The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 142 - Alternatif Solusi


__ADS_3

...Dungeon Origin...


...Lantai 5...


Aku kembali memasuki dunia virtual ini setelah semua permasalahan di dunia nyata selesai. Jujur saja walaupun hanya sebentar, aku sudah merindukan dunia ini.


Tapi yang menungguku di sini hanyalah masalah baru.


“Kenapa sepi sekali disini?” Tanyaku kepada diriku sendiri.


Wajar saja karena lantai 5 Dungeon Origin merupakan ibukota dari seluruh Dungeon Origin. Melihat kota di lantai ini sepi? Aku yakin ada sesuatu yang tidak beres.


Aku pun segera pergi menuju kastil pemerintahan untuk mencari para petinggi Origin. Mungkin saja mereka ada disana.


Pada saat aku sampai….


“Tuan Eric?!” Teriak Oliver.


Di ruangan rapat ini terdapat 20 kursi yang menghadap ke sebuah meja bundar. Semuanya telah terisi penuh, termasuk kursi untuk diriku dan Elin.


“Ada apa ini?” Tanyaku sambil sedikit menyipitkan mataku.


“Sebenarnya….”


Segera setelah itu, Oliver yang menggunakan kursiku segera berdiri dan mempersilakanku duduk. Ia segera menjelaskan seluruh situasi yang terjadi selama aku tidak hadir.


Pada intinya, Necromancer bernama Evan itu telah berhasil membangun Necropolis di salah satu Kota di wilayah Selatan Kerajaan Farna, Lesta. Lokasinya cukup berdekatan dengan Ibukota Kerajaan Farna, Forgia.


Tak hanya itu, pasukan Undead yang dipimpinnya terus bertambah dan kini telah mencapai angka lebih dari 150.000 Skeleton Warrior.


Keberadaan Evan memang membuat rencana perebutan Kerajaan Farna ini cukup terganggu. Tapi Arlond telah hampir menyelesaikan pekerjaannya dan bahkan mampu menyelamatkan lebih dari 4 juta penduduk Kerajaan Farna dari terror yang diberikan oleh Evan.


Mereka semua mengungsi ke wilayah Utara yang cukup dekat dengan Pegunungan Alpa. Meskipun, kondisinya saat ini masih sangat memprihatinkan karena kekurangan makanan dan juga tempat tinggal.


Saat ini, Arlond masih sibuk untuk meningkatkan reputasinya di wilayah Ibukota Kerajaan Farna, Forgia. Ia juga mencari orang-orang yang ingin mengungsi dari bahaya Undead yang mengancam.


Keuangan Origin juga terus menerus menipis karena harus terus mendukung penduduk yang lebih dari 4 juta orang itu.


Lucien juga mengatakan bahwa Agmar telah berkhianat. Saat ini, Agmar sedang sibuk berusaha melawan Evan sehingga Lucien tak mampu menghukumnya secara langsung. Jujur saja, bukankah saat ini Agmar sudah cukup menderita dengan kehadiran Evan?


Tapi, masalah yang sebenarnya bukanlah itu semua. Permasalahan ditemukan oleh regu mata-mata Origin yang tersebar di seluruh wilayah Kerajaan Farna.


Masalah itu adalah pergerakan suatu kekuatan dari Kerajaan Suci Celestine.


Melihat berbagai tindakan yang dilakukan oleh Evan, mereka nampaknya tak hanya diam. Selama ini, Kerajaan Suci Celestine terus menerus mengumpulkan pasukan dan mempersiapkan diri untuk menghabisi Evan untuk selamanya.

__ADS_1


Bahkan tak tanggung-tanggung, pihak Gereja Celestine telah mengerahkan lebih dari 100 Inquisitor untuk penyerangan ini. Sedangkan untuk pasukannya?


Lebih dari 200.000 Holy Knights atau Ksatria Suci. Mereka memiliki perlengkapan tingkat tinggi dan juga rata-rata level yang mencapai lebih dari 100.


Lebih dari 500.000 pasukan reguler yang terdiri dari 250.000 lebih pasukan jarak dekat, 150.000 pasukan jarak jauh, serta 100.000 pasukan berkuda.


Parahnya lagi, Teokrasi Julia juga ikut ambil bagian dalam misi penaklukan ini. Mereka mengirimkan lebih dari 100.000 pendeta yang memiliki kekuatan untuk menyembuhkan pasukan. Bahkan….


“Sainteess yang dikenal sangat kuat, Lorelei, juga akan ikut dalam penaklukan itu. Kurasa hanya ini yang bisa kulaporkan, Tuan Eric. Aku akan menunggu bawahanku untuk memberikan informasi tambahan lainnya.” Jelas Knox panjang lebar.


Aku hanya diam mendengarkan seluruh penjelasan yang panjang lebar itu.


‘Bukankah berikutnya aku yang akan menjadi target penaklukan mereka?’ Pikirku dalam hati.


“Tuan Eric. Aku rasa kita sebaiknya memanfaatkan situasi ini untuk memberikan pukulan yang telak kepada orang yang berani mengganggu rencana Anda!” Teriak Oliver seraya berusaha memberikan pendapatnya.


“Itu benar sekali, Tuanku. Kurasa….”


Belum sempat Lucien menyelesaikan perkataannya, aku segera memotongnya.


“Kita akan membantu Evan. Tidak, aku akan memberikan tawaran bantuan kepadanya.” Ucapku dengan wajah serius.


Mendengar jawabanku, seluruh petinggi menjadi kebingungan. Bagaimana lagi, mereka selalu menganggap bahwa Evan adalah musuh yang harus ditumbangkan. Terlebih lagi, Evan benar-benar akan menghancurkan Kerajaan Farna di wilayah Selatan untuk meningkatkan kekuatan militernya sendiri!


Jika kedua Fraksi yang melayani Dewi itu melawan Evan yang hanya sendirian…. Maka kemungkinan tak akan ada lagi yang mampu berdiri untuk melawan mereka!


“Aku akan pergi menemui Evan. Lucien, ikut denganku.” Perintahku kepadanya.


“Dengan senang hati.” Balas Lucien singkat sambil membungkukkan badannya.


...***...


...Bekas Kota Lesta...


...Kerajaan Farna...


...Wilayah Selatan...


Di kejauhan, nampak sebuah dinding yang cukup tinggi dan mengelilingi kota yang cukup besar. Sebuah kota yang dulunya dipenuhi oleh asap dari berbagai toko pandai besi.


Tapi kini….


Tak ada satupun nyawa di Kota itu. Bahkan, dinding-dinding yang dulunya berwarna putih cerah, kini mulai berubah menjadi kehitaman dengan sedikit corak hijau. Sebuah ciri khas Necropolis atau Kota Kematian.


Penghuninya?

__ADS_1


150.000 lebih Undead dengan jenis Skeleton Warrior.


Tapi mereka tidak berdiam diri. Semua Undead itu nampak bekerja di berbagai bidang. Sebagian nampak sedang menempa pedang dan zirah, sebagian yang lain nampak sedang menebangi pohon, bahkan ada yang terlihat sedang membuat kerajinan.


Hampir seluruh bangunan yang ada di Kota ini yang berupa tempat tinggal telah dihancurkan dan digantikan dengan berbagai bangunan khusus untuk mendukung kemampuan Necromancer.


Graveyard, sebuah pemakaman yang dapat menghasilkan Undead berupa Skeleton Warrior secara terus menerus setiap harinya.


Temple of The Dead, sebuah kuil untuk mencetak Undead tingkat menengah dan tinggi seperti Skeleton Priest yang mampu meningkatkan kekuatan Undead lainnya. Termasuk juga Skeleton tingkat tertinggi seperti Skeleton Archbishop yang mampu memanggil Skeleton baru secara langsung.


Dewa yang mereka puja? Tentu saja Evan.


Semakin banyak Undead yang memberikan persembahan kepadanya, Ia akan menjadi semakin kuat berkat efek pasif [Prince of the Dead] miliknya.


Bangunan lain yang ada juga masih sangat banyak. Semua itu bertujuan untuk meningkatkan kekuatan militernya dan bertahan dari ancaman para Dewa dan Dewi di dunia ini.


Di dalam sebuah kastil yang sudah mulai hancur itu, nampak sosok seorang Pria berambut putih sedang duduk di sebuah kursi perak.


“Bagaimana keadaannya?” Tanya Evan kepada seorang Iblis yang kini telah menjadi Undead, Lilith.


“Cukup buruk. Pasukan musuh dalam jumlah yang sangat besar akan segera sampai disini. Kemungkinan, sekitar 3 minggu lagi….” Balas Lilith dengan suara yang cukup lirih.


“Jumlahnya?” Tanya Evan sekali lagi.


“Kemungkinan mencapai angka 700 hingga 800 ribu. Dengan kekuatan kita yang sekarang….”


“Aku paham soal kekuatan kita. Lalu apakah kau akan menyarankan untuk kabur sekali lagi?” Tanya Evan dengan tatapan yang dingin.


“Ta-tapi bagaimana dengan rencana untuk….”


“Diamlah. Aku sedang berpikir. Di satu sisi, sangat disayangkan untuk meninggalkan Necropolis baruku ini. Tapi di sisi lain, aku tak ingin mati disini. Karena aku memiliki nama hitam, maka kematian akan menjadi akhir bagi diriku. Oleh karena itu….”


Sebelum Evan menyelesaikan perkataannya, salah seorang Iblis dengan mata satu segera memasuki ruangan itu.


“Tuanku. Mohon maaf jika mengganggu. Tapi, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.” Ucap Cyclops itu.


“Bertemu…. Denganku? Apa maksudnya itu?” Tanya Evan dengan wajah kebingungan.


Tapi sebelum sempat menikmati rasa kebingungan itu, terlihat sosok seorang Pria dengan zirah tipis berwarna hitam yang tertutupi oleh jubah hitam pekat. Di tangan kanannya nampak tongkat sihir dengan kubus hijau. Ia memasuki ruangan ini dengan sikap yang cukup serius.


“Jadi kau yang bernama Evan? Aku ingin membuat aliansi denganmu.”


Di atas kepala Pria itu, nampak dengan jelas tulisan berwarna merah.


‘Eric’

__ADS_1


__ADS_2