The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 73 - Kembali ke Dunia Virtual


__ADS_3

Elin tinggal di rumahku selama 3 hari sejak malam itu. Jujur saja aku masih tidak mempercayai semua ini. Tapi semua hal baik pasti akan berakhir.


“Jangan memasang wajah yang menyedihkan seperti itu Erik. Aku hanya akan kembali ke apartemenku di Jakarta.” Ucap Elin sambil memegang pipiku.


“Elin… kau tidak mempermainkanku kan?” Tanyaku dengan mata yang berkaca-kaca. Tentu saja aku takut jika Elin hanya mempermainkanku. Terlebih jika dia juga membully diriku seperti teman kelasku.


Tanpa menjawab pertanyaanku, Elin hanya mendekatkan wajahnya kepadaku.


Semua itu terjadi dengan tiba-tiba.


Sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Aku bahkan tidak bisa mempercayai situasi ini. Di hadapanku nampak jelas sosok Elin yang memejamkan matanya sambil menciumku.


“Erik, aku tidak akan pernah mempermainkanmu. Terlebih lagi kau lah yang menyelamatkanku dari semua masalah yang kumiliki. Untuk sekarang, bersabarlah dengan ini ya? Kita juga akan selalu bertemu di dunia virtual.” Ucap Elin setelah itu.


“Elin….”


“Tenang saja, jika kau merindukanku kau bisa datang ke tempatku kapan saja. Kalau begitu… sampai ketemu lagi, Erik.” Lanjut Elin sambil melambaikan tangannya. Ia pun bergegas melanjutkan langkah kakinya di bandara ini.


Tapi selama mereka berdua bersenang-senang di dunia nyata, terdapat fenomena baru yang aneh di dalam Re:Life.


...***...


...Wilayah Kekaisaran Avertia....


“Ti-tidak mungkin!!!” Teriak seorang Player yang berada di salah satu kota di tengah padang pasir itu.


“Mo-monsternya… menyerbu kota?!”


“Tunggu dulu!!! Kenapa mereka bisa berjalan keluar dari zona Spawn mereka?!”


Setiap monster yang ada di dalam Re:Life hanya mampu untuk muncul dan hidup di wilayah Spawn atau kemunculan mereka saja. Sebagai contoh goblin yang ada di padang rumput Desa Hige hanya akan berdiam disana.


Meskipun terdapat beberapa kasus bahwa monster mendekati pemukiman atau desa, jumlah mereka sangatlah rendah. Tapi tidak untuk kejadian saat ini.


Semua pemain yang ada kebingungan. Tapi NPC tak hanya bingung melainkan ketakutan setengah mati. Itu karena mereka hanya memiliki 1 nyawa.


Di luar dinding kota itu, nampak puluhan ribu monster yang memiliki karakteristik yang sama. Mereka semua merupakan monster dengan jenis Skeleton. Mayat hidup yang hanya memiliki tulang sebagai tubuh mereka.


Beberapa diantaranya mengenakan zirah kulit dan zirah besi. Persenjataan mereka juga sangat beragam. Namun semua perlengkapan mereka nampak usang dan sudah mulai rusak. Meski begitu, mereka tetap mendekat tanpa rasa takut.


‘Klak klak klak!!!’ Suara tulang monster Skeleton itu terdengar begitu mengganggu setiap kali mereka membuat gerakan.


Monster yang berupa mayat hidup, seperti Skeleton sebenarnya tidaklah jarang ditemui. Akan tetapi mereka biasanya terdapat di dalam Dungeon atau reruntuhan kuno. Tidak pernah ditemukan monster Skeleton yang bergerak untuk menyerang pemukiman manusia.


Meskipun melihat keganjilan ini, para NPC yang ada tidak putus asa. Mereka tetap berjuang semampu mereka menghadapi monster itu. Setelah menerima perintah dari komandan pasukan, baik NPC maupun Player berbaris dengan rapi di atas dinding yang tinggi itu.


“Tembak!!!” Teriak seorang NPC yang merupakan penjaga dinding kota itu.


‘Wuoossh wuoossh!!’


Ribuan anak panah melesat secara bersamaan ke arah kumpulan monster Skeleton itu. Tapi sangat disayangkan. Tubuh mereka yang berupa tulang belulang memiliki ketahanan yang ekstrim terhadap panah.


Sebagian besar anak panah yang melesat hanya menembus melewati tubuh mereka yang berlubang. Meskipun ada yang mengenai tulang dari Skeleton itu, kerusakan yang diberikan tidaklah seberapa karena kerasnya tulang mereka.


Tapi diantara semua Skeleton yang menyerbu kota ini, terdapat 1 Skeleton yang aneh. Ia mengenakan sebuah jubah hitam yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Di tangan kanannya nampak sebuah bola sihir berwarna hitam pekat.


Tak hanya itu, Skeleton yang sepertinya memiliki kemampuan sihir itu juga melayang-layang di udara sambil memberikan komando kepada Skeleton yang lainnya!


“Demi para Dewa! Apa-apaan monster ini!!!”


“Tidaaaaak!!! Tolong kami!”


“Kumohon selamatkanlah kami semua! Dewi Celestine! Dewi Julia! Dewa Ares! Dewa….”


Semua orang menyebut nama-nama dewa di dunia ini meminta pertolongan. Wajar saja mereka semua takut karena hanya memiliki 1 nyawa. Jika mereka mati, maka selesai sudah hidup para NPC itu. Meski begitu, tak sedikit pemain yang ketakutan melihat kengerian kelompok Skeleton yang menyerbu kota ini.

__ADS_1


“Sialan! Aku baru saja membuka toko disini!”


“Jangan main-main denganku! Aku baru saja mendirikan bangunan Guild disini!”


Pada akhirnya, para NPC dan Player yang ada di kota itu saling bekerja sama untuk mengatasi serangan monster abnormal itu. Erik dan Elin yang masih bersantai-santai di dunia nyata tentu saja tidak menyadari hal ini.


...***...


...[Besiap untuk memindahkan kesadaran!]...


...[Selamat datang kembali di dunia Re:Life, Eric!]...


Seketika pemandangan yang ada di hadapanku berubah. Aku yang melihatnya terkejut setengah mati. Bangunan-bangunan yang seharusnya telah dihancurkan oleh Chris, kini terlihat berdiri tegak. Bahkan pencahayaan yang seharusnya sangat redup terlihat begitu terang.


Seakan…. Ada matahari?!


“Sialan! Dimana aku! Kenapa ada matahari di dalam….” Ucapku pada diriku sendiri. Tapi aku segera menghentikan ucapanku karena aku sadar.


“Tunggu…. Bukankah ini Desa Hige?!” Teriakku pada diriku sendiri menyadari keadaanku.


“Buahahaha!!! Lihat orang bodoh itu! Dia bahkan tidak sadar dimana dia Log In! Hahaha….” Teriak salah seorang yang ada di dekatku. Ia bahkan mentertawakanku dengan sangat keras bersama kelompok Partynya.


‘Sialan! Apakah aku lupa mengatur Respawn Pointku menjadi Dungeon Origin?!’ Pikirku dalam hati.


Akupun menyegerakan langkah kakiku menuju ke Pegunungan Alpa. Kemana? Tentu saja untuk kembali ke dalam Dungeon Origin.


Jujur saja aku sangat ingin meminta bantuan Alice. Tapi aku merasa sangat tidak enak untuk terus menerus meminta bantuannya. Terlebih lagi aku sudah berhutang terlalu banyak pada Guild Salvation karena mau mengikuti permainan sandiwaraku demi menyelamatkan Dungeon.


Tapi tanpa kusadari…. Beberapa orang telah mengamati pergerakanku hingga saat ini.


“Bagaimana dengan orang itu? Perlengkapannya nampak cukup mahal.” Tanya seorang Pria paruh baya dengan rambut yang berwarna abu-abu.


“Dia sepertinya target yang sangat menarik Bos!” Jawab seorang Pria berbadan kurus di sebelahnya. Ia nampak sibuk mengamati Eric.


“Ho? Katakan padaku!”


“Hah?! A-apa?! 11 ribu koin emas?!”


“Jangan bercanda! Tidak mungkin ada….”


Semua orang di kelompok itu nampak sangat terkejut dan tidak percaya dengan perkataannya. Tapi Pria kurus itu masih terus berbicara.


“Dan lebih hebatnya lagi…. Player itu masih level 1.” Teriak Pria itu dengan kegirangan.


“Oh! Aku paham! Dia seorang anak sultan di dunia nyata lalu menukarkan banyak uang untuk koin emas! Lalu bagaimana Bos? Apakah kita akan merampasnya?” Ucap Pria di sebelahnya.


“Apakah kau bisa melihat kemampuan perlengkapannya menggunakan Greedy Eyes milikmu?” Tanya si Bos paruh baya itu dengan sedikit rasa khawatir. Tentu saja karena tidak terdapat batasan level dalam menggunakan perlengkapan di Re:Life, maka Player sultan cukup berbahaya untuk dirampok. Bisa jadi mereka memiliki Item yang sangat kuat.


“Sayang sekali aku tak dapat mengetahui kekuatan Itemnya jika dari jarak sejauh ini. Skill milikku hanya bisa digunakan untuk mengamati jumlah koin emas dan level yang dimiliki seseorang.” Jawab Pria kurus itu.


“Bukankah zirahnya terlihat usang Bos? Kita hajar saja! Jika dia hanya memiliki level sebesar 1, maka dia tidak akan menang melawan 14 orang yang rata-rata memiliki level 55 kan?”


“Baiklah…. Persiapkan semua orang!” Teriak Bos Party itu.


Party perampok itu terdiri dari 14 orang. 8 diantaranya merupakan Player sedangkan 6 sisanya merupakan NPC. Mereka sama-sama penjahat yang senang mencuri uang Player lain. Setelah memperoleh uang, mereka akan menariknya dan digunakan untuk berpesta baik di dunia nyata maupun virtual.


Dengan kalimat sederhana, mereka adalah Player sampah!


Eric yang tak menyadari rencana jahat mereka tetap berjalan dengan santai menuju ke arah Kaki Pegunungan Alpa.


Tapi para perampok itu juga tidak menyadari suatu hal. Ya, level Eric bahkan hingga detik ini terus menerus naik meskipun tidak melakukan apapun selain berjalan. Itu semua karena perburuan yang dilakukan oleh para monsternya serta Dungeon Barrack yang terus menerus digunakan oleh Kerajaan Salvation.


Beberapa jam telah berlalu. Tapi Eric masih berjalan dengan santai sambil menonton MeTub melalui jendela menu tanpa menyadari bahaya yang mengancam dirinya.


“Hahaha! Lihat tingkah kucing ini! Bukankah dia sangat menggemaskan?”

__ADS_1


Seketika….


“Hei hei hei… anak sultan. Apa kabar?” Ucap seseorang yang tiba-tiba menghadang jalan.


Setelah itu, muncul 13 orang lain yang mengelilingiku dari segala sisi. Semuanya telah memegang senjata mereka dengan kuat. Pedang, tombak, panah, pisau… semua bersiap untuk pertarungan.


“Anak sultan? Siapa itu?” Tanyaku kebingungan namun menjaga ekspresi wajahku tetap tenang. Akan tetapi aku sangat panik di dalam hati.


‘Sialan!!! Baru saja masuk sudah kena rampok!!!’ Teriakku dalam hati. Dengan segera aku mengeluarkan Staff of Enigma yang berada di Inventoryku.


“Hahaha…. Bercandanya cukup sampai disini saja. Segera serahkan semua uang….”


Si Bos paruh baya yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya terkejut bukan main. Di atas kepala semua orang di tengah padang rumput ini, muncul sebuah lingkaran sihir yang sangat besar dengan warna kuning.


“A-apa yang terja…. Aaaaaa!!!”


‘Duaaaaaarrr!!! Duaaarrr!!!’


Sambaran petir terus menerus muncul dari langit. Setiap sambaran itu memberikan damage yang sangat fatal terhadap para perampok itu.


[Anda telah memberikan 4.392 damage!]


[Anda telah ….]


Tak cukup sampai disitu, rentetan peluru sihir juga menghantam Party perampok itu.


Hanya kurang dari 20 detik…. Tapi perampok yang tersisa kini hanya 1 orang. Si Bos paruh baya.


“Oh? Nampaknya kau masih bertahan hidup?” Tanyaku dengan senyuman yang cukup mengerikan. Seakan… ketakutanku barusan tidak pernah terjadi.


Di atas kepalaku kembali muncul tulisan berwarna merah.


‘Eric’


Itu karena beberapa orang yang terbunuh merupakan Player dengan nama putih. Sebagai hukuman, maka aku menerima Penalti PK. Meski begitu, aku tidak terlalu mempermasalahkannya karena aku akan selalu berada di dalam Dungeon.


“Ka-kau… siapa sebenarnya….” Bos perampok itu pun mulai panik. Ia segera menggunakan Greedy Eyes miliknya sendiri untuk melihat level Eric.


[Nama : Eric]


[Ras : Manusia]


[Level : 51]


[Koin emas : 11.397]


“Hah?! Apa yang terja….” Ucap Bos perampok dengan ketakutan setelah melihat level Eric yang saat ini.


Tapi belum sempat menyelesaikan perkataannya, sebuah peluru sihir melesat dan menembus dada Pria paruh baya itu.


“Hah…. Merepotkan saja. Sudah susah-susah ketakutan tapi ternyata mereka semua ampas…." Ucapku dalam hati. Jujur saja aku sempat ketakutan membayangkan kekuatan perampok yang muncul. Tapi nampaknya standar kekuatan yang kubuat terlalu tinggi setelah bertemu dengan Leo.


Dan begitulah, nasib sial Party yang mencoba untuk merampok Player level 1 berakhir dengan menyedihkan. Aku pun melanjutkan langkah kakiku menuju Kaki Pegunungan Alpa.


Di hadapanku nampak begitu jelas….


Video kucing yang menggemaskan.


...___________________________________...


...[Sebelum lanjut membaca]...


...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...


...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...

__ADS_1


...[Tak ada ruginya bagi kalian]...


...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...


__ADS_2