
...Dungeon Origin...
...Lantai 21...
"Apakah kau yakin dengan itu, Tuan Eric?" Tanya seorang Goblin dengan tubuh yang cukup kekar itu, Oliver.
"Ya. Aku hanya butuh satu ruangan yang sangat besar dan akan ku pasangi seluruh sisi tempat itu dengan jebakan. Bisakah kau membangunnya hanya dalam 3 hari?" Tanya Eric kepada Oliver yang saat ini sedang berdiskusi dengan para bawahannya.
Setelah berpikir selama beberapa saat, Oliver segera menjawabnya.
"Hal yang mudah, Tuanku. Serahkan saja padaku."
Eric lalu segera meninggalkan tempat itu untuk menemui sosok vampir yang sedikit tidak waras baginya. Yaitu Catherine atau biasa dipanggil dengan nama Cathy.
"Yo, Cathy. Bagaimana kabarmu?" Tanya Eric yang sedang berdiri di depan fasilitas riset Slime itu.
"Bwawik bwawik swajwa twuankwu." Balas Cathy dengan mulut yang dipenuhi semacam jeli dengan berbagai warna.
Eric yang melihat tingkah Cathy seperti biasanya tak lagi terkejut.
"Telan dulu baru berbicara." Ucap Eric sambil duduk di sebuah kursi kayu itu.
Beberapa saat berlalu dimana Eric harus menunggu Cathy menelan 6 buah Slime yang ada di mulutnya itu. Hingga akhirnya, Cathy menyusul Eric dan duduk di sebelahnya.
"Jadi, bagaimana dengan perkembangan penelitian Slimenya?" Tanya Eric dengan ringan. Sejujurnya Eric sama sekali tidak mengharapkan mengenai penelitian ini. Ia membiarkan Cathy melakukannya karena permintaan Deus untuk meneliti Slime.
Tapi jauh di luar dugaan Eric itu....
"Slime regenerasi tingkat tinggi generasi pertama telah terlahir, Tuanku. Saat ini hanya ada 3 dari mereka. Meski begitu, kemampuan regenerasi itu sangatlah luarbiasa."
Eric yang sedikit terkejut mendengar pernyataan itu segera bertanya.
"Seberapa kuat regenerasinya?"
"Jika seluruh tubuhnya dihancurkan sekalipun, hanya butuh waktu selama 3 menit untuk memulihkannya kembali ke keadaan semula."
Itu adalah kekuatan regenerasi yang sangat luarbiasa bagi ukuran makhluk hidup di dunia ini. Dengan kata lain, Slime itu meregenerasi 0.5% Health Point miliknya setiap detik. Sebuah angka yang mengerikan jika pemilik skill itu juga memiliki Health Point yang sangat tinggi.
Tapi seakan belum cukup....
"Bahkan ketika tubuhnya terus dipotong-potong, Ia tetap melakukan regenerasi. Nampaknya regenerasi ini selalu aktif setiap saat." Lanjut Cathy.
Eric yang segera menyadari betapa berharganya Slime itu memerintahkan Cathy untuk melanjutkan penelitiannya.
"Katakan saja apapun yang kau butuhkan kepada Oliver. Aku akan memenuhi semua permintaanmu. Jika bisa, buatlah sesuatu yang lebih kuat lagi daripada slime yang ada saat ini." Ucap Eric sambil segera berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Cathy pun juga ikut berdiri dan sedikit membungkukkan badannya serta memberikan hormat kepada Eric.
"Sesuai dengan keinginan Anda, Tuanku."
Saat ini, pikiran Eric dipenuhi dengan imajinasi yang sangat liar.
'Bagaimana jika skill legendaris [Assimilation] milikku mampu mengasimilasi beberapa monster sekaligus? Jika hal itu bisa dilakukan, maka atribut spesial dari Slime itu sangatlah berharga bagiku. Terlebih lagi...."
Eric pun melanjutkan langkah kakinya untuk menemui setiap orang penting yang ada di dalam Dungeon Origin ini. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan segala hal yang diperlukannya dalam melawan Abaddon.
...***...
...Dunia Nyata...
...8 Agustus 2074...
...[HEADLINE NEWS!]...
...[Tanah berwarna hitam terlihat muncul di Kota Kematian, Lesta!]...
...[Tanah ini dikabarkan dapat membunuh apapun yang menyentuhnya! Termasuk Player!]...
...[Tanah hitam yang kini lebih dikenal dengan nama Tanah Kematian ini semakin luas setiap harinya! Apa yang sebenarnya terjadi?]...
Berita yang mengulas mengenai tanah hitam di sekitar Kota Lesta mulai memanas.
AdventureLife yang lebih akrab dipanggil Ael, bersama dengan 3 orang rekannya memutuskan untuk bertindak nekat dan menerobos batas yang seharusnya tak diperbolehkan oleh perjanjian antara Gereja Suci dengan Necromancer Evan.
Sebuah perjanjian dimana tak seorang pun boleh mendekati Kota Lesta.
Tapi saat ini, semua orang sangat bersyukur karena ketiga orang itu memutuskan untuk menerobos dan mengabarkannya kepada seluruh dunia atas kejadian ini.
"Kami memang hanya bermodalkan nekat saja. Jika kami mati, maka kami akan beristirahat selama beberapa hari sebelum kembali memasuki dunia game ini untuk berpetualang." Jelas Ael yang sedang diwawancarai oleh wartawan itu.
Bersamaan dengan berita itu, pasukan dari Kerajaan Farna telah bersiap untuk menyerbu Kota Lesta.
Salah satu sesi wawancara yang dilakukan kepada Raja dari Kerajaan Farna yaitu Arlond berlangsung cukup singkat.
"Bagaimana hasil penaklukan Kota Lesta itu?" Tanya seorang wartawan tanpa basa basi sama sekali.
"Buruk. Setiap orang yang melangkahkan kakinya ke tanah hitam itu segera terbakar. Pada akhirnya, kami mencoba berbagai cara dengan meletakkan papan kayu di atas tanah itu sebagai pijakan. Awalnya semua berjalan dengan lancar dimana papan kayu itu tidak hancur lebur.
Tapi segera setelah salah seorang Prajurit berjalan di atasnya, tangan-tangan yang seakan berasal dari balik tanah hitam itu segera meraih kaki Prajurit itu. Untung saja aku bisa menyelamatkan mereka semua meskipun mereka mengalami luka yang cukup parah."
Meski beberapa orang menilai tindakan Arlond sedikit buruk bagi citra Kerajaan Farna karena mengorbankan pasukannya, tapi tindakan Arlond ini memperjelas mengenai cara kerja tanah kematian itu.
__ADS_1
Yang pertama, seseorang tidak akan mati secara langsung ketika menginjak tanah kematian itu. Kecepatan kematian akan bergantung pada seberapa besar level dan juga Health Point yang dimiliki oleh orang atau makhluk yang melangkahkan kakinya ke dalam tanah kematian itu.
Kemudian kedua, benda mati sama sekali tak terpengaruh oleh tanah kematian itu. Dengan kata lain, tanah hitam itu hanya mengincar makhluk hidup.
Dan yang terakhir, terdapat tangan-tangan yang akan menarik siapapun yang berjalan terlalu lama di atas tanah kematian itu.
Beberapa informasi berharga itu membuka mata semua orang mengenai kebenaran dari tanah hitam itu.
Pada akhirnya, Arlond dan pasukannya segera mundur karena tak bisa melakukan apapun terhadap tanah kematian itu. Mereka beberapa kali mencoba menghancurkan tanah hitam itu dengan pelontar batu Trebuchet ataupun dengan sihir.
Tapi semua itu sia-sia karena tanah hitam itu mencapai bahkan bagian terdalam dari tanah yang ada.
...***...
Beberapa hari kemudian di dunia game....
Di hadapan sebuah ruangan raksasa dengan dinding batu yang sangat kokoh itu, terlihat seorang Pria berambut hitam yang sedang berdiri di tengah-tengahnya bersama dengan seorang wanita berambut pirang yang panjang dengan tongkat dari tulang hewan buas itu.
...[Tentukan Efek Khusus yang Anda inginkan!]...
Notifikasi sistem itu muncul di hadapannya. Dengan segera, Pria itu mengetikkan isi dari efek khusus Dungeon tersebut.
...[Efek Khusus - Peningkatan Status ketika Melawan Raja Iblis Abaddon telah ditentukan!]...
Pria berambut hitam yang tak lain adalah Eric itu tersenyum tipis setelah menyadari bahwa efek khusus itu diterima oleh sistem.
"Jadi bagaimana?" Tanya Wanita yang ada di belakangnya yang tak lain adalah Deus.
"Semuanya baik-baik saja. Semoga aku bisa memperoleh efek yang cukup kuat."
Mereka berdua menanti dengan sabar akan notifikasi sistem yang berikutnya. Pada saat itu juga....
...[Penentuan Efek Khusus Berhasil!]...
...[Seluruh Status makhluk hidup selain Raja Iblis Abaddon akan meningkat sebesar 500%]...
...[Raja Iblis Abaddon akan menjadi 40% lebih lemah ketika berada di dalam Dungeon ini!]...
...[Damage yang diberikan oleh Raja Iblis Abaddon akan berkurang sebesar 50% ketika berada di dalam Dungeon ini!]...
...[Damage dari seluruh serangan yang diarahkan kepada Raja Iblis Abaddon akan meningkat sebesar 100%]...
...[Dungeon Penghakiman telah resmi didirikan!]...
Dan dengan begitulah, sebuah ruangan berbentuk kubus yang sangat besar itu selesai dibangun. Seluruh sisi ruangan ini dipenuhi dengan jebakan yang dipasang oleh Eric. Dan tentunya, efek khusus yang ada di dalam Dungeon ini seharusnya mampu untuk mengalahkan Raja Iblis Abaddon.
__ADS_1
"Kerja yang bagus Eric. Sekarang, bagaimana caranya menjebak Abaddon itu agar masuk ke dalam Dungeon ini?" Ucap Deus sambil tersenyum lebar.