The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 21.5 - Sudut Pandang Rina


__ADS_3

...Perhatian!...


...Chapter berikut ini mungkin dapat membuat beberapa pembaca tidak nyaman. Diharapkan kebijakannya dalam membaca....


...Jika tidak siap hati, mending di skip ke chapter berikutnya ...


...(saran : langsung ke chapter 23)...


...Itu karena chapter .5 hanyalah selingan dari plot utama....



'Kenapa menjadi seperti ini?' Tanyaku pada diriku sendiri.


'Jika diingat-ingat kembali, ini semua berawal dari surat ini. Surat terkutuk yang merusak keluarga ini.'


Rina menggumam pada dirinya sendiri sambil merobek-robek secarik kertas di tangannya.


Pada kertas itu terlihat sekilas tulisan pengumuman nilai Rina yang menduduki peringkat satu di sekolah elit itu. Dibawah pengumuman nilai terdapat undangan kepada Rina untuk mengikuti kelas eksklusif. 


Biaya sebenarnya dari kelas ini yaitu Rp. 30 juta per bulannya. Akan tetapi berhubung Rina menduduki peringkat pertama, Ia mendapat keringanan hingga menjadi Rp. 12 juta per bulannya.


'Seandainya aku tidak pernah memberikan surat ini kepada Ayah dan Ibu....'


Air mata mengalir membasahi pipinya yang mulai memerah. 


Ya, Rina mengetahui hal yang tidak diketahui oleh kakaknya, Erik. Setiap pagi sebelum Erik bangun, kedua orangtua mereka selalu berdebat mengenai biaya kelas Rina. Begitu pula sore hari sebelum Erik sampai di rumah. Ayahnya sibuk mencari barang untuk dijual sedangkan Ibunya sibuk menghubungi semua orang untuk meminjam uang.


Setiap saat Rina mengatakan bahwa dia tidak butuh masuk ke kelas itu, Ia selalu dibentak dan dimarahi oleh Ayahnya sambil menyebutkan nama Erik sebagai anak yang gagal.


"Jika kau tidak masuk ke kelas itu dan memperoleh pendidikan biasa maka kau bisa gagal dan menjadi seperti Erik!"


Kira-kira seperti itulah cemoohan yang diberikan kepada Erik. 


'Padahal kakak juga sudah berjuang sebaik mungkin... dia bahkan tidak pernah mengambil satu rupiah pun dari gajinya dan langsung memberikan semuanya kepadaku. Tapi kenapa Ayah selalu bersikap demikian kepada kakak?'


'Aku hanya tidak ingin merepotkan siapapun.'


'Meskipun Ayah dan Ibu berhasil memperoleh pinjaman atau menjual sesuatu dan bisa membayar untuk bulan ini, lalu bagaimana dengan bulan-bulan berikutnya?'

__ADS_1


'Apakah pada akhirnya kita akan hidup di jalanan hanya karena aku?'


'Kenapa?'


Beban pikirannya sangat besar, namun tersembunyi dengan baik dibalik senyum manis yang tiap hari Ia perlihatkan.


Setiap hari rumah terasa seperti neraka. Pertengkaran antara Ayah dan Ibu, Ayah dan anak memperdebatkan hal yang seharusnya tidak perlu. Jika aku tidak masuk kelas itu juga bukan berarti aku tidak bisa hidup. Kenapa tidak ada yang memahami ini?


Itu semua bukanlah beban yang semestinya ditanggung oleh seorang remaja berusia 15 tahun. Meski demikian, Ia mampu bertahan. 


Hingga akhirnya semuanya runtuh.


Ketika sang Ayah mengusir kakaknya dari rumah sebelum mendengarkan penjelasannya.


Tak hanya itu, bahkan sang Ayah menghajar kakaknya seperti sampah.


'Bukankah kakak juga berjuang selama ini? Kenapa? Kenapa harus diusir?'


Ponsel yang Ia letakkan di atas meja bergetar dan menyala menandakan adanya notifikasi masuk.


[Aku baik-baik saja Rina. Sebaiknya kau menuruti apa perkataan Ayah dan Ibu. Berjuanglah, jangan menyerah.]


Pesan dari kakaknya yang baru saja dihajar dan diusir dari rumah.


Air mata yang sudah mulai mengering kembali mengalir. Ia berusaha menguatkan dirinya untuk membalas pesan itu. 


[Memang kakak yang tidak bisa diharapkan! Membuang pekerjaan demi sebuah game? Sudah sepantasnya kakak diusir dari rumah! Oh ya, sebelum mengkhawatirkan diriku, pikirkan dulu mengenai kondisimu!]


Rina tidak ingin membuat kakaknya menjadi lebih khawatir sehingga Ia memutuskan untuk memalsukan perasaannya. Dibalik pesan yang terlihat riang gembira dan penuh ejekan, air mata Rina kini tidak dapat berhenti.


Esok harinya, sebuah truk angkut datang di depan rumah.


Sang Ayah benar-benar menjual peralatan Re:Life kakak, termasuk kapsul VR, komputer, bahkan hingga tempat tidur. Kini kamar kakak benar-benar kosong. 


Aku yang berada di hadapan kedua orangtuaku berusaha sekuat tenaga untuk menahan air mataku dan melebarkan senyumku. 


"Lihat ini Rina. Dengan menjual peralatan dari anak bodoh itu kita bisa memenuhi biaya bulan pertamamu dan masih ada sisa 1 juta Rupiah. Nanti akan kita gunakan untuk merayakan keberhasilan kita!"


"Iya, Ayah."

__ADS_1


Hanya itu yang bisa kuucapkan dan segera berlari keluar. Aku sudah tidak mampu lagi menahan air mata ini. Sepanjang perjalananku ke sekolah aku terus mengusap kedua mataku yang sudah memerah.


Semua teman kelasku menanyakan mengenai diriku. Tapi aku hanya menjawab karena barusan diputuskan oleh pacarku. Haha... pacar.... Jika saja aku punya waktu luang untuk itu.


'Krrriiinggg!!!'


Bel berbunyi dengan kencang dan lama, menandakan kelas telah berakhir. Semua murid dan tenaga kerja dapat pulang ke rumah. Hanya aku, yang masih berkeliaran di lingkungan sekolah yang mulai sepi ini.


'Hanya demi ini.'


Aku memegang pintu sebuah ruangan yang besar.


Di atas pintu terdapat tulisan 'Kelas Eksklusif'.


'Hanya demi ini... semuanya....'


Aku sudah tidak sanggup lagi. Aku tak mampu menahan seluruh emosi yang aku rasakan ini. Hatiku seperti dicabik-cabik. Aku memegang dadaku, berusaha meredakan rasa sakit ini. Tapi itu tak berguna.


'Karena diriku, Kakak, Ayah, Ibu... semuanya....'


Aku telah berdiri di dalam ruang kelas lantai 4. Tak ada satupun orang yang ada di sini. Hanya aku, dan sisa perasaanku.


Langkah demi langkah... aku mendekati ujung kelas ini.


Menuju sebuah jendela yang masih terbuka. 


Kedua tanganku meraih sisi jendela itu, kakiku berusaha untuk menaikinya.


'Ah, Kakak... setidaknya aku harus meminta maaf terlebih dahulu kepadanya.'


Segera aku mengeluarkan ponsel yang ada di saku bajuku dan mengetikkan pesan kepada kakakku.


[Kakak, aku minta maaf jika selama ini aku bersikap buruk kepadamu. Tolong segera berbaikan dengan Ayah dan Ibu. Dan juga, aku mohon biarkanlah aku bersikap egois setidaknya kali ini saja.]


Untuk memperjelas situasinya, aku juga mengambil gambar yang ada di hadapanku. 


Sesaat setelah mengirimkan pesan itu, kesadaranku mulai menghilang.


Aku merelakan diriku pada angin yang berhembus melewati jendela itu. Kupercayakan semua padanya.

__ADS_1


Angin itu menyambutku dengan lembut dan mengantarkanku pada tujuan yang aku inginkan.


'Kematian'


__ADS_2