
...Alun-alun Kota Forgia...
Beberapa saat telah berlalu semenjak kejahatan Scarlet terkuak. Semuanya menyadari bahwa segala serangan monster yang terjadi di Kerajaan Farna adalah ulah Scarlet.
Meskipun ingin berusaha sekuat tenaga untuk menolaknya, Scarlet tak lagi memiliki langkah apapun. Hal yang wajar karena aku telah mempersiapkan semuanya dengan matang bersama dengan Arlond, Deus dan Nico.
...Kembali ke beberapa hari yang lalu di dunia virtual ini…....
“Hmm…. Rencanamu memang terdengar bagus Arlond. Memanfaatkan item pengidentifikasi itu untuk membuktikan skill milik Scarlet tapi…. Bukankah jika orang lain menggunakannya kepadaku itu adalah hal yang buruk?” Tanyaku sambil memandang ke arah kejauhan.
“Itu dia permasalahannya. Andai saja kau memiliki sesuatu yang mampu menyembunyikan…. Tidak. Menyembunyikan skill milikmu justru akan membuat semua orang semakin curiga kepadamu.” Balas Arlond.
Beberapa menit telah berlalu….
Tapi kami berdua yang sibuk membahas masalah ini di dalam kastil tak kunjung menemukan solusi.
Hingga pada akhirnya….
‘Dok! Dok!’
Terdengar suara ketukan pintu yang cukup ringan. Di balik pintu itu, terdengar suara yang cukup merdu.
“Masuklah.” Ucapku dengan segera.
‘Kreeek….’
Setelah pintu itu terbuka, terlihat sosok seorang Wanita yang sangat anggun dengan rambut hitam yang indah. Telinganya yang runcing serta mata merah menyala itu mempertegas rasnya sebagai seorang Vampir.
“Tuan Eric. Beberapa mata-mata yang ditempatkan di berbagai kota mendengar mengenai seseorang yang sedang mencari Anda. Namanya adalah Nico.” Ucapnya sambil sedikit membungkukkan badannya.
Mendengar nama itu, aku dan Arlond segera terkejut bukan main.
“Nico kau bilang?! Kenapa dia mencariku?” Tanyaku panik.
Vampir itu segera menjawabnya.
“Menurut penjelasan dari beberapa mata-mata, Ia ingin bertemu dengan Anda untuk membahas mengenai masalah yang bernama Scarlet.”
Aku pun segera terkejut mendengar hal itu.
“Apakah dia…. Menyadarinya? Pada saat seluruh dunia memilih untuk percaya bahwa aku adalah pelakunya…. Seperti yang diharapkan dari seorang MeTuber veteran. Baiklah! Aku akan menemuinya! Tapi sebelum itu.” Ucapku sambil menoleh ke arah Arlond.
“Hmm? Ada apa Eric?” Tanya Arlond kebingungan.
“Aku telah menemukan cara mengatasi item pengidentifikasi skill itu. Kau segera persiapkan saja sisanya.” Jelasku sambil tersenyum.
“Ah…. Jadi begitu. Baiklah, aku akan segera kembali ke Kota Forgia jika begitu. Sampai jumpa lagi, Eric. Kuharap Scarlet akan menerima hukuman seberat mungkin.” Balas Arlond.
“Soal itu…. Aku sebenarnya baru saja mengetahui sesuatu di dunia nyata. Tapi sudahlah. Hal itu telah diurus oleh asistenku. Sekarang, ayo kita selesaikan semua ini.”
...***...
...Di Salah Satu Kota...
...Wilayah Kerajaan Farna...
...Malam Hari...
“Hmm…. Apakah aku datang terlalu awal?” Ucap seorang Pria berambut hitam kemerahan itu. Ia nampak mengenakan jubah hitam yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.
__ADS_1
‘Tap! Tap!’
Seseorang dengan jubah coklat nampak berjalan di gang yang gelap itu.
“Maafkan aku jika terlambat. Kau Nico?” Tanyaku singkat.
“Ah, tenang saja. Jadi kau Eric kan? Baguslah. Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di Kerajaan ini.” Ucap Nico sambil mengarahkan kamera hologramnya yang kecil itu ke arahku.
Aku pun segera menjelaskan semuanya dengan mendetail. Termasuk hampir seluruh rencanaku untuk mengungkap Scarlet sebagai pelaku yang sebenarnya.
Setelah mendengar semua itu, Nico mematikan kameranya dan mulai berbicara.
“Jadi…. Hah…. Sudah kuduga. Aku heran kenapa kau mengatakan semua itu kepadaku tapi…. Video ini tak akan pernah ku unggah. Tapi sebagai gantinya….” Nico menahan perkataannya selama beberapa saat hingga akhirnya kembali berbicara.
“Aku ingin memiliki kursi terdepan dalam merekam dirimu sebagai seorang Penyihir Agung bernama Eric. Jika kau memenuhi itu, aku akan membantumu dalam menjalankan rencana ini.” Lanjut Nico.
“Terimakasih. Memiliki suaramu di dunia informasi saja sudah menyelamatkanku dari semua masalah ini. Alasanku mengatakan semua itu kepadamu…. Sederhana saja. Aku merasa bahwa kau akan membantuku.” Ucapku sambil tersenyum tipis.
Mendengar hal itu, Nico juga membalas dengan senyuman lalu segera melangkah pergi.
“Pastikan kau membuatnya semeriah mungkin, Eric.” Ucap Nico sambil menghilang dalam kegelapan.
...***...
...Kembali ke masa kini…....
...Alun-alun Kota Forgia...
“Dengan ini Player bernama Scarlet telah ditetapkan bersalah! Pengadilan telah memutuskan untuk menghukum mati Player bernama Scarlet! Hukuman yang ditetapkan yaitu Restriksi Log In selama 90 hari dan menyita seluruh Item beserta Koin Emas yang dimilikinya!” Ucap sang Hakim dengan sangat lantang.
Bersamaan dengan perkataan itu, terdengar pukulan palu yang sangat keras.
‘Jadi kematianku telah diputuskan ya? Terlebih lagi…. 90 hari? Kurasa pria tua sialan itu akan benar-benar menjualku kali ini….’ Ucap Scarlet dalam hati sambil tersenyum tipis.
Sang Algojo segera melangkah dan bersiap untuk melepaskan ikatan tali pada pancung itu.
“Apakah kau sudah puas, Eric?” Ucap Scarlet dengan tatapan yang sama sekali tak kumengerti.
Tapi aku membalas perkataannya dengan sesuatu yang sama sekali tak Ia duga.
“Tenang saja. Aku hanya ingin membersihkan namaku dan membalas tindakanmu saja. Aku sama sekali tak memiliki dendam pribadi dengan dirimu di dunia nyata. Tidak…. Aku justru ingin menyelamatkanmu.” Bisikku kepada Scarlet dengan suara yang begitu lirih.
Mendengar bisikanku itu, Scarlet nampak akan mengatakan sesuatu. Tapi sebelum itu sempat terjadi, bilah pancung telah terlepas dan memotong leher Scarlet. Bersamaan dengan itu, notifikasi sistem muncul di hadapannya.
[Anda telah menerima hukuman mati dari Pengadilan!]
[HP Anda telah mencapai angka 0!]
[Anda telah mati!]
…..
[Asmodeus mencoba untuk mengambil Skill Anda!]
[Anda telah mati!]
[Tidak dapat melakukan tindakan apapun!]
[Tidak dapat menolak pengambilan Skill!]
__ADS_1
[Unique Skill : Imitator telah berhasil diambil oleh Asmodeus!]
[Seluruh Skill yang diimitasi telah hilang bersamaan dengan hilangnya Unique Skill : Imitator!]
[Bersiap untuk memindahkan kesadaran!]
‘Hahaha…. Bahkan setelah aku mati pun…. Tapi…. Apa yang dia maksud dengan itu? Menyelamatkanku?’ Tanya Scarlet dalam hatinya. Sebelum seluruh tubuhnya berubah menjadi cahaya putih yang indah, Ia sempat melirik ke arahku dengan memberikan senyuman yang dibalut kesedihan.
Aku memberikan tatapan serius kepada dirinya sambil sedikit mengangguk, seakan mengetahui apa yang sedang Scarlet pikirkan.
...***...
...Nishinari, Jepang...
‘Bsssss….’
Suara itu terdengar bersamaan dengan terbukanya kapsul VR kualitas rendah itu. Di balik pintu itu, terlihat sosok seorang gadis dengan rambut yang dicat hingga menjadi sedikit hitam kemerahan.
“Hah…. Pada akhirnya aku juga tetap menjadi seorang sampah, bahkan di dunia game dimana aku bisa melampiaskan se….”
‘Braak!!!’
Sebelum sempat menyelesaikan perkataan itu pada dirinya sendiri, terdengar suara pukulan yang begitu keras.
Gadis itu sedikit memejamkan matanya karena rasa kaget. Ia pun segera berdiri dan menyalakan lampu kamarnya.
Terlihat kondisi kamar yang sangat mengerikan. Sampah menumpuk di dalam ruangan berukuran 2 x 2 meter itu. Tak hanya itu, tempat tidur yang ada hanyalah selembar kain tipis yang terlihat telah robek di beberapa bagian.
‘Klek!’
Gadis itu segera membuka pintu kamarnya.
“Bocah tak berguna! Aku telah memanggilmu ratusan kali dan kau bahkan tak segera keluar?!” Teriak seorang Pria tua yang cukup gemuk dan kepala yang agak botak.
“Maafkan aku. Kau tahu kan aku sedang….”
‘Bruukk!! Derrr!’
Pria tua itu memukul perut Gadis itu dengan keras hingga terlempar dan menghantam tembok.
“Uhukk… Kugghh….” Gadis itu batuk tak karuan. Di bibirnya yang tipis dan pucat itu terlihat darah yang sedikit mengalir.
“Kau sudah bekerja cukup lama kan?! Kau pasti menghasilkan banyak uang kan?! Kalau begitu cepat segera ambil semuanya dan berikan kepadaku! Dan jangan pernah berpikir untuk kabur! Jika kau sedikitpun melakukan tindakan yang….”
“Aku mengerti. Aku akan segera mengambilnya jadi tunggulah di sini.” Ucap Gadis itu memotong perkataannya.
“Bagus! Kalau begitu segeralah enyah dari hadapanku!” Teriak Pria itu sambil segera pergi dan mengambil sebotol minuman.
Gadis itu pun segera mengganti pakaiannya dan membasuh wajahnya. Pada saat akan melangkah keluar rumah….
“Kakak…. Akan kembali kan?” Ucap seorang gadis kecil yang mungkin hanya berumur 7 tahun itu.
“Tenang saja…. Kakak pasti akan kembali.” Ucapnya sambil membelai kepala adiknya. Ia nampak memperhatikan kalung kecil yang terbuat dari logam di leher adiknya itu.
'Jika saja benda seperti itu tak pernah ada....' Ucapnya dalam hati.
Setelah itu, Ia segera keluar dan menutup kembali pintu rumahnya itu. Meskipun…. Tak layak jika disebut sebagai rumah dan lebih mirip dengan apartemen. Ya, sebuah apartemen yang sangat kumuh dengan fasilitas yang sangat minim.
Di bagian depan pintu, nampak papan dengan tulisan nama penghuninya. Salah satunya adalah gadis yang baru saja keluar rumah itu.
__ADS_1
‘Akemi Takahashi’