The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 201 - Perpisahan


__ADS_3

“Kau benar-benar sangat kuat, Nona Elin.” Ucap Clever sambil menjabat tangan Elin.


“Kau juga, bisa memaksaku untuk menggunakan Buff itu berarti kekuatanmu jauh melebihi perkiraanku. Kerja yang bagus, Clever.” Balas Elin sambil tersenyum.


Setelah itu, latih tanding pun dilanjutkan hingga semua pahlawan memperoleh gilirannya. Pada akhirnya, semua pahlawan kalah melawanku dan Elin. Meski begitu, mereka memperoleh pengalaman yang cukup untuk meningkatkan kemampuan bertarung mereka di masa mendatang.


Yang paling kuat dari keenam pahlawan adalah Ovelia, sang Pahlawan Penyihir. Bukan hanya karena segi level, tapi sejak awal latih tanding Ia sangat serius memperhatikan bagaimana aku bertarung dan dengan segera mengadopsinya dalam gaya bertarungnya.


Kemampuannya yang mencakup seluruh elemen sihir secara merata membuatnya sangat mampu untuk menghadapi semua jenis musuh.


Sedangkan yang paling lemah adalah Firia, sang Pahlawan Penyembuh. Hal yang wajar karena Ia sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menyerang dan hanya bisa bertahan sambil memberikan Buff atau menyembuhkan kawannya.


Meski begitu, jika keenam orang ini bertarung bersama….


“Aku tidak yakin ada yang dapat mengalahkan kalian. Yah, meskipun kurasa ada beberapa Party di benakku yang mampu melakukan itu tapi…. Setidaknya kalian sangatlah kuat saat ini. Setelah pertempuran ini berakhir, kabari aku. Maka aku akan melakukan Ascension lagi kepada kalian.” Ucapku sambil memperhatikan keenam pahlawan itu.


“Terimakasih, Tuan Eric, Nona Elin.”


“Eric, Elin. Terimakasih banyak atas bantuan kalian. Bahkan sampai menjual beberapa kepemilikan kalian di dunia nyata…. Aku akan berjuang sebaik mungkin untuk menjaga Kerajaan ini! Ah dan juga….” Ucap Arlond sambil membisikkan suatu hal kepadaku.


“Hmm…. Kau yakin soal itu?” Tanyaku singkat.


Tanpa menjawab, Arlond hanya menganggukkan kepalanya dengan ringan.


“Baiklah. Terimakasih banyak informasinya. Ini sangat berharga bagiku. Kalau begitu, kita akan berpisah disini. Sampai jumpa lain waktu, Arlond.” Ucapku sambil mengulurkan tanganku.


“Sampai jumpa lagi, Eric. Kuharap petualanganmu dapat membuahkan hasil yang bagus.” Balas Arlond sambil menjabat tanganku.


Sedangkan Elin, Ia nampak duduk di tanah karena kelelahan secara mental.


“Sialan…. Bergerak secepat itu terus menerus benar-benar membuat pikiranku kelelahan….”


...***...


...Kaki Pegunungan Alpa...


...Sisi Timur Laut...


...Dungeon Hutan Alpa...


Aku dan Elin segera kembali ke dalam sebuah Dungeon yang kubuat secara asal-asalan ini. Dungeon ini hanyalah sebuah goa yang diterangi dengan obor, berukuran kecil, dan hanya memiliki lingkaran sihir teleportasi yang menghubungkan ke beberapa lokasi penting.


“Selamat datang kembali, Tuanku.” Ucap Lucien sambil sedikit membungkukkan badannya dan meletakkan tangan kanannya ke dadanya.


“Ya, aku sudah kembali. Jadi, apakah kau sudah memeriksa tempat yang kuberitahukan kepadamu melalui [Telepathy] itu?” Tanyaku singkat.


“Fufufu…. Tentu saja. Dengan bantuan wanita sialan pemakan segalanya itu, aku mampu menemukan tempat itu dengan mudah.” Balas Lucien sambil tersenyum bangga.


Cathy yang mendengar hal itu nampak kesal dan segera berkomentar.


“Setidaknya aku tidak menghanguskan daging tingkat legendaris itu.”

__ADS_1


Pertengkaran pun terjadi diantara mereka berdua, namun aku sudah lelah untuk bahkan memikirkannya. Oleh karena itu, aku segera mendekati Rianne yang sedang memainkan alat musiknya di pintu goa itu.


“Rianne, apakah Nico sedang pergi?” Tanyaku padanya.


“Nico…. Ya? Dia sedang merekam keindahan alam di atas….” Balas Rianne dengan nada yang indah sambil memainkan harpanya menyesuaikan nada itu.


“Aah…. Terimakasih banyak. Ngomong-ngomong, suaramu begitu indah. Lain kali, nyanyikanlah lagu yang indah untukku.” Ucapku sambil pergi meninggalkan goa ini.


Mendengar perkataanku, wajah Rianne nampak memerah. Dengan rambut kehijauan yang panjang dan lurus itu, kecantikannya benar-benar diluar batas manusia. Yah, wajar saja karena Rianne adalah seorang peri.


“Tuanku…. Aku akan membuatkan lagu yang indah untukmu….” Ucap Rianne sambil kembali memainkan harpanya.


Sementara itu….


“Aku harus memikirkan cara untuk mencari uang!”


Elin nampak kembali pada sifatnya yang dahulu. Hal yang wajar karena Ia telah menghabiskan seluruh tabungannya demi membantu rencana Arlond.


...***...


...Di atas bukit…....


Di tempat yang dipenuhi oleh pepohonan yang rimbun ini, bintang-bintang menghiasi malam dengan begitu indahnya. Tak hanya itu, malam ini sang Bulan tersenyum kepada seluruh makhluk yang ada di dunia ini.


Di bawah semua keindahan langit itu, nampak seorang Pria yang sedang duduk santai sambil menggerakkan benda yang melayang di sekitarnya menggunakan gestur tangannya.


Rambut hitam kemerahannya yang cukup panjang itu bergerak kesana kemari karena terpaan angin yang ringan ini.


“Aah…. Eric ya? Tidak ada…. Aku hanya sedang menikmati keindahan suasana malam ini.” Balas Nico dengan suara yang merdu tapi terkesan santai itu.


“Menikmati keindahan ya? Lalu untuk apa kamera itu?” Tanyaku kebingungan. Aku segera melangkahkan kakiku dan mendekati Nico.


‘Bruk!’


Aku pun merebahkan badanku dan ikut memandangi langit malam ini.


“Ah, kamera ini? Aku hanya ingin merekam keindahan ini dan menjadikannya sebagai Wallpaper di kamarku.” Balas Nico bahkan tanpa melirik ke arahku.


Keheningan pun datang. Kami berdua sama sekali tak berbicara hingga puluhan menit lamanya. Hanya terdiam…. Menikmati suasana di dunia virtual ini.


Bahkan dari tempat ini, kami berdua masih mampu mendengar lantunan lagu Rianne. Sungguh, suaranya begitu merdu dan membuat suasana ini semakin nyaman.


Hingga akhirnya, Nico memecahkan suasana ini.


“Eric…. Aku tak ingin mengatakannya tapi….”


Ia nampak kesulitan untuk mengungkapkan hal ini. Semua itu terlihat dengan jelas dari raut wajah serta perkataannya yang terputus-putus.


Aku pun segera membalas untuk menenangkannya.


“Katakan saja. Aku takkan mempermasalahkan apapun.” Balasku dengan nada yang santai tapi cukup tegas.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Nico nampak tersenyum puas dan memejamkan matanya.


“Kalau begitu aku takkan segan-segan lagi. Eric, kurasa aku akan keluar dari Party ini. Meski baru saja beberapa minggu bersama, aku malah meninggalkan kalian. Maafkan aku.” Ucap Nico sambil memberikan ekspresi wajah yang dipenuhi kesedihan.


Bohong namanya jika aku tidak terkejut mendengar perkataannya. Akan tetapi, aku berusaha menjaga ekspresi wajahku untuk tetap tenang.


“Kalau boleh tahu, kenapa? Apakah karena Party ini yang sering berkelahi dan berdebat bahkan untuk hal sekecil apapun? Atau karena Elin yang sering menendang dan memukulmu? Atau apa?” Tanyaku keheranan.


Nico terdiam selama beberapa saat sebelum mampu menjawab pertanyaanku.


Pada akhirnya, Ia berdiri dari duduknya dan berkata.


“Tidak sama sekali. Ini adalah party yang sangat indah. Party terbaik yang pernah aku ikuti. Setiap detiknya memberikanku kebahagiaan yang sangat jarang kuperoleh di sibuknya kehidupanku sebagai seorang MeTuber.”


Jawaban itu membuatku kehilangan ekspresi datarku. Bagaimana tidak, Ia menyebutkan bahwa dirinya sangat menikmati Party ini.


“Lalu…. Kenapa kau memutuskan untuk pergi?” Tanyaku kebingungan.


Nico nampak tersenyum tipis dan melirik ke arahku.


“Setelah beberapa saat aku berada di dalam Party ini, aku menyadarinya Eric. Aku sadar bahwa diriku ini terlalu lemah. Terlebih lagi, aku hanyalah beban di Party ini. Dan juga…. Menyadari bahwa aku telah menikmati dunia ini dengan cara yang salah selama ini.”


Entah kenapa, mendengarkan hal itu membuat hatiku tersayat.


Menikmati dunia ini?


Maksudnya Re:Life?


Selama ini…. Aku hanya menganggap dunia ini adalah dunia kedua yang bisa memberikanku keuntungan yang besar. Jika aku bertindak dan berinvestasi dengan tepat, maka aku akan memperoleh banyak keuntungan.


Itu saja. Tapi untuk menikmati dunia ini?


Meski bibirku berkata ‘Aku ingin menikmati dunia ini’, tapi hatiku selalu berkata ‘Lakukanlah hal ini untuk memperoleh keuntungan yang besar’.


Setelah disibukkan oleh pikiranku sendiri selama beberapa saat, Nico kembali berkata.


“Aku akan kembali lagi suatu hari nanti, Eric. Tapi saat ini, aku butuh waktu untuk mempersiapkan karakterku. Sampai saat itu tiba, bisakah kau menyisakan satu kursi di Partymu itu untukku?” Ucap Nico sambil tersenyum lebar dan menutup kedua matanya.


Meski begitu….


Aku tahu dengan pasti.


Bahwa Nico sendiri sebenarnya tidak menginginkan hal ini terjadi. Bahwa senyuman itu adalah untuk menutupi kesedihan yang Ia rasakan.


Tak ingin membiarkannya seperti itu, aku pun segera membalasnya sambil berdiri.


“Dasar…. Kau sudah kuanggap sebagai salah satu teman terdekatku, kau tahu? Lakukanlah apapun yang kau inginkan. Kami semua menantimu kembali. Dan juga, katakan saja apapun yang kau butuhkan. Aku selalu ada untukmu, MeTuber nomor satu.” Balasku sambil memukul ringan pundak Nico.


“Terimakasih banyak, Eric.”


Tanpa ku sadari, itu adalah saat terakhir aku akan melihatnya sebagai seorang Player yang tak berdaya. Sebagai seorang Player…. Yang hanya berperan sebagai kamera.

__ADS_1


__ADS_2