The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 185 - Akemi


__ADS_3

...Nishinari, Jepang...


...Kediaman Takahashi...


...6 hari kemudian...


‘Bruukk!!’


“Kuughh!”


Akemi berteriak keras sambil memuntahkan hampir seluruh isi perutnya setelah menerima pukulan dari Pria tua itu.


“Bocah sialan! Selama ini kau bilang sedang bekerja di dalam kamarmu tapi ternyata kau tidak bisa masuk?!” Teriak Pria tua itu.


“De-dengarkan aku…. Aku sedang….” Ucap Akemi sambil berusaha untuk meredakan situasi.


‘Bruuk!! Brukk!! Brukkk!!!’


Tapi tanpa mendengarkan perkataan Akemi, Pria itu memukul dan menendangnya sekuat tenaga hingga babak belur. Tak sedikitpun memberikan ampun.


Setelah beberapa saat, Pria itu berhenti dan nampak mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya.


“Jika aku menekan tombol ‘Aktif’ di remote ini…. Kau tahu akibatnya kan? Dan jika aku tidak memasukkan sandinya setiap 8 jam…. Kau juga mengerti kan?” Ucap Pria itu.


“A-aku mengerti…. Maka dari itu tolong….” Ucap Akemi dengan wajah dan tubuh yang penuh memar.


“Jika kau mengerti, maka aku akan menjual perangkat itu dan mulai kembali memperkerjakan dirimu seperti dulu!” Teriak Pria itu sambil segera keluar dari kamar Akemi dan menutup pintu sekuat tenaga.


‘Duaaarr!!’


Setelah itu, hanya keheningan yang ada di ruangan ini.


‘Aaah…. Apakah lebih baik jika aku mati saja?’


...***...


...Nishinari, Jepang...


...2 hari kemudian...


...Di sebuah kafe...


Nampak suasana kafe yang begitu ramai dan cukup penuh sesak.


Terdengar tawa dan canda dari berbagai sisi. Semua orang nampak sedang menikmati waktu mereka di tempat ini bersama kenalannya.


Tapi ada satu meja yang dipenuhi dengan suasana kelam.


“Kenapa kalian belum menemukannya?” Ucap seorang Wanita dengan rambut hitam yang cukup panjang. Pakaian putih polos dengan rok hitam pendek itu meningkatkan kecantikannya.


“Ma-maafkan kami, Nona Lisa. Tapi….” Ucap seorang Wanita yang mengenakan kaos dan celana hitam itu. Ia merupakan salah satu dari 3 Body Guard yang menemani Lisa.


Mendengar jawaban bawahannya, Lisa nampak menghela nafasnya.


“Haah…. Kalian tahu jika nyawa Wanita itu kemungkinan besar sedang dalam bahaya kan? Kalau mengerti itu sebaiknya kalian segera menemukannya!” Teriak Lisa dengan suara yang cukup keras.


“Ta-tapi…. Kami tak pernah menyangka bahwa alamat yang dia tuliskan di Forum 2 tahun lalu itu telah lama ditinggalkan. Ia dan keluarganya seakan tak meninggalkan jejak sama sekali.” Sambung Wanita lain yang mengenakan kaos abu-abu yang juga merupakan Body Guardnya.


“Kurasa lebih baik kita fokus menyusuri daerah-daerah kumuh. Mengingat kondisinya, jika benar-benar sesuai dengan apa yang dia tulis di Forum itu maka….” Ucap seorang Wanita dengan rambut hitam pendek.


Ia nampak mengenakan jas berwarna putih dan membawa suatu koper putih dengan lambang palang merah.

__ADS_1


“Hmm…. Perkataanmu benar juga, dokter. Kalau begitu, segera habiskan makanan kalian lalu kembali mencarinya.” Ucap Lisa sambil menghabiskan segelas jus jeruknya itu.


...***...


...Nishinari, Jepang...


...Kediaman Takahashi...


“Aah…. Cukup memuaskan.” Ucap seorang pemuda dengan rambut yang dicat kuning. Ia nampak sedang mengenakan kembali bajunya sambil berjalan keluar dari kamarnya.


“Ja-jadi bagaimana menurut Anda, Tuan?” Tanya sang Pria Tua yang tinggal di rumah ini.


Mendengar pertanyaan itu, sang pemuda nampak melirik tajam ke arah Pria Tua itu dan mendecakkan lidahnya.


“Cih. Bukankah aku sudah bilang cukup memuaskan?! Kau mengajakku berkelahi hah?!”


“Te-tentu saja tidak. A-aku hanya….” Ucap Pria tua itu dengan wajah yang dipenuhi keringat karena ketakutan.


“Bilang saja langsung. Kau ingin bayarannya kan? Ini, terimalah.” Ucap sang Pemuda sambil menyerahkan beberapa lembar uang kertas.


“Te-terimakasih banyak, Tuan. Semoga Anda datang kembali lain waktu.” Ucap Pria Tua itu.


Sang Pemuda nampak bersiap keluar dari rumah ini dan melambaikan tangannya.


“Ah…. Satu lagi. Gadis itu terlalu kurus sehingga kurang memuaskan. Sebaiknya kau membiarkannya makan makanan yang baik sekali-kali. Ini untuknya.” Ucap Pemuda itu sambil melemparkan 3 buah koin.


Sang Pria tua hanya bisa berterimakasih dan membungkukkan badannya.


Setelah beberapa saat….


“Hah…. Hanya 4.000 Yen. Ditambah 300 Yen bonus. Meskipun tak sebanyak ketika Ia bekerja di mesin aneh itu tapi…. Seharusnya cukup untuk bersenang-senang.” Ucap Pria tua itu sambil tersenyum lebar dan melihat uang yang ada di tangannya.


Ia pun segera membalik badannya dan berjalan ke arah kamar barusan.


Setelah membuka pintu kamar itu….


“Oi gadis sialan. Ini untukmu. Pemuda barusan memberikannya untukmu mencari makan. Segeralah kenakan pakaianmu dan carilah sesuatu yang murah untuk kau makan.” Ucap Pria tua itu sambil melemparkan 2 buah koin.


Gadis itu…. Atau lebih tepatnya, Akemi. Ia hanya memberikan pandangan kosong dengan air mata yang telah mengering.


Setelah beberapa saat ucapannya tak dibalas, Pria tua itu mulai kesal dan memasuki kamar Akemi.


“Kau dengar aku bocah sialan?! Jika aku berbicara kau seharusnya mendengarkan dan menjawabku!” Teriak Pria tua itu sambil menendang perut gadis itu sekuat tenaga.


“Uuggh…. Ba-baik….” Balas Akemi dengan nada lemas.


Pria tua itu pun segera pergi meninggalkan kamar itu. Ia nampak mengambil sebotol minuman dan kembali menyalakan TV berukuran kecil itu.


Sedangkan Akemi? Ia berusaha sekuat tenaga untuk bangun dan mengenakan kembali pakaiannya.


Setelah itu, Ia keluar dari rumah untuk mencari makan sesuai perintah Pria tua itu.


“Kakak…. Akan kembali kan?” Tanya sang adik kecil dengan mata yang berkaca-kaca.


Tanpa sedikit pun tenaga yang tersisa, Akemi hanya menganggukkan kepalanya dan segera melangkahkan kakinya di kegelapan malam itu.


Beberapa puluh menit berlalu….


Akemi nampak berjalan dengan sempoyongan.


Hal yang wajar karena Ia belum makan sesuap pun hari ini. Bahkan hari kemarin Ia masih bisa dibilang beruntung karena telah makan selembar roti tawar.

__ADS_1


Setelah beberapa langkah yang goyah itu, Ia akhirnya berhenti di depan kedai Ramen.


‘Aah…. Setidaknya…. 200 Yen cukup untuk makan disini.’ Ucap Akemi dalam hati sambil memandangi 2 buah koin di tangannya.


Pada saat Ia akan masuk ke dalam kedai itu….


‘Bruk!!’


Ia menabrak seseorang dengan badan yang cukup besar.


“Oi oi apa yang kau pikir telah kau lakukan hah?!” Teriak Pria itu sambil memelototi Akemi.


“Ma-maafkan aku….” Ucap Akemi dengan suara yang lemas.


“Bos, ada apa?” Tanya seorang Pria bertubuh kurus yang ada di belakangnya.


“Gadis sialan ini berani-beraninya mengotori pakaianku. Kurasa kita harus menghukumnya. Benar kan?” Tanya Pria itu sambil melirik ke arah Pria bertubuh kurus barusan.


“Ah! Tentu saja itu benar!”


Hal yang terjadi berikutnya….


Akemi hanya bisa semakin kehilangan dirinya.


Kini Ia telah tergeletak hampir tak bernyawa di dalam gang sempit yang sangat gelap itu. Berbagai jenis serangga nampak mulai mengerumuni tubuhnya yang sudah babak belur tak karuan.


Akemi nampak berusaha membuka mulutnya sekuat tenaga untuk mengatakan sesuatu pada 2 orang yang sedang melangkah pergi itu.


‘Tolong bunuh saja aku….’


Itulah yang ingin Ia katakan sekuat tenaga,


Tapi….


Tak ada sedikit pun tenaga yang tersisa untuk berbicara.


Hingga akhirnya, Pria bertubuh agak besar itu menghentikan langkahnya dan membalik badannya.


“Tenang saja, Gadis sialan. Aku akan membawakanmu banyak teman setelah ini. Mereka semua akan menemanimu bermain. Kau senang? Hahaha!!!” Tawa Pria itu sambil melangkah pergi.


Pria kurus yang nampaknya merupakan bawahannya itu sedang membenahkan pakaiannya.


“Diamlah disana selama beberapa saat. Kau dengar itu?!”


Tentu saja….


Akemi mendengarnya dengan sangat jelas.


Tapi Ia tak memiliki sedikit pun sisa tenaga untuk menggerakkan tubuhnya.


Beberapa saat telah berlalu….


‘Tap! Tap!! Tap!!!’


Suara langkah kaki dari banyak orang terdengar mendekati dirinya dengan cepat.


‘Pada akhirnya…. Begini kah? Kurasa…. Lebih baik aku….’ Ucap Akemi dalam hati sambil mulai memejamkan matanya secara perlahan.


Secara samar-samar, Ia mendengar perkataan dari orang-orang itu.


“Gadis yang malang! Cepat selamatkan dia!”

__ADS_1


“Dengan segera, Nona.”


Tapi Akemi telah memejamkan kedua matanya…. Sebagai upaya terakhirnya untuk menikmati ketenangan ini.


__ADS_2