
“Tembakkan panahnya!” Teriak Agmar dengan suara yang lantang.
‘Syuuutt! Syyuuuu!!’
Ratusan anak panah segera melesat ke udara. Arah bidikan mereka sangat sempurna. Bagaimana lagi, mereka adalah Prajurit bawahan langsung dari Agmar. Tentu saja mereka kuat walaupun memiliki moral yang cukup rendah karena Agmar sering membuat bawahannya mati.
‘Jleb! Jleeb!!’
Sebagian besar panah itu menusuk monster yang memiliki wujud seperti manusia namun hanya terdiri dari tulang belulang saja.
Beberapa diantara mereka nampak terjatuh. Tapi mereka tidak mati, melainkan hanya kehilangan kemampuan gerak mereka saja.
Tangan…. Kaki….
Beberapa bagian tubuh dari Skeleton itu mulai hancur satu per satu setelah menerima hujan panah dari balik dinding kayu di desa itu.
Meski begitu, Evan terus memimpin pasukan itu tanpa berhenti.
Sesekali, panah menancap pada tubuh Evan. Sedangkan notifikasi yang muncul sama sekali tidak menarik minatnya.
[Anda telah menerima 41 damage!]
Saat pasukan Undead yang dipimpin oleh Evan mulai mendekati dinding itu, terdengar ucapan lirih dari Evan.
“Minum ini.” Ucapnya sambil melemparkan botol berisi cairan berwarna merah gelap ke arah Iblis bermata satu, Cyclops.
Cyclops itu segera mengangguk dan meminumnya.
Seketika, tubuh manusianya mulai hancur. Kini, yang muncul hanyalah keputusasaan.
Tubuh Cyclops itu mulai membesar hingga mencapai ukuran 5 meter. Ia menggunakan tubuhnya itu untuk merobohkan dinding kayu yang melindungi desa.
‘Duaaaarrr!!!’
Suara benturan yang sangat keras terdengar ketika Cyclops itu menubrukkan tubuhnya ke dinding. Tak berhenti disana, Cyclops itu juga terus mengayunkan pukulannya ke berbagai arah secara membabi buta.
“A-apa maksudnya ini?!”
“Tidaaaak!!!”
“Tolong! Kakiku tertancap di potongan kayu ini!!!”
Prajurit yang terjatuh dari dinding itu mulai panik. Tapi Evan sama sekali tak memberi jeda.
“Pria dengan zirah mengkilap itu cukup kuat. Bisakah kau menanganinya?” Ucap Evan kepada Lilith.
“Tentu saja.” Balasnya dan segera terbang untuk mendekati Pria bernama Agmar itu.
‘Klaaangg!!!’
Lilith memukul Agmar sekuat tenaga. Tapi Agmar mampu menahan pukulan itu dengan perisainya.
[Anda telah menerima 2.741 damage!]
Notifikasi itu muncul di hadapan Agmar.
‘Sialan! Bukankah aku sudah menahan pukulannya? Iblis ini…. Sekuat apa dia sebenarnya?’ Pikir Agmar dalam hati.
__ADS_1
“Powered Slash!” Teriak Agmar.
Ia segera mengayunkan pedangnya ke arah leher Lilith dengan kecepatan yang sangat tinggi.
‘Slaaash!’
Agmar berhasil melayangkan sebuah serangan yang tepat mengenai leher Lilith. Akan tetapi, tebasannya itu kurang dalam karena Lilith mampu merespon dengan cepat dan menghindarinya.
[Anda telah memberikan 1.329 damage!]
Terlihat senyuman yang lebar di wajah Agmar. Ia yakin bahwa dirinya mampu memenangkan pertarungan ini setelah melihat salah satu skillnya mampu memberikan cukup banyak damage meskipun sedikit meleset.
Tapi seketika, Lilith melompat ke belakang dan turun dari dinding kayu itu.
Belum sempat kebingungan, sebuah botol dengan cairan berwarna hijau telah melayang tepat ke arah Agmar.
‘Pyaaarr!!!’
Botol itu pecah tepat di wajahnya. Hasilnya?
[Anda telah terkena larutan asam pekat dalam jumlah besar!]
[Tubuh anda telah meleleh karena efek korosi selama 27 detik!]
[Efek korosi terlalu kuat!]
[Anda telah menerima 26.731 damage per detik karena efek korosi!]
[Anda telah menerima …. ]
[Anda telah mati!]
Itu adalah pemandangan terakhir yang dilihat oleh Agmar. Sebuah efek dan damage dari larutan yang belum pernah Ia lihat sebelumnya.
Bahkan dengan item itu, Ia yakin player level 1 sekalipun juga dapat melawan boss tingkat tinggi.
Di pikirannya, hanya ada sebuah pertanyaan yang tersisa.
‘Siapa sebenarnya orang itu? Evan? Bagaimana bisa dia memiliki item seperti ini?’
Bersamaan dengan itu, tubuhnya telah berubah menjadi cahaya putih.
“Ti-tidak mungkin!”
“Je-Jendral Agmar?!”
Seluruh pasukan yang melihat kematian Agmar mulai kehilangan semangat bertarung mereka.
“Ini bohong kan? Jendral Agmar yang terkenal sebagai salah satu Ksatria terkuat di Kerajaan Farna…. Kalah begitu saja?!”
Evan mulai memahami situasinya segera setelah melihat rontoknya semangat bertarung para Prajurit itu. Dengan segera, Ia memerintahkan hal yang sederhana kepada 7 Iblis itu dan juga seluruh Skeleton.
“Bunuh mereka semua. Jangan sisakan bahkan satu orang pun.” Ucap Evan sambil mengeluarkan ramuan yang lainnya.
...***...
Pertempuran itu segera berakhir setelah kematian Agmar.
__ADS_1
Hanya dalam 10 menit….
Semua makhluk hidup, mulai dari manusia hingga hewan liar, telah diburu habis-habisan oleh pasukan Evan.
“3.293 jiwa…. Jumlah yang jauh lebih baik daripada bersusah-susah memburu monster.” Ucap Evan pada dirinya sendiri.
Sementara 7 Iblis yang mengikutinya nampak sedang memimpin para Skeleton itu untuk menjarah apapun yang ada di desa ini. Termasuk juga, perlengkapan tempur para Prajurit barusan.
Kini, para Skeleton yang sebelumnya mengenakan perlengkapan seadanya telah berubah menjadi sosok monster yang mengerikan. Dilengkapi dengan zirah Full Plate Armor, helm, sepatu besi dan juga pedang serta perisai membuat Skeleton itu menjadi jauh lebih mematikan.
“Kurasa aku akan memanggil pasukan yang baru. Raise Undead…. Skeleton Warrior.” Ucap Evan sambil mengangkat tangan kanannya.
Seketika, tanah di sekitarnya berubah menjadi agak gelap. Di balik tanah itu, muncul tangan-tangan manusia yang hanya tersisa tulang saja. Mereka nampak mengenakan perlengkapan ala kadarnya yaitu zirah kulit yang sudah robek serta pedang berkarat.
Jumlah mereka?
Tepat 3.293 Skeleton.
[Skeleton Warrior]
[Ras : Undead]
[Rarity : Normal]
[Level : 31]
Health Point : 11.532
Mana Point : 0
Stamina Point : 2.146
Bukan status yang sangat mengesankan. Meski begitu, kengeriannya akan meningkat seiring dengan jumlahnya yang bisa dikatakan tak terbatas. Jika saja….
“Necropolisku yang ada di wilayah Kekaisaran Avertia telah dihancurkan. Haruskah aku membuat yang baru? Seharusnya, aku menyimpan setidaknya 100.000 jiwa pada saat melawan Sainteess itu. Dengan begitu, aku bisa membangun Necropolis baru yang dapat terus menerus menghasilkan jiwa segar untukku….”
Evan terus berbicara pada dirinya sendiri sambil memainkan botol berisi cairan berwarna kuning di tangan kanannya itu.
Pada saat Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri….
“Tuanku, persiapan telah selesai. Kita bisa bergerak kapan saja.” Ucap Lilith sambil berlutut di hadapan Evan.
“Bagus. Kita akan segera menuju ke Desa terdekat. Segera setelah aku memiliki 100.000 jiwa, aku akan mendirikan Necropolis di salah satu kota.” Balas Evan.
“Tapi…. Menyerang kota kurasa terlalu….” Ucap Lilith dengan wajah yang sedikit ragu.
“Tenang saja. Kerajaan Farna ini sedang dalam kondisi melemah. Itu karena mereka membuang hampir seluruh prajuritnya untuk menyerbu suatu Dungeon.” Balas Evan sambil bersandar di tembok salah satu rumah itu.
Mendengar penjelasan Evan, Lilith nampak tersenyum puas.
Dan begitulah, awal mula Evan mulai terus menerus membawa kematian kepada berbagai desa di bagian Barat Laut Kerajaan Farna.
Tapi tanpa Ia sadari….
Seseorang telah melihat semua aksinya sejak awal.
‘Kurasa ini cukup buruk. Mengingat kemampuannya tak terbatas oleh status, sosok bernama Evan itu mungkin dapat menjadi ancaman terbesar. Terlebih lagi kemampuannya untuk memanggil Undead itu…. Aku harus segera kembali untuk memberitahu Tuan Eric mengenai hal ini.’ Ucap seorang Vampir dalam hati.
__ADS_1
Seorang Vampir bernama Lucien yang hingga kini…. Masih bersembunyi di dalam sebuah bayangan.