The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 259 - FFA PvP 12


__ADS_3

Di atas gunung itu....


'Tapp!!!'


Angie melesat dengan sangat cepat. Ia menggenggam dengan erat tombak di tangan kanannya. Pandangannya sangat fokus yaitu ke arah Robert yang bahkan hingga saat ini masih bersikap sangat tenang.


Hanya dalam waktu kurang dari 2 detik....


'Stab!'


Angie berusaha menusukkan tombak itu bukan ke arah Robert, melainkan ke arah Rose.


Tapi Robert dengan santainya bisa menahan tusukan itu menggunakan bilah pedangnya.


'Jangan meremehkan ku!'


Angie segera mengeluarkan Magic Gun dari Inventorynya ke tangan kirinya.


Dua buah peluru telah terpasang.


Yang dibutuhkan hanyalah sebuah tarikan sederhana.


Dengan menggunakab 100% kekuatan dari Magic Gun itu, Angie mengarahkan pistol itu tepat di perut Robert.


'DUAAAARR!!!'


Apa yang terjadi sungguh mengherankan. Robert mampu mengarahkan perisainya tepat di hadapan tembakan Angie. Meski begitu, damage yang diberikan masih mampu menggores Health Point Robert sebesar 60%.


'Senjata itu.... Yang paling mengerikan bukanlah damage yang sudah pasti membunuh Player biasa. Tapi kecepatannya. Aku harus melakukan sesuatu.' Pikir Robert dalam hati.


Ia dengan segera melompat ke belakang.


Tapi apa yang menantinya adalah tembakan panah api milik Eric.


'Wuuuuooosshh!!!'


[Anda telah memberikan 4.918 damage!]


Di balik pepohonan yang cukup rimbun itu, terlihat sosok Eric yang menurunkan busurnya secara perlahan sambil berbicara.


"Defense yang mengerikan. Kurasa akan lebih bijak mengurus penyihir itu terlebih dahulu."


Rose yang sejak tadi terlihat sibuk dengan mantra miliknya, kini bersiap untuk terbang sambil menyembuhkan tubuh Robert.


[Player Robert telah memulihkan 65.259 Health Point!]


Angie yang melihat kini HP milik Robert kembali penuh terlihat sangat kesal. Meski begitu, senyuman yang tipis terlihat di wajahnya.


'Zraaat! Traang! Sraaatt!'


Pertukaran antara tusukan dan ayunan dari pedang milik Robert dan juga tombak milik Angie terlihat begitu sengit.


Meski berada di bawah level Robert, bahkan memiliki selisih level hampir sebesar 100 level, Angie masih mampu mengimbangi pergerakan Robert.

__ADS_1


'Tak salah menyebutnya sebagai salah satu Player paling berbakat!' Teriak Robert dalam hatinya.


Saat melihat suatu celah dari pergerakan Angie yang dikarenakan rendahnya Agility yang dimilikinya jika dibandingkan dengan dirinya, Robert segera mengayunkan pedangnya lebar-lebar mengarah tepat di kepala Angie.


Pada saat itu juga....


'Jleb! Jleb! Jlebb!!'


Puluhan anak panah melesat ke tubuh Robert dimana sebagian besar mengenai bagian tubuh kirinya.


Damage yang dihasilkan tak seberapa. Akan tetapi karena tusukan panah itulah, Angie mampu mundur sesaat lalu mengisi ulang Magic Gun miliknya.


'Kletak!'


Segera setelah memasang kembali pistolnya, Angie dengan segera mengarahkannya ke wajah Robert dengan tangan kirinya.


Rose yang kini berada di udara nampak begitu kesal karena tak bisa menemukan Eric yang bersembunyi dengan memanfaatkan dua skill yang sangat merepotkan yaitu kamuflase dan juga Stealth.


Dengan kedua skill itu, tubuh Eric hampir tidak mungkin bisa dilihat dengan mata telanjang. Bahkan setelah memanfaatkan skill peningkat penglihatan, Rose masih tak bisa menemukan Eric.


Maka dari itu, kini Ia fokus untuk menyerang Angie.


"Matilah kau, Fire Ball!" Teriak Rose yang terbang dengan menggunakan sapu sihirnya itu.


Tiga buah bola api yang berukuran besar itu mengarah tepat ke tubuh Angie.


Robert yang bergerak mendekati Angie nampak sama sekali tak ketakutan dengan pistol yang telah mengarah tepat di kepalanya.


'Syuuut! Syuuuuttt! Syuuut!'


Tiga anak panah yang dilapisi oleh sihir Es mengenai tepat ke tiga buah bola api itu. Seketika, bola api itu hancur dan menghilang bukan hanya karena suhu dingin dari panah Es yang dilancarkan oleh Eric, tapi juga karena tekanan angin yang begitu kuat.


Dari balik rambut pirangnya yang acak-acakan itu, Angie terlihat tersenyum tipis.


'Terimakasih, Eric.'


'Klak! Duaaarr!'


Pistol milik Angie mengeluarkan ledakan yang cukup besar, diiringi dengan percepatan petir yang mampu meningkatkan daya serang peluru sihir itu mencapai 60.000 damage tiap pelurunya.


Seakan bisa menghindari, ataupun menahannya, Robert masih terus maju dan bersiap mengayunkan pedangnya.


Tapi sesaat sebelum itu....


"Reflect!" Teriak Rose sambil mengarahkan tongkat sihirnya di antara Angie dan juga Robert.


Dua buah peluru baja yang seharusnya mampu membunuh Robert pada saat itu juga, seakan menabrak sebuah dinding tak kasat mata. Tak berhenti di sana, peluru yang melesat itu bahkan terpental dan seakan kembali ke arah Angie.


Dengan refleksnya yang begitu tinggi, Angie mampu menyadarinya sesaat setelah peluru itu menabrak dinding tak kasat mata yang merupakan perwujudan dari skill [Reflect] itu.


Ia mampu memutar tubuhnya dengan sangat cepat, menghindari dua buah peluru mematikan itu.


'Jedaaaarrr!!!'

__ADS_1


Pada akhirnya, peluru itu menghantam batuan besar di sisi puncak gunung itu dan menghancurkannya hingga berkeping-keping.


Semua itu....


Terjadi hanya dalam waktu kurang dari satu detik.


Angie dan juga Eric segera menyadarinya setelah pertukaran serangan singkat ini.


'Kita takkan pernah menang selama penyihir sialan itu masih bisa terbang dengan bebas!'


Eric yang pertama menyadarinya segera kembali menyembunyikan tubuhnya.


Ia bersiap bukan untuk menghujani Rose dengan anak panah, melainkan untuk menyerang Robert habis-habisan bersama dengan Angie.


Tujuannya bukan untuk membunuhnya.


Tapi memaksa Rose untuk meninggalkan peran pendukungnya menjadi penyerang untuk mengeliminasi Eric sesegera mungkin.


'Tap! Tap!'


"Kalian yang memaksaku. Maka dari itu terimalah ini!" Teriak Eric dengan sangat keras setelah menampakkan tubuhnya kembali.


Rose dan juga Robert yang mendengarnya nampak mengalihkan pandangannya ke Eric.


Di atas pohon yang paling tinggi itu, terlihat sosok Eric yang menarik busurnya sekuat tenaga. Api dan juga petir nampak menyelimuti panah itu.


Robert yang akan bersiap untuk menahan serangan apapun yang mungkin dilancarkan oleh Eric, justru teralihkan oleh serangan dadakan Angie.


'Traaang! Traaang!'


Tusukan tombak tingkat Normal itu bahkan tak mampu menembus zirah milik Robert dan kini mulai patah.


"Senjata sampah itu, takkan bisa menghentikan ku!" Teriak Robert sambil menendang perut Angie sekuat mungkin.


'Bruuukk!'


Angie segera terlempar hingga jatuh ke dalam jurang yang dalam. Sedangkan Eric yang nampak masih memperkuat tarikan busurnya terlihat begitu tenang.


"Selanjutnya, kau!" Teriak Robert sambil berlari ke arah Eric.


Rose yang ada di udara nampak bersiap untuk melancarkan serangan terkuatnya ke arah Eric. Ia sangat yakin bahwa serangannya akan membunuh Eric, karena Eric bahkan terlihat begitu fokus ke arah Robert.


Tapi tanpa di sangka....


Sesaat sebelum melepaskan panah yang telah diperkuat oleh sihir api dan petir itu, Eric justru membalik tubuhnya dan mengarahkan tembakannya kepada Rose.


"Kena kau." Ucap Eric dengan tatapan mata yang sangat tajam sambil melepaskan panah itu.


'SYUUUTTTT!!!'


Panah itu melesat dengan sangat cepat, diiringi dengan balutan api dan juga sambaran petir. Targetnya sangat jelas, yaitu Rose yang saat ini masih sibuk untuk merapalkan mantranya.


Rose yang bahkan tak sempat untuk bereaksi sedikit pun itu, harus menerima mentah-mentah serangan Eric.

__ADS_1


__ADS_2