
Di suatu tempat di wilayah Kekaisaran Avertia.
Pemandangannya sangat membosankan. Padang pasir di seluruh arah. Meski begitu, sangat banyak Player yang berada di tempat ini. Itu semua karena adanya monster yang memberikan banyak sekali EXP di tempat ini.
[Skeleton Knight]
Rarity : Rare
Level : 171
‘Klaaang!!!’
Suara benturan antara pedang Skeleton Knight dan Player terdengar sangat nyaring.
[Anda telah menerima 4.729 damage!]
“Healer! Cepat sembuhkan aku! Nampaknya serangan dari tengkorak ini cukup kuat!” Teriak seorang pemain yang mengenakan zirah besi, perisai dan sebuah pedang.
Di sampingnya terdapat seorang lagi yang menggunakan perisai, sedangkan satunya lagi menggunakan sebuah belati. Di belakang mereka terdapat 2 orang yang masing-masing merupakan seorang penyihir dan penyembuh.
Jika dinilai, mereka memiliki komposisi tim yang seimbang. Bahkan level mereka semua juga berada pada kisaran 110. Sungguh tim yang kuat.
Meski begitu, mereka mengalami kesulitan pada saat melawan Skeleton Knight ini. Tubuhnya hanya terdiri dari tulang. Di seluruh tubuhnya terdapat zirah yang seakan Ia kenakan ketika masih hidup. Tangan kanannya memegang sebuah pedang sementara tangan kirinya memegang sebuah perisai yang sudah usang.
“Heal!” Ucap seorang penyembuh di barisan belakang. Seketika, tubuh Pria itu sembuh dan memulihkan sebagian besar Health Pointnya.
“Bagus! Sekarang saatnya penghabisan!” Teriak Pria itu.
Setelah pertarungan sengit antara 1 Skeleton Knight dengan 5 Player selama lebih dari 15 menit, akhirnya para player itu memenangkannya.
[Kelompok Anda berhasil mengalahkan Skeleton Knight!]
[Memperoleh 14.947.432 Experience Point!]
[Experience Point telah dibagikan secara merata kepada seluruh anggota kelompok!]
[Anda telah naik level!]
[Anda telah naik level!]
“Sudah kuduga! EXP yang diperoleh dengan membunuh monster ini sangatlah besar!” Ucap Pria itu setelah memenangkan pertarungan sengitnya.
“Ya, tapi bukankah ini sedikit aneh?” Tanya seorang Wanita yang ada di dalam kelompok itu.
“Aneh? Apanya yang aneh?”
“Monster ini…. Tidak mengalami Respawn seperti monster pada umumnya. Mereka muncul entah darimana dan….” Jelas Wanita itu.
“Jangan pikirkan hal sepele seperti itu! Yang jelas kita memperoleh banyak keuntungan dari membunuh mereka! Sekarang ayo kita lanjutkan perburuannya!”
Dan begitulah…. Kelompok itu melanjutkan perburuan mereka… tanpa mengetahui apapun.
...***...
Pagi ini sangat cerah.
Setelah lari mengelilingi taman, aku segera kembali ke rumah untuk mandi dan makan.
Masa restriksiku juga hampir berakhir. Selama ini aku menghabiskan waktuku dengan hal-hal yang bermanfaat yang hanya bisa kulakukan di dunia nyata. Bahkan tanpa kusadari, hari ini sudah tanggal 31 Desember 2072!
Tapi semua itu terjadi dengan tiba-tiba….
‘Ding dong!’
“Ya! Sebentar!” Ucapku sambil bergerak menuju ruang tamu untuk membuka pintu.
Saat aku membuka pintu….
“Eh?! Eeeeeh!!! Ke-kenapa kau ada di….” Aku terkaget bukan main melihat sosok yang ada di balik pintu rumahku.
Seorang gadis dengan tubuh yang agak pendek, memiliki rambut hitam lurus yang hanya sampai pundaknya serta senyuman yang begitu manis.
__ADS_1
Elina Septiani. Atau biasa kupanggil, Elin.
“Halo, Erik. Aku akan merepotkanmu selama beberapa waktu.” Ucap gadis itu sambil menunjukkan senyuman yang sedikit menakutkan.
“Eeeeeh?! Kenapa kau bisa tahu lokasi rumahku? Lagipula kenapa kau kemari?! Bagaimana dengan hutangmu dan….” Teriakku panik. Bagaimanapun juga, ini merupakan pertama kalinya aku bertemu dengan Elin secara langsung di dunia nyata.
‘Bu-bukankah dia lebih manis di dunia nyata?’ Pikirku dalam hati ketika melihat sosok Elina.
“Adikmu yang memberitahuku. Dia juga bilang bahwa kau butuh teman untuk ikut ke acara reunian nanti malam kan?” Balas Elin dengan santai.
Sebelum sempat menjawabnya, Ayahku datang ke depan untuk melihat siapa tamu yang datang.
“Erik! Kenapa kau tidak mempersilakan tamu untuk masuk ke… Erik? Siapa gadis itu?” Ucap Ayahku kaget saat melihat sosok Elina.
“A-Ayah… ini….” Jawabku gugup.
“Paman. Perkenalkan namaku Elina Septiani. Aku adalah pacar Erik.” Jawab Elin memotong perkataanku sambil sedikit menundukkan kepalanya.
Tapi mendengar perkataan Elina, Ayahku nampak kaget dan kebingungan. Jangankan Ayahku, aku sendiri pun kaget mendengarnya. Pacar? Sejak kapan?
“Erik…. Apa yang telah kau lakukan pada gadis malang itu? Apakah kau sudah mencuci otaknya untuk berkata seperti itu?!” Teriak Ayahku dengan wajah yang sedikit menyeramkan.
Ibuku yang ikut datang juga hanya memperkeruh suasana.
“Erik? Sejak kapan kau bisa mencuci otak seseorang?”
Yah, meskipun pada akhirnya Elin menjelaskan situasinya. Ia menyatakan bahwa aku dan Elin jadian di dalam dunia virtual itu. Karena tak ingin dituduh yang aneh-aneh, aku hanya mengiyakan seluruh perkataan Elin. Meski begitu….
‘Pacar ya? Apakah dia sungguh-sungguh soal itu?’ Pikirku dalam hati sambil melihat wajah Elin. Jujur saja jika dia benar-benar menganggapku seperti itu… bukankah aku terlalu beruntung?
“Jadi kau akan ikut menemani Erik pada saat dia reunian nanti Elina? Lalu setelah itu kau akan menginap dimana? Apakah sudah mencari penginapan? Lalu….” Tanya Ibuku penuh dengan rasa khawatir terhadap Elina.
“Apa yang kau bicarakan? Elina boleh menginap di rumah ini! Dia bisa tidur bersama Rina kan? Apakah kau mau, Rina?” Teriak Ayahku sambil bertanya pada adikku.
“Tentu saja Ayah. Kak Elina sudah kuanggap kakak perempuanku sendiri.” Balas Rina sambil tersenyum.
“Ah…. Paman dan Bibi bisa saja. Dik Rina juga begitu. Kalau begitu aku akan menerima tawaran kalian.” Balas Elin sambil tersenyum dan tertawa.
Sedangkan aku? Aku hanya bisa terdiam menikmati suasana ini.
...***...
“Kalau begitu kami berdua berangkat dulu ya….” Ucapku kepada kedua orangtuaku dan adikku.
“Ya, hati-hati di sana.” Jawab Ayahku.
Aku dan Elin segera memasuki mobil itu. Kami berdua memilih untuk duduk di belakang.
“Apakah tujuannya sesuai dengan pesanan?” Tanya pengemudi mobil yang tak lain merupakan jasa taksi online.
“Ya, benar mas.” Jawabku singkat.
“Erik, aku tidak sabar melihat mantanmu.” Ucap Elin sambil tersenyum seakan mengejekku.
“Diam saja kau, Elin. Seharusnya yang menemaniku adalah adikku. Tapi karena dia bersikeras untuk….”
“Aku yang memintanya untuk membiarkanku menemanimu.” Balas Elin secepat kilat untuk memotong perkataanku.
“Hah? Kenapa?”
“Sudah kubilang aku ingin mengetahui lebih banyak mengenai dirimu, Erik.” Balasnya sambil tersenyum kepadaku. Sialan. Bahkan hingga sekarang aku masih tidak bisa mempercayai situasiku sekarang ini.
Sebelum berangkat, Elin telah menceritakan kepadaku mengenai seluruh keadaannya. Ia bahkan menceritakan kepadaku mengenai masa lalunya dan alasan kenapa dia bisa memiliki hutang yang menumpuk seperti itu. Jujur saja aku seperti ditampar berkali-kali karena marah pada Elin saat itu tanpa mengetahui latar belakangnya.
Tapi saat ini semua hutangnya telah beres berkat kemampuan Tasmith dalam menghasilkan item mahal selama 43 hari ini.
Tak hanya membahas itu, Elin juga menceritakan mengenai kondisi Dungeon saat ini.
Berkat solusiku untuk mengorbankan lantai 1 Dungeon Origin, kini para monster dapat hidup dengan tenang di lantai 2 hingga 5. Elin berencana untuk membiarkan lantai 1 seperti itu untuk mengecoh penyusup.
Pengembangan Dungeon juga berjalan lancar. Meski begitu, populasinya berkurang cukup banyak karena serangan dari Inquisitor. Tapi selama bisa menghindari pandangan Kerajaan Suci Celestine untuk sementara waktu, itu bukanlah harga yang besar menurutku.
Tak hanya itu, kemampuan Tasmith nampaknya berkembang lebih lanjut lagi. Obsesinya terhadap permata membuatnya memiliki kemampuan pengrajinan permata yang mengerikan. Tentu saja harga penjualannya sangat tinggi.
__ADS_1
Elin memutuskan untuk menyimpan sisa uangnya di ruang harta yang kini dipindah ke lantai 5. Untuk apa? Ia mengatakan untuk pembangunan Dungeon ketiga yang berfungsi sebagai pelindung Dungeon Origin. Elin bahkan telah membuat rancangan Dungeonnya.
Apapun yang terjadi, aku sangat puas dengan situasi ini.
Terlebih lagi….
“Sayang…. Kenapa kau duduk jauh sekali dariku?” Tanya seorang gadis yang tak lain adalah Elin. Tangannya terus menerus meraih tubuhku, berusaha untuk merangkulku.
“E-Elin! A-apa yang kau lakukan?!”
“Sudah kubilang kalau kita ini sekarang merupakan sepasang kekasih kan? Kenapa kau terus menolakku? Ah… jangan-jangan aku… bukanlah tipemu?”
“Tidak! Bukan itu! Kau sangatlah tipeku….” Jawabku tanpa pikir panjang.
“Syukurlah kalau begitu.”
Sementara itu, supir taksi online ini terus menerus menyipitkan matanya sambil melihat tingkah kami berdua di kursi belakang.
Perjalanan menuju vila pribadi milik Ayah Ryan membutuhkan waktu hampir 1 jam. Lokasinya berada di Kaliurang.
“Mas, tolong jangan pergi dulu ya. Mungkin kami berdua cuman sebentar jadi tolong tunggu di sini. Tenang, aku juga akan membayar waktu tunggunya.” Ucapku kepada supir taksi online itu sambil menyerahkan beberapa lembar uang kertas.
“Baiklah, kalau begitu aku akan beristirahat sebentar disini.” Balas supir taksi itu sambil tersenyum menerima lembaran kertas itu.
“Apa maksudmu dengan sebentar, Erik? Bukankah kita akan cukup lama disini?” Tanya Elin kebingungan.
“Tenang saja, seseorang akan mengusir kita tepat sebelum memasuki vila ini.” Jawabku santai.
Sesaat setelah memasuki gerbang itu, kami disambut oleh pelayan yang ada. Sungguh luarbiasa kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Ryan.
“Ah, Erik! Akhirnya kau datang juga! Ayo masuk!” Teriak Ryan saat melihatku. Namun Ia masih nampak sibuk mengurus berbagai hal.
"Siap, Ryan. Aku akan segera kesana!" Jawabku singkat.
Hanya tersisa beberapa langkah sebelum menyentuh anak tangga itu, aku dan Elin dihentikan oleh beberapa orang.
“Bukankah ini Erik si anak miskin penuh hutang itu? Kenapa kau ada di sini? Pergilah! Kau hanya merusak suasana disini!” Teriak seorang gadis yang berdiri di atas tangga masuk ke vila itu. Namanya Adelia, seorang gadis yang dulu pernah kusukai.
Jujur saja aku ingin memukuli diriku sendiri yang saat itu menyatakan perasaanku kepadanya. Bagaimana bisa aku menyukai gadis yang menyebalkan seperti itu?
Adelia mulai membenciku dan menjadikanku sebagai bahan ejekan setelah itu. Tak hanya dirinya, Ia bahkan mengajak teman-temannya.
“Erik? Apakah dia….” Bisik Elin kepadaku.
Dengan segera aku mengarahkan tanganku di hadapan Elin untuk menghentikan perkataannya.
Jika aku masih seperti diriku yang dulu, aku pasti akan termakan provokasinya. Tapi sekarang? Untuk apa aku meladeninya? Jika aku marah dan berdebat dengannya, itu hanya akan sesuai keinginan Adelia. Aku pun memutuskan untuk melakukan hal yang sebaliknya.
“Baiklah, kami berdua akan pergi Del. Maaf mengganggumu.” Jawabku singkat sambil berbalik badan untuk pergi dari tempat ini. Di wajahku nampak senyum yang lebar karena memiliki alasan yang kuat untuk segera pergi dari sini.
“Eh? Loh? Kok semudah ini? Tumben sekali kau tidak melawan. Kupikir setelah lama tidak…. Hei! Kembali kesini kau! Siapa yang mengijinkanmu pergi! Tunggu!” Teriak Adelia dengan wajah yang bingung dan panik. Mendengarnya saja membuatku bingung, apakah dia memang ingin aku pergi dari sini atau tidak.
Tak hanya dirinya, beberapa temannya yang selalu menggangguku waktu sekolah dulu juga nampak kebingungan.
“Erik?” Tanya Elin dengan wajah yang nampak khawatir.
“Tenang saja Elin. Sejujurnya aku tak ingin kemari. Bagaimana kalau kita jalan-jalan mengelilingi Jogja?” Tanyaku kepada Elin.
“Mauuuu!!!” Teriak Elin kegirangan sambil mengangkat tangan kanannya.
Dan begitulah, aku segera memasuki mobil taksi itu kembali. Supirnya nampak terkejut dengan tingkahku yang benar-benar segera kembali.
Setelah itu, kami berdua menghabiskan malam tahun baru dengan saling bertukar cerita di dalam mobil. Tentu saja si supir yang bosan karena hanya menjalankan kendaraannya tanpa tujuan yang jelas itu juga ikut bercerita.
Tanpa sepengetahuan Erik, terjadi keributan di acara reunian itu antara Ryan dan Adelia beserta komplotannya. Ini semua karena Erik mematikan ponselnya untuk menikmati suasana saat ini.
...___________________________________...
...[Sebelum lanjut membaca]...
...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...
...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...
__ADS_1
...[Tak ada ruginya bagi kalian]...
...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...