
“Woah! Bukankah itu terlihat sangat keren, Rina?!” Ucapku seketika setelah pemasangan lengan dan kaki Bionic pada adikku.
“Mungkin aku bisa memukulmu dengan lebih kuat sekarang, Kak.” Balas Rina dengan senyuman yang sangat lebar.
Kini tangan kanan dan kaki kirinya merupakan sebuah mesin. Mirip seperti robot. Rangkaian besi dan kabel yang sangat kompleks terbungkus dengan plat besi yang tipis namun sangat kokoh. Tentunya semua komponen yang terbuat tahan karat dan juga tahan air.
Pada bagian luarnya terdapat alur-alur yang menyala dengan warna oranye. Nampaknya itu merupakan pilihan Rina sendiri.
Di bagian dalam dari tangan dan kaki bionik itu terdapat sebuah tabung silinder yang merupakan tenaga utama agar dapat bergerak secara kompleks serta meningkatkan kekuatan fisik penggunanya.
Jujur saja aku sedikit iri dan menginginkannya pada tubuhku. Tapi aku tidak mau kehilangan tangan dan kaki asliku hanya untuk terlihat keren.
“Aku minta tolong agar kau tidak melakukan hal bodoh seperti kemarin. Mengerti?” Ucapku pada Rina yang masih nampak kegirangan dengan tangan dan kaki barunya.
“Ya. Janji aku tidak akan mengulanginya lagi, Kak.” Jawabnya tanpa menoleh ke arahku. Kini Ia mencoba melompat-lompat menggunakan kaki mekaniknya.
Setelah semuanya beres, aku dan keluargaku meninggalkan rumah sakit itu. Adikku yang pada awalnya kehilangan anggota tubuhnya telah terlahir kembali sebagai seorang Cyborg.
“Ah, Erik. Kapan kau akan kembali tinggal di rumah?” Tanya Ayahku tiba-tiba.
“Kurasa aku akan tetap tinggal disana, Ayah. Kau tahu kan kalau aku harus masuk ke Re:Life untuk menghasilkan uang.” Jawabku.
“Tentang itu…. Ikutlah Ayah sebentar.”
Aku yang kebingungan mengenai jawaban Ayahku mengikutinya tanpa ragu. Sesampainya di rumah, mataku terbelalak dan mulutku terbuka lebar.
“A-Ayah! Apa maksudnya ini?”
“Karena aku telah menjual seluruh kepemilikanmu dulu, kini aku membelikannya lagi. Tentu dengan kualitas yang lebih baik. Yah… meskipun itu semua menggunakan sisa uang yang kau kirim kepadaku.” Jawab Ayahku dengan rinci sambil tersenyum.
Tempat tidur yang terlihat sangat empuk itu telah memanggilku. Meja dengan komputer yang telah lama aku rindukan. Rak buku yang berisi penuh dengan komik-komik kesukaanku. Dan tentunya…. Kapsul VR untuk Re:Life.
Tanpa kusadari, air mata mengalir di pipiku.
“Ayah, terimakasih….”
“Oi! Apa yang kau katakan, Erik? Aku hanya menggunakan sisa uang yang kau berikan padaku.”
Entah apa yang dikatakan Ayahku, aku tidak begitu mendengarnya. Tapi aku sangat senang karena akhirnya aku bisa kembali disini dan disambut dengan baik oleh Ayahku.
Aku pun kembali ke kos untuk mengemasi seluruh barang-barangku yang masih ada disana. Setelah semuanya beres, aku memasuki kapsul baruku. Jenis yang dibelikan oleh Ayahku lebih baik daripada yang kumiliki dulu serta yang ada di tempat penyewaan.
Apa bedanya?
Koneksi internet yang akan lebih lancar serta respon gelombang otak yang lebih baik. Dengan kata lain, aku mampu memainkan karakterku dengan lebih baik menggunakan kapsul ini. Tak hanya itu, fasilitasnya juga lebih baik.
Jika menggunakan kapsulku yang sebelumnya, tubuhku akan berkeringat deras setelah bermain 3 jam karena kondisi kapsul yang agak panas.
Jika dengan yang ini, aku pasti dapat memainkannya dengan lebih nyaman. Akupun menutup pintu kapsul itu dan segera Log In.
...[Bersiap memindahkan kesadaran]...
...[Anda telah masuk ke dalam Re:Life]...
Pemandangan yang ada di hadapanku yaitu sebuah kota bawah tanah dengan obor dan api sebagai penerangan utamanya. Di sekelilingku terdapat banyak sekali goblin yang lalu lalang melaksanakan pekerjaannya masing-masing. Sesekali mereka menurunkan kepalanya untuk menyapaku.
“Sekarang…. Apakah Elin masih berlibur?” Ucapku pada diriku sendiri sambil membuka jendela menu pertemanan.
__ADS_1
[Elin (level 139)]
Status : Offline
“Ah, tentu saja. Bukankah aku yang menyarankan untuk libur selama beberapa hari?”
Aku pun berkeliling di dalam Dungeon ini. Mungkin rasanya agak aneh jika memanggil kota monster ini sebagai dungeon. Aku harus memikirkan sesuatu yang baru.
“Ah! Tuan, Eric!”
Aku mendengar suara teriakan dari belakang tubuhku.
“Oh? Oliver? Apa yang kau lakukan di sini?” Tanyaku kepada seekor Goblin Lord bernama Oliver itu.
“Saya mendengar kabar bahwa Anda ada disini. Maka dari itu saya bergegas kemari.” Jawabnya sambil berlutut di hadapanku.
‘Hmm…. Bukankah aku bisa menghabiskan waktuku dengan Oliver? Dia nampak sangat cerdas. Mungkin melebihi diriku.’ Pikirku dalam hati.
“Oliver. Aku ingin mencoba masuk ke dalam Dungeon Orc! Temani aku!”
“Tentu saja, Tuanku. Tapi…. Maaf apabila saya lancang. Apakah Anda yakin akan kesana dengan kondisi seperti itu?” Tanya Oliver kepadaku.
‘Eh? Apakah dia paham mengenai kondisiku yang baru saja turun level?’
Aku tidak paham mengenai caranya mengetahui kondisiku. Tapi itu bukanlah hal yang buruk.
“Kalau begitu, bagaimana saranmu? Aku ingin membasmi Orc untuk meningkatkan levelku. Selain itu, aku bahkan belum pernah mencoba dungeon Orc itu.”
“Kalau begitu, saya menyarankan untuk membawa beberapa prajurit goblin yang cukup kuat untuk melindungi Anda.”
‘Yah, aku juga sudah tahu jawabannya. Memangnya siapa aku jika bukan seorang Summoner? Aku hanya ingin melihat reaksinya saja.’ Pikirku dalam hati sambil tersenyum.
Oliver dengan cepat mengumpulkan para prajurit goblin yang berpengalaman dalam mengalahkan dungeon Orc. Bahkan tanpa Elin. Aku yang mengikuti Oliver merasa ngeri melihat kemampuan para prajurit goblin di sini.
[Goblin Warior]
Rarity : Epic
Level : 61
[Goblin Shaman]
Rarity : Epic
Level : 59
“Mereka adalah anak buah langsung dari Knox. Aku yakin mereka berdua mampu menembus seluruh dungeon Orc itu.” Jelas Oliver kepadaku.
‘Eh? Hanya 2? Dengan kata lain hanya berempat dengan aku dan Oliver?’
“Apakah kau akan ikut, Oliver?”
“Tentu saja. Menjamin keamanan Tuanku adalah kewajiban utamaku!”
Karena penasaran aku memberanikan diriku untuk mengintip level Oliver.
[Goblin Lord : Oliver]
__ADS_1
Rarity : Normal
Level : 72
“Eh?! Bagaimana bisa?!” Aku pun terkejut setelah mengetahui level Oliver. Bagaimana lagi, pada saat aku menjadikannya seorang Goblin Lord Ia hanya memiliki level 43. Tapi sekarang? Bahkan Ia melewati goblin prajurit yang setiap hari pekerjaannya adalah menaklukkan dungeon!
“Apa ada yang salah, Tuan Eric?” Tanya Oliver dengan wajah yang panik.
“K-kau…. Bagaimana kau naik level secepat itu?” Tanyaku dengan sedikit gugup.
“Ah ini? Aku menyelesaikan Dungeon Orc itu sendirian pada saat Anda dan Nona Elin pergi!” Jawabnya dengan bangga.
‘Bukankah aku hanya penghambat bagimu…. Tunggu. Bukankah level para Orc itu hanya berada pada kisaran 45? Meskipun aku telah Offline selama 4 hari dunia nyata, yang berarti 40 hari di dalam Re:Life, peningkatan levelnya tetap tidak masuk akal.’ Pikirku dalam hati sambil memperhatikan Oliver.
Seakan memahami kebingunganku, Oliver menjawab dengan berlutut di hadapanku.
“Sebelum Nona Elin pergi, Ia memerintahkanku untuk menyelesaikan Dungeon Orc seorang diri secara terus menerus. Nona Elin menyebutkan bahwa aku memiliki karakteristik khusus ‘Quick Learner’.” Jawab Oliver dengan jelas.
Karakteristik khusus. Atau juga bisa disebut dengan Trait. Mungkin lebih mudah jika disebut sebagai bakat.
Beberapa makhluk hidup di dalam Re:Life dapat terlahir dengan memiliki bakat. Tapi tidak semuanya. Selain itu, kemunculan bakat ini cukup jarang dijumpai karena dapat memberikan efek yang cukup besar.
Quick Learner.
Seusai dengan namanya, bakat ini berperan dalam kecepatan makhluk hidup untuk belajar. Dan belajar dalam dunia ini yaitu naik level. Oleh karena itu, Oliver mampu naik level dengan sangat pesat. Meskipun, Eric sama sekali tidak memahami ini.
“Hah? Apa itu? Yang jelas itu merupakan sesuatu yang bagus kan?”
“Ya, Tuanku. Dengan karakteristik khusus ini, saya mampu naik level dengan lebih cepat.” Jawab Oliver.
“Ah, jadi begitu.”
Setelah terus menerus berbincang sepanjang perjalanan, kami akhirnya sampai.
...[Orchis Den]...
...[Dungeon Orc]...
...[Boss : Orc Lord]...
...[Rekomendasi level : 50]...
...[Rekomendasi Party : 4 orang atau lebih]...
...[Hadiah]...
...[10 koin emas]...
...[Peti perunggu]...
...___________________________________...
...[Sebelum lanjut membaca]...
...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...
...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...
__ADS_1
...[Tak ada ruginya bagi kalian]...
...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...