The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 88 - Pekerjaan Baru


__ADS_3

Semenjak aku memberi Lucien perintah untuk menaikkan levelnya, Ia belum pernah kembali sekalipun. Entah kemana Ia pergi selama ini.


‘Jangan katakan…. Dia sudah mati?’


Lucien menghilang sejak saat itu. Padahal aku telah membuang 150 levelku untuknya. Yah, apa boleh buat. Aku akan membiarkannya saja untuk sekarang.


Lagipula di atas kepalaku telah kembali muncul warna merah. Aku yakin Lucien ada hubungannya dengan ini.


Saat aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri….


‘Ttrriing!’


Terdengar suara notifikasi sistem. Aku segera membuka jendela menu milikku.


[Pengirim : Chris]


[Eric. Jika kau sedang tidak sibuk, bisakah kau datang ke Kerajaanku? Aku butuh sedikit bantuanmu. Terimakasih sebelumnya.]


“Hmm…. Apa yang dia butuhkan?” Ucapku pada diriku sendiri. Aku segera membalas pesan Chris bahwa aku akan segera kesana.


“Eric? Ada apa?” Tanya Elin yang berada di sebelahku.


“Ah… tidak ada. Hanya saja Chris memintaku untuk datang ke Kerajaannya. Entah apa yang dia inginkan tapi kurasa aku akan segera kesana.” Balasku sambil bersiap untuk pergi menuju lingkaran teleportasi terdekat.


“Chris ya? Apakah aku perlu menemanimu, Eric?” Tanya Elin sambil mengikutiku.


“Kurasa tidak perlu. Sebaiknya kau mengurusi berbagai hal yang ada disini saja. Terutama masalah pembangunan Dungeon baru itu.” Balasku.


“Baiklah jika begitu. Sampai jumpa, Eric.”


Aku segera memasuki sebuah ruangan yang cukup besar di wilayah Dungeon Origin. Ukurannya mungkin mencapai 10 x 10 meter dengan bentuk lingkaran. Di tengah ruangan ini terdapat beberapa lingkaran sihir teleportasi yang berukuran 3 x 3 meter.


Setelah berada di tengah salah satu lingkaran sihir itu, aku segera mengucapkan sandinya.


“Salvation.”


Seketika lingkaran sihir itu aktif dan mengeluarkan cahaya biru yang indah. Pandanganku segera berubah. Hanya dalam sekejap, aku telah berada di wilayah Kerajaan Salvation. Tepatnya di lantai 1 Dungeon Barrack.


Aku segera keluar dari ruangan kecil itu. Suasana dalam Dungeon Barrack ini cukup ramai. Nampak banyak sekali prajurit yang sedang berlatih melawan Goblin dan Kobold. Beberapa diantara mereka nampak kebingungan setelah melihatku, tapi aku tak begitu memperdulikannya.


“Tu-tunggu! Si-siapa kau?! A-apakah kau penyusup?!” Tanya salah seorang penjaga pintu sambil menghalangi pintu keluar dari Dungeon itu dengan tombaknya.


“Namaku, Eric. Aku kesini karena dipanggil oleh Raja kalian, Chris. Apakah dia tidak memberitahu kalian akan diriku?” Tanyaku sedikit kebingungan dengan hal ini.


“Ah! Jadi kau Tuan Eric?! Mohon maaf atas kelancangan kami! Silakan!” Ucapnya setelah mengetahui namaku. Penjaga itu segera mengangkat tombaknya dan membiarkanku lewat.


Pemandangan yang kulihat berikutnya yaitu dinding istana. Aku berada di lantai B3 Istana milik Chris. Atau bisa kusebut 3 lantai di bawah tanah. Dengan segera aku menuju ke tangga spiral itu dan menaikinya. Aku terus melangkahkan kakiku menuju ruang tahta.


Tapi suasana nampak tak seperti yang kubayangkan.


Terlihat sosok Chris, Neo dan juga para mentri lainnya yang sedang sibuk membahas suatu hal. Beberapa diantara mentri Kerajaan Salvation merupakan petinggi Guild. Sedangkan sebagian besar sisanya merupakan NPC tingkat tinggi.

__ADS_1


Aku yang tak ingin mengganggu kesibukan mereka hanya terdiam selama beberapa saat. Tapi nampaknya Chris menyadari kehadiranku.


“Eric! Sejak kapan kau sampai disini?!” Tanya Chris sambil berlari menghampiriku.


“Tenang saja, aku barusan sampai. Jadi apa yang bisa kubantu?” Tanyaku singkat.


“Sebenarnya…. Kami akan menghadapi peperangan sekitar 2 tahun lagi. Mungkin bagi kita yaitu sekitar 70 hari di dunia nyata.” Ucap Chris sambil menunjukkan wajah yang suram.


“Kalau aku boleh tahu, dengan pihak mana?” Tanyaku kepada Chris.


“Barbarian Horde. Atau bisa kau sebut sebagai kaum barbar yang berasal dari wilayah padang pasir di Timur. Beberapa mata-mata yang telah kutanamkan di sekitar sana telah melihat pergerakan mereka.


Para kaum barbar itu terus menerus mengumpulkan pasukan dan secara perlahan bergerak ke Barat, tepatnya menuju Kerajaanku.” Jelas Chris panjang lebar.


Barbarian Horde. Merupakan NPC tipe manusia yang hanya bisa menyusahkan NPC dan Player yang hidup beradab. Mereka muncul dari Padang Pasir yang sangat luas di Timur. Hal yang mereka lakukan hanyalah menyerbu dan menghancurkan peradaban.


Setelah puas menghancurkan peradaban, mereka akan mulai menjarah apapun yang ada. Makanan, ternak, senjata, peralatan, bahkan manusia. Mereka akan membawa semuanya kembali ke kampung halaman mereka. Entah apa yang akan mereka lakukan tapi yang jelas bukanlah hal yang baik.


Sedangkan Chris?


Posisinya yang berada tepat dengan perbatasan antara peradaban dengan kaum barbar selalu menjadi target pertama mereka.


“Baiklah, aku sudah mulai paham dengan kondisimu Chris. Apakah kau akan memintaku untuk menyiapkan monster lagi sebagai pasukan tambahan?” Tanyaku kepada Chris.


“Hmm…. Pada awalnya aku juga menginginkan itu. Tapi mengingat kejadian dengan Kerajaan Suci Celestine dan Inquisitor membuatku ragu. Oleh karena itu, aku menyarankan ide yang lebih cemerlang!” Teriak Chris dengan semangat.


“Ide cemerlang?!” Teriakku kaget mendengar pernyataan Chris.


“Ya! Aku akan melatih pasukanku sendiri! Tapi latihan biasa membutuhkan terlalu banyak waktu! Sedangkan latihan di dalam Dungeon Barrack tidak dimungkinkan karena ukurannya yang cukup sempit. Oleh karena itu!


Tapi reaksiku sedikit negatif.


Bagaimanapun, membuat monster sebanyak itu hanya untuk diburu cukup merugikanku. Berbeda dengan Dungeon Barrack yang dapat mengembalikan monster di dalam Spawn Point setiap harinya karena efek khusus Dungeon, jika aku membuatnya di hutan dan bukannya Dungeon maka….


“Kebutuhan Mana akan terlampau besar dan hasilnya sama sekali tidak sebanding dengan pengeluaranmu untuk membeli Full Mana Potion, Chris.” Balasku sambil memasang wajah yang sedikit serius.


“Be-benar juga ya?! Hahaha….” Ucap Chris sambil menggaruk-garuk kepalanya.


“Sudah kubilang bukan, Chris. Idemu itu sangat cemerlang jika Eric memiliki Mana yang tidak terbatas. Jika dalam kondisi nyata, kau akan membutuhkan ratusan koin emas untuk meningkatkan level beberapa prajurit sebesar 1 atau 2 angka saja.” Sambung Neo yang tiba-tiba ikut berdiskusi dengan kami berdua.


Mendengar hal itu, Chris nampak sedikit murung.


“Neo, kira-kira berapa banyak pasukan barbar yang akan menyerbu?” Tanyaku kepada Neo sambil mengabaikan kondisi Chris.


“Jika melihat dari skalanya yang saat ini…. Setidaknya 100 ribu lebih akan datang. Level rata-rata tiap prajurit mereka berkisar antara 60 hingga 80. Meskipun…


Komandan mereka berada pada angka 150an. Setidaknya itulah hasil dari tim mata-mata.” Jelas Neo sambil membolak-balikkan kertas yang dipegangnya.


“Hmm….” Aku hanya bisa terdiam mendengar penjelasan Neo.


Bukankah posisi Kerajaan Salvation sedikit dirugikan? Game Developer sialan! Setidaknya itulah yang ingin kukatakan tapi aku mampu menahannya dengan baik.

__ADS_1


“Kau tahu? Semuanya akan mudah jika aku bisa menggunakan sihir pemanggilanku di luar sini. Tapi aku sama sekali tidak ingin berurusan lagi dengan para Inquisitor.” Jelasku kepada Neo.


“Aku paham akan hal itu, Eric. Bahkan Kerajaan Salvation juga hampir dicap sebagai Kerajaan Monster oleh Kerajaan Suci Celestine. Hanya sebuah keberuntungan kami bisa menghindari hal itu. Tentu saja aku tak ingin itu semua terulang lagi. Tapi menghadapi krisis ini….”


Neo nampak menggenggam erat semua berkas yang ada di tangannya hingga mulai kusut.


‘Sialan! Apa yang harus kulakukan?!’


Aku sangat ingin membantu mereka. Setidaknya untuk membalas kebaikan mereka selama ini. Tapi jika aku bertarung di Kerajaan Salvation, aku tak bisa menggunakan kekuatan para monster!


Sedangkan tanpa kekuatan Summoner, aku hanyalah player biasa. Meskipun aku mampu membunuh ratusan pasukan barbar, hal itu takkan menggores bahkan 1% jumlah mereka.


Beberapa menit telah berlalu dan semua orang masih nampak sibuk membahas permasalahan ini.


Tapi ada sesuatu hal yang mulai kupahami. Kepalaku yang awalnya dingin kini terasa cukup panas. Seakan… dapat meledak kapan saja. Itu semua karena aku terus menerus berpikir.


Di saat semua orang masih dilanda dengan kebingungan.


Aku telah menemukan solusi alternatif yang terbaik menurutku.


“Aku yang akan menyerang mereka! Bukankah para Inquisitor itu tidak akan mendengarnya jika aku mengamuk di luar peradaban manusia?!” Teriakku memecah kesunyian itu.


Bukan tanpa alasan. Tapi aku juga membutuhkan wilayah baru untuk perburuan para monsterku. Dungeon Orc memberikan EXP yang terlalu kecil. Begitu juga Dungeon Barrack.


Jika saja….


Terdapat pasukan barbar di Padang Pasir itu yang termasuk dalam jenis monster dan mengalami Respawn…. Tak perlu semuanya. Sebagian saja yang mengalami Respawn. Maka….


‘Aku akan membangun Dungeon baru disana terlebih dahulu dan terus menerus memotong jumlah mereka secara perlahan! Tak hanya itu! Mereka bisa menjadi ladang EXP baruku!’ Pikirku dalam hati.


“Eric?! Apakah kau yakin?! Memang benar bahwa Inquisitor mungkin tidak akan mengetahuinya jika tidak ada NPC ataupun Player yang berasal dari peradaban. Apalagi melaporkannya ke Inquisitor. Tapi bukankah itu sangat berbahaya?!” Teriak Chris mendengar saranku.


Aku hanya tersenyum membalas pertanyaannya.


Tapi tentu saja aku bukan seorang juru selamat yang tidak mengharapkan balasan. Semua ini didasarkan atas pertukaran yang adil dan saling menguntungkan satu sama lain.


“Untuk itu…. Bisakah kau membantuku secara finansial, Chris? Bukan…. Kerajaan Salvation? Aku bepikir untuk membangun Dungeon disana dan menghalangi pergerakan para pasukan barbar. Mungkin selamanya! Bukankah ini investasi yang baik bagimu?” Ucapku sambil tersenyum dan menggosok-gosokkan kedua tanganku.


“Buahahahaa!!! Kau semakin pintar saja untuk menawar! Tapi…. Ide yang hebat! Bahkan aku bisa mengirim pasukanku kesana untuk berlatih dan membantumu! Tujuanku untuk mencetak prajurit yang kuat juga akan tercapai! Aku setuju!” Teriak Chris kegirangan sambil mengulurkan lengannya.


Dengan segera aku menjabat tangannya.


Pada akhirnya, hubungan kerjasama antara Peradaban Monster dan Kerajaan Salvation semakin menguat.


...___________________________________...


...[Sebelum lanjut membaca]...


...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...


...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...

__ADS_1


...[Tak ada ruginya bagi kalian]...


...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...


__ADS_2