
Elin segera berlari setelah mendengar teriakanku.
Di sisi lain, perangkap lantai licin yang telah kupasang menghilang bersamaan dengan Dungeon Barrack yang telah ku nonaktifkan. Termasuk monster yang berasal dari Dungeon itu. Leo dengan cepat segera berdiri.
Sedangkan aku? Aku bersiap untuk melompat ke atas tubuh Elin.
“Gendong aku dan bawa aku pergi jauh dari sini, Elin! Aku takut dibunuh oleh Inquisitor itu!” Teriakku kepada Elin. Leo yang mendengarnya terlihat semakin marah.
“Cepat naik, Eric. Aku akan membawamu kemanapun kau minta!” Balas Elin yang menyetujui rencana dadakan ini.
Dengan cepat Elin naik ke lantai atas yaitu labirin. Pemandangannya sungguh mengerikan. Labirin yang telah susah payah aku dan Elin buat, kini sudah hancur lebur. Seluruh tembok yang menutupi pandangan telah rata dengan tanah.
“Inquisitor sialan itu! Apakah mereka menghancurkan semuanya untuk masuk dengan paksa?!” Teriakku melihat pemandangan ini. Elin juga nampak sedih melihat labirin pertamanya dirusak seperti ini.
Tapi kini aku paham, bahwa membuat labirin dengan jebakan dan monster minimal tidak akan mampu menahan kekuatan mutlak dari seseorang berlevel tinggi. Seperti Inquisitor ini. Seberapa banyaknya panah dan monster yang muncul, dia hanya akan menghempaskannya dengan mudah. Apalagi hanya sebuah dinding yang diam dan tak mampu melakukan apapun.
“Pegangan yang kuat, Eric! Aku akan berlari secepat mungkin! Dan juga, siapkan botol Stamina Potion di tanganmu. Saat aku memerintahkanmu, tolong minumkan itu kepadaku.” Ucap Elin sambil mempercepat langkahnya.
Meski begitu, Leo mampu mengejar dengan baik. Ia segera melemparkan perisai bersarnya karena hanya memperlambat langkahnya.
Beberapa saat kemudian, kami telah keluar dari dalam gua. Pemandangan yang ada yaitu langit malam yang berhiaskan bintang-bintang. Tanah yang tandus serta deretan pegunungan di Utara. Inilah pemandangan yang terlihat di Kaki Pegunungan Alpa.
Elin terus menggendongku dan berlari ke arah Selatan, menjauhi Pegunungan Alpa. Akan tetapi, jarak antara kami berdua dengan Leo semakin dekat tiap detiknya.
Tak hanya diam, aku juga membantu Elin dengan cara memperlambat langkah Leo.
“Magic Missile!”
Seketika bola sihir berwarna putih muncul di ujung tanganku dan melesat ke arah Leo.
‘Duaar!’
[Anda telah memberikan 36 damage!]
Ledakannya cukup kecil, tapi seharusnya itu cukup untuk memperlambatnya. Tentu saja aku tidak ada niat untuk membunuh Leo disini. Kenapa? Itu karena membunuhnya hanya akan meningkatkan amarah Kerajaan Suci Celestine.
Tak cukup sampai di situ, aku juga memasang jebakan favoritku.
“Slippery Floor!”
Tanah tandus yang ada di sekitar Leo seketika berubah menjadi penuh akan cairan yang sangat licin. Tanpa kuasa, Leo hanya bisa tergelincir. Tapi karena telah cukup terbiasa, Ia mampu mempertahankan dirinya agar tidak terjatuh.
“Summoner! Trik rendahan ini tidak akan lagi mampu untuk mengehntikanku!” Teriak Leo sambil terus menerus berlari sekuat tenaga.
Entah sudah berapa lama aku dan Elin berlari. Atau bisa kusebut berapa lama Elin menggendongku sambil berlari? Yang jelas, Leo nampak sangat kelelahan. Berbeda dengan Elin yang terus menerus meneguk Stamina Potion, Leo hanya berlari tanpa istirahat.
Pada saat inilah….
“Elin, sekarang bersiap-siaplah untuk berputar balik.” Bisikku pada telinga Elin.
“Bisakah kau segera mengatakan apa rencanamu yang sebenarnya, Eric?” Tanya Elin dengan suara yang pelan. Tentu saja karena kami takut Leo menguping dan mengetahui rencananya.
“Setelah kau berbalik arah, segeralah kembali ke Dungeon Origin. Pastikan bahwa Leo mengikutimu. Chris akan ada disana untuk membantumu. Ikutilah semua perkataan mereka.” Jelasku kepada Elin.
“Mengikutiku?! Kau tahu kan seberapa cepat Leo berlari?! Dan juga Chris?! Jika dia memang ingin membantu kenapa dia tidak datang kemari?!” Tanya Elin penuh dengan kebingungan.
Tapi aku membiarkannya begitu saja. Itu karena jika dia tahu akan rencanaku yang sebenarnya, aku yakin dia akan menolaknya dengan keras.
Kenapa? Itu karena semua yang kurencanakan ini didasarkan atas taruhan hidup dan mati. Aku berencana untuk menggunakan Skill : Dispell untuk menghilangkan efek skill apapun yang akan dilontarkan oleh pedang Leo saat membunuhku.
Jika taruhanku salah? Mungkin aku akan kehilangan kekuatanku sebagai seorang Summoner. Mungkin lebih buruk lagi, aku akan kehilangan Legendary Skill : Dungeon Master milikku. Tapi jika berhasil… mungkin saja….
“Tenanglah, Elin. Aku akan memberikanmu waktu. Sekarang berbalik!” Teriakku. Elin dengan segera menuruti perkataanku.
Setelah berputar balik, kami berdua kini berlari ke arah Utara. Tujuannya? Pegunungan Alpa, Dungeon Origin.
Leo yang melihat kami berdua berbalik arah sedikit kebingungan. Tapi sorot matanya masih penuh akan kebencian. Tak ingin kehilangan kami berdua, terutama aku, Leo segera berputar dan kembali berlari ke Utara.
Pada saat itulah….
“E-Eric?! Apa yang kau lakukan?!” Teriak Elin setelah melihatku melompat turun dari tubuhnya.
“Elin! Cepat kembali ke Dungeon dan mintalah bantuan kepada para monster yang ada di sana! Aku akan menahannya disini!” Teriakku dengan keras kepada Elin.
“A-apa yang kau….”
“Cepat lakukan! Bawa mereka semua kemari lalu bunuh Inquisitor sialan ini!” Teriakku dengan sangat keras memotong perkataan Elin. Ia dengan segera menuruti perkataanku dan lari kembali menuju ke Dungeon Origin.
“Memangnya aku akan membiarkanmu kembali meminta bantuan?!” Teriak Leo. Ia dengan segera berusaha untuk mengejar Elin tapi tiba-tiba kakinya terpeleset pada suatu cairan yang licin.
‘Bruuk!!’
“Hahaha! Memalukan sekali! Bukankah kau bilang tidak akan terkena trik rendahan ini?!” Ucapku sambil berusaha untuk memprovokasinya.
Namun mata Leo masih terpaku pada Elin. Ia sadar bahwa membiarkan Elin pergi sangatlah berbahaya mengingat kecepatan larinya. Jika Leo terlembat sedikit saja, maka Ia takkan mampu mengejar Elin. Jika Elin sampai ke dalam Dungeon dan meminta bantuan lebih banyak monster, Leo tidak tahu apakah dia bisa melawan mereka semua sendirian dengan kondisinya yang sudah sangat kelelahan.
Mengetahui Leo yang sedang dilema, aku mengucapkan sebuah kalimat yang pastinya akan membuatnya tertuju padaku.
“Inquisitor… jika kau tidak segera menghentikanku…. Demon Summoning! Aku akan memanggil….” Ucapku.
Namun sebelum kalimatku selesai, bilah pedang Leo sudah menusuk dadaku.
[Anda telah menerima 13.549 damage!]
‘Berhasil!’ Teriakku dalam hati. Aku menoleh sesaat dan mengetahui Elin telah berlari cukup jauh.
‘Tapi… kenapa skill Demon Summoning tidak aktif? Manaku telah berkurang…. Bahkan aku sudah mengorbankan seluruh monster yang ada di dalam Soul Container milikku....’
“Kau!!! Berniat untuk kembali memanggil iblis?! Apakah kau memang ingin menghancurkan dunia ini?!” Teriak Leo.
__ADS_1
Mendengar perkataanya, aku hanya bisa melanjutkan provokasiku tanpa memikirkan hal kecil lainnya.
“Apapun akan kulakukan untuk keselamatanku! Kecuali jika kau….”
‘Slaassh!!!’
[Anda telah menerima 26.412 damage!]
[Damage yang Anda terima sangat besar!]
[Anda menerima efek Stun selama 1 detik!]
‘Dasar monster!’ Pikirku dalam hati melihat notifikasi damage yang kuterima.
Tak ingin berakhir tanpa perlawanan, aku melontarkan sihir Magic Barrage tepat di wajah Inquisitor itu.
‘Duaar! Duaarr!! Duuuuaa!!!’
60 Peluru sihir meledak tepat di wajahnya, entah seperti apa wajahnya sekarang, tapi aku yakin tidak terlalu banyak terluka. Kenapa aku bisa tahu?
[Anda telah memberikan 182 damage!]
[Anda telah memberikan 197 damage!]
[Anda telah memberikan 124 damage!]
[Anda telah memberikan …. ]
‘Hahaha… aku sudah tahu hasilnya akan seperti ini….’ Pikirku dalam hati. Akupun menanti saat-saat terakhirku. Menunggu saat yang tepat saat Leo akan membunuhku.
“Nampaknya aku memang harus membunuhmu disini! Entah bahaya seperti apa yang akan muncul jika aku membawa monster sepertimu ke Katredal Suci!” Ucap Leo sambil memandangiku.
Leo dengan segera memegang pedang suci miliknya dengan kedua tangannya.
“Semoga Dewi Celestine akan memberikan hukuman terberat kepadamu! Divine Judgement!” Teriak Leo. Seketika pedang itu diselimuti oleh cahay yang terang.
‘Sudah kuduga! Nama skill itu…. Jangan-jangan?! Dispell!’
Sesaat setelah teriakan Leo, pedang suci miliknya telah menancap di jantungku. Notifikasi yang sangat banyak dan menjijikkan muncul di hadapanku.
[Anda telah menerima penghakiman dari Dewi Celestine!]
[Anda menerima 197.408 damage!]
[HP Anda telah mencapai 0]
[Anda telah mati!]
[Menerapkan Penalti Player Kill (PK)]
[Anda telah membunuh 1.178 Player!]
[Penurunan level sebesar 83 level]
[Restriksi Log In selama 15 hari!]
[Item telah jatuh!]
[Wicked Crown +10 telah jatuh!]
[Staff of Enigma +12 telah jatuh!]
[Efek Khusus : Enigmatic Property telah aktif! Item gagal dijatuhkan!]
[8.729 Koin Emas telah jatuh!]
'Si-sialan! Aku menerima hukuman sebesar ini dari PK saat perang itu?!' Teriakku dalam hati.
[Efek Skill : Divine Judgement telah aktif!]
[Dewi Celestine akan memberikan hukuman yang pantas untukmu!]
[Dewi Celestine telah memutuskan hukuman!]
[Penurunan level hingga ke level 1]
[Penambahan restriksi Log In selama 30 hari!]
[Legendary Skill : Dungeon Master akan dihapus!]
[Efek Skill : Dispell telah aktif!]
[Efek pengurangan level gagal dihilangkan!]
[Efek restriksi Log In gagal dihilangkan!]
[Efek penghapusan Skill gagal dihilangkan!]
‘Sialan! Apa yang aku pikirkan?! Tentu saja skill Dispell tidak akan berguna di hadapan Skill mutlak milik seorang Dewi!’ Teriakku putus asa melihat notifikasi itu.
[Player : Eric telah kembali ke level 1]
[Restriksi Log In selama 45 hari telah diterapkan!]
[Memulai penghapusan Skill : Dungeon Master]
[…. 1%]
[…. 2%]
__ADS_1
‘Apakah ini akhirnya?’ Pikirku dalam hati dengan lemas. Sebuah skill legendaris yang kuperoleh dengan keberuntungan…. Tentu saja orang sepertiku tidak pantas untuk memiliki skill ini….
[…. 9%]
‘Apa yang aku pikirkan?! Kenapa aku berlagak sombong seperti itu?!’
[…. 17%]
‘Bisa berpikir sekali seumur hidupku… kurasa aku terlalu besar kepala….’
[…. 24%]
‘Rina…. Nampaknya aku tidak lagi mampu menghasilkan uang melalui permainan ini seperti sedia kala….’
[…. 41%]
‘Elin… maafkan aku…. Seharusnya aku meminta saranmu….’
[…. 59%]
‘Chris…. Terimakasih telah mendengarkan permintaan bodohku….’
[…. 72%]
‘Elin…. Jika kau telah sampai di Dungeon…. Aku mohon jangan marah…. Kau tahu kan aku melakukannya untuk keselamatan mereka semua?’
[…. 81%]
‘Ah… Obelisk. Maafkan aku…. Nampaknya aku….’
Aku hanya mampu berpikir di tengah kesunyian ini. Selama proses penghapusan skillku berlangsung, tubuhku tetap tertahan di dunia virtual ini meskipun memiliki HP sebesar 0 poin.
Aku juga mampu melihat Leo telah pergi untuk mengejar Elin. Sebelum meninggalkanku, Leo mengambil mahkota jahat milikku. Entah apa yang akan Ia lakukan dengan barang itu.
[…. 87%]
[…. 88%]
[…. 89%]
[…. 90%]
[…. 91%]
“Menyedihkan sekali….” Ucap seorang wanita yang ada di sebelahku. Aku sama sekali tidak menyadari kehadirannya hingga sekarang.
Ia memiliki rambut pirang yang panjang hingga menyentuh pinggangnya. Di kepalanya terdapat sebuah topi kecil. Wanita itu mengenakan sebuah gaun dengan kombinasi warna antara merah dan hitam yang menutupi dari leher hingga mata kakinya.
Di tangan kanannya terdapat sebuah tongkat sihir yang nampak terbuat dari tulang suatu monster. Bahkan di ujung tongkat itu masih tampak jelas cakar dari monster itu yang memegang bola sihir berwarna merah pekat.
“Aku akan menyelamatkanmu kali ini. Tapi aku akan menagih bayarannya nanti setelah kau dihidupkan kembali….”
[…. 96%]
“Retrieve Skill…. Storage….”
[Asmodeus mencoba untuk mengambil Skill Anda!]
[Anda telah mati!]
[Tidak dapat melakukan tindakan apapun!]
[Tidak dapat menolak pengambilan Skill!]
[…. 98%]
“Pengambilan skill selesai… kemudian…. Agar aku dapat menemukanmu kembali nanti.... Contract Skill : Demon Mark - Locate.”
[Legendary Skill : Dungeon Master tidak dapat ditemukan!]
[…. 100%]
[Proses penghapusan Legendary Skill : Dungeon Master telah selesai]
[Bersiap untuk Log Out secara paksa]
“Kemudian.... Grant Skill. Legendary Skill : Dungeon Master.”
[Anda telah memperoleh Legendary Skill : Dungeon Master!]
“Jangan lupakan kebaikanku kali ini.... Aku harap kau mengerti apa maksudnya itu.” Ucap wanita misterius itu yang segera menghilang.
‘Eh? Apa-apaan ini?!’ Pikirku dalam hati setelah melihat kejadian ini.
...[Log Out berhasil]...
...[Memindahkan kesadaran kembali ke dunia nyata!]...
...___________________________________...
...[Sebelum lanjut membaca]...
...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...
...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...
...[Tak ada ruginya bagi kalian]...
...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...
__ADS_1