The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 187 - Kembali ke Dunia Virtual


__ADS_3

...Nishinari, Jepang...


...Rumah Sakit...


“A-aku….”


Akemi nampak kesulitan untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya. Setelah beberapa saat, akhirnya Ia memberanikan dirinya.


“Aku ingin ikut denganmu dan membantu Eric. Apapun…. Aku akan melakukan apapun, maka dari itu tolong….” Ucap Akemi dengan mata yang berkaca-kaca.


Lisa nampak tersenyum tipis mendengar hal itu.


“Kalau begitu, kau harus membuktikan dirimu. Tuan Erik tidak menerima orang yang tak kompeten.” Ucap Lisa sambil menjabat tangan Akemi.


“Sekali lagi…. Terimakasih telah mengeluarkanku dari neraka itu. Meskipun Eric tak menangkapku…. Kelakuan Pria tua sialan itu pasti tetap sama kepadaku. Mungkin hingga aku benar-benar kehilangan diriku sendiri.”


Pada saat itulah….


Tanpa Erik sadari, Ia telah membangkitkan salah seorang pendukung terkuat untuk mendukungnya di masa depan.


...***...


...Kulon Progo, Indonesia...


...Pukul 22.41...


“Tuan? Tuan Erik?”


“Uh? Apa? Ada apa?” Tanyaku kebingungan sambil membuka mataku.


Aku pun tersadar bahwa aku baru saja tertidur selama menjalankan rapat ini.


“Maafkan diriku karena telah tertidur di rapat penting ini. Sampai mana tadi?” Ucapku sambil mengelap wajahku dengan sapu tangan.


“Tuan Erik…. Kurasa lebih baik Anda beristirahat dan….” Ucap salah seorang eksekutif dengan wajah yang dipenuhi dengan rasa khawatir.


“Tidak. Jangan pikirkan tentang diriku. Ayo kita lanjutkan rapatnya.” Balasku memotong perkataannya.


Mendengar perkataanku, seluruh eksekutif yang berjumlah lebih dari 30 orang itu segera berdiri. Termasuk juga asisten mereka.


Aku yang melihat hal itu menjadi sedikit kebingungan.


“Apa yang ka….”


Sebelum aku sempat menyelesaikan perkataanku, mereka segera membungkukkan badan dan berbicara dengan serentak.


“Kami mohon! Beristirahatlah, Tuan Erik! Biarkan kami menangani sisanya!”


“Eh? Apa maksud ka….”


‘Sreeett!’


Seorang…. Tidak. Dua orang pemuda yang merupakan eksekutif itu segera menarik tubuhku dari kursi.


“Apa yang kalian lakukan?”


“Kami tak sanggup membiarkan Anda kelelahan seperti itu setelah semua kebaikan yang Anda berikan. Jadi kumohon, biarkan kami bertindak egois sesekali.” Ucap salah seorang pemuda yang menarikku itu sambil tersenyum sedih.


Mereka kemudian menarikku hingga ke dalam lift dan membawaku ke lantai paling atas yang bisa diakses. Bagian keamanan.


‘Ting!!’


“Cukup. Aku bisa berjalan sendiri.” Ucapku sambil melepaskan pegangan mereka.


“Tuan Erik. Serahkan saja masalah rapat itu pada seluruh eksekutif. Anda tak perlu merepotkan diri untuk membahas masalah sepele seperti itu.” Ucap salah seorang pemuda itu sambil sedikit membungkukkan badannya.

__ADS_1


“Baiklah. Kalau begitu, aku akan menerimanya.” Ucapku sambil tersenyum.


Setelah itu, mereka kembali masuk ke dalam lift untuk kembali menghadiri rapatnya. Tentu saja, aku segera berjalan ke arah kamarku.


“Selamat malam, Tuan Erik.” Sapa salah seorang petugas keamanan.


“Selamat malam.”


Sesampainya di kamar….


‘Dasar…. Hanya karena dia telah memakai skill Imitator untuk meniru skill Summoning dan Contractor milikku…. Bisa-bisanya membolos bekerja selama hampir 2 minggu ini. Kurasa aku akan membalasnya nanti.’ Ucapku dalam hati sambil tersenyum.


Di ujung pandanganku, terlihat 2 buah mesin VR dimana salah satunya sedang digunakan. Oleh siapa? Tentu saja Elin.


‘Bruk!’


Setelah melemparkan diriku di ranjang yang empuk itu, aku segera tertidur dalam hitungan detik.


...***...


...Keesokan Harinya...


...Dungeon Origin...


Di dalam kastil ini….


Terlihat hiasan ruangan yang begitu indah. Termasuk penjaga yang begitu kuat untuk menjaga keamanan ruangan ini.


Akan tetapi….


“Sekarang. Apa penjelasanmu?” Tanyaku kepada seorang gadis berambut kemerahan.


“Hehehe…. Aku hanya keasikan bermain. Tak kusangka skill Summoning ini begitu seru!” Ucap gadis itu sambil menjulurkan lidahnya dan memejamkan salah satu matantya.


‘Plak!’


“Hahaha! Bukankah kau yang memilih untuk menikahiku?!” Balas gadis yang tak lain dan tak bukan adalah Elin. Ia nampak mengubah ekspresi wajahnya sedemikian rupa hanya untuk satu tujuan. Yaitu mengejekku.


‘Jleeb!!’


“Jika kau tidak segera Log Out, aku terpaksa akan membunuhmu disini.” Ucapku sambil menusukkan sebilah pedang tingkat Rare yang ada di Inventoryku.


“Iya iya…. Dih, punya suami galak susah juga ternyata.” Balas Elin sambil menekan beberapa tombol di jendela menunya.


“Kau sudah bermain game selama lebih dari 18 jam sehari dalam waktu 2 minggu ini!”


Sesaat sebelum tubuhnya mulai menghilang, Elin nampak menjulurkan lidahnya sekali lagi.


“Hah…. Sialan….”


Aku pun segera meninggalkan ruangan itu dan menuju ke Dungeon milik Deus.


Tentu saja aku tidak akan melakukan hal aneh seperti berjalan kaki, melainkan menggunakan lingkaran sihir teleportasi untuk memindahkanku langsung ke istananya.


Segera setelah aku sampai di sana….


“Yoo, Eric. Apakah kau datang untuk memuji diriku yang agung ini lebih lanjut?” Ucap Deus dengan menirukan suara seorang laki-laki. Ia nampak duduk dengan santai di singgasana emasnya.


“Kumohon hentikan itu…. Tapi yah… terimakasih banyak atas bantuanmu mengenai insiden dengan Scarlet. Terutama, terimakasih karena telah membantuku mengambil Skill Imitatornya itu dan memberikannya kepada Elin.” Balasku sambil tersenyum tipis.


Mendengar hal itu, Deus nampak tersenyum lebar sambil meneguk cairan berwarna merah di gelasnya.


‘Glek! Glek!’


“Fuaah…. Jadi? Apa yang kau inginkan kali ini?” Tanya Deus setelah menghabiskan minumannya.

__ADS_1


“Aku hanya ingin menemui Tasmith.” Balasku singkat sambil menata Item di Inventoryku.


“Eh?! Bukan untuk meminta bantuanku?! Padahal kau bisa meminta bantuan lagi dariku kau tahu?!” Teriak Deus dengan nada agak kesal.


“Mungkin lain kali.”


Tapi aku hanya membalas singkat dengan senyuman dan lambaian tangan. Dengan segera, aku meninggalkan istana itu dan berjalan ke tempat Tasmith.


Meski dibilang berjalan, tempat penempaan Tasmith sangatlah dekat. Ia berada di bawah tanah istana ini dan tinggal bersama dengan Liz.


Sesampainya disana….


‘Trruk! Trrruk!’


Tasmith terlihat sedang memahat suatu permata dengan sangat hati-hati. Sedangkan Liz nampak menggunakan sihir petir tingkat tinggi untuk memberikan atribut pada permata berwarna biru tua yang sangat indah itu.


“Ah? Eric? Tunggu sebentar. Hanya sedikit lagi.” Ucapnya sambil segera melanjutkan pekerjaannya. Aku pun hanya mengangguk dan duduk di salah satu kursi.


‘Jedaaarr!! Zraaatt!!!’


‘Trraak! Traak!’


Sambaran petir dari Liz dan pahatan sempurna dari Tasmith terus berlanjut.


Satu jam….


Dua jam….


Empat jam….


Satu hari….


Dua….


“Tunggu dulu kenapa aku duduk diam disini selama itu?!” Teriakku dengan keras setelah menyadari aku telah duduk dan menonton MeTube selama hampir 2 hari di dunia virtual ini.


Akan tetapi, Tasmith tak menjawab perkataanku.


Mewakili Tasmith, Liz nampak menoleh ke arahku dan meletakkan jari telunjuknya yang lenting itu di depan bibirnya. Mengisyaratkan diriku untuk tetap tenang.


Beberapa jam kembali berlalu dengan diriku yang duduk terdiam di tempat ini.


Hingga pada akhirnya….


Itu semua terjadi dengan tiba-tiba.


Bahkan aku tak pernah sedikitpun menyangkanya.


Sebuah notifikasi sistem, muncul di hadapanku dengan warna emas yang begitu indah.


...[Pengrajin Permata Legendaris telah Terlahir!]...


...[Seluruh dunia kagum atas keindahan kerajinannya!]...


Aku hanya bisa membuka mata dan mulutku lebar-lebar ketika melihat notifikasi itu.


Bersamaan dengan itu, Tasmith yang sedari tadi hanya terdiam mulai bergerak. Tubuhnya yang kini masih dibalut dengan cahaya emas yang indah itu nampak berjalan mendekatiku.


Dari perawakannya yang lebih menyerupai manusia dengan karakteristik serigala itu….


“Aku mempersembahkan mahakarya ini untukmu, Tuanku.” Ucapnya sambil berlutut di hadapanku.


Tasmith mengangkat dua buah topeng perak. Topeng itu memiliki alur segi enam dengan warna biru menyala yang terdapat garis dari tiap sudutnya hingga ke sisi terluar.


Sedangkan di bagian atas topeng itu, terlihat sebuah permata berwarna biru tua yang sangat indah. Permata itu memancarkan cahaya biru yang cukup terang, dan mengalir ke seluruh alur di topeng itu.

__ADS_1


Bahkan tanpa melihat informasi status dari topeng itu, aku bisa merasakannya. Sebuah kekuatan yang terpancar dari salah satu permata paling langka di dunia ini.


Tanzanite.


__ADS_2