The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 273 - Target Baru


__ADS_3

'Braaaak!'


Eric dengan cepat menunduk dan melayangkan pukulannya tepat ke arah perut William.


Pukulan yang cepat dan kuat itu berhasil melemparkan tubuh William sejauh beberapa meter ditambah bonus berupa keluarnya sebagian isi perutnya.


"Buwaaaghhh!" Teriak William sambil menyemburkan isi perutnya.


Robert, Rose dan orang lain yang melihatnya merasa ngeri dengan kekuatan Eric ketika memberi pukulan.


'Bukankah tubuhnya jauh lebih kecil daripada William? Bagiamana dia bisa....' Pikir Robert setelah melihat kekuatan Eric saat ini.


"Aku akan berbaik hati pada kalian. Jika kalian menerima syaratku dengan memberikan 50% keuntungan dari Federasi pedagang kepadaku, maka aku akan mengampuni kalian semua disini termasuk juga Federasi kalian itu. Tentunya kalian akan paham apa yang terjadi jika menolak kan?" Ucap Eric sambil melirik ke arah semua orang di hadapannya.


Rose yang mendengar hal itu merasa sangat kesal dan berteriak keras.


"Apa?! 50% Kau bilang?! Bukankah itu terlalu banyak untuk masalah seperti ini?!"


Mendengar jawaban itu Eric kembali tersenyum jahat.


"Aaah.... Jadi kau mengakui bahwa kalian memang memiliki kuasa besar di wilayah Federasi Pedagang? Bagus, informasi baru bagiku." Ucap Eric sambil memasang kuda-kuda untuk baku hantam.


Rendy yang sejak awal telah bersiap untuk menghajar siapapun yang mendekatinya sama sekali tak menurunkan fokusnya.


Sementara itu, William mulai menyadari sesuatu. Ia mulai sadar bahwa orang yang dilawannya sangatlah berbahaya.


Pada awalnya, William memang berniat untuk menemui Eric pada dini hari dengan tujuan bahwa Eric telah kelelahan dan kesulitan berpikir. Tapi kenyataannya jauh dari itu.


Saat ini, justru dirinya lah yang terpojokkan oleh Eric.


"Kau! Aku takkan...."


"60% keuntungan kalian atau aku akan menyebarkan informasi ini kepada seluruh dunia." Ucap Eric memotong perkataannya tanpa ragu.


Rose pun berteriak dengan keras menanggapi tuntutan Eric.


"Sebarkan saja! Lagipula kami berencana untuk mengumumkan hal ini kepada seluruh...."


"70% atau aku akan menghancurkan Federasi Pedagang!" Teriak Eric dengan sangat keras memotong perkataan Rose.


Semua orang yang ada di ruangan ini terlihat begitu terkejut. Mereka semua sama sekali tak menyangka bahwa Eric akan bertindak seperti itu. Terlebih lagi....


"Menghancurkan kau bilang?! Buahahaha! Lakukan saja jika kau memang bisa! Tapi aku sama sekali tak sudi untuk menerima tuntutanmu!" Balas William sambil berteriak.


Mendengar hal itu, Eric justru tersenyum lebih lebar lagi.


"Aaaah? Jadi begitu? Ya aku tidak peduli. Lagipula aku lebih memilih 100% kekayaan Federasi Pedagang dengan cara menguasainya daripada 70%."


Dengan balasan itu, Eric segera pergi meninggalkan ruangan ini bersama dengan Rendy dan juga Lisa.


Sedangkan para pemain Eropa yang menganggap diri mereka jauh di atas semua orang itu, kini hanya bisa duduk dengan perasaan yang kesal.


'Kreeek....'


Sebelum Eric menutup pintu ruangan itu, Ia berkata.


"Aaah. Satu hal lagi. Berjaga-jagalah jika ada serangan mendadak di Federasi Pedagang. Tepatnya di Ibukota."


Dan dengan begitulah, Eric yang sama sekali tak menyadari apapun atas tindakannya itu, justru membantu Aamori yang saat ini sedang kebingungan mengenai cara memperoleh peninggalan Arroth secara paksa.

__ADS_1


Itu semua dikarenakan William memerintahkan sebagian besar pasukannya untuk menjaga Ibukota Federasi Pedagang segera setelah mendengar perkataan Eric.


...***...


...Hotel tempat Eric tinggal...


'Klek!'


Eric membuka pintu kamar hotel itu secara perlahan mengingat jam sudah menunjukkan angka 05.47.


Bisa dikatakan Eric pulang terlalu pagi. Dan tentunya, Ia tak ingin membangunkan istrinya yang sedang dalam kondisi hamil itu.


Segera setelah membuka pintu itu....


'Bruk! Bruk! Bruk!'


Terdengar suara langkah kaki yang cukup keras dan cepat ke arah pintu masuk. Eric yang sudah cukup mengantuk dan kelelahan itu memaksa matanya untuk terbuka lebar melihat apa yang mendatanginya.


Pada saat pintu itu terbuka sepenuhnya....


'Sreeeett!!'


Sosok seorang wanita dengan rambut yang menyentuh pundaknya itu segera memeluk Eric dengan sangat erat.


"Eric.... Kau tidak apa-apa? Kudengar dari Lisa bahwa kau dipukuli oleh orang-orang itu." Ucap Elin dengan tatapan yang khawatir dan juga mata yang berbinar.


Elin sama sekali tak menyinggung soal pesan yang beberapa waktu lalu dikirimkan oleh Lisa mengenai kedekatan Eric dengan Angie.


Bahkan Elin tidak menanyakan sedikitpun mengenai hasil pertandingannya.


Itu semua karena saat ini, hal yang terpenting bagi Elin adalah keselamatan Eric mengingat Ia baru saja dipukuli secara sepihak oleh seseorang yang lebih besar darinya.


"Aaah, soal itu? Tenang saja, aku dalam kondisi baik. Liha...."


"Kumohon, jangan berbohong padaku.... Lihatlah luka ini. Bukankah hidungmu berdarah cukup banyak? Lalu rahangmu...."


Elin terus menerus menyebutkan semua detail kecil yang terjadi pada wajah Eric.


Segera setelah mengkonfirmasi semua luka yang ada di wajahnya, Elin segera menyeret Eric masuk ke dalam dan membaringkannya di sebuah sofa.


"Tunggu sebentar. Aku akan membawa obat-obatan untuk merawat lukamu."


Eric hanya bisa tersenyum setelah melihat tingkah Elin barusan.


'Bukankah aku terlalu beruntung memiliki istri seperti dirinya?' Ucap Eric sambil terus memandangi sosok istrinya itu.


Elin dengan tingkahnya yang cukup panik segera mengangkat sebuah kotak yang berisi beberapa obat untuk pertolongan pertama.


"Mungkin akan sakit jadi tahanlah." Ucap Elin samb mengelap bekas luka di wajah Eric menggunakan kapas yang telah dibasahi dengan alkohol itu.


Eric hanya bisa tersenyum selama menerima perawatan itu.


"Bukankah kau cocok menjadi seorang suster? Kemampuanmu merawat luka sungguh luarbiasa, kau tahu?" Ucap Eric sambil menggoda Elin.


"Itu semua karena aku terbiasa hidup sendiri selama beberapa tahun. Merawat luka adalah salah satu dasar untuk bertahan hidup." Balas Elin dengan wajah seriusnya sambil meneruskan perawatannya.


Setelah 10 menit berlalu, kini wajah Eric sedikit dihiasi dengan adanya perban pada beberapa tempat.


"Elin.... Terimakasih banyak." Ucap Eric sambil membelai lembut kepala Elin.

__ADS_1


"Dasar.... Bukankah aku sudah bilang untuk menjaga dirimu?"


"Maafkan aku. Semoga saja aku takkan mengulanginya lagi." Balas Eric sambil memasang pose memohon.


Setelah beberapa candaan ringan, akhirnya Eric memutuskan untuk segera tidur dan beristirahat.


Sementara itu, Elin nampak sibuk mengotak atik ponselnya di sebelah Eric yang tertidur pulas di ranjang yang besar dan empuk itu.


[Nyonya Elin! Gawat! Tuan Eric sangat dekat dengan Angie lalu....]


Melihat pesan yang telah dikirimkan beberapa jam lalu itu, Elin hanya bisa tersenyum tipis.


"Dasar.... Eric bodohku takkan melakukan hal seperti itu. Lagipula, aku yang paling paham atas dirinya." Ucap Elin sambil membelai kepala Eric yang tertidur pulas itu.


Pada akhirnya, mereka berdua menghabiskan waktu seharian penuh sebelum kepulangannya ke Indonesia.


...***...


...Wilayah Federasi Pedagang...


Di atas sebuah bukit yang cukup curam itu, terlihat sosok seorang Pria dan Wanita yang sedang berkemah di lereng bukit berbatu itu.


Mereka berdua adalah Aamori dan juga Valis.


Tujuan mereka berkemah? Tentu saja untuk menunggu kesempatan emas untuk mencuri artifak milik Arroth.


Dan tanpa mereka duga sama sekali....


"Hmm? Kenapa para prajurit dan Ksatria itu pergi meninggalkan Kota? Terlebih lagi para petinggi militer itu...."


Valis yang juga ikut mengamati mereka turut berkomentar.


"Apakah ada serangan di wilayah lain sehingga Federasi Pedagang menarik pasukannya ke suatu arah? Tunggu, aku akan melihat dalam area yang lebih luas."


Meski berbicara seakan tak ingin membantu Aamori, pada akhirnya Valis justru sangat banyak membantunya.


Salah satu alasan terbesarnya adalah kekagumannya pada sosok Aamori yang sama sekali tak mudah menyerah. Kegigihan Aamori dalam menjalankan Quest yang mendekati kata mustahil ini sedikit menggerakkan hati Valis untuk membantunya.


Kemudian alasan yang lain adalah kemarahan Valis terhadap para manusia rendahan yang telah mencuri Artifak milik Arroth dan bahkan melelangnya seperti barang rendahan.


Meski dilelang dengan sangat mahal, bagi pandangan para Fire Draconics yang melayani Arroth maka hal itu adalah sebuah penghinaan besar.


Itu karena seburuk-buruknya barang ciptaan Arroth, yang bahkan memaksanya untuk menyegel benda itu karena tak ingin dilihat orang lain, masih berada pada ranah dimana manusia mustahil untuk mereplikasinya.


Sebanyak apapun manusia belajar dan mencoba untuk meniru kehebatan benda-benda buatan Arroth, itu semua sia-sia.


Maka dari itu, memperjualbelikan artifak yang bahkan tak bisa direplikasi oleh manusia, adalah sebuah dosa yang sangat besar.


'Sreeett!'


Valis terlihat berdiri di puncak bukit. Ia lalu menaiki pohon tertinggi yang ada di sana dan segera memperhatikan sekelilingnya.


Bola matanya yang memiliki iris seperti naga itu terlihat mulai membesar, lalu mengecil, dan membesar lagi.


Sebuah Passive Skill untuk membantu para Fire Draconics untuk melihat pada jarak yang sangat jauh.


Setelah memperhatikan selama beberapa saat....


"Aamori. Seluruh pasukan di Federasi Pedagang ini nampak bergerak ke arah Ibukotanya. Kemungkinan ini adalah satu-satunya kesempatan emas kita untuk merebut artifak itu." Jelas Valis dengan suara yang cukup keras.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Aamori segera menarik pedang dari sarungnya lalu berkata.


"Kalau begitu, ayo! Kita lakukan bersama!"


__ADS_2