The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 169 - Hal Menarik


__ADS_3

...Kapal Perang...


...Di daerah Pelabuhan Tortuga...


“Rebeca! 3 Ekor Sea Serpent sedang bergerak ke arahmu!” Teriakku dengan sekuat tenaga.


“Dimengerti, Tuan Eric!” Balasnya singkat.


‘Zraaaattt!!! Duaaarrr!!!’


Aku dan Rebeca nampaknya menjadi duo yang sangat cocok dalam pertearungan ini.


Di satu sisi, Rebeca yang ahli dalam menggunakan sihir angin mampu memberikan damage yang sangat besar dalam waktu yang singkat. Unique Skill [Wind Blade] miliknya mampu memotong tubuh Sea Serpent dengan sangat mudah.


Sedangkan di sisi lain, aku yang terus menerus menggunakan sihir petir dan es membuat pergerakan Sea Serpent ini melambat. Hal itu membuat Rebeca mampu memotong mereka dengan sangat mudah.


Prajurit yang lain?


Mereka hanya bisa menganga melihat kerjasama kami berdua. Termasuk penyihir yang ada di dek kapal ini yang hanya berperan dalam memberikan buff kepada kami berdua.


“Tuan Eric! 2 ekor Giant Sea Serpent datang dari arah Utara!” Teriak Marcus yang berada di menara pengawas kapal ini.


“Terimakasih! Lightning Burst!” Teriakku sambil mengarahkan Oracle Staff milikku ke Utara.


Seketika, langit mulai gelap dan bergemuruh.


Setelah sambaran petir kecil beberapa kali….


Sebuah petir raksasa menghantam lautan biru ini.


‘Duaaaaarrr!!!’


[Anda telah memberikan 576.239 damage!]


[Anda telah memberikan 529.425 damage!]


‘Bahkan dengan sihir tingkat Unique ini masih kurang?!’ Teriakku kesal dalam hati. Tapi aku cukup puas karena efek paralysis membuat pergerakan 2 ekor Giant Sea Serpent itu melambat.


“Rebeca! Pindahlah ke Utara dan penggal kepala ular sialan itu!” Teriakku dengan keras.


Rebeca hanya mengangguk dan segera berpindah tempat.


Pertarungan pun berlanjut dengan sangat sengit antara 300 awak kapal perang ini melawan ratusan Sea Serpent dan sesekali Giant Sea Serpent.


Beberapa Player yang ikut serta dalam pertarungan ini nampak sangat terkagum-kagum.


Meskipun….


‘Jika kalian masih bisa merekam video setidaknya bantu aku!’


...***...


...Pelabuhan Tortuga...


...Malam Hari...


Setelah pertempuran sengit selama 14 jam lebih itu, kami akhirnya telah berhasil melewati hari mengesalkan ini.


“Hah…. Aku sangat lapar….”


“Aku juga, kurasa aku akan mampir ke Tavern setelah ini.”

__ADS_1


“Jangan terlalu lama di Tavern. Besok pagi kita masih harus berangkat untuk menumpas Sea Serpent.”


“Lagi?! Kapan semua ini akan berakhir?!”


Banyak prajurit yang merupakan NPC nampak mulai berkeluh kesah. Hal yang wajar karena pertempuran ini sangat melelahkan dan terus menerus dilakukan setiap hari tanpa adanya hari libur.


“Tuan Eric, maafkan aku….” Ucap Rebeca dengan tubuh yang sempoyongan. Aku merangkulnya agar tak terjatuh.


“Wajar saja, kau terus menerus melontarkan sihir tingkat tinggi. Meskipun kau bisa memulihkan Mana dan Stamina dengan Potion, kelelahan mental yang dialami takkan hilang begitu saja.” Ucapku sambil memandangi ke arah gedung Guild Petualang itu.


Setelah selesai mengantarkan Rebeca, aku segera menuju ke Tavern untuk menikmati makanan dan minuman di dunia ini. Tak hanya itu, aku juga mendengarkan berbagai rumor yang sedang hangat dibicarakan oleh para pelanggan di Tavern ini.


“Kau dengar?! Penyihir Agung itu mampu memanggil petir yang sangat besar dan menghanguskan 3 Sea Serpent sekaligus!”


“Yang benar saja?! Bukankah itu terlalu hebat?!”


“Terlebih lagi…. Tunggu…. Penyihir Agung?!” Teriak salah seorang pelanggan setelah melihat sosokku.


Aku hanya bisa tersenyum tipis dan melambaikan tanganku.


“Ku mohon Penyihir Agung! Ceritakan kepada kami kisahmu membantai ratusan Sea Serpent itu sendirian!”


“Anakku benar-benar ingin mendengar kisah Anda!”


Seluruh pelanggan di dalam Tavern ini seketika mengerumuni diriku dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai kisahku.


Setelah tersenyum lebar, aku segera membalas mereka.


“Ceritanya akan panjang. Nona Pelayan, berikan kami semua minuman dan makanan terbaik di kedai ini! Aku yang akan mentraktirnya!” Teriakku sambil melempar 20 koin emas kepada pelayan itu.


“Te-tentu saja, Penyihir Agung!”


Pada akhirnya, aku menghabiskan malam yang indah ini dengan berbagi cerita kepada seluruh pengunjung di Tavern ini. Tak hanya itu, kami menikmati hidangan yang berlimpah hingga larut pagi.


‘Kurasa…. Kehidupan seperti ini memang cukup menarik. Aku telah lelah memikirkan keuntungan dan keuntungan setiap harinya. Sesekali…. Tak masalah kan untuk bersantai dan menikmati dunia game ini?’ Ucapku dalam hati sambil tersenyum.


Melihat wajah semua orang yang ada di kedai ini begitu gembira.... Semua ini mengingatkanku pada suasana Dungeon Origin yang telah cukup lama kutinggalkan.


...***...


...Di Tengah Lautan...


“Angie! Ini cukup buruk!” Teriak Luna segera setelah muncul dari balik portalnya.


“Ada apa?!” Teriak Angie yang masih bergelantungan di rantai raksasa itu. Ia dan kelompoknya masih memburu Leviathan bahkan hingga detik ini.


“Jika memperhatikan araha pergerakan Leviathan ini maka…. Beberapa puluh kilometer lagi kita akan mencapai peradaban!”


Mendengar hal itu, Angie nampak sedikit kesal.


“Berapa sisa HP milik Leviathan sialan ini?!” Teriak Angie.


“Sekitar 7% lagi!” Balas seorang dengan pakaian ala penyihir itu.


‘Ckkk!!’


Angie mendecakkan lidahnya karena menyadari bahwa Ia dan kelompoknya takkan sempat untuk membunuh Leviathan sebelum mencapai peradaban.


‘Aku tak ingin para pelindung dunia ini ikut campur! Terlebih lagi jika mereka mencuri mangsa kami….’


Kelompok itu akhirnya memutuskan untuk tidak Log Out sama sekali selama setengah hari lebih dan fokus untuk menghabisi Leviathan.

__ADS_1


...***...


...Kuil Naga Gurun Kuno...


...Ruderioss...


Terlihat kuil yang dulunya bobrok dan debu itu, kini telah berubah dengan drastis.


Singgasana yang dulunya telah hancur lebur itu kini telah dibuat ulang dengan bahan utama yaitu emas dan perak. Tak hanya itu, ruangan kuil ini kini dipenuhi dengan cahaya api emas dari banyak lentera yang berjejer rapi itu.


Di atas singgasana emas dan perak itu, terlihat sosok seorang Pria dengan jubah putih yang dihiasi dengan cukup banyak ornamen emas. Sedangkan di samping kanan dan kirinya nampak dua orang dengan tubuh setengah naga dan manusia. Mereka berdua mengipasi Pria yang duduk di singgasana emas itu.


“Tuanku, silakan nikmati buah-buahan ini.” Ucap seorang Wanita yang juga setengah naga itu sambil membawakan berbagai jenis buah-buahan di atas piring emas. Ia berlutut di hadapannya sambil mengangkat piring emas itu.


“Terimakasih.” Balas Pria itu. Ia nampak mengambil buah anggur dan memakannya dengan santai.


Tapi pada saat Ia masih menikmati makanannya….


“Tuan Ruderioss. Maafkan kelancanganku tapi….”


“Leviathan di wilayah Kerajaan Farna kan? Aku tahu itu. Leviathan itu sudah sekarat dan akan segera mati di tangan kelompok beranggotakan 12 orang itu.” Balas Ruderioss memotong perkataan pemuda dengan ras setengah naga itu.


“Tapi…!”


“Sudah kubilang. Leviathan itu sudah tak mampu melakukan apapun.” Ucap Ruderioss dengan nada yang sedikit kesal. Ia segera meletakkan anggur itu kembali ke piring dan mulai berdiri.


Pemuda itu nampak sangat ketakutan melihat Tuannya mulai melangkah mendekatinya. Tubuhnya bergetar dan hanya bisa menatap tanah.


‘Tap!’


Ruderioss menepuk ringan pundak pemuda itu.


“Jika kau sebegitu tak percayanya kepadaku, maka akan kuperlihatkan.” Ucap Ruderioss sambil mengangkat kepala pemuda itu. Ruderioss membuka matanya lebar-lebar dan menatap mata pemuda itu. Sesaat, bola mata Ruderioss nampak memancarkan cahaya emas yang indah.


“I-ini?!” Teriak pemuda itu dengan ketakutan.


“Apakah kau akhirnya paham? Di satu sisi, Leviathan sedang dihabisi oleh 12 orang itu. Sedangkan di ujung perjalanannya, Ia akan bertemu dengan seseorang yang bahkan mampu melukai diriku yang agung ini.” Ucap Ruderioss dengan tatapan yang sangat tajam.


Pemuda itu dengan segera terjatuh karena tak mampu untuk menahan aura intimidasi yang diberikan oleh Tuannya. Tak hanya itu, Ia menerima beban yang sangat besar karena melihat tempat yang sangat jauh dengan kekuatan [Far Seeing Eye] milik Ruderioss.


“Ma-maafkan aku, Tuanku….” Ucap pemuda itu dengan suara yang sangat lemas.


Tapi Ruderioss hanya mengacuhkannya dan kembali melangkah ke singgasana emasnya.



[Di Gambar : Ruderioss]


[Source : Pinterest]


[Original Artist : Belum kutemukan]


‘Eric…. Apa yang akan kau lakukan ketika bertemu dengan monster seperti itu? Makhluk itu setidaknya setara dengan seperduapuluh kekuatanku. Sekarang…. Tunjukkanlah hal yang menarik kepadaku sekali lagi!’ Ucap Ruderioss dalam hati sambil memperhatikan seluruh tindakan Eric dari kejauhan.


Di wajahnya, nampak senyum yang dipenuhi dengan rasa ingin tahu yang sangat kuat.


...__________________________...


...[Author's Note]...


...Kayaknya tar malem gabisa update...

__ADS_1


...Maaf yak karena hari ini dan beberapa hari kedepan nampaknya sangat super sibuk...


...See ya. ...


__ADS_2