The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 85 - Pendaftaran Event


__ADS_3

Segera setelah menyaksikan video pertarungan Angie, aku mempersiapkan diriku untuk pergi.


Kemana? Tentu saja ke salah satu cabang Re:Life di Yogyakarta. Tempat yang dulu sering kugunakan untuk menyewa kapsul demi bermain Re:Life. Aku pergi ke tempat itu dengan menggunakan jasa taksi online.


Tujuanku ada dua. Yang pertama yaitu untuk menarik setidaknya 20.000 koin emas dari Inventoryku. Meskipun aku masih memiliki lebih dari 60.000 koin emas, aku berencana untuk menggunakannya di dalam game.


Sedangkan untuk yang kutarik? Aku ingin membelikan Rina skuter dan juga kendaraan bermotor untuk diriku sendiri. Mungkin sekaligus beberapa barang yang menarik perhatianku nantinya.


Kemudian yang kedua yaitu untuk melakukan pendaftaran untuk ikut serta dalam Kompetisi Internasional yang akan diadakan di Jepang.


Semuanya berjalan lancar. Termasuk penarikan uang ke rekeningku. Aku memperoleh sekitar 480 juta Rupiah setelah pemotongan pajak yang luarbiasa besar. Tapi itu bukanlah masalah. Hingga….


“Eh?! Aku harus membuat levelku menjadi publik?!” Teriakku setelah mendengar penjelasan Customer Service yang menangani bagian pendaftaran.


“Benar sekali. Semua itu dilakukan demi kompetisi yang adil dan terbuka. Tapi tenang saja. Status dan Skill yang Anda miliki akan dirahasiakan dengan baik.” Jelas Wanita CS itu.


“Ah…. Jadi begitu ya. Baiklah. Tolong atur akunku menjadi publik.” Ucapku dengan suara yang sedikit lemas.


“Terimakasih atas kerja….” Wanita itu tak menyelesaikan perkataannya. Matanya terbuka cukup lebar melihat layar komputer tembus pandang yang ada di hadapannya. Aku yang melihat reaksinya segera bertanya.


“Uh…. Apakah ada masalah?”


“Le-level…. 219?” Tanya Wanita itu sambil memandangiku dengan wajah penuh kebingungan.


Meskipun aku terus menerus membuang levelku dengan memberikan Trait kepada para monster tingkat tinggi, tapi levelku terus naik dengan kecepatan yang mengerikan. Semua ini dikarenakan oleh satu Dungeon. Yaitu Dungeon Barrack.


Yah, meskipun. Kini Chris dan para petinggi yang lainnya telah melakukan Rebirth 2 kali dan berada di level 160an saat ini berkat Dungeon itu. Tapi itu merupakan hubungan kerjasama yang sangat baik menurutku.


Memahami kebingungan mbak-mbak CS itu, aku segera menjelaskannya.


“Ah? Soal itu? Itu karena aku tidak pernah melakukan Rebirth. Aku sedikit trauma untuk mengulangi semuanya dari level 1. Hahaha….” Jawabku dengan sedikit menambahkan bumbu-bumbu.


“Ah… hahaha. Jadi begitu ya. Pantas saja. Baiklah, sekarang akun Anda telah menjadi publik. Meskipun Anda memiliki level tertinggi, Anda masih berada di peringkat 28 karena semua orang yang diatasnya telah melakukan Rebirth sehingga total levelnya lebih tinggi. Dimohon pengertiannya.” Jelas CS itu.


“Kemudian, untuk cabang kompetisi yang ingin Anda ikuti…. Silakan tekan di layar semua cabang yang Anda inginkan. Untuk batas maksimal setiap pemain yaitu 5 cabang. Dimohon pengertiannya.” Lanjutnya.


Dengan segera aku menekan beberapa cabang.


...[Player Vs Player]...


...[Solo Boss Raid]...


...[Lomba Lari]...


Aku memutuskan untuk memilih hanya 3 cabang itu.


“Apakah sudah semuanya?” Tanya Wanita itu dengan suara yang cukup merdu. Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaannya.


“Untuk jadwalnya akan dikirimkan dikemudian hari melalui E-Mail. Terimakasih atas pendaftarannya dan semoga sukses.” Ucap CS itu sambil tersenyum.


“Terimakasih.” Balasku singkat sambil segera pergi dari kantor ini. Aku memasuki Lift dan segera turun dari lantai 4 ke lantai 1. Sungguh sebuah gedung yang cukup besar dan megah.


“Apakah dengan mas Erik?” Tanya seorang Pria di depan pintu gedung itu. Ia tak lain merupakan pengemudi taksi online yang telah kupesan semenjak aku menyelesaikan pendaftaranku sebelumnya.

__ADS_1


“Benar.” Jawabku singkat sambil mengikuti Pria itu ke mobilnya.


Kegiatanku berikutnya hanyalah hal-hal merepotkan yang melibatkan banyak sekali kertas dan berkas-berkas. Bahkan semua hal itu membutuhkan waktu berjam-jam.


Apa yang kulakukan?


Pertama aku pergi ke dealer Vespa terdekat yang menjual tipe skuter yang diinginkan oleh adikku. Setelah selesai mengurus semua keperluan berkas-berkas yang ada di sana, aku segera pindah ke tempat berikutnya.


Dealer Honda. Aku memutuskan untuk membeli sepeda motor matic karena lebih mudah digunanakan dan lebih praktis. Seorang pegawai yang melayaniku menyarankan untuk memilih Bite 150 karena cukup ramping dan juga lumayan cepat. Tanpa berpikir panjang aku menyerahkan semua kepadanya.


Tak hanya itu, aku juga memutuskan pergi ke toko elektronik untuk membeli kulkas dan Freezer baru. Bagaimanapun, takkan pernah ada kata cukup bagiku untuk tempat penyimpanan buah, sayur, daging serta bahan-bahan yang lainnya.


Selagi berada di toko elektronik, aku melihat sesuatu yang sangat menarik. Sebuah layar hologram. Mirip seperti yang sebelumnya kulihat di kantor cabang Re:Life. Dengan segera aku memutuskan untuk membelinya dan berencana untuk memasangnya di kamarku.


Kenapa aku membelinya? Karena itu nampak sangat keren!


Penampilannya hanya sebuah logam yang datar dan sedikit lebar namun tipis. Dimensinya yaitu 44 x 8 x 1 cm. Jika aku menghubungkannya dengan komputer dan menyalakannya, maka layar hologram akan muncul dari logam itu.


Bagi kepalaku yang sederhana, itu merupakan sebuah hal yang sangat keren!


Hingga akhirnya….


Matahari sudah hampir tenggelam. Dan aku baru saja sampai di rumah. Bersamaan dengan semua barang yang aku pesan. Aku pulang kerumah dengan menumpang di truk pikap yang mengangkut semua barang pesananku. Aku duduk di kursi depan bersama supir sementara dua karyawan lain mengikuti kami dengan sepeda motor.


Dari 480 juta lebih yang aku tarik hari ini, aku menghabiskan lebih dari setengahnya. Untuk sisanya…. Aku berencana untuk memberikannya pada Ayah dan Ibuku agar bisnis pakaian mereka dapat berkembang lebih baik lagi.


‘Sebelumnya aku sangat boros di dalam game dengan membuat Dungeon Vampir seharga 500.000 koin emas lebih. Tidak ada salahnya aku sedikit boros di dunia nyata kan? Lagipula inilah tujuan utamaku memainkan Re:Life!’ Pikirku dalam hati.


Aku terus menerus larut dalam pikiranku sendiri. Hingga salah seorang pegawai berbicara kepadaku.


“Ah… untuk itu. Mari, aku antarkan. Kemduian untuk yang itu….”


Aku segera mengarahkan mereka semua. Termasuk dua kendaraan yang baru saja kubeli. Jujur saja suasana rumah cukup ramai. Bahkan beberapa tetangga nampak melihat-lihat dari luar pagar. Padahal ini bukanlah pertunjukan. Entah apa mau mereka.


“Kakak? Untuk apa semua ini?” Ucap adikku yang baru saja sampai di rumah.


“Ah? Rina? Aku sudah membelikan apa yang kau inginkan. Aku juga sekalian membeli beberapa hal lain untuk….”


Belum sempat menyelesaikan perkataanku, Rina tiba-tiba berlari ke arahku dan menabrakku dengan kuat. Bukan…. Tapi memelukku.


“Kakak…. Sudah kubilang tidak perlu sesegera ini untuk membelikannya kan? Aku hanya bilang untuk…. Tapi…. Terimakasih Kak.” Ucap Rina sambil sedikit menangis.


“Apa yang kau katakan…. Hahaha.... Sesekali kau bisa bersikap seperti anak kecil juga ya.” Balasku sambil membelai kepalanya. Tangan kanan besi miliknya terasa cukup hangat ketika menyentuh tubuhku. Meski begitu, aku masih menganggap penampilannya sangat keren!


“Biarkan aku seperti ini untuk beberapa saat Kak….” Ucap Rina sambil terus menerus memelukku.


“Baiklah…. Kau bisa seperti ini selama yang kau mau.” Balasku singkat.


Beberapa saat telah berlalu. Seluruh pemasangan dan penyimpanan barang-barang yang kubeli telah selesai. Semua pegawai itu segera pergi meninggalkan rumahku.


Sedangkan aku….


Masih berdiri di depan pagar rumah. Rina yang seakan tak ingin melepaskan pelukannya masih memelukku secara sepihak.

__ADS_1


“Rina…. Sampai kapan kau akan melakukan ini?”


...***...


Wilayah Kerajaan Suci Celestine.


Di sebuah Desa kecil….


Nampak seseorang dengan jubah serba hitam yang menyatu dengan kegelapan malam ini. Rambutnya yang putih seakan ternodai oleh warna hitam di atas kepalanya.


‘Evan’


Di hadapannya nampak sosok 13 orang yang berlutut sambil menunudukkan kepala mereka.


Mereka merupakan 12 Iblis yang menerima panggilan Evan pada saat melawan Seven Star. Sedangkan seorang lagi merupakan Death Knight yang telah memperoleh hidupnya kembali.


Mereka semua bertahan hidup. Meskipun kini…. Penampilan mereka sangat pucat. Semua itu dikarenakan mereka menerima Forbidden Elixir : Behemoth’s Corpse dari Evan. Mereka semua telah berubah ras menjadi Undead.


Sedangkan wujud yang mereka pilih? Yaitu manusia. Itu semua demi kelancaran tujuan Tuan mereka, Evan.


"Apakah kau sudah mendapatkannya?" Tanya Evan kepada salah seorang Iblis yang mengikutinya.


"Sudah, Tuanku. Terimalah ini...." Ucap seorang Iblis dengan ras Succubus itu. Ia menyerahkan sebuah batu yang dilihat dari mana saja nampak seperti batu biasa.


"Bagus.... Kurasa para Inquisitor itu benar-benar menepati janji mereka.... Kukuku...." Balas Evan sambil tertawa.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Tanya Iblis itu kembali.


"Aku masih membutuhkan 2 bahan lagi. Yang satu berada di wilayah Kekaisaran sedangkan satunya lagi berada di Teokrasi Julia....


Karena aku baru saja berbuat onar di Kekaisaran, penjagaan mereka sangat kuat. Mereka menempatkan Imperial Knights di berbagai tempat. Bahkan aku sekalipun takkan mampu menang tanpa luka parah kukuku...."


Evan menjelaskan keadaannya dengan sangat rinci.


"Kalau begitu...."


"Kita akan ke Teokrasi Julia terlebih dahulu.... Tunggu saja aku...."


Dan begitulah.... Rombongan Iblis itu bergerak secara perlahan.


Semua penduduk desa yang melihat mereka hanya bisa diam dan berdoa. Tapi mereka semua tak menyentuh apapun. Seakan memang hanya ingin beristirahat di tempat yang tenang.


"Dewi.... Kumohon beri kami perlindunganmu...."


...___________________________________...


...[Sebelum lanjut membaca]...


...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...


...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...


...[Tak ada ruginya bagi kalian]...

__ADS_1


...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...


__ADS_2