
Semua itu terjadi dengan tiba-tiba sesaat setelah Deus berhasil melakukan kontrak dengan Vampir. Beberapa jendela notifikasi muncul di hadapanku.
...[Skill : Demon Summoning telah digunakan!]...
...[Sebagai penghuni Dunia Bawah Anda berhak menerima panggilan!]...
...[Jumlah Jiwa yang ditawarkan : 0]...
...[Keuntungan menerima panggilan : Tidak Ada]...
...[Jumlah Iblis yang yang dapat menerima panggilan : 0/14]...
Deus yang menyadari hal itu nampak memasang wajah yang sangat serius. Hal itu membuatku sedikit keheranan. Bukankah sebelumnya dia sangat ingin pergi ke dunia manusia? Lalu apa ini? Kenapa dia seakan enggan untuk menerima panggilan ini?
“Deus? Apakah kau tidak akan menerimanya?” Ucapku dari dalam tubuhku sendiri.
“Eric. Aku mohon padamu untuk tetap tenang setelah aku menerima panggilan ini. Liz. Kau juga terimalah panggilan ini. Kita akan mengungsi di Dungeon milik Eric setelah itu.” Ucap Deus yang kini memasang wajah yang sangat serius.
“Baiklah, Yang Mulia.” Balas Liz segera.
“Deus? Apa yang terjadi?” Ucapku kebingungan melihat situasi ini.
Deus yang telah menerima panggilan itu berdiri sambil mempersiapkan Staff of Enigma milikku. Di permukaan tanah tempatku dan Liz berdiri muncul lingkaran sihir berwarna merah.
“Orang yang memanggil kita…. Memiliki kekuatan yang setara dengan seorang Raja Iblis. Dengan kata lain, dia sangatlah kuat. Kumohon padamu untuk tidak mengacau, Eric. Diamlah saja di dalam.” Balas Deus menanggapi pertanyaanku.
‘Hah? Setara Raja Iblis? Siapa? Kurasa sangat tidak mungkin bagi seorang Player untuk memiliki kekuatan seperti itu. Apakah NPC?’ Pikirku dalam hati dengan penuh kebingungan.
Seketika pandanganku tertutupi oleh cahaya merah yang sangat terang. Di balik cahaya itu nampak 7 orang yang telah siap menggunakan senjatanya. Aku yang mengenali beberapa diantara mereka hanya bisa terkejut, tak mampu melakukan apapun karena saat ini Deus yang menguasai tubuhku.
‘Luna? Brunhilda? Kenapa disini?! Apakah mereka yang memanggilku?!’ Teriakku dalam hati.
Di sebelah kananku nampak sosok Elizabeth yang masih menundukkan kepalanya. Selain dirinya, nampak 12 Iblis lain yang berbeda ras. Minotaur, Naga, Halfing, serta berbagai ras yang lain.
Deus yang telah mendapati dirinya telah sampai di dunia manusia mengambil nafas yang cukup dalam sebelum membalik badannya. Nampak sosok seorang Pria dengan warna kulit yang putih pucat dan rambut yang seputih salju. Di atas kepalanya nampak dengan jelas nama ‘Evan’ dengan warna hitam pekat.
‘Jangan katakan padaku, bahwa dia seorang Player?!’ Teriakku dalam hati.
“Tuanku, apakah 7 orang itu merupakan musuh yang harus dilawan?” Tanya Deus melalui tubuhku.
“Buahahaha!!! Lihatlah ini Evalina! Aku berhasil memanggil banyak Iblis tingkat tinggi! Apakah kau masih yakin untuk melawanku?!” Teriak Evan sambil tertawa seperti orang gila.
“Evan! Kau!!!” Teriak seorang Wanita dengan rambut berwarna perak. Di atas kepalanya nampak tulisan ‘Evalina’ dengan warna merah menyala.
“Kalian semua! Bunuh 7 orang itu! Setelah itu aku akan memberikan kalian keabadian sama seperti diriku!!!” Teriak Evan sambil tertawa keras.
Tak ada yang menjawab perkataan Evan. Tapi semuanya segera bergerak untuk melawan 7 orang itu. Semua Iblis yang menerima panggilan dari Evan menyadari hal yang sama. Pemanggilnya merupakan seseorang yang sangat kuat. Terlebih lagi, dia abadi dengan ras Undead miliknya.
Deus yang masih mengendalikan tubuhku segera menyerang seorang gadis dengan rambut berwarna hijau. Brunhilda. Liz yang melihat hal ini segera membantu Ratunya.
“Jadi aku harus melawan 2 vampir ya? Sialan!” Ucap Brunhilda setelah memahami keadaannya.
“Magic Barrage!” Ucap Deus menggunakan tubuhku. Muncul rentetan sihir yang cukup besar dan menghancurkan sebagian gua ini. Liz yang memahami maksud dari Deus segera menggunakan sihir terkuatnya untuk membuat kerusakan besar.
“Blood Festival.” Ucapnya tanpa ekspresi sama sekali. Seketika muncul lautan darah di ruangan ini. Darah yang muncul itu segera berputar seperti pusaran air yang sangat kuat, menghempaskan apapun yang ada di ruangan ini termasuk Iblis dan anggota Seven Star yang lain.
__ADS_1
Tak hanya itu, sebagian dari darah itu membentuk banyak butiran-butiran kecil yang melesat ke berbagai arah. Semua tempat ini hancur lebur saat menerima hantaman darah dengan kecepatan sangat tinggi itu.
Brunhilda dan beberapa anggota lainnya memutuskan untuk keluar dari gua yang kecil ini. Mereka paham bahwa pertarungan di tempat sempit seperti ini hanya akan merugikan mereka.
Memanfaatkan suasana ini, Deus dan Liz segera mengejar Brunhilda yang keluar dari gua.
Sedangkan Evan? Dia sedang tertawa puas dan kini berhadapan satu lawan satu dengan Evalina. Meskipun Evalina menggunakan sebuah pedang besar, Evan nampak tak menggunakan apapun. Bahkan di tangan kirinya hanya terdapat sebuah botol ramuan.
Aku yang tak sengaja melihat sosoknya merasa aneh. Bertarung dengan menggunakan botol ramuan? Apa yang dia pikirkan? Tapi aku tak punya waktu untuk itu. Benar. Aku harus memperhatikan sebanyak mungkin kekuatan dari masing-masing anggota Guild Seven Star dan mendukung Deus dari dalam.
Sepuluh menit telah berlalu. Nampak sosok 3 orang yang berlarian di tengah kegelapan padang pasir yang sangat luas ini.
Deus dan Liz masih mengejar Brunhilda yang kini telah sendirian, terpisah dengan anggota Guild yang lain. Nampaknya Brunhilda mulai menyadari bahwa 2 Vampir yang mengejarnya sama sekali tidak berminat untuk membunuhnya.
Pada akhirnya, Brunhilda berhenti berlari dan memilih untuk berbicara.
“Katakan padaku, apa yang kalian inginkan?” Ucap Brunhilda.
“Oh? Akhirnya kau bertanya? Kupikir kau hanya akan berlarian sepanjang malam dari kami berdua.” Balas Deus sambil tersenyum menggunakan tubuhku.
“Kalian…. Tidak berusaha untuk membunuhku sama sekali meskipun memiliki kekuatan sebesar itu….”
“Kau juga, gadis kecil. Meskipun memiliki kecepatan gerak seperti itu, kau sama sekali tidak mencoba untuk memotong leher kami. Bagaimana jika kita melakukan pertukaran?” Tanya Deus.
“Pertukaran?”
“Yang jelas aku sama sekali tidak berminat dengan kalian, apalagi Pria yang memanggilku. Aku hanya ingin pergi ke dunia manusia. Itu saja. Jika kau membiarkan kami berdua pergi, aku juga akan membiarkanmu untuk kembali dan membantu teman-temanmu. Bagaimana?” Jelas Deus sambil menyilangkan kedua lengannya.
Mendengar hal itu, Brunhilda nampak kebingungan. Di satu sisi dia ingin mengalahkan kedua Vampir yang ada di hadapannya ini untuk mencegah hal buruk terjadi di dunia manusia. Tapi di sisi lain, dia ingin segera kembali dan membantu anggota Guild lainnya untuk menumpas akar permasalahannya yaitu Evan.
“Baiklah, Vampir. Aku akan menerima tawaranmu. Kalau begitu, selamat tinggal.” Ucap Brunhilda sambil berlari dengan sangat kencang melewati kedua Vampir itu. Ia nampak tak menoleh sama sekali. Hanya fokus untuk segera kembali ke gua yang sudah hancur itu.
Deus dan Liz yang kini telah terbebas dan sampai di dunia manusia nampak cukup senang.
Seketika, kendali tubuhku kembali. Aku dapat menggerakkan tubuhku sesuka hatiku lagi. Setelah itu terdengar suara yang seakan telah lama tak kudengar.
“Eric! Kita berhasil sampai di dunia manusia! Sekarang ayo pergi ke Dungeonmu itu!” Teriak Deus dengan suara gadisnya dari dalam tubuhku.
Jujur saja mengingat Deus berbicara dengan menggunakan tubuhku membuat diriku tak nyaman. Bagaimana tidak, aku mendengar dirinya berbicara dengan suara seorang Pria!
“Baiklah, Deus. Tunggu sebentar.” Balasku padanya singkat.
Liz yang berdiri di sebelahku hanya terdiam sambil sedikit menundukkan kepalanya.
Aku pun segera membuka jendela menu sistem dan menekan tombol pertemanan.
[Alice. Aku minta maaf jika merepotkanmu sekali lagi. Aku akan membayarnya berapapun yang kau minta tapi tolong! Jemputlah aku dan bawa aku kembali ke Dungeon Origin. Atau di wilayah Kerajaan Salvation juga tidak masalah. Untuk koordinatku saat ini …. ]
Dengan secepat kilat, Alice segera membalasnya. Seakan…. Dia memang selalu melihat jendela menu miliknya untuk menunggu pesan masuk. Benar-benar seorang pengguna Skill Teleportasi yang bisa diandalkan.
[Baiklah. Tunggu sebentar, Eric.]
Saat itu juga, muncul lingkaran sihir berwarna biru yang indah. Dibaliknya muncul sosok 2 orang. Seorang gadis dengan warna rambut agak kecoklatan, Alice. Di sampingnya nampak sosok seorang gadis dengan warna rambut merah muda, Elin.
“Eric! Bagaimana kau sudah bisa sampai disini?! Aku bahkan belum mencari pemilik Skill Demon Summoning!”
__ADS_1
...***...
“Apakah kau sudah puas sekarang Evan?” Ucap Evalina sambil mengarahkan pedang besarnya di leher Evan.
“Kukuku…. Hahaha!!!” Evan hanya tertawa seperti orang gila saat ini mendengar perkataan Evalina.
“Kau…. Nampaknya kau memang sudah gila ya? Apakah kau sadar jika aku membunuhmu maka kau tak akan bisa lagi kembali ke dunia ini?” Tanya Evalina kebingungan melihat tingkah Evan.
“Coba saja membunuhku…. Jika kau memang bisa!!! Hahaha!!!”
Mendengar provokasi dari Evan, Evalina menjadi semakin marah dan mulai mengayunkan pedangnya. Tapi sesaat sebelum berhasil memotong lehernya….
‘Ttraang!!!’
Terdengar suara benturan antara pedang Evalina dengan suatu benda yang keras.
[Death Knight]
[Rarity : Unique]
[Level : 237]
“Aku takkan membiarkanmu melukai Tuanku, manusia!” Teriak Death Knight yang tiba-tiba muncul itu.
“Evan! Jangan katakan bahwa kau….”
Tapi tak mendengar perkataannya, Evan segera menggunakan Skill terbaiknya.
“Necropolis… Creation!” Teriak Evan dengan keras.
Seketika, gua yang sudah hancur lebur itu berubah sedikit demi sedikit. Tanahnya menjadi hitam keunguan dengan sedikit corak berwarna hijau. Begitu juga batuan-batuan yang ada di dalamnya. Dari semua tempat bermunculan tangan-tangan dan tubuh yang sebagian besar terdiri hanya dari tulang. Sebagian lagi masih memiliki daging yang mulai membusuk.
“Kukuku…. Buahahaha!!! Evalina! Nasibmu akan tamat disini! Kau pikir bisa mengalahkanku sendirian?! Hahaha! Kesalahanmu adalah membiarkan seluruh anggotamu pergi meladeni Iblis itu! Hahaha!!!” Teriak Evan sambil terus menerus tertawa.
“Sialan! Evan! Aku pasti akan membunuhmu! Kau….” Teriak Evalina sambil menebas berbagai tangan yang muncul dari bawah tanah.
“Hahaha…. Apakah kau yakin bisa melakukannya? Ketika aku berada di Istana kematian itu sendiri? Hahahah!!!”
Dan begitulah, akhir dari pertarungan antara Evan dengan Evalina telah diputuskan.
Evan menang telak dengan membunuh seluruh anggota Guild Seven Star, termasuk Evalina. Itu semua dikarenakan Buff yang Ia terima karena berada di dalam Necropolis.
Eric yang kini telah kembali ke Dungeon Origin sama sekali tidak mengetahui hal ini.
...___________________________________...
...[Sebelum lanjut membaca]...
...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...
...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...
...[Tak ada ruginya bagi kalian]...
...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...
__ADS_1