The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 67 - Pembersihan Pasukan


__ADS_3

“T-tolong! A-aku mohon padamu! Ampuni nyawaku!!!” Teriak seorang Ksatria Suci yang kini ada di hadapanku. Tangan kananku telah siap untuk melontarkan Magic Missile ke kepalanya.


“Oh? Minta ampun? Apakah kau akan mendengarkanku jika aku atau monsterku yang meminta ampunan?” Tanyaku dengan sinis mendengar perkataan Pria itu.


“Y-ya!! Tentu saja aku akan mendengarkan! Dewi Celestine merupakan Dewi yang baik hati! Semua dosa kalian pasti akan diampuni oleh Dewi Celestine!” Teriak Pria itu merengek untuk keselamatannya.


“Baiklah… aku akan membiarkanmu hidup. Sebaiknya kau tepati perkataanmu.” Ucapku sambil menurunkan tanganku. Aku juga menutupi mata dari Pria itu dengan menggunakan kain.


‘Jika ini merupakan lantai 1, maka Leo pasti berada di lantai bawah. Permasalahannya adalah lantai berapa? Jika Ia cukup sial dan jatuh di lantai 4, seharusnya nasibnya akan berakhir di sana. Bagaimanapun lantai 4 merupakan neraka dengan ribuan monster tingkat evolusi ke 3.’ Pikirku dalam hati sambil beristirahat.


Meskipun regenerasi Mana milikku cukup luarbiasa, Stamina Point milikku cukup rendah. Tentu saja aku masih memiliki 3 botol Stamina Potion dan 12 lebih Full Mana Potion. Tapi aku harus menghematnya jika saja Leo masih hidup. Aku tidak tahu dengan pasti seberapa kuat dia.


‘Sialan! Jika saja Elin ada disini untuk membantuku!’ Teriakku dalam hati.


Ya, Elin sangat peka terhadap situasi seperti ini dan mampu memberikan pilihan terbaik. Sedangkan aku? Aku hanya maju tanpa pikir panjang untuk mencegah kerusakan Kota Origin yang telah lama kubangun.


“Katakan padaku! Apa yang akan terjadi jika kalian semua kalah disini?” Tanyaku kepada Pria yang memohon ampun tadi.


“Ji-jika Summoner se-selamat, maka U-uskup A-agung akan me-mengirimkan bala ba-bantuan…. Ji-jika masih be-belum bisa me-menangkap Su-summoner… Maka Ratu Kerajaan Suci Celestine a-akan me-meminta pertolongan ke-kepada Dewi Celestine….” Jawab Pria itu dengan terpatah-patah.


“Ho… jadi begitu?” Balasku singkat.


Meski nampak tenang, aku sangat ketakutan.


‘Sialan! Jika aku menang disini maka musuh akan datang dengan pasukan yang lebih kuat? Lalu apa yang harus kulakukan?!’ Teriakku dalam hati.


Setelah beberapa menit bernafas dengan lega, aku memberanikan diriku untuk melangkah ke lantai 2. Sisa pasukan yang kumiliki hanyalah sekitar 200 goblin yang belum berevolusi serta 1 Goblin Knight. Sisanya telah mati saat pertempuran barusan.


Tak kusangka para Ksatria Suci sangatlah kuat hingga mampu bertarung seimbang dengan Goblin Knight. Ya, meskipun aku yakin level mereka sangat tinggi jika dibandingkan dengan Goblin panggilanku.


‘Tap… tap… tap…’


Suara langkah kaki terdengar begitu nyaring di ruangan yang sunyi ini. Ksatria Suci yang menjadi tawananku telah diamankan oleh 10 ekor goblin di belakang. Aku tak tahu kapan dia akan berguna atau berbahaya.


Setibanya di lantai 2, aku mendapati pertarungan masih berjalan sengit. Tentu saja karena semakin dalam lantai di Dungeon ini, maka semakin kuat dan semakin banyak monster yang ada. Itulah permintaan dari Chris.


Akupun diam-diam mengamati arah pertarungan. Nampaknya para Ksatria Suci itu memiliki keunggulan dalam hal kekuatan meskipun kalah dalam hal jumlah. Sisa mereka yaitu sekitar 150 Ksatria.


Setelah berpikir sejenak, aku memutuskan untuk menarik mundur seluruh pasukan yang sedang bertarung lalu melontarkan 2 sihir tingkat Epic yang kumiliki pada waktu yang tepat. Jujur saja aku sangat senang dengan pilihan sihir Neo untukku. Meskipun, ada 1 sihir yang masih belum kupahami penggunaannya.


[Arcane Magic : Dispell]

__ADS_1


Rarity : Unique


Konsumsi Mana : 30.000


Cooldown : 0


Efek : Menggunakan kekuatan sihir batin untuk menggagalkan aktivasi suatu sihir, skill atau efek tertentu.


Penjelasannya cukup sederhana dan jumlah Mana yang dibutuhkan juga cukup besar. Tapi mau kupikir bagaimanapun aku tak dapat memahami cara penggunaannya. Meski begitu, aku yakin ini merupakan sihir yang sangat berguna mengingat Neo harus meminta ijin Chris untuk menyerahkannya kepadaku.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya aku memperoleh Timing yang kupikir cukup bagus. Dengan segera aku melompat turun dari tangga dan berteriak.


“Semua monster! Mundur!”


Sebuah teriakan yang sederhana. Namun hal itu sangatlah efektif. Semua monster itu segera menuruti perintahku dan seluruh Ksatria Suci nampak kebingungan.


“Sekarang… Thunder Storm!” Teriakku. Seketika area lantai 2 ini ternaungi oleh lingkaran sihir yang cukup besar. Sebuah badai petir muncul yang menyambar musuh setiap 0.5 detik. Tak cukup sampai disitu, aku juga melontarkan sihir favoritku.


“Magic Barrage!”


Meskipun baru menggunakannya beberapa kali, aku sangat menyukai efek dari sihir ini. Didepan kedua tanganku muncul lingkaran sihir yang cukup besar. Saat itu juga 60 peluru sihir ditembakkan secara bersamaan, menghujani formasi para Ksatria Suci itu.


Gabungan antara serangan petir dari atas dan rentetan peluru sihir dari depan, mereka nampak sangat panik.


Dari sekitar 150 Ksatria Suci, kini hanya tersisa sekitar 50an. Pada saat sihir area badai petirku selesai, aku segera memerintahkan kembali pasukan monsterku.


“Sekarang! Habisi mereka semua!” Teriakku.


Notifikasi sistem yang menunjukkan aku telah naik level terus menerus muncul dihadapanku. Tapi aku tidak terlalu memperdulikannya.


“Aaarrrgghh!!!”


“Tidaaak!!!”


Semua sisa Ksatria berteriak minta ampun. Tapi aku sudah punya tawanan yang justru hanya merepotkanku. Kali ini aku tidak menyisakan satu orang pun.


Setelah pembantaian yang merepotkan ini, aku kembali merapikan pasukanku dan bersiap untuk turun ke lantai ketiga.


Seampainya disana, aku cukup terkejut dengan pemandangan yang ada. Tidak ada satupun Ksatria Suci. Apakah mereka semua sudah mati? Entahlah. Yang jelas para monster yang ada di ruangan ini telah duduk santai.


Dengan segera akupun menanyakannya kepada seekor Goblin Warrior yang masih duduk santai disana.

__ADS_1


“Apakah kalin memenangkan pertarungan disini?” Tanyaku singkat.


Melihat sosokku, para monster yang sedang beristirahat itu segera berlutut. Jujur saja aku sudah merasa lelah dengan formalitas ini. Apalagi di tengah medan pertarungan.


“Ya, Tuanku. Kami telah menghabisi mereka semua.” Jawab Goblin Warrior itu sambil menundukkan kepalanya.


“Baguslah kalau begitu. Kalian semua bersiaplah, kita akan turun ke….”


Belum sempat menyelesaikan perkataanku, nampak seorang Ksatria Suci naik ke lantai 3. Tubuhnya nampak begitu lelah. Tapi aku tidak peduli akan semua itu. Yang menjadi masalah adalah….


‘Inquisitor!’ Teriakku dalam hati.


Seorang Ksatria yang mengenakan zirah titanium lengkap dengan simbol pedang dan cahaya berwarna emas di dadanya. Wajahnya tertutupi oleh topeng perak yang sama sekali tak memiliki alur. Bahkan melihatnya saja membuatku heran.


‘Bagaimana caranya melihat dan bernafas melalui benda itu?’ Pikirku dalam hati.


Meski begitu, penampilannya sangat mengerikan. Pedang berwarna perak yang bercahaya serta gagang emas di tangan kanannya. Perisai besar yang ada di tangan kirinya nampak mampu memantulkan serangan apapun.


“Summoner…. Akhirnya aku menemukanmu! Aku akan membawamu kembali ke Katredal Suci untuk menyegel kekuatanmu….” Ucap Inquisitor yang tak lain adalah Leo.


Kepala bodohku pun mulai berputar dengan keras. Bahkan lebih keras daripada saat aku melaksanakan ujian nasional.


‘Jika aku bertarung dengannya disini… bisakah aku menang? Jika memang aku bisa menang, apakah itu pilihan yang tepat? Mengingat mereka akan mengejarku dengan pasukan yang lebih besar….’


Kepalaku tak mampu berhenti untuk berpikir.


‘Tapi jika aku mati di tangannya, bukankah kekuatanku akan disegel? Sialan! Bukankah lebih baik aku membunuh diriku sendiri saja?!’


‘Tapi jika aku membunuh diriku sendiri…. Apakah Dungeon Origin akan selamat dari ancamannya?!’


‘Aaaarrrgghh!!! Sialan!!!’ Kepalaku mulai terasa seperti mau meledak saat terus memikirkan langkah terbaik untuk menghadapi situasi ini.


‘Sialan! Apa yang harus kulakukan?! Elin tolong aku!!!’


...___________________________________...


...[Sebelum lanjut membaca]...


...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...


...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...

__ADS_1


...[Tak ada ruginya bagi kalian]...


...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...


__ADS_2