The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 122 - Kembali ke Dunia Virtual


__ADS_3

...22 Desember 2073...


Pandanganku berubah setelah memasuki kapsul VR milikku dan Log In ke dunia virtual itu.


Di hadapanku nampak harta yang sangat melimpah. Nampaknya aku sedang duduk di suatu singgasana emas. Dengan segera, aku menyadari lokasi karakterku berada.


“Dungeon Treasure? Hah…. Sudah lama sekali sejak aku tidak Log In. Lima bulan lebih ya?” Ucapku pada diriku sendiri. Hal yang wajar karena yang selama ini Log In sesekali untuk mengambil uang di ruang harta adalah Elin.


Saat aku masih merasa nostalgia, terdengar suara yang begitu berat dan sedikit menyeramkan.


“Selamat datang kembali, Tuan Eric.” Ucap seekor minotaur dengan tubuh besar setinggi 3 meter itu.


“Terimakasih telah menjaga Dungeon ini dari para penjajah, Roxas.” Ucapku kepada Minotaur itu.


Roxas adalah seekor minotaur yang bertugas menjadi penjaga di lantai 20 ini. Ia ditemani oleh beberapa Minotaur lainnya.


Perlengkapannya berada pada tingkat Unique yaitu Giant Mithril Armor, Slaughterer Axe dan juga beberapa aksesoris lainnya.


Tentu saja, semuanya merupakan buatan Tasmith. Sementara untuk statusnya?


[Roxas, Minotaur Lord]


[Ras : Minotaur]


[Rarity : Epic]


[Level : 228]


Health Point : 244.580


Mana Point : 32.112


Stamina Point : 52.440


Attack Power : 21.728


Magic Power : 2.964


Defense : 8.564


[Status]


STR : 5.700


AGI : 2.280


INT : 1.824


VIT : 5.016


STA : 4.104


DEX : 1.368


[Growth Point]


STR : 25


AGI : 10


INT : 8

__ADS_1


VIT : 22


STA : 18


DEX : 6


Total Growth Point : 89


Kemampuannya masih jauh dibawah Lucien. Akan tetapi bagi standar player biasa, Roxas merupakan boss monster yang sangat kuat dan mengerikan. Tak hanya dari statusnya saja tapi juga dari perlengkapannya.


Setelah puas melihat statusnya saat ini, aku segera menanyakan beberapa hal kepadanya.


“Bagaimana kondisi Dungeon saat ini? Seberapa jauh para penjajah mampu masuk?”


“Paling jauh mereka mampu bertahan hingga lantai 15. Menurut penjaga di lantai 5, 10 dan 15 mereka merupakan kelompok yang sangat kuat dan terdiri dari 12 orang. Mereka menyebut diri mereka sebagai Rebellion.” Ucap Roxas.


“Rebellion ya? Baiklah. Aku akan mengingat nama itu. Kurasa aku akan meningkatkan pertahanan di Dungeon ini mulai dari lantai 6. Dimana Oliver dan Lucien?” Tanyaku sambil berdiri dari singgasana itu.


“Aku yakin mereka berdua berada di Dungeon Origin.”


“Terimakasih, Roxas. Lanjutkan kerja kerasmu.” Balasku singkat.


Setelah mendengar itu, aku segera menuju ke lantai 21 dan menggunakan lingkaran sihir teleportasi untuk pergi ke Dungeon Origin.


...***...


...Dungeon Origin...


...Lantai 5...


“Oliver, bagaimana keadaan Dungeon selama aku tidak ada?” Tanyaku kepada Oliver yang saat ini sedang mengawasi pembangunan Kota Origin.


“Aku akan mempersiapkan pekerja baru. Bisakah kau mengatur pengembangan lantai baru Dungeon Origin? Nanti aku akan menyerahkan cetak biru mengenai denah pembangunan Dungeon Origin di lantai 6 hingga lantai 15.” Tanyaku kepada Oliver.


“Pengembangan hingga lantai 15, Tuanku? Tentu saja aku mampu untuk mengaturnya. Akan tetapi….” Balas Oliver dengan wajah yang sedikit kebingungan.


“Biaya kan? Maafkan aku karena terus menerus mengosongkan ruang harta. Aku akan segera menggantinya.” Balasku singkat.


“Tidak tidak! Tuan Eric tidak melakukan kesalahan apapun!”


Setelah itu, aku dan Oliver segera menuju ke kastil di lantai 5 ini untuk membahas pembangunan Dungeon Origin. Pada intinya, desain kota mulai dari lantai 6 hingga 15 akan disusun berdasarkan gaya abad pertengahan di Eropa.


Setiap beberapa puluh meter, aku berencana untuk membangun pilar raksasa untuk menahan gua ini. Aku tidak tahu apakah di dalam game Re:Life ini memiliki hukum fisika yang sama persis dengan dunia nyata, tapi aku harus mencegah hal yang buruk sebelum benar-benar terjadi.


Bagaimana pun, gua raksasa yang dijadikan sebagai kota besar dengan ratusan ribu penduduk ini seharusnya cukup rentan untuk mengalami keruntuhan.


“Jadi pilar ini juga akan dibangun di lantai 2 hingga 5?” Tanya Oliver penasaran.


“Ya. Aku akan keluar sebentar untuk mencari uang tambahan. Dimana Lucien?” Tanyaku sambil melihat sekeliling.


“Kurasa Ia sedang berada di Colloseum.” Balas Oliver.


“Baiklah. Aku akan segera kesana.”


...***...


‘Prook!! Prook!!!’


Terdengar suara tepuk tangan yang meriah serta teriakan para penonton yang begitu keras. Semuanya meneriakkan hal yang beragam. Inilah keadaan Colloseum di Dungeon Fortress milik Deus. Sebuah tempat seperti stadion raksasa yang mempertontonkan pertarungan antara vampir dengan monster buruan mereka.


“Kirimu, Lucien!”

__ADS_1


“Jangan dengarkan dia! Manticore itu ada di sebelah kananmu!”


“Berhentilah berbohong! Hewan itu ada di hadapanmu!”


Beragam teriakan mulai terdengar. Aku memasuki ruang eksekutif yang ada di bagian paling atas. Di ruangan ini hanya terdapat 4 buah kursi yang diperuntukkan kepada Deus, Liz, Lucien dan diriku. Tentu saja, petinggi Dungeon yang lain boleh memasuki ruangan ini.


Sedangkan di hadapanku?


Nampak tanah lapang yang dikelilingi kursi penonton dari batu yang bertingkat dan berjejer rapi. Di tanah itu nampak sosok Lucien yang bertarung dengan seekor Manticore.


Manticore sendiri merupakan monster buas tingkat tinggi. Penampilannya yaitu memiliki tubuh singa dan cakar yang tajam, memiliki sepasang sayap hitam pekat dan ekor yang berupa ular beracun.


Levelnya? Mungkin mencapai angka 200 lebih. Bagaimana pun, Manticore merupakan monster tingkat tinggi yang sangat berbahaya. Aku heran bagaimana para Vampir ini dapat menemukannya. Meski menghadapi lawan yang seperti itu….


Lucien nampak menutupi kedua matanya dengan kain hitam yang sangat tebal. Tak hanya itu, kedua tangannya dirantai dengan rantai Mithril yang cukup besar dan kuat. Sedangkan di setiap kakinya nampak rantai yang terikat dengan sebuah bola besi.


“Ah, kau sudah kembali Eric!” Teriak Deus dengan ceria setelah melihatku. Ia nampak begitu menikmati pertandingan ‘berat sebelah’ ini.


“Bagaimana kabarmu, Deus? Liz?” Tanyaku sambil duduk di salah satu kursi itu.


“Baik! Tidak…. Kabarku sangat luarbiasa! Bagaimana pun, ini adalah hari pertarungan Lucien dengan Manticore! Kita lanjutkan pembicaraannya nanti saja ya!” Balas Deus dengan penuh semangat seperti biasa.


Sedangkan Liz? Ia hanya terdiam dan fokus untuk mengamati jalannya pertarungan.


Meski Lucien memberikan banyak sekali kemudahan untuk Manticore itu, Ia tetap bisa memimpin jalannya pertarungan dengan sangat baik. Bahkan lebih dari itu. Ia mampu menghindari seluruh semburan api dan racun dari monster itu sambil melayangkan balasan.


‘Brukk!’


Lucien mengayunkan kakinya dengan cepat ke arah samping. Bola besi yang ada di ujung rantai di kakinya itu bergerak sesuai keinginannya dan menghantam kepala monster itu.


‘Wuuuoossshh!!!’


Tak menerima penghinaan Lucien, Manticore itu kembali menghembuskan nafas apinya. Hampir separuh dari Colloseum ini termakan dalam lautan api yang terbentuk. Bahkan para penonton juga terlihat terkena dampaknya. Meski begitu, mereka tetap semangat dalam menonton dan bahkan tak terlihat segores pun luka.


Semua itu dikarenakan sihir perlindungan yang dibuat oleh Deus. Sihir itu melindungi seluruh Colloseum ini dengan baik termasuk seluruh penontonnya.


“Hahaha! Apakah hanya seperti ini saja kemampuan monster langka ini?!” Teriak Lucien sambil terus menerus mengayunkan kakinya.


Beberapa menit telah berlalu.


Puluhan pukulan dari bola besi yang ada di ujung rantai itu membuat Manticore yang menghadapi Lucien babak belur hingga tidak berbentuk lagi.


Hingga akhirnya….


“Cukup sampai disitu!” Teriak Deus sambil berdiri dari kursinya.


“Pemenangnya adalah Lucien! Petugas! Cepat bawa Manticore itu kembali dan rawat lukanya! Ia masih harus menghadapi penantang lainnya esok hari!” Teriak Deus sambil tersenyum lebar.


Suasana Colloseum sontak dipenuhi dengan sorak gembira melihat Lucien. Hal yang wajar karena Ia mampu menghadapi monster itu dengan sangat mudah bahkan tanpa penglihatan, tangan dan gerakan kaki yang terbatas.


Tanpa ku sadari, aku juga tersenyum karena menikmati pertarungan ‘berat sebelah’ barusan.


...***...


Setelah pertarungan itu selesai, aku, Deus, Liz dan Lucien pergi ke ruangan khusus petugas di Colloseum itu.


“Tuanku, aku dengar kau mencariku. Apakah ada yang bisa kubantu?” Ucap Lucien sambil berlutut.


Dengan segera, senyuman yang lebar terbentuk di wajahku.


“Agmar. Apakah kau sudah menemukan identitasnya di dunia ini?”

__ADS_1


__ADS_2