
...Wilayah Kekaisaran Avertia...
...Ibukota, Avarice...
Di tengah kota yang begitu megah dan padat penduduk ini, bangunan-bangunan yang menjulang tinggi terlihat di segala arah.
Dinding pelindung Kota yang mencapai ketinggian 15 meter itu juga didukung dengan ketebalannya yang bahkan mencapai 5 meter lebih. Di dalam dinding yang besar itu terdapat banyak sekali prajurit yang berpatroli kesana kemari untuk memastikan keamanan di Ibukota itu.
Meski begitu....
"Kugghh! Kaaau! Siapa kau?!" Teriak seorang bangsawan yang kini telah tertusuk pedang berwarna hijau itu.
"Mengetahui siapa diriku takkan mengubah kenyataan bahwa kau akan mati." Balas Pria berambut putih dan bermata merah menyala itu. Ialah Evan, sang Necromancer yang juga merupakan seorang Alkemis.
Segera setelah membunuh orang yang menghadanginya, Evan mengarahkan tangan kirinya di hadapan pintu besi yang besar itu.
'Syuuuttt! Blaaaaaarrrr!!!'
Tekanan angin yang disertai dengan api yang sangat kuat itu segera menghancurkan pintu besi yang ada di hadapannya.
Evan bersama dengan beberapa bawahannya termasuk Lilith itu segera memasuki ruangan yang ada di balik pintu besi.
Sebuah ruangan megah yang berisi banyak sekali harta dan juga artifak.
"Lilith, terimakasih atas informasimu mengenai Kaisar yang sedang pergi. Menghadapi Kaisar itu sungguh mustahil bagi semua orang yang ada di dunia ini." Ucap Evan tanpa menoleh dan terus berjalan ke depan.
"Sebuah kehormatan bagiku, Tuanku." Balas Lilith sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.
Kaisar Julius von Avertia. Ia adalah keturunan langsung dari darah pendahulu dan pendiri Kekaisaran ini secara langsung. Julius segera menggantikan Ayahnya yang meninggal beberapa tahun lalu untuk menduduki tahta Kaisar.
Menjadi keturunan dari garis darah Avertia saja telah memberinya kekuatan yang menyamai para legenda baik dari dunia yang lama maupun dunia saat ini bahkan jika orang yang terlahir adalah idiot sekalipun.
Jika yang terlahir adalah seorang jenius seperti Julius? Yang bahkan tak pernah membolos satu hari pun di sekolahnya baik itu sekolah diplomasi, militer, ekonomi, berpedang, hingga sihir?
Tentu saja hal itu akan melahirkan seorang Kaisar terkuat yang pernah ada di dunia ini.
Kekuatannya konon setara dengan setengah dewa. Meski begitu, umurnya masih sangatlah muda yaitu 23 tahun. Ia sama sekali tidak pernah melakukan ritual rendahan seperti Rebirth untuk meningkatkan statusnya. Itu karena terlahir di garis keturunan Avertia telah memberinya kekuatan yang lebih dari cukup.
Tapi tentu saja, tak pernah ada kata cukup dalam hal kekuatan.
Itulah sebabnya orang dengan garis keturunan Avertia memiliki satu skill tingkat [Ancient] yang kekuatannya berada diantara Unique hingga Mythical.
Sebuah Skill yang diperoleh dengan melakukan kontrak bukan kepada malaikat maupun iblis.
Tapi pada darah mereka sendiri dengan bantuan salah satu buku kuno yang paling kuat.
[Blood Contract].
Sebuah skill yang memberikan penggunanya kemampuan untuk menukar level menjadi Growth secara instan, dan begitupun sebaliknya.
Jika kondisi mendesak, pemilik kemampuan itu bisa menguras beberapa Growth Point miliknya dan menjadikannya kekuatan sesaat yang hanya bertahan beberapa menit saja.
Atau sebaliknya, pengguna yang berada dalam kondisi aman bisa menguras level mereka dan meningkatkan Growth Point miliknya.
Tapi kekuatan utama skill ini bukanlah mengenai pertukaran kekuatan itu. Melainkan kemampuan untuk meneruskan seluruh sisa Growth Point kepada keturunannya, beserta skill tersebut dan 3 skill lainnya.
Itulah yang membuat garis keturunan langsung Avertia sangatlah kuat dan sedikit demi sedikit mendekati tingkatan Dewa.
Developer atau pihak pengembang yang menemukan hal itu pada awalnya berniat untuk me reset dunia virtual ini dan membuat ulang.
Tapi karena mereka menganggap hal ini mungkin saja menarik bagi sebagian besar orang, akhirnya mereka memutuskan untuk membiarkannya saja.
Kembali ke situasi Evan....
__ADS_1
Setelah beberapa menit menggeledah isi dari ruang harta itu....
"Aku sudah menemukannya." Ucap Evan dengan wajah yang agak datar itu.
Pada akhirnya, Evan menemukan item terakhir yang di butuhkan olehnya sebagai alat untuk memanggil raja iblis dan membuatnya cacat sehingga Evan bisa menyerap kekuatannya.
Kelompok Evan pun pergi meninggalkan ruang harta itu sebelum pasukan kekaisaran datang dan menyergap mereka semua. Arah tujuan mereka? Kota Lesta di Kerajaan Farna.
...***...
...Wilayah Federasi Pedagang...
...Ibukota, Weltia...
"Apa?! Eric sialan itu! Dia hanya mengecoh kita untuk mengirim pasukan ke Ibukota demi melindungi dari serangannya, tapi ternyata dia malah menyerang di Kota pinggiran?!" Teriak William dengan sangat kesal setelah menerima laporan bahwa salah satu Kota telah rusak parah dan dijarah.
Meski disebut dijarah, satu-satunya benda yang hilang hanyalah kalung milik Arroth. Selain itu, hanya menyisakan lautan api yang meratakan sebagian kecil bangunan di sekitar istana di Kota itu.
"Tapi Tuan William! Bukankah penyerangnya adalah dua orang dimana satu berkulit cukup gelap dan satunya lagi adalah sejenis makhluk bersisik?" Tanya salah satu petinggi di Federasi itu.
Tapi seakan tak ingin menerima kenyataan, William masih tetap menyalahkan Eric atas kejadian ini. Meski begitu, Ia sama sekali tak tahu harus berbuat apa. Apakah harus menyerang Eric? Jika iya, memangnya saat ini Eric berada dimana?
Dan sekalipun tahu Eric ada dimana, apakah mereka bisa menang mengingat Eric bahkan mampu memukul mundur Leviathan yang menyerang di Pelabuhan Tortuga itu?
Sekalipun bisa menang, Eric sebagai Player hanya akan bangkit lagi beberapa hari kemudian. Apakah itu cukup menguntungkan bagi pihak William?
Sedangkan selain itu, kartu yang dianggap merupakan andalan William yaitu membeberkan rahasia Eric justru merupakan kartu sampah yang tak berguna.
Itu karena Ia yakin bahwa Eric bukan lagi seorang Summoner.
Tapi tepat pada saat William kebingungan....
"Tuan William!" Teriak seorang pelayan.
Sebelum pelayan itu menjelaskan keadaannya....
Terlihat seorang Pria dengan jubah abu-abu memasuki ruangan itu sendirian. Ia memiliki rambut hitam yang cukup acak-acakan serta mata yang sedikit merah.
Dengan langkah kakinya yang sangat santai itu, Ia berkata.
"Yo, William. Apa kabarmu? Aku kemari untuk berbisnis denganmu." Ucap Pria yang tak lain adalah Eric itu.
...***...
...Kota Kematian, Lesta...
...Wilayah Kerajaan Farna...
Di tengah kastil yang cukup megah namun berwarna hitam gelap dan juga dihuni oleh banyak sekali Undead itu, terlihat seorang Pria bersama dengan 7 orang yang merupakan pelayan Undeadnya itu membentuk sebuah segi delapan.
Mereka terlihat sedang melakukan suatu ritual dengan beberapa artifak kuno yang dianggap bisa memanggil lalu menyegel kekuatan Iblis yang ada.
Artifak pertama yang dibutuhkan adalah Soulless Vessel yang merupakan sebuah boneka kayu misterius buatan seorang pengrajin Dwarf kuno. Artifak ini memiliki tujuan utama untuk memberikan wadah sementara bagi makhluk yang akan dipanggil. Meski disebut sebagai wadah, makhluk apapun yang terpanggil akan berada dalam kondisi yang sangat lemah. Itulah mengapa meski Raja Iblis sekalipun akan seperti boneka kayu yang tak bisa melakukan apapun, memberikan Evan kesempatan untuk memperoleh kekuatan yang melampaui seorang Legenda.
Kemudian artifak kedua adalah Life Stone yang merupakan salah satu artifak terbesar dari Dewi Celestine. Kekuatan suci yang ada didalamnya akan mampu menahan kekuatan bahkan Raja Iblis yang muncul.
Dan artifak yang terakhir adalah Soul Stone yang merupakan salah satu artifak terbesar dari Dewi Julia. Kekuatan jiwa suci yang sangat kuat itu memungkinkan siapapun menahan kekuatan kejahatan yang sangat besar. Harapannya adalah untuk melemahkan Raja Iblis yang akan dipanggil oleh Evan nantinya
Dengan tiga artifak yang mahadahsyat itu, Evan sangat yakin bahwa dirinya mampu menyerap kekuatan dari Raja Iblis yang akan dipanggilnya. Dengan begitu, Ia akan memperoleh kekuatan yang setara dengan Dewa. Sebuah kekuatan tingkat Mythical yang memungkinkannya untuk menguasai dunia ini.
Evan dan juga 7 bawahannya segera memulai pengucapan mantra sihir kuno yang mereka temukan.
Dengan pengorbanan dan tumbal yang berupa seluruh Undead yang ada di Kota Lesta ini, Evan sangat percaya diri bahwa dirinya akan mampu memanggil Raja Iblis terkuat lalu menyerap kekuatannya.
__ADS_1
Waktu terus berlalu....
Lingkaran sihir yang menyerupai bentuk segi delapan dengan alur yang sangat rumit itu mulai bercahaya sedikit demi sedikit.
Cahaya berwarna kemerahan yang agak gelap itu mulai samar-samar terlihat dan menyinari kastil ini.
Hingga akhirnya, setelah proses pemanggilan hampir selesai....
"Datanglah di hadapanku, wahai Raja Iblis!" Teriak Evan sambil mengarahkan tangannya kepada boneka kayu yang berada di tengah lingkaran sihir itu.
Cahaya kemerahan mulai menyala dengan sangat terang hingga akhirnya kehilangan seluruh warnanya dan berubah menjadi hitam. Semua cahaya itu seakan terserap ke dalam boneka kayu itu.
Pada saat itu juga....
'Klak! Klak!'
Boneka kayu itu nampak bergerak sedikit demi sedikit. Kekuatan kegelapan yang sangat dahsyat bisa dirasakan oleh Evan keluar dari boneka kayu itu.
'Berhasil! Seperti dugaan bahwa Raja Iblis itu....'
Tapi sebelum Evan sempat berbahagia lebih lama lagi dengan hal ini....
Lilith dan juga 5 iblis lainnya kecuali Death Knight Evan segera mendekati boneka kayu itu.
Dua diantara mereka mengangkat Life Stone dan juga Soul Stone yang ternyata masih ada di dalam lingkaran sihir yang telah meredup itu.
"Tunggu! Apa yang kalian la...."
'Brukkk!'
Sang minotaur menendang Evan dengan sangat kuat hingga melemparkannya menembus beberapa tembok sekaligus.
'Blaaaaarrr! Duaaaarr!'
Meski begitu, Minotaur itu tetap berdiri pada tempatnya dan melanjutkan ritual itu dengan membentuk segi lima.
Lilith yang sejak awal segera mengangkat dan membelai boneka kayu itu terlihat sangat bahagia.
"Aaaah.... Tuanku. Akhirnya kau akan memperoleh kekuatan yang sempurna. Tolong puji diriku yang rendah ini...." Ucap Lilith pada boneka kayu itu.
Seakan memahami perkataannya, sang boneka kayu terlihat mengangguk dengan gerakan yang terpatah-patah.
Lilith yang melihat hal itu sangatlah bahagia dan segera meletakkan boneka kayu itu kembali di lantai batu itu.
Ia segera berdiri dan melanjutkan ritualnya.
Sementara itu, Death Knight yang memang setia dan hanya melayani Evan itu tak terima melihat Tuannya ditendang seperti itu.
Death Knight itu dengan segera menarik pedangnya dan bersiap untuk membalaskan dendamnya. Tapi Lilith yang ternyata sejak awal hanya menyembunyikan kekuatannya itu segera bergerak dengan sangat cepat ke arah Death Knight.
Ia mengeluarkan kuku yang sangat tajam dan mencincang Death Knight itu hingga menjadi berkeping-keping bahkan sebelum Death Knight berlevel 290 lebih itu sempat menarik pedangnya.
Cahaya putih pun terlihat menyinari ruangan ini.
Evan yang masih terkapar karena efek stun yang sangat besar akibat tendangan Minotaurus itu, hanya bisa melihat seluruh kejadian ini dengan penuh kebencian.
Ia sangat ingin meneriakkan seluruh isi hatinya. Tapi Evan sama sekali tak mampu untuk melakukannya.
Pada saat Evan masih terkapar, sebuah notifikasi yang membuat bingung seluruh dunia segera muncul di hadapan semua orang.
Sebuah notifikasi dengan warna yang beragam pada beberapa bagian dan tulisan yang seakan mengalami kerusakan.
...[%2nOb?? !!q^14,);19oOG ?! rSS? sTqq N1)52&&81n bIDqlI!? @?vy2//\=9H2m0!]...
__ADS_1