The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 113 - Dungeon Treasure


__ADS_3

...12 Juli 2073...


Waktu berjalan begitu cepat semenjak aku mengikuti jadwal harian baruku ini. Tanpa ku sadari, hampir 2 minggu telah berlalu sejak Elin memasukkanku ke kursus bisnis itu.


Setiap hari aku merasakan rasa lelah yang luarbiasa. Tak hanya itu, aku bahkan hanya mampu memasuki Re:Life sekitar satu jam saja dalam sehari. Hal itu menyebabkan peningkatan levelku terhambat. Tapi itu bukanlah masalah besar.


Kenapa?


Itu karena setiap aku Log In, aku hanya memanggil monster sebanyak mungkin dengan terus menerus meneguk Full Mana Potion. Monster panggilan itu akan aku serahkan kepada masing-masing petinggi Dungeon untuk menyelesaikan pekerjaan yang ada.


Dungeon Training Ground pesanan Liu Ying? Hal itu sudah lama selesai.


Hasilnya? Liu Ying sangat puas dengan Dungeon itu. Bahkan Ia berencana untuk memeean Dungeon lagi yang lebih kuat!


Bagaimana pun, Dungeon baru itu memiliki performa yang jauh melampaui Dungeon Barrack milik Chris.


Seberapa jauh perbedaannya?


Dungeon Barrack milik Chris dapat meningkatkan level satu orang Player dari level 1 hingga 151 dalam waktu 1 bulan. Sedangkan Dungeon Training Ground milik Liu Ying atau Guild Golden Dragon mampun meningkatkan level satu orang Player dari level 1 hingga 151 hanya dalam waktu kurang dari 1 minggu saja.


Benar-benar sebuah tempat penghasil EXP yang sangat gila!


Tentu saja, pada prakteknya tidak akan seperti itu. Itu karena baik Liu Ying maupun Chris tidak akan mengeksploitasi Dungeon itu sendirian. Mereka akan membaginya dengan anggota Guild lain dan juga para prajurit NPC yang ada.


Kurasa sudah cukup membahas mengenai dua Dungeon yang kini telah menjadi milik orang lain itu. Sekarang….


“Jadi Anda akan mengambil libur selama 1 hari? Tepatnya besok tanggal 13?” Tanya seorang Wanita muda yang mengikutiku kemanapun aku pergi.


Ia merupakan asisten pribadiku yang akan mengurus seluruh jadwal kegiatan dan juga komunikasi dengan orang lain. Hasilnya akan dirangkum dan disampaikan kepadaku.


Jujur saja aku sedikit heran kenapa tidak sejak dulu aku memperkerjakan seorang asisten. Meskipun, aku harus menggajinya sebanyak 30an juta Rupiah setiap bulannya. Tapi itu adalah angka yang sangat memuaskan bagiku yang hampir tak memiliki waktu lagi.


“Ya, aku perlu mengurus sesuatu di dalam Re:Life. Apakah kau bisa mengaturnya, Lisa?” Tanyaku kepadanya. Ya, nama Wanita itu adalah Lisa. Umurnya masih sekitar 24 tahun.


“Saya akan mengusahakannya. Akan tetapi, Anda akan menjadi jauh lebih sibuk mulai 3 hari kedepan. Ah, jika akan ada rapat mendadak maka saya bisa menghubungi melalui fitur chat di Re:Life?” Balasnya.


“Tentu saja. Itu bukanlah masalah besar. Terimakasih, Lisa.”

__ADS_1


Lisa hanya mengangguk sambil mengikutiku memasuki mobil yang telah lama menantiku di pinggir jalan itu.


Hari sudah malam, jarum jam telah menunjuk pada angka 10. Meski begitu, aku baru saja keluar dari ruang rapat di salah satu bangunan sementara di wilayah Grandia Apartment.


Seluruh eksekutif mulai dari pekerja bangunan hingga bagian pemasaran terus menerus menyampaikan laporan mereka.


Jujur saja, aku sangat terbantu dengan kursus pengusaha itu. Kini aku memiliki kemampuan yang cukup dalam membuat keputusan, membuat perencanaan jangka panjang dan pendek serta memprediksi peluang bisnis.


Akan tetapi masih banyak yang harus ku pelajari. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk melanjutkan kursus itu hingga setidaknya akhir tahun.


“Selamat malam, Tuan Muda. Apakah ada tempat yang ingin dikunjungi sebelum pulang?” Tanya Jarwo, supir pribadiku itu.


“Selamat malam. Kurasa tidak ada. Sekarang segera antar aku ke rumah.”


Mobil itu segera berjalan. Aku duduk sambil melepaskan penatku di kehidupan yang sangat sibuk ini. Meski begitu, aku merasa sangat hidup dan sangat puas menjalaninya.


Lisa juga nampak menghela nafasnya di kursi belakang. Bagaimana pun, Ia juga telah bekerja keras seharian ini.


Sedangkan Elin?


Sesaat setelah sampai di rumah, aku segera mandi, makan lalu tidur.


Sedangkan Jarwo saat ini masih mengantarkan Lisa ke rumahnya. Walau pun aku mengatakannya seperti itu, Lisa sebenarnya adalah Putri dari Pak Jarwo itu sendiri. Ia memperkenalkannya kepadaku ketika Putrinya sedang mencari pekerjaan.


...***...


Mentari bersinar terang. Cahaya memenuhi ruanganku. Tanpa kusadari, ini pertama kalinya aku bangun kesiangan. Jarum jam yang ada di dinding kamarku telah menunjuk pada angka 6.


“Ah…. Apakah aku selelah itu semalam? Lagipula, kapan terakhir kali aku merasakan hari libur?” Ucapku pada diriku sendiri sambil meregangkan tubuhku di kasur yang empuk itu.


Tanpa menunggu lebih lama, aku segera mandi dan sarapan. Melihat adikku yang saat ini masih tertidur pulas membuatku merasa iri. Tapi aku tak mempermasalahkannya.


“Tenang saja, Rina. Kakakmu akan berjuang untuk bagianmu sementara kau bersekolah.” Ucapku pada diriku sendiri sambil menghabiskan minumanku.


Sekarang….


Aku kembali ke kamarku. Di kejauhan, nampak sebuah perangkat untuk memainkan game VRMMORPG yang menghebohkan seluruh dunia, Re:Life.

__ADS_1


“Kapan terakhir kali aku masuk ke dunia game itu? Aku penasaran, apa saja yang telah terjadi di sana? Tapi menurut kabar dari Chris, Dungeon Treasure seharusnya sudah selesai 3 hari yang lalu.” Ucapku sambil menyentuh kapsul itu.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku segera memasuki kapsul itu.


Pandanganku berubah setelah aku Log In. Sebuah pemandangan yang sudah sangat lama tak kulihat. Pemandangan gua raksasa dengan kota bawah tanah yang indah. Dungeon Origin, lantai 5.


“Tuan, Eric! Selamat datang kembali!” Teriak Oliver dengan segera sesaat setelah aku Log In. Sekarang aku mulai heran darimana Oliver mampu mengetahui kapan aku Log In?


“Tuanku, selamat datang kembali.” Ucap Lucien sambil sedikit menundukkan kepalanya dan meletakkan telapak tangan kanan di dadanya. Sungguh penampilan yang sangat menawan.


Tak hanya mereka berdua, seluruh petinggi Dungeon nampaknya telah mengelilingi diriku. Bahkan hingga para penduduk biasa. Mereka terlihat…. Berlutut menunggu diriku kembali?


“Terimakasih semuanya. Bagaimana kabar kalian? Maafkan diriku karena telah pergi terlalu lama.” Ucapku kepada mereka sambil melambaikan tanganku.


Akhirnya, kami semua melepas penat dari kesibukan baik di dunia virtual bagi para monster maupun dunia nyata bagi diriku.


Oliver telah menceritakan kepadaku mengenai semua yang terjadi semenjak diriku tak kembali hadir di dunia ini. Termasuk mengenai Dungeon Treasure yang telah siap untuk digunakan.


Tentu saja, pintu masuk yang sangat megah dengan batuan marmer yang dihiasi oleh berbagai permata juga sudah jadi. Pintu masuk itu dibangun tepat di luar mulut gua di Kaki Pegunungan Alpa ini.


Aku dan seluruh petinggi Dungeon segera pergi ke lantai 21 Dungeon Treasure. Sebuah ruangan yang dipenuhi oleh lingkaran sihir untuk menuju ke seluruh Dungeon buatanku.


“Oliver, mengenai kehadiran pasukan penakluk…. Apakah kau yakin dengan itu?” Tanyaku singkat.


“Sangat yakin, Tuanku. Mereka sudah ada di depan gerbang.” Balas Oliver.


Aku yang ingin melihat mereka secara langsung segera bersiap untuk menggunakan lingkaran sihir ke lantai 1 Dungeon Treasure.


“Ah. Sebelum itu, aku akan menunjuk 4 penjaga yang akan menjadi Boss terakhir di lantai 20. Oliver, Lucien, Tasmith dan satu lagi…. Bisakah kau mengajak Liz untuk bergabung, Tasmith?” Tanyaku kepada Tasmith yang sejak tadi hanya mengikutiku tanpa banyak bersuara.


“Baiklah, aku akan segera kembali bersama dengan Liz.” Balasnya singkat sambil meninggalkan Dungeon melalui lingkaran sihir teleportasi.


“Sekarang….”


Aku pun mulai mengaktifkan lingkaran sihir yang ada di bawah kakiku. Dengan segera, pandanganku berubah menjadi sebuah ruangan kecil yang gelap. Sebuah ruangan rahasia yang hanya bisa ditemukan dan diakses oleh para petinggi Dungeon.


“Seperti apa sosok para penjajah itu?!” Teriakku pada diriku sendiri dengan senyuman yang lebar di wajahku.

__ADS_1


__ADS_2