepele lainnya telah sepenuhnya diatasi oleh para pegawai di Grandia Group.
Sedangkan untuk panggilan atau pesan yang lebih pribadi, Lisa yang akan menanganinya.
Oleh karena itu aku cukup heran dengan panggilan ini.
'Apakah Arlond? Jika dipikir kembali, aku telah meninggalkannya bertarung sendirian selama beberapa minggu.' Pikirku dalam hati sambil meraih ponselku.
Seperti yang ku duga.
[Arlond memanggil .... ]
"Hah orang ini. Ada perlu apa sampai harus memanggilku?" Ucapku pada diriku sendiri. Elin yang mendengarnya nampak kebingungan.
"Ada apa Erik?"
"Tidak. Arlond memanggilku. Kemungkinan Ia ingin membahas suatu masalah terkait dengan peperangan itu. Kalau begitu, aku pergi dulu." Balasku kepada Elin sambil segera keluar ruangan untuk mencari tempat yang agak sepi.
Segera setelah itu, aku pun menerima panggilannya.
"Halo Arlond. Lama tak berkabar. Ini aku, Erik. Ada perlu apa denganku?" Tanyaku dengan nada santai sambil duduk di sofa ruang tunggu ini.
"Erik.... Sebenarnya...."
Arlond pun menjelaskan situasi yang sedang terjadi. Mendengar hal itu, aku hanya bisa membelakakkan mataku seakan tak mampu mempercayai hal itu.
__ADS_1
"Kau.... Kau sungguh-sungguh dengan hal itu?"