The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 211 - Inisiatif


__ADS_3

...Dungeon Origin...


...Lantai 5...


Kastil Pemerintahan Origin


Di dalam kastil yang terbuat dari batu ini, nampak sebuah meja bundar dengan banyak kursi indah yang kosong.


Akan tetapi, di ujung ruangan….


Nampak sosok seorang Wanita yang begitu anggun sedang menatap ke luar jendela. Rambut peraknya yang tebal dan indah itu nampak bergerak kesana kemari karena terpaan angin dari balik jendela itu. Sesekali, terpaan angin itu menunjukkan telinganya yang cukup runcing itu.


Ia mengenakan gaun hitam dan merah yang begitu indah dan sesuai dengan perawakannya.


Jari-jarinya yang begitu lenting dihiasi dengan kuku tajam yang berwarna hitam pekat. Sedangkan tangan kanannya nampak sedang membawa sebuah gelas kaca yang begitu indah dan terisi oleh cairan berwarna merah.


Waktu terus berlalu dengan keheningan. Meski begitu, wanita itu tetap tenang dan terus berdiri menatap ke arah jendela seakan sedang menunggu suatu hal.


Sesekali, Ia meneguk cairan berwarna merah yang berada di gelas kacanya itu. Wanita itu meminumnya dengan gaya yang begitu elegan, sehingga mampu memperdaya siapapun yang melihat keindahannya.


Hingga pada akhirnya….


‘Dok. Dok. Dok.’


Tiga buah ketukan pintu yang cukup pelan terdengar dari balik ruangan itu. Wanita itu nampak membalikkan badannya dan menoleh ke arah pintu itu.


Matanya yang memiliki warna keemasan itu nampak mulai bercahaya. Ia menatap tajam ke arah pintu itu selama beberapa saat hingga akhirnya Ia mulai berbicara.


“Silahkan masuk, Tuanku.” Ucap Wanita itu sambil segera berjalan ke arah pintu untuk membukanya. Setelah melihat sosok di baliknya, Wanita itu dengan segera membungkukkan badannya untuk menghormatinya.


“Aku telah menunggumu. Jadi, hal apa yang ingin Tuanku bicarakan sehingga harus bertemu denganku?” Lanjut wanita itu dengan suara yang cukup merdu. Ia nampak mengangkat sedikit kepalanya sehingga mampu melihat sosok yang ada di hadapannya.


Pada saat itulah….


“Aku ingin bertanya mengenai beberapa skill kepadamu. Apakah kau bisa membantuku menjawabnya?”


Mendengar pertanyaan itu, Wanita yang merupakan bangsawan Vampir tingkat atas itu tersenyum tipis. Tak lupa, Ia kembali membungkukkan badannya dan berkata.


“Tentu saja, apapun akan ku lakukan untuk memenuhi keinginanmu, Tuanku.”


Pada akhirnya, mereka berdua segera memasuki inti permasalahannya.


Dengan matanya yang bersinar, wanita itu segera memeriksa apa yang diinginkan oleh Tuannya dan memberikan jawaban yang begitu sederhana.

__ADS_1


“Penggabungan skill seperti itu…. Tentu saja sangat memungkinkan. Sedangkan untuk hasilnya, aku yakin bahwa itu akan sesuai… tidak. Bahkan akan melebihi harapanmu, Tuanku.”


...***...


...Kerajaan Farna...


...Kota Forgia...


...Distrik Utara...


Di tengah gelapnya malam ini, seluruh penduduk sipil telah lama tertidur pulas. Dengan balutan cahaya rembulan yang redup serta lentera di sepanjang jalanan dan perumahan di Kota ini, para Prajurit masih bersiaga dan berpatroli secara bergiliran.


Mereka nampak begitu sigap dalam melaksanakan pekerjaannya. Tak ada sedikit pun canda, tak ada sedikit pun tawa. Semuanya hanya terfokus untuk melakukan apapun yang mereka perlukan. Yaitu menjaga Kota ini dari serangan musuh yang bisa datang kapan saja.


Di salah satu gang yang gelap dan sempit itu, nampak tiga orang Prajurit sedang berpatroli untuk menyusuri tempat-tempat yang jarang dijangkau oleh pasukan patroli lainnya.


“Bagaimana menurutmu?” Tanya salah seorang prajurit yang memiliki bekas luka di kepalanya.


“Mereka tidak akan datang malam ini.” Balas seorang prajurit muda yang ada di sebelahnya dengan suara yang cukup lirih. Suara lirih yang bahkan sulit untuk didengarkan oleh sang penanya sebelumnya jika tidak fokus.


“Begitukah? Meskipun Yang Mulia yang memprediksi hal itu, tak ada salahnya kita tetap fokus kan?” Balas sang penanya.


“Tentu saja, untuk itulah kita ada di sini kan?”


Seorang Prajurit tua yang sedari tadi terdiam nampak mulai bersuara. Meski begitu, suara yang Ia keluarkan hanyalah sebuah isyarat untuk meminta kedua orang lainnya diam.


Tentu saja, mereka berdua segera terdiam tanpa memberikan pertanyaan bodoh seperti ‘ada apa?’ kepadanya.


Dengan sigap, mereka bertiga segera menarik pedang yang selama ini menggantung di pinggang mereka. Begitu juga dengan perisai besi kecil yang ada di punggung mereka.


“Bocah. Jika ada sesuatu, pastikan kau lari dan memberitahukan kepada yang lain.” Ucap sang Prajurit tua itu.


Prajurit muda yang mendengarnya segera menganggukkan kepalanya karena memahami yang dimaksud adalah dirinya.


Sedangkan Pria yang memiliki bekas luka di wajahnya itu juga nampak mengangguk. Ia paham bahwa jika terjadi sesuatu, Ia harus menyerahkan nyawanya bersama dengan sang Prajurit tua itu untuk memberikan waktu kepada sang pemuda.


Beberapa detik berlalu dengan keheningan di tengah gang yang gelap dan sempit ini. Meskipun waktu yang sangat singkat bagi sebagian besar orang, tapi bagi mereka bertiga ini adalah waktu yang sangat lama.


Hal yang wajar, sebagai NPC maka kematian adalah akhir bagi mereka. Oleh karena itu, detik-detik terakhir yang mungkin saja menjadi akhir bagi kehidupan mereka akan terasa begitu lama.


‘Tik…. Tik….’


Suara tetesan air dari bekas hujan sore hari tadi masih terdengar dari beberapa sudut gang ini.

__ADS_1


Meski begitu, fokus mereka bertiga tidak terganggu sedikitpun.


Hingga akhirnya, usaha mereka membuahkan hasil.


Sebuah cahaya biru yang begitu redup, terlihat bersinar di ujung gang tersebut. Sesuai dengan deskripsi Raja mereka, bahwa cahaya biru yang muncul entah darimana adalah salah satu ciri penggunaan sihir dari [Ancient Book : Teleporter] yang dimiliki oleh musuh mereka.


‘Sret!’


Tanpa keraguan sedikitpun, sang pemuda segera membalik badannya dan berlari ke arah yang berlawanan dengan kemunculan cahaya biru itu.


Sementara itu, kedua orang yang tersisa segera bergerak maju dan membiarkan sang pemuda berlari. Bukan kabur karena ketakutan, melainkan kabur untuk segera melaporkan kejadian ini.


‘Tap! Tap! Tap!’


Mereka berdua melangkahkan kaki mereka secara perlahan.


Setelah beberapa saat, cahaya biru itu mulai meredup dan menghilang. Di balik cahaya itu, nampak beberapa orang sedang berjalan seakan muncul entah darimana.


“Hah?! Kenapa kita dikirimkan ke tempat seperti ini?!” Teriak seorang Pria yang mengenakan zirah kulit ringan serta membawa sebuah kapak.


“Jangan mengeluh. Ini adalah tugas kita sebagai anggota Guild inti Salvation kan?” Balas seorang gadis yang memegang sebuah tongkat sihir keemasan yang sedikit lebih tinggi daripada tubuhnya sendiri. Ia mengenakan jubah yang berwarna kehitaman dengan alur putih.


“Kalian berdua diamlah. Apakah kalian lupa bahwa kita kemari untuk melakukan misi? Kenapa begitu berisik?” Ucap seorang Pria dengan badan yang cukup besar serta kepala yang botak. Ia nampak tak mengenakan senjata apapun. Meski begitu, kedua tangannya dilindungi oleh semacam sarung tangan besi.


Sedangkan pakaiannya yaitu mantel kulit hewan buas yang cukup tebal untuk melindungi namun cukup ringan untuk bergerak bebas.


Pada saat mereka bertiga masih sibuk berbicara, kedua prajurit yang sebelumnya mendekat nampak gemetar ketakutan.


Mereka telah menyiapkan diri mereka untuk mati.


Tapi entah kenapa, kini mereka merasakan hawa dingin yang begitu mencekam hingga menusuk ke tulang mereka.


Hal yang wajar….


Karerna apa yang sedang mereka hadapi adalah tiga dari 10 anggota inti Guild Salvation. Meski bukan merupakan eksekutif, kekuatan mereka bukan main-main.


Benar saja….


Ketiga orang itu memiliki level yang berkisar pada angka 260 dengan total rebirth sebanyak 10 kali.


Dengan kalimat sederhana….


Mereka bertiga adalah monster yang sesungguhnya.

__ADS_1


__ADS_2